
Edwin masih saja menangis di pelukan nunna nya, membuat Edward tidak bisa memeriksanya. Ia hanya bisa diam di dekat nunna sambil melihat Edwin yang masih sesenggukan.
"Okay, don't cry baby. You are a strong man, I know that." Timpal Edward juga yang mengusap puncak kepala Edwin.
Kino juga hanya bisa tertunduk melihat Edwin. Salah dirinya yang meninggalkan Edwin sendirian tadi.
"Hiks, Edwin takut Nunna... Edwin takut..."
"Sekarang udah ada Nunna, udah ada bang Edward, ada Kino juga disana. Gak usah takut dek, kita ada buat adek." Ucap Nunna menenangkan Edwin.
"Sekarang di periksa dulu ya?" Edwin mengangguk dan menghembuskan napas lelah. Tangannya sudah diinfus, ini pasti ulah Edward. Udah kayak sikopet, hobi banget infus dia.
"Apa yang kerasa sekarang?" Tanya Edward padanya. Edwin menggeleng pelan. "Gak ada,"
"Gak usah boong kamu." Sarkas Edward yang memicingkan kedua matanya.
"Pusing..." Jujur Edwin.
'Sama sesek dikit...' Batinnya. Ia tidak bisa bilang pada Edward.
"Sama sesek?" Duga Edward. Edwin kaget, kakaknya cenayang ya? Kok bisa baca isi hatinya sih?
"Dikit... Dikiiiit... Banget, jadi gak usah pake itu." Tunjuknya pada tabung oksigen di sebelahnya.
"Suudzon kamu. Gak akan abang pakein juga," Kata Edward sinis. Edwin cengengesan aja sampe matanya gak keliatan karna abis nangis tadi.
"Abisnya, kalo Edwin bilang sesek pasti di pakein oksigen. Padahal gak usah,"
"Karna keadaan kamu yang bikin khawatir adek..." Jawab Edward lagi. Baikah... Edwin pasrah kali ini.
"Win! Loe gak papa kan? Maapin gua... Maapin gua ya...? G,gua beliin cokelat buat loe." Kino menghampiri Edwin dengan napas yang terengah engah karna sempat berlari tadi.
"Bukan salah loe. Tenang, gak akan gua tinggalin kok." Jawab Edwin tersenyum pada Kino. Kino lemas dan memeluk Edwin.
"Makasih... Gua gak tau bakal kemana kalo loe ninggalin gua,"
"Don't worry. " Satu kata yang dapat menenangkan Kino. Benar... Kini hanya Edwin dan teman temannya yang dapat menemani nya. Ia bahkan seperti tidak mempunyai keluarga karena selalu menginap di rumah teman temannya.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Kenapa bisa pingsan?
Untuk yang kedua belas kalinya abang nya ini menanyakan keadaannya yang tiba tiba pingsan.
"Edwin gak papa. Edwin gak papa dan Edwin gak papa. Edwin cuma kepanasan. Ke-pa-na-san,"
"Kepanasan plus plus kecapean bang." Komentar Kino yang asik makan es krim.
"oh," Edward hanya ber-oh saja, bikin Edwin kaget. Tumben tumbenan cuma kayak gitu. Dia gak curiga apa apa sama abangnya. Taunya dia bakal bertindak tanpa sepengetahuan Edwin.
"Tadi Edwin di komen karna punya poni." Adu nya pada Nunna dan Edward. "Kenapa katanya?"
"Katanya gak boleh. Sedangkan kalo Edwin gak pake poni... Edwin malah makin cakep. Nanti banyak yang suka ama Edwin," Ucapnya sambil menyibak rambutnya ke belakang.
"Alah sakit juga banyak gaya lu! " Kino menjitak kepala Edwin. Ia meringis pelan, bisa bisanya ngejitak kepala Edwin yang berharga.
"Terus Edwin juga dikatain mau jadi orang korea? Yaudah lah, terpaksa Edwin pamer lagi kalo Edwin emang ada turunan korea nya." Ucap Edwin kembali bercerita. Nunna cuma ketawa aja nanggepin cerita adeknya yang emang bawel dan sedang menggerutu karena sebal.
"Ya bagus... Pamer aja padahal. Kan udah kenyataan nya kayak gitu ya kan?" Nunna membela Edwin, sedangkan Edward hanya diam saja mendengar keduanya bercerita.
Ceklek...
"Assalamualaikum...! Edwiiin...!" Edwin terkejut lalu menoleh ke pintu masuk. Beberapa orang memakai baju putih abu dengan masker yang terpasang apik di wajahnya itu membuat Edwin heran.
'Ini siapa? Temen temen kan gak ada yang tau kalo gua pingsan,' Batinnya.
Mereka menyalami Edward dan Nunna dan meminta izin untuk mengobrol dengan Edwin. Edward dan Nunna mengangguk saja walaupun ikut bingung.
Salah satu di antara mereka menaruh buah buahan dan makanan ringan lalu maju dan meraih puncak kepala Edwin lalu mengusapnya perlahan.
"Maapin kita ya. Mungkin kita terlalu berlebihan sama kamu sampai lupa sama kondisi kamu. Kita gak ada niatan buat balas dendam atau apapun itu, bukan karena nafsu juga kita ngehukum kamu. Ini semua karna kami terlalu tegas sama kamu."
Oohh... Edwin paham sekarang kenapa mereka dateng kesini. Mereka teman temannya Ethan, dan yang berbicara padanya ini pasti kak Haikal ketua mpls itu. Tapi, kenapa mereka minta maap sama dia? Ada sesuatu yang terjadi? Pikirnya.
"O,ooh... Hahahaha... Gak papa kak... Lagian bukan salah hukuman nya kok. Emang Edwin nya terlalu kecapean sampe pingsan. Gak papa kak," Ucap Edwin yang menatap Haikal dalam dalam. Ia lalu tersenyum hangat sampai mereka kaget. Serius anak ini adeknya Edward dan Edgard yang galak itu? Kok dia beda ya dibanding semua kakak nya?
"Oooh... Betapa mulia nya hati anak ini..." Pujian itu membuat Edwin memerah karna malu. Pujiannya terlalu berlebihan untuknya.
"Apa tuh motto nya?" Tanya Haikal yang memperlakukan Edwin seperti anak kecil.
"Edwin harus jadi orang baik diantara orang orang baik. Edwin gak boleh jahat, kalo jahat Edwin gak punya temen. Edwin kan takut sendiri... Kalo nanti Edwin meninggal, emang siapa yang bakal jengukin Edwin selain temen temen?"
Deg!
Haikal dan yang lain sempat tersentak mendengar ungkapan Edwin. Kenapa ia berkata demikian? Haikal lalu membuka maskernya dan memeluk Edwin tanpa izin pada Edward dan Nunna. Ia terus mengusap punggung Edwin, memberinya keyakinan bahwa Edwin itu kuat.
"Tenang aja win... Kamu tenang aja. Banyak banget orang orang disana yang sayang sama kamu. Gak ada yang gak sayang, kita bakal jagain Edwin. Kita bakal ngelindungin Edwin, kita siap jadi abangnya Edwin." Ucap Haikal yang membuat teman temannya terharu. Edward menekuk bibirnya sebal. Kok dia ngerasa cemburu ya?
"Tapi bang," Edwin melepas pelukan Haikal. Ia lalu menatap Edwin.
"Edwin udah punya tiga abang, satu Nunna."
"Lah emang kita gak boleh jagain Edwin?" Tanya Haikal agak sedih. Edwin nampak berpikir. Dia bukan bocil TK lagi yang harus di jagain kemana mana sih.
"Boleh." Jawabnya tanpa ragu. Haikal mengucapkan terimakasih padanya. Hatinya terketuk melihat Edwin, entah kenapa, ia pun tidak tahu.
Sebelum pergi, mereka memeluk Edwin dulu dan mengucapkan sampai jumpa padanya. Sampailah Mahesa di depan Edwin. Edwin menatapnya dengan polos sambil tersenyum.
"Maaf, tadi saya kelepasan." Katanya menunduk merasa bersalah.
"Gak papa bang. Dari abang Edwin bisa belajar kalo misalnya di gituin harus sabar, EKSTRA sabar. Untung kuat, di tambal pake baja, ehek." Jawab Edwin cengengesan. Mahesa tersenyum lalu mengacak rambutnya.
"Cepet sembuh. Gua tungguin di sekolah," Final Mahesa lalu meninggalkan Edwin.
Keadaan kembali hening. Nunna kembali menghampiri nya dan mengupas apel yang diminta Edwin.
"Udah seneng seneng nya?" Tanya Edward sedikit menyindir Edwin karena tertawa bersama teman teman Ethan tadi.
"Udah... " Katanya tidak peka. Padahal Edward sudah menunjukan kalau ia sempat cemburu tadi. Namun yasudah lah.
Ceklek...
"Assalaamu'alaikum! Abang nya Edwin udah pulang nih!" Seru nya dari pintu. Nampak Edgard yang memasang wajah ceria sedangkan Ethan mengikutinya dari belakang dengan wajah pucat.
"Bentar, si Ethan kenapa?" Tanya Edwin khawatir.
"Bang kasih dia oksigen bang. Tadi sempet kumat di sekolah, harus di uap." Tutur Edgard pada Edward dengan serius.
Ethan menyandarkan tubuhnya sambil berusaha mengatur nafasnya. Edward mengangguk cepat dan mencuci tangannya terlebih dahulu. Ia lalu mendorong oksigen dan membawanya ke dekat Ethan. Edward memutar tabungnya sampai ke 8 liter/menit.
"Nggak mau bang... Uhuk uhuk." Tolak Ethan yang menjauhkan masker oksigen itu. Padahal sudah jelas asma nya sedang kambuh, tapi dia malah nolak, kan kesel jadinya.
"Abang bilang abang gak mau penolakan. Sekarang pake atau abang infus kamu sekarang!" Ancamnya dengan tatapan tajamnya. Ethan berkaca kaca dan akhirnya mengangguk pelan. Edgard duduk di sebelahnya dan memerhatikan Ethan yang terus terbatuk dan berusaha mengatur napasnya kembali.
"Sini sini, tiduran sama abang." Titahnya menawarkan pahanya. Ethan mendekati Edgard, bukan untuk tiduran di pahanya, tapi di dada bidangnya. Yaudah, Edgard gak nolak. Kasian juga sama ni anak. Edgard mengusap usap rambut hitam Ethan, masih wangi bayi.
Ethan terus mengelap air mata yang keluar dari kedua netranya. Ia berusaha menahan tangisnya, tapi malah bunyi mengi yang keluar dari mulutnya.
"Udah udah. Loe sakit lagi, makannya jadi sensitif di gituin dikit juga."
"Bang Edgard... Bang Edgard yang nyuruh temen temennya bang Ethan kesini kan?" Duga Edwin yang emang curiga kalo pelakunya si Edgard. Edgard ketawa yang bikin Edwin makin yakin kalo abangnya yang menyuruhnya.
"Iya. Mereka kesini gak dek?"
"Udah. Padahal jangan kayak gitu bang, Edwin kan jadi keliatan kayak aduan yang bisanya sembunyi di belakang abang." Kata Edwin sedih.
"Nggak lah. Lagian abang juga udah ngucapin sumpah biar mereka gak ngusik adek maupun Ethan." Jawab Edgard santai.
"Iya... Emang abang kamu banget sih itu." Timpal Nunna juga.
Kejadian sebelumnya...
The end.
Edwin kalo gak pake poni gaiseee
Ciiss...