
Huuuh...Β
Edwin terus menghembuskan nafas lelah dan sesekali meneguk air pemberian Ethan tadi.Β
Ia memeluk lututnya dengan kedua tangannya di pinggir lapangan.
Sungguh! Demonstrasi ini benar benar membosankan baginya. Hanya menunjukan ekstrakulikuler saja begitu melelahkan untuk Edwin, padahal ia hanya duduk manis dan tidak melakukan apapun selain menonton.
Yang lebih parahnya lagi, wajahnya sudah memerah bagai kepiting rebus. Bukan hanya itu, bahkan kepalanya sudah sangat pusing dan berat. Kalau begini ia jadi tidak mau ikutan ospek ospek seperti itu lagi.
"Nan, gua... Boleh ke kelas gak sih...?" Tanya nya pelan. Keenan lalu menoleh padanya, nampak wajah Edwin yang sudah agak pucat. Membuat nya terkejut.
"Iya iya! Mending ke kelas aja! Itu lebih baik buat Edwin!" Seru nya pada Edwin. Suara yang agak khawatir itu membuat atensi Kino, Haje, Ervin, bahkan Aziel pun menoleh padanya.
Edwin lalu melihat salah satu murid yang kembali lagi ke tempatnya setelah mencoba pergi ke kelasnya. Sepertinya panitia itu tak mengizinkannya karena tadi ada siswa yang pura pura pingsan. Ia kembali mengurungkan niatnya untuk beristirahat.
"Kenapa Nan?" Tanya Kino.
"Edwin bilang dia pengen ke kelas. Kayaknya sakit lagi deh, soalnya wajahnya juga udah pucet." Jawab Keenan khawatir. Kino lalu duduk di samping Edwin dan merangkulnya.
"Hayu," Ajaknya kemudian. Edwin menoleh padanya. "Apa?"
"Lah katanya mau ke kelas. Yaudah ayo," Ajak Kino sekali lagi. Edwin menggelengkan kepalanya. "Nggak mau ah, masih kuat."
"Masih kuat hidungmu! Diliat dari sisi kanan kiri depan belakang juga keliatan kalo loe udah cape. Hayu,"
"Iya win, loe perlu istirahat. Enak kalo di kelas, adem. Disini panas," Sahut Aziel ikut khawatir.
"Aduh anaknya papa... Hayu, papa gendong ke kelas biar gak susah susah naek tangga." Timpal Ervin yang ikut menghampiri Edwin dan merentangkan kedua tangannya. Edwin memukul tangannya pelan, menunjukan wajah segarang mungkin tapi malah bikin Ervin makin pengen ngusilin dia.
"Sana pergi gih! Gua bilang gua masih kuat. Gua mau nonton ini sampe beres..." Final Edwin. Karena sifat nya yang keras kepala ini membuat teman temannya tidak bisa membantahnya. Kalo di bantah, yang ada sakit ati dan nangis.
"Yaudah... Gua peringatin sekali lagi sama loe win. Kalo loe ngerasa pusing, sesek atau gak kuat, langsung bilang sama gua. Kita istirahat," Nasihat Kino lembut. Edwin hanya berdeham sebagai balasan.
Edwin kembali menonton ekskul lagi. Ia sekarang bingung harus masuk ke ekskul mana. Ekskul sepak bola? Nggak, kayaknya gak mungkin deh, dia gak bisa lari kesana kesini. Kalo ekskul atletik? Edwin aja gak bisa jalan cepet, lari jarak jauh, yang ada jantungnya mengacau lagi. Kalau PMR? Edwin itu gak bisa ngurusin orang sakit... Kan yang sakit dia. Jurnalistik? Oh God... Dia tuh gak suka ngehalu, karna dia lah yang di halukan seluruh umat:v Ehek canda umat.
Pada akhirnya ia tak akan memilih ekskul apapun. Mungkin ia hanya tertarik pada satu ekskul walaupun tidak yakin. Ya, Basket. Ia ingin menjadi atlet basket. Setidaknya pernah masuk dan mencoba nya satu kali, bisa membuatnya senang.
Akhirnya parade itu selesai juga. Melebihi ekspetasi nya, hampir dua jam ia terduduk di pinggir lapangan itu, membuat pantat nya sangat panas dan pegal.
Nihil, ia terpisah dari Kino dkk. Ia bingung dan linglung, matanya memburam tidak bisa melihat orang orang dengan jelas. Bagaimana ini...? Ia harus cepat cepat bertemu Kino maupun teman temannya yang lain.
"Haah... K,kino...?" Lirihnya sambil melirik kesana kesini.
Tubuhnya yang lemas itu hampir saja terjatuh kalau tidak ditahan oleh seseorang. Ia dengan sigap menahan tubuh Edwin. Sang empu lalu melihat orang yang menahan ituβ tidak jelas tapi yang ia tahu yang menolongnya adalah wanita.
"Kamu gak papa?! Wajah kamu pucet! Sini minum dulu," Katanya panik. Edwin menggeleng pelan. Tidak bisa... Ia harus menemukan Kino.
"M,mana... K,kino...?"
"Kino?" Edwin mengangguk. Sesekali ia merintih karena kepalanya sangat pusing.
Di sisi lain...
"Abang Edgard!" Teriak Kino yang langsung memeluk Edgard. Ia tengah menunggu di parkiran untuk menjemput Edwin dan Kino.
"Eeehh ehehehehe... Anak onta. Kenapa nempel nempel lu? Mana bayi gua? Kok gak bareng sama dia?" Tanya Edgard padanya. Kino melupakan Edwin, dia meninggalkannya di lapangan karna tidak kuat menahan kencing tadi.
"Astaga! Bentar bang! Ketinggalan!" Kata Kino panik. Ia pun segera berlari untuk mengambil Edwin. Tapi ternyata anak nya datang sendiri dengan wajah yang sangat pucat dan langkah gontai.
"Aduh... Kenapa dek...? Lemes banget... Sekarang kita pulang ya? Loe butuh istirahat... Apa mau langsung ke rumah... Eh, eh, anying! Anying!"
Karena tidak bisa menyeimbangkan berat badannya, akhirnya Edgard terjatuh bersama Edwin. Cairan merah pekat itu kembali mengalir dari hidung mancungnya, nafasnya tampak terputus putus dan tubuhnya menggigil.
"Dek, dek, bangun dek..." Edgard mencoba membangunkan Edwin dengan menepuk nepuk pipinya.
"Dek... Adekβ " Ucapannya terhenti lalu menoleh pada Kino dengan wajah dingin dan kaku.
"Siapa yang berani bikin bayi gua pingsan?" Tanya nya datar. Kino menelan saliva nya sambil menggelengkan kepalanya.
Beberapa teman Ethan yang melihat Edwin pingsan di pangkuan Edgard jadi ketar ketir. Mereka gak mau kejadian tahun lalu kembali terulang lagi sekarang. Cukup angkatan Jupiter saja yang babak belur olehnya.
"Bantu gua angkat Edwin ke mobil. Kita langsung ke rumah sakit aja," Final Edgard setelah menghela napas panjang. Kino mengangguk, dia tak mungkin bilang kalo Mahesa membuatnya panas panasan tadi.
"Hh, liat aja ntar." Gumam Edgard pelan sampai Kino pun tak bisa mendengarnya.
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
"Huaaaaaaa... Lepasin Edwin... Sakit..." Rintih seorang anak kecil berumur 8 tahun yang di sekap di gudang tua.
"Aaaarrrgghhh!!! Bisa diem gak sih?! Loe itu musingin! Nyusahin gua! Dasar idiot!!! Berhenti!!!"
"Hiks, hiks... S,sakit..." Edwin terus melihat kedua tangannya yang berdarah setelah mencoba mengelap dahi nya yang di pukul kayu.
Bukannya berhenti, ia malah semakin kencang menangis. Membuat penculik itu merasa sangat risih dan berakhir menendang kursi serta melemparnya pada Edwin.
"DIEM ANJING! DIEM! "
Deg!
Edwin tidak menangis lagi. Ia membelalakan matanya kaget. Darah yang terus mengalir dari dahinya bahkan tidak terasa olehnya. Yang ia fokus kan hanya satu. Sakit pada jantungnya.
Jantungnya benar benar sakit dengan nafas yang tersendat. Ia menekan dada kirinya dan meremas nya, berharap bisa menghilangkan rasa sakit itu. Ia tidak mau mati dengan konyol seperti ini.
"Haah... Haah... Haah... S,sakit... Hhh... Hhh... Hhh... A,ayah... B,bunda... A,abang... T,tolongin Edwin..." Ia terus memukul mukul dadanya kuat. Kenapa rasa sakit itu tidak bisa ia hilangkan?
Sret!
Bugh!
Bukannya menolongnya, justru orang itu malah melemparnya hingga ia terbentur dinding itu.
"Bajingan! Loe gak bisa diem! Setan!"
Deg!
Sret!
"Hosh... Hosh... Hosh..." Edwin membuka netranya setelah mimpi buruk itu kembali menghampirinya. Dadanya semakin sesak, ia sudah menangis karena takut.
"Bunda..." Tangisnya kembali pecah.
Seseorang segera memeluk Edwin di detik itu juga. Ia mengusap usap punggung lebar Edwin. Tubuhnya gemetaran karena takut.
"Udah... Nggak papa nggak papa... Nunna disini... Adek gak sendirian lagi sekarang..."
The end.
Untuk pemeran Aziel kita ganti yak! Gak tau kenapa lagi gemush aja ama ni anak satu.