
Basu Karna keluar dari Serikat Pembunuh, tidak hanya dengan kualifikasi untuk menjadi seorang Serikat Pembunuh, tetapi juga menerima gelar Hantu Pendendam dan Peta Bunga Kala secara gratis.
Peta Bunga Kala dapat diserap ke dalam gunwang untuk memberikan laporan tentang apapun yang berhubungan dengan Hantu Pendendam pada waktu tertentu.
Bahkan tanpa gunwang, pengguna masih bisa mengaktifkan peta sekali sehari. Selama di malam hari, mereka bisa melihat lokasi target yang dikunci oleh Hantu Pendendam sebagai titik merah mengambang di seluruh peta.
Setelah memilih target, titik merah di peta membesar, dan simbol mawar darah muncul di lokasi target, dan menunjukkannya dengan akurat. Biasanya, target para Hantu Pendendam adalah para pembunuh jahat.
Jika pembunuh jahat tersebut membunuh anggota Hantu Pendendam, di saat sebelum kematiannya berhasil menggunakan Manuskrip Pendendam, maka penampilan si pembunuh bisa terekam. Pada saat yang sama, nama si pembunuh juga akan muncul di Daftar Pembalasan Serikat Pembunuh, atau Peta Bunga Kala. Keluarga korban juga dapat pergi ke Serikat Pembunuh untuk memberi hadiah kepada para pembunuh agar Hantu Pendendam mengejar mereka.
Batas waktu untuk Pembalasan Hantu biasanya setengah tahun. Jika si pembunuh berhasil dibasmi, atau jika keluarga korban tidak lagi mengejar si pembunuh, maka nama si pembunuh yang masuk daftar merah akan hilang dari Daftar Pembalasan dan Peta Bunga Kala.
Basu Karna tidak mau membantu orang lain karena kebaikan hatinya, dia hanya menginginkan peta yang sangat berguna secara gratis. Selain itu, para pembunuh jahat tentunya akan cukup kuat. Jika dia bisa menggunakannya untuk mengembangkan Suket Teki Gragas, itu akan luar biasa.
Setelah mendapatkan Peta Bunga Kala, Basu Karna memulai pekerjaan pertamanya sebagai Hantu Pendendam. Meskipun dia tidak tahu kekejaman berdarah macam apa yang telah dilakukan Watu Ireng, Basu Karna tahu bahwa setidaknya ada delapan keluarga yang telah bergabung untuk mengejarnya.
Uang hadiahnya tidak banyak, tapi juga tidak sedikit. 5 emas di serikat tentara bayaran adalah harga yang setara dengan membunuh Varian Jaguar Guntur.
Jika dikonversi ke rupiah, itu setara dengan sekitar Rp. 22.711.800, tepat pada tanggal 27 Desember 2022.
Tentu saja, di Benua Mahabarata, harga ini hanyalah jumlah uang terendah yang ditawarkan kepada Hantu Pendendam. Biasanya, hadiah tertinggi yang ditawarkan di Daftar Pembalasan adalah ribuan emas. Namun, Basu Karna belum bisa memiliki akses ke orang-orang dengan karunia setinggi itu. Dia masihlah seorang pembunuh amatir, tanpa reputasi atau pengalaman sama sekali.
Basu Karna memiliki mentalitas bahwa kaki nyamuk pun adalah daging, selain itu lima emas juga tidak sedikit. Ngomong-ngomong, ketika melawan monster untuk menaikkan level, kita harus mulai dari monster yang lemah. Siapa yang akan melawan bos di awal? Bukankah itu hanya mencari kematian?
Watu Ireng yang ada di daftar buronan Hantu Pendendam, tidak benar-benar menyembunyikan dirinya. Dia secara terbuka berjalan-jalan di jalanan dan dengan santai menikmati anggur. Jika itu adalah pembunuh lain dalam daftar pencarian, mungkin mereka takut seorang Serikat Pembunuh akan datang untuk mengambil nyawa mereka.
Namun, dia adalah tentara bayaran yang kuat dan memiliki pendukung berpangkat tinggi di belakangnya. Maka anggota Serikat Pembunuh biasa tidak akan mau bersusah payah membunuhnya hanya dengan imbalan lima emas. Karena itu, dia selalu hidup dengan nyaman.
Dia hanya mengkhianati dan membunuh beberapa temannya demi uang, ini hampir tidak berarti apa-apa. Dengan uang yang ditawarkan di depan mereka, siapa yang tidak akan melakukan hal seperti itu? Di masa depan jika dia punya waktu, dia mungkin akan memperkosa istri teman almarhum dan kemudian membunuh anak-anak mereka. Mari kita lihat siapa yang masih berani mengejarnya untuk membalas dendam.
Watu Ireng sangat bangga terhadap dirinya sendiri. Dia sudah mabuk setelah terlalu banyak minum, dan sekarang dia merasa seperti seorang ksatra yang kuat.
Ketika Watu Ireng dengan bangga tersenyum pada dirinya sendiri, dia melihat seorang pencuri kecil bertopeng berdiri dijalanan yang sepi. Mata pencuri itu berbinar seperti bintang, dan dengan suara sejernih air, dia bertanya. "Kamu, apakah kamu Watu Ireng di Daftar Pembalasan?"
“Apakah kamu seorang pembunuh? Apakah kamu datang untuk membalas dendam padaku?” Watu Ireng segera terbangun dari mabuknya.
Meskipun sikapnya berbau arogansi, dia tidak benar-benar bodoh dan sama sekali tidak tertarik untuk menambahkan namanya ke daftar orang-orang idiot yang menyerah atas kelalaian mereka.
Meskipun penampilan Watu Ireng menunjukkan bahwa dia telah terlibat dalam pesta mabuk-mabukan selama beberapa jam, dia masih mempertahankan pikiran yang tenang dan jernih, sehingga dapat dengan cepat menenangkan diri.
Sebagai seorang tentara bayaran, terutama yang telah mengkhianati rekan-rekannya, dia tidak ingin bertemu pembuatnya sebelum dia menikmati semua keuntungan yang didapatnya secara tidak sah. Sebagai orang yang biasanya memanfaatkan keadaan mabuk orang lain, dia membanggakan diri karena tidak melakukan kesalahan yang sama seperti korbannya.
Hanya karena tidak ada pembunuh yang membuntutinya baru-baru ini, tidak berarti dia telah menurunkan kewaspadaannya. Karena selalu waspada adalah mantra yang yang mengakar dalam di tulang semua tentara bayaran, terutama mereka yang ingin mempertahankan status hidup mereka.
Basu Karna menunjukkan disposisi santai dan memintanya dengan ramah. “Jika kamu tidak keberatan maka aku ingin meminjam kepalamu sebentar dan menukarnya dengan beberapa emas. Jika kamu memiliki kata-kata terakhir, kamu dapat mengatakannya sekarang. Aku tidak terlalu terburu-buru”
“Kamu bocah! Kamu berniat membunuhku sendirian. Ha~haa~haa." Watu Ireng mulai tertawa terbahak-bahak seolah-olah dia telah mendengar lelucon paling lucu di dunia.
“Oh, itu kata-kata terakhirmu? Kamu memang memiliki kebaikan untuk menjadi sederhana, ringkas dan tepat. Sekarang izinkan aku untuk mengirimmu ke alam baka.” Basu Karna dengan malas merentangkan tangannya dan mulai mendekat ke Watu Ireng.
“Kulit Watu” Watu Ireng berteriak saat dia mengeluarkan kristal hitam dari sakunya dan mulai melantunkan mantra.
Segera sejumlah besar cahaya hitam mulai mengembun di dalam kristal menjadi semacam kabut. Itu dengan cepat keluar untuk membentuk manusia batu besar berkulit gelap yang membuka lengannya dan menyelimuti tubuh Watu Ireng.
Dalam sekejap, itu menyatu dengan tubuh Watu Ireng. Tubuhnya telah mendapatkan warna gelap yang sama dengan manusia batu dan secara bersamaan kulitnya berubah menjadi baju besi.
Basu Karna tidak repot-repot menggunakan serangan diam-diam. Sebaliknya, dia hanya berdiri diam, penuh perhitungan. Dia menyadari bahwa lawan pertamanya adalah tentara bayaran tipe elemen yang bisa memanggil binatang roh. Pasti itu adalah tipe elemen, Kulit Watu.
Elemen dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama: pertarungan, penguatan, dan binatang tipe khusus. Di antara mereka, binatang tipe khusus terutama menggunakan keterampilan hidup atau keterampilan pengintaian untuk mengumpulkan intelijen. Sebagian besar tentara bayaran tidak memilih ini karena binatang tipe elemen memiliki persyaratan yang sangat tinggi dan berada di luar kemampuan mereka.