Erde

Erde
16



Dipagi yang cerah ini, secerah matahari bersinar. Seorang perempuan yang masih saja telelap dalam tidurnya terus bergelung dengan hangatnya selimut. Padahal matahari sudah terlihat meninggi, namun perempuan itu masih asyik berada di alam bawah sadarnya.


    Perempuan itu Novita. Ya, hanya Novita. Tak ada nama panjang apalagi nama tengah. Ingat hanya Novita. Terkadang ia juga suka heran mengapa orangtuanya hanya memberikan ia nama Novita. Sangat singkat, jelas dan padat. Terkadang juga ia suka sebal sendiri ketika teman-temannya mulai mengejek namanya. Akan tetapi, ia juga selalu bersyukur akan namanya yang sangat singkat itu karena setiap ulangan ia tak perlu repot-repot mengisi kolom untuk namanya.


"Pit bangun !" teriak Rani, ibunya Novita. Tetapi yang diteriaki malah semakin merapatkan selimutnya.


"Pita bangun !" Ibunya kembali bersuara ketika tak mendengar jawaban dari sang anak.


"Bu, namaku itu Novitua. Panggil aku Vita bukan pita !" sebal Novita.


"Sudahlah. Cepat bangun ! Ini sudah mau siang, memangnya kamu mau telat ke sekolah hah ?" teriak ibunya marah. Kini ibunya sudah memegang sapu lidi yang hendak akan dilayangkan kepada Novita.


"Iya, ini aku bangun kok," Novita menguap mencoba mengumpulkan segenap jiwanya yang belum terkumpul utuh.


"Cepetan mandi sana !"


"Iya, Bu," ucap Novita malas. Ia langsung melenggang pergi ke arah kamar mandinya.


      Ketika dirinya sedang bercermin, ia terkekeh kecil. "Duh punya emak kok galak banget. Aku baru bangun jam segini aja udah mau dipukul sama sapu. Bagaimana kalau aku bangun jam sembilan ya ?" ia terkekeh kecil melihat pantulan dirinya dicermin.


      Seusai mandi ia langsung bergegas ke sekolah sebab hari sudah semakin siang dan ia tak ingin jika dirinya harus datang terlambat. Dengan swmangat pagi Novitamengayuh sepedanya dengan santai. Memang dia bukan dari kalangan orang berada. Maka dari itu, ia hanya memakai sepeda kesayangannya untuk ia kendarai ke sekolahnya. Sepeda kesayangan yang ia punya sejak ia kelas dua di SLTP. Sekolahnya pun tak terlalu jauh. Kalau kata ibunya, ngirit ongkos..


     Novita berhenti sejenak. Ia menyumpal telinganya dengan headset dan mulai menyenandungkan lagu kesukaannya. Ia mengayuh kembali pedal sepedanya. Ditemani angin pagi yang menyeruak rongga dada, ia sesekali menghirup napas dalam. Sampai di pertigaan ia melihat seseorang yang ia suaki dari kejauhan. Ia melihat pria yang ia sukai sedang celingak-celinguk tak jelas.


Lelaki yang memiliki senyum manis itu mampu membuat jantung Novita berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Lelaki itu adalah Junedi Sucipto. Junedi Sucipto adalah kakak kelasnya dan termasuk orang-orang tertampan di sekolahnya. Gengnya itu sangat terkenal karena geng Seven Squad terdiri dari pria tampan semua.


  Novita seketika menjadi gerogi, ia mulai panik. Begitulah jika dirinya sedang bertemu dengan Junedi, pasti ia sangat grogi dan panik. Dengan penuh kehati-hatian ia memelankan laju sepedanya.


"Aduh ada kak Junedi gimana ini ? aku sudah cantik belum ya ? Ini lagi sepeda kenapa sih kok gak ada kaca spion nya ? Sebel deh !" ucap Novita dalam hati.


"Besok aku akan pasang kaca spion di sepeda," cicit Novita pelan.


Sedangkan Junedi di pertigaan sedang celingak-celinguk tak jelas. Hari masih pagi dan Junedi susah dibuat pusing karena ban sepedamotornya tiba-tiba bocor. "Apes banget deh hari ini!" ujarnya dalam hati. Lalu pandangannya ia edarkan ke arah jalanan yang kian ramai dan ia melihat ada seorang perempuan yang seragam sekolahnya sama dengannya. Lantas ia mengulas senyum manisnya.


"Ada apa kak?" tanya Novita pelan.


"Hmm. Bagaimana ya gua ngomongnya?"Junedi menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Aduh ini beneran aku mau di tembak sama kak juned ? Akkhirnya setelah penantian lama, ternyata penantianku tak sia-sia !" batinnya bersuara. Novita tersenyum-senyum sendiri.


"Heh ngapain ngelamun?" ujar Juned menyadarkan Novita yang sudah senyum-senyum sendiri bak orang gila.


"Iya kak ada apa ?" ucap Novita dengan terbata-bata.


"Kita satu arahkan ?" tanya Junedi.


"Ya, Allah. Aku mau di gombalin sama kak Juned," ia berteriak kegirangan dalam hati.


"I..iya kak. Duh kok aku jadi terharu gini," ucap Novita dengan senyum malunya. Semburat merah sudah tergambar jelas dipipinya. "Terharu ??? Gua mau nebeng dan lu terharu ?? segitu tampannya ya gua ?" Junedi terkekeh kecil melihat wajah Novita yang memerah karena malu.


"Mau nebeng ya? Dikirain mau nembak aku?" dada Novita seakan sesak dengan harapannya yang terlampau tinggi. "Boleh," Novita turun dari sepeda. Meskipun ia tak di tembak oleh sang gebetan, tetapi ia cukup senang ketika orang yang ia sukai numpang untuk ke sekolah. Setidaknya ia punya moment yang paling istimewa. Karena selama ini ia hanya bisa memandang lelaki itu hanya dari kejauhan.


"Beneran ini boleh ?" tanya Junedi yang dibalas anggukan Novita.


"Terus ngapain kamu turun ?" tanya Junedi heran.


"Loh katanya kak juned mau nebeng ?" Novita mengerutkan keningnya.


"Gua emang mau nebeng. Tapi, lu yang bawa sepedanya. Jadi, gak usah turun," ucap Junedi tanpa rasa bersalah.


"Apa ? aku yang bawa ?" Novita mendadak migrain.


  Novita menganga tak percaya dengan apa yang ia dengar. Apa sungguh-sungguh ia yang harus membawa sepeda dan membonceng Junedi ?. "Semangat, Novita. Demi sang doi," ucap Novita dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri.