Dalwang

Dalwang
Pria Tua Resepsionis Serikat Pembunuh



Pencuri bermata cerah dengan licik tersenyum pada Basu Karna dan mendengus ringan, lalu dengan lancar membantunya mengisi formulir yang terdiri dari nama, jenis kelamin, dan pekerjaannya. Pencuri itu kemudian bertanya: "Berapa umurmu tahun ini?"


Basu Karna menghitung dengan jarinya, dan menjawab dengan suara tulus, “200 tahun, tapi aku belum menikah! Aku sedang dalam perjalanan untuk menemukan cinta sejati. Persyaratan saya untuk mencari pasangan cukup sederhana, pacarku hanya harus secantik dewi, bentuk tubuh seperti iblis, berpinggang ramping dan berpantat aduhai.”


Mendengar ini, semua tentara bayaran di ruangan itu memuntahkan anggur mereka.


Apakah bocah ini gila?


Ini seperti kisah legendaris kodok yang bermimpi memakan daging angsa, cocok dengan kisah anak nakal ini.


Pencuri bermata cerah itu juga memutar matanya: "Mengapa kamu tidak mengatakan bahwa selain memiliki pantat aduhai, dia juga perlu mencintaimu selama 10.000 tahun?"


Basu Karna memiliki ekspresi akhir yang tak terbantahkan: “Mencintaiku selama 10.000 tahun adalah batas waktu terpendek. Jika dia bisa mencintaiku selama 100.000 tahun itu akan lebih baik. Bahkan waktu sejuta tahun tidak akan terlalu lama.”


"Wong gendeng!" Pencuri bermata cerah itu menampar lamunan Basu Karna. Pada saat yang sama, dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa dia repot-repot berbicara dengan orang gila semacam ini, dia merasa sangat tertekan.


Basu Karna tiba-tiba masih dalam suasana hati yang baik saat dia mengulurkan tangan untuk menepuk bahu pencuri bermata cerah itu: "Terima kasih, saudara. Kata-katamu cukup menyanjung. Mereka sangat tepat, dan cukup murah hati. Pria sejati harus penuh gairah dan cinta. Apakah kamu sudah selesai mengisi formulir? Aku sangat berterima kasih, saudara. Aku akan mengundangmu untuk makan camilan tengah malam di penginapan baru, bagian timur kota. Disana memiliki gadis yang baru tiba dengan payudara sebesar bola basket. Ayo, mari kita minum bersama, menikmati malam yang indah.”


“Kamu! Bola basket? Apa itu bola basket?” Pencuri itu memelototi Basu Karna dengan mata menyeramkan, tapi dia juga tertarik dengan istilah tidak dikenal yang dia katakan, jadi dia malah mencoba bertanya padanya.


“Ah, bola basket adalah istilah khusus yang digunakan untuk menggambarkan dada wanita. Misalnya, jika seorang gadis yang berdada rata sepertimu. Tidak, bahkan lebih rata darimu… Nah, maksudku adalah jika seorang gadis memiliki dada rata seperti tembok, maka mereka akan disebut gadis peres. Jika payudara seorang gadis sangat kecil seperti payudaramu yang hampir tidak ada benjolan, maka payudara mereka akan disebut bengkoang. Tidak, tolong jangan cabut belatimu, aku salah bicara. Tolong jangan marah. Aku tahu kamu laki-laki, tetapi saya membutuhkan seseorang untuk digunakan sebagai pembanding. Baiklah, aku tidak akan menggunakanmu sebagai contoh lagi!”


"Lalu jika *********** lebih besar dari bengkoang, apakah itu bola basket?" Pencuri bermata cerah mengarahkan belatinya ke leher Basu Karna, dengan amarah seolah-olah pencuri itu akan membunuh Basu Karna kapan saja.


“Tidak, ada jenis lain yang lebih besar dari bengkoang. Seperti, pepaya dan kelapa. Baru setelah itu bola basket. Ada banyak klasifikasi. Ini semua pengetahuan yang biasanya tidak saya ceritakan kepada orang lain!” Basu Karna berkata secara ilmiah, layaknya sarjana dokter spesialis payudara.


"Masuk akal!" Ketika semua tentara bayaran di ruangan mendengar ini, mereka semua memuji Basu Karna serempak atas teori klasifikasi satuan ukuran payudara.


Tampaknya pencuri kecil Sutaputra, benar-benar memiliki pengalaman yang cukup luas dengan wanita penghibur.


Mendengar ini, Basu Karna menjadi bangga, seperti mahasiswa teladan di kampus yang baru saja mengeluarkan teori yang cerdas dan unik di depan ribuan mahasiswa.


Basu Karna dengan cepat melemparkan formulir itu ke resepsionis tua, membayar uang dan menerima lencana brata tentara bayaran. Kemudian, dia dengan cepat berteriak pada pencuri bermata cerah itu.


“Saudaraku, ayolah, aku akan mentraktirmu minum. Dengarkan aku! Dada gadis itu sangat besar! Aissh, kamu berlari sangat cepat. Sangat jelas dari pandangan pertama bahwa kamu belum pernah melakukan ini sebelumnya!” Pada saat Basu Karna berlari keluar dari pintu, mengikuti pencuri bermata cerah yang telah menghilang seperti asap.


Seolah-olah pencuri itu tidak pernah muncul.


Saat Basu Karna bersiul keras dan pergi dengan angkuh, tiba-tiba muncul kilau dalam kegelapan yang ternyata adalah belati cerah di tangan pencuri bermata cerah. Dia ingin sekali melempar belati ke punggung Basu Karna berkali-kali, tapi dia akhirnya menekan keinginan itu.


Pencuri bermata cerah itu dengan ringan meludah ke arah yang ditinggalkan sosok Basu Karna, lalu sekali lagi menghilang dalam sekejap.


Menghadapi angin malam yang lembut, Basu Karna tersenyum. Mengingat pengalaman berhubungan dengan pencuri bermata cerah sebelumnya.


Kota Angga, Serikat Pembunuh.


Seperti semua Serikat Pembunuh lainnya di dunia Basu Karna sebelumnya, Serikat Pembunuh di Kota Angga memberi perasaan menyeramkan dan menakutkan. Ada lampu di dalam gedung, tapi sekecil kacang polong. Itu memberi orang perasaan bahwa lampu bisa padam kapan saja. Tidak apa-apa jika lampunya redup, tapi anehnya juga menakutkan dan gelap. Basu Karna mendorong pintu Serikat Pembunuh secara perlahan, dan saat melihat kondisi ruangan, dia tercengang.


Serikat Pembunuh tidak memiliki orang, selain dari seorang lelaki tua dengan pakaian rami yang sedang tidur di atas meja.


Pria tua itu memiliki rambut beruban, sosoknya yang tergeletak di atas meja tampak sangat kecil. Sepertinya tubuh dan pikirannya sudah pikun, layu dan busuk. Itu membuatnya terlihat sangat lemah.


Tentu saja, jika dilihat dari penampilan luarnya, pria tua yang tampaknya penuh bau tanah ini tampak seperti bisa diterbangkan hanya dengan angin sepoi-sepoi. Selain itu, cara dia tidur membuatnya tampak seperti telah jatuh ke dalam tidur abadi. Namun, Basu Karna secara internal merasakan perasaan aneh. Dia yang telah hidup lama sebagai kepala mafia dan mencapai alam brata dalam kehidupannya kali ini, merasa bahwa jika dia melawan pria tua itu dengan segala yang dimilikinya saat ini, mungkin tidak akan bisa mengalahkannya, bahkan dengan serangan diam-diam. Basu Karna berpikir pada dirinya sendiri bahwa lelaki tua ini bahkan lebih menakutkan daripada singa yang sedang tidur. Lebih tepatnya, dia tampak lebih seperti naga tidur!


Tentu saja, jika harus bertarung. Basu Karna yang adalah seorang kepala mafia tidak akan pernah mundur, meski pihak lain bukan lawan yang bisa dia kalahkan.


"Halo, saya ingin mendaftar untuk bergabung dengan Serikat Pembunuh." Basu Karna telah memalsukan sopan santunnya di serikat tentara bayaran, tapi dia mengatakan itu dengan rasa hormat yang datang langsung dari hatinya.


“Anak muda, seorang pembunuh adalah profesi berdarah dan kejam. Apakah kamu benar-benar telah mempersiapkan diri?” Pria tua itu perlahan mengangkat kepalanya. Penampilannya sangat normal, wajahnya dipenuhi bekas luka. Bahkan jika seseorang melihatnya 10 kali di jalan, kemungkinan besar mereka tidak akan dapat mengingat keberadaannya, apalagi penampilannya.


Matanya yang gelap dan tua menatap Basu Karna.