
Usaha nya gagal untuk mengendarai motor bersama teman temannya. Ia di jemput Edgard menggunakan mobilnya. Sang empu melipat kedua tangannya dan memalingkan wajahnya dari Edgard. Ia melirik dari kaca mobilnya, adiknya betmut.
"Kenapa...? Lu betmut karna gak bisa ikut konvoi ama anak anak?" Tanya Edgard menduga. Edwin hanya menggidikkan bahunya tanpa menjawab pertanyaan abang keduanya.
"Tenang aja... Mereka tetep ngikutin elu kok. Kan kita jadi bareng bareng juga... Iya gak?" Edgard yang berusaha menghibur adiknya itu. Edwin hanya menghela napas lalu memainkan ponselnya.
"Terus? Kapan dong Edwin naik motor nya?" Tanya Edwin kemudian. Ia kembali memasukan ponsel itu ke dalam sakunya. Niat hati ingin merajuk sih, tapi gak jadi.
Edgard tampak berfikir sejenak. "Ntar, pas udah sebulanan." Jawabannya membuat Edwin menganga lebar. "Bentar! Edwin gak salah denger nih? Udah sebulanan?! S,sebulan?! Serius?" Tanyanya tak percaya.
"Kenapa? Terlalu sebentar? Mau abang tambahin?"
"Nggak usah! Itu juga udah kelamaan!" Kata Edwin yang kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil. Ia memejamkan matanya sejenak. Kata Edgard dia janji bakal beliin es krim asal Edwin mau naik mobil dan pulang bareng sama dia. Sambil nunggu macet, ya mending tidur dulu kan?
Anak anak Aodra ada di sekitar mobil Edgard, mengawalnya sampai ke tujuan. Ini bukan semena mena menjaganya sih... Tapi emang mereka menyambut kembali sang pemimpin yang telah lama tidak bergabung dengan mereka.
"Loe gak ngusik, loe aman. Loe ganggu, kita ganas," -Aodra
"Dek, bangun dek. Dah nyampe." Kata Edgard yang membangunkan Edwin lembut. Sang empu membuka netra nya perlahan dan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan pencahayaannya.
"Dah nyampe? Es krim nya mana?" Tanyanya to the point. "Hayu ke dalem dulu makannya. Muka loe dah merah kepanasan," Jawab Edgard yang agak mundur dan memberikan punggung nya untuk Edwin. Ia mengernyit, ngapain abang nya kayak gini?
"Lu masih lemes kan? Apalagi baru bangun tidur. Naek, abang gendong biar gak jatoh karna linglung. " Terangnya pada Edwin. Namun Edwin menolak nya sebisa mungkin karena yang ada malah di sangka sakit lagi sama Edward.
"Bang Edward gak ada. Dia lagi kerja, makannya cepetan." Mau tak mau Edwin naik ke punggung nya Edgard karena emang masih linglung dan ngantuk. Setelah mengalungkan kedua tangannya di leher Edgard, Edgard pun mulai berjalan memasuki rumahnya.
Mungkin Edwin merasa nyaman berada di gendongan nya Edgard. Ia kembali tertidur dan hampir saja terjatuh kalau Ethan tidak sigap menahannya.
"Sssttt... Edwin bobo lagi bang." Bisik Ethan padanya.
"Darimana loe? Kenapa gak balik bareng gua?" Tanya Edgard tak kalah berbisik.
"Ethan pulang duluan bang. Nggak, lebih tepatnya di pulangin karna katanya Ethan demam." Jawab Ethan padanya. Edgard kaget lah. Setelah ia menidurkan Edwin dan menyelimutinya, ia lalu menginterogasi Ethan.
Mulai dari menyentuh dahinya, mengecek nadinya dan mengukur suhu tubuhnya. Memang benar, tubuhnya agak panas dan hidungnya merah.
"Heh, lu megang Ochi?" Curiga Edgard. Ethan agak tersentak denger pertanyaan Edgard. Ia masih menatapnya dan mengintimidasi Ethan.
"Kagak, Ethan gak pegang." Ia mengalihkan pandangan nya kemana pun yang penting tidak menatap Edgard. Ia memincingkan matanya, makin curiga kalo Ethan bohong.
"Gak usah boong ama abang. Abang tau," Kata Edgard menegaskan kalimatnya. Ethan menunduk dalam dalam, takut padanya.
"Ada bulunya si Ocha Ochi di baju loe. Mau ngomong apalagi Than?"
Skakmat! Ethan gak bisa boong lagi sama Edgard yang matanya jeli kayak singa. Debu sekecil apapun pasti ia temukan, ya contohnya kayak bulu kucing ini.
"Baru maen lagi kok sama Ophelia dan Nola. Kebetulan tadi lagi dikasih makan sama Bi Tita," Cicit Ethan pelan. Edgard cuma mengenggelengkan kepalanya. Giliran ia yang menggandong Ethan ala ala bridal style menuju kamarnya. Empu nya meminta di turunkan, namun Edgard sengaja menulikan pendengarannya. Kali ini Edwin dan Ethan berada di bawah kekuasaannya, mereka tidak bisa apa apa.
Sampai di kamar Ethan, Edgard mendudukan nya di atas kasur dan memilihkan baju nya. Bingung sih, soalnya dalem nya kartun semua. Ethan suka banget ama avangers, marvel dan transformer yang kayak begituan. Ethan itu lebih bocil daripada Edwin karna sempet jadi anak bungsu sebentar. Lagian Bunda dan Ayahnya menyamakan kedudukan nya sebagai bungsu ke satu dan Edwin sebagai bungsu kedua.
Edgard lalu memilihkan piyama dengan motif kucing biar Ethan gak sedih sedih amat. Dengan telaten dan hati hati Edgard menggantikan baju adik pertamanya. Oh! Sebelumnya harus di baluri dengan minyak telon dan bedak, Ethan kan wangi bayi.
Ia lalu mengeluarkan nebulizer dan obat inhalasi nya. Ia menuangkan nya dengan hati hati lalu menyalakan nya dan mengeluarkan uap. Ethan membelalak kaget. Asma nya gak kambuh, tapi Ethan malah mau di pakein itu? Serius?
"Bang, tapi Ethan gak asma. Serius," Ucap Ethan meyakinkan si abang. Edgard tidak merespon dan tetap memerhatikan uap yang keluar dari benda itu.
"Hayu pindah ke kamar abang. Kamar kamu tadi udah diisi sama si Ophel dan Nola kan? Nanti abang bersihin dulu. Istirahatnya di kamar abang aja," Final Edgard tanpa mau di tolak. Ethan mah pasrah aja ama abang overprotektif nya ini.
Ia pun berjalan lunglai menuju kamar Edgard sambil memegang nebulizer itu. Edgard masih mengikutinya dari belakang. Jujur aja sih, kepalanya emang pusing sih sekarang. Jadi mending istirahat dulu aja. Moga moga asma nya Ethan gak kambuh di tengah malam ya gais! Doakan!
Ia pun merebahkan dirinya di atas kasur Edgard. Edgard memakaikan nya masker oksigen itu dan Ethan mulai menghirup obat inhalasi yang di ubah jadi uap itu. Edgard masih diam di sebelahnya dan kembali membalur tangannya agar hangat. Ethan masih belum tertidur dan masih memerhatikan Edgard yang memijat tangannya.
"Abang..." Kata Ethan pelan.
"Hm, kenapa than? Pusing?" Ethan menggelengkan kepalanya lalu mengambil napas dalam dalam.
"Ophelia sama Nola belum di suntik... Cariin dokter hewan yang baik ya...?"
"Iya, nanti minggu abang bawa ke dokter hewan. Kamu tidur aja sekarang, gak usah mikirin si Ophel sama si Nola." Jawab nya yang tersenyum. Ethan masih mengerjapkan matanya beberapa kali, masih ingin mengobrol dengan Edgard.
"Ophelia juga belom kawin bang... Cariin jantan yang baik ya bang... Buat Ophelia. Nola mah 3 bulan setelah Ophelia kawin... Dia masih gadis... Belom waktunya kawin..." Ucap Ethan yang akhirnya memejamkan matanya. Edgard terkekeh, apa apaan kata Ethan barusan? Dia juga masih bocil tapi pikirannya udah kawin kawinan.
"Ethan ngantuk banget... Abang jangan kemana mana, ya...?"
"Emang gua bakal kemana Than?" Gumamnya pelan. Ia lalu menggerai sutra hitam lebat milik Ethan. Ia nampak tenang dalam tidurnya. Yah... Setidaknya Edgard udah berusaha cegah biar asma Ethan gak kumat dan bikin dia panik.
"Sehat sehat ya Than. Gua kangen elu dan adek lu, udah lama gak main nih."
The end.
Ophelia
Nola