CRUEL MAFIA'S MY HUSBAND

CRUEL MAFIA'S MY HUSBAND
Pertemuan Tak Terduga



Tubuh keduanya masih menempel erat, tak lagi peduli akan keadaan sekitar. Suasana tak biasa melanda mall tersebut. Pipi merona menghiasi paras cantik Isyana, ia malu sangat. Perlahan tangan mungil gadis itu melepaskan lilitannya pada pinggang ramping nan kokoh sang pria. Namun, apalah daya. Lengan kekar pria tiran itu segera meraih tangan mungil gadisnya, seakan tak rela jika lengan kecil itu terlepas dari tubuhnya.


Tindakan tak terduga dari pria asing tersebut semakin menambah rona merah di paras manis itu. Michael tersenyum lembut sembari lengan kekarnya melingkar erat pada pinggang ramping gadisnya. Karena malu Isyana sedikit berontak untuk melepaskan dekapan hangat lelaki asing tersebut. Namun, apa daya tenaganya kalah dari orang yang mendekap lembut tubuh mungilnya.


"Ihh, lepas!" Ujarnya lirih sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tidak akan!" Balas pria tampan itu tegas.


"hmph!" Tangan mungilnya mencubit pinggang kokoh sang pria kuat.


"Ishh!" Desis pelan pria itu sembari melepas cubitan maut gadisnya, lalu mengecup lembut tangan mungil Isyana mesra.


"Lepas nggak!" Lirih gadis manis itu pelan.


"Tidak mau, Baby!" Balas lembut Michael sambil mendekap erat gadis yang dicintainya penuh kasih sayang.


Karena kesal gadis cantik nan imut itu menggigit keras dada bidang sang pria yang membuat pelukan eratnya sedikit melonggar. Tindakan tak terduga gadis itu membuat pelukan pria mafia tersebut akhirnya terlepas. Segera Isyana Putri menjauh dari jangkauan sang pria dan menghampiri sahabatnya yang masih linglung di tempat.


"Res, ayo pulang!" Ajak gadis itu sembari menyeret sahabatnya keluar dari mall sembari menyembunyikan semburat merah di paras cantiknya.


"Eh, tunggu dulu, Ana!" Cegah Restu sembari menyamakan langkah kakinya dengan sahabat cantiknya.


"Ayo!!" Paksa Isyana sembari menahan malu akan tingkahnya barusan.


"Tapi.. "


"Besok kita kesini lagi," Isyana semakin cepat menyeret sang sahabat untuk menjauhi pria masa lalunya karena malu.


"Ok, terserah kamu, Na," Pasrahnya.


Michael yang mengetahui tingkah menggemaskan gadisnya hanya bisa tersenyum tipis. Pertemuan tak disangka-sangka dirinya akan bertemu gadis yang sangat ia rindukan. Tanpa mempedulikan sekitarnya pria tampan itu segera menyusul gadisnya, sebelum ia kehilangan jejak gadis cantik tersebut.


Walau dadanya agak nyeri akibat gigitan tak main-main gadisnya namun, tidak menyurutkan langkahnya mengejar sang gadis. Dan pria yang mengikuti kemanapun sang tiran pergi pun juga berlari dibelakangnya. Kaki jenjangnya yang panjang tak membutuhkan waktu lama untuk menyusul lari gadisnya. Kini kedua pria tampan itu berlari dengan pelan, karena jarak keduanya yang semakin dekat.


Dengan kecepatan tak terduga lengan kekar pria tampan itu meraih pinggang ramping gadisnya cepat. begitu pula temannya juga melakukan hal yang sama. keduanya seolah tuli tak menghiraukan teriakkan nyaring kedua gadis cantik tersebut. Tanpa di duga kedua pria tampan yang terkenal dingin di dunia bisnis itu terkekeh kecil sambil membawa keduanya menuju tempat parkir mobilnya.


Lengan kokoh itu mendekap lembut tubuh mungil gadisnya. Tak peduli perhatian semua orang menuju kearahnya. Image dingin sang tiran tampak tak berlaku pada gadis dalam gendongannya. tak tau kenapa kepribadiannya seakan seperti bukan dirinya yang biasa di depan gadis ini.


Ia meronta pun percuma karena dekapan pria tampan itu semakin erat pada tubuhnya, sehingga dirinya pasrah. Karena malu Isyana menyembunyikan wajah merahnya di dada bidang orang itu. Senyum tak biasa kini terlihat di paras tampan sang mafia. Membuat sang supir tertegun sejenak, pun juga para bodyguard yang penasaran akan perubahan mendadak tuannya.


"Eh, apa-apaan ini?" Teriakkan gadisnya tak mereka hiraukan.


"Sudah diam, Sayang!" Suara lembut kedua pria tampan itu membuat gadis-gadis cantik terdiam.


"Kami mau pulang!" Kata keduanya serentak.


"Iya, Sayang! Kita pulang!" Balasnya lembut sembari mengecup sekilas bibir lembut Isyana mesra.


"Mesum!" Mata indah gadisnya melotot tajam yang terlihat sangat menggemaskan.


"Hahahaha!" Tawa keduanya menggema di dalam mobil mewah tersebut.


"Ih, diam!" Tangan mungil keduanya secara reflek memukul pelan dada bidang itu.


"Sayang, kamu menggemaskan sekali," Pekik gemas pria bersurai kecoklatan itu dan semakin mengeratkan lilitan tangannya di pinggang ramping Restu Anggita Andira.


"Memangnya aku kucing!" Gerutu Restu mengerucutkan bibirnya lucu.


"Iya, kamu kucing kesayanganku," Bibir tegas seorang Roberto Alricko Dominic mengecup lembut kening gadisnya.


Kedua pria tampan itu hanya bisa terkekeh geli. Sungguh tingkah menggemaskan gadisnya sangat menghibur keduanya. Lengan kekarnya semakin mendekap pinggang ramping itu erat sekali. Mobil mewah itu melaju pelan di jalanan Kota Jakarta.


Tak lama mobil mewah itu perlahan sampai di mansion mewah sang pengusaha tersukses di dunia. Entah karena kelelahan atau memang sangat ngantuk kedua gadis itu terlelap pulas di dekapan hangat pria yang memeluknya. Kedua tangan mungil Isyana melingkar erat di leher kokoh Michael Romanov dan membuatnya tersenyum tipis untuk yang kesekian kali hari ini.


Dengan hati-hati kedua pria tampan itu membopong gadis cantik tersebut di depan tubuh keduanya. Michael mengecup lembut puncak kepala gadisnya sayang. begitu pula yang dilakukan sahabatnya. Tampaknya Robert akan menginap di mansion mewahnya mengingat pria itu menemukan belahan jiwanya bersamaan dengannya. Dan pasti ia tak akan pernah melepaskan apa yang dimilikinya.


Isyana menggeliat sepertinya terganggu dan mengusik tidurnya. Lengan kokoh itu membelai lembut punggung ramping gadisnya agar nyaman. Merasa kehangatan familiar ditubuhnya membuatnya semakin mendekap tubuh kekar di depannya. Kasur besar sang mafia dapat menampung lima orang dewasa yang kini malah dikuasai sendiri gadisnya.


Kekehan geli mengalun lembut saat melihat berantakannya tidur sang gadis. Sifat gadisnya inilah yang membuatnya sulit melupakannya, karena secara tidak sadar tingkah apa adanya sang gadislah yang mampu membuat hatinya menghangat. Bibir tegas sang tiran mengecup lembut kening gadisnya penuh kasih.


"Selamat tidur, Sweetheart!" Desisnya pelan.


Malam semakin larut dan membuat penghuni mansion mewah tersebut terlelap nyenyak. Tak terkecuali kedua gadis cantik itu, karena keduanya tampak sangat kelelahan. sehingga tak peduli mereka berada dimana yang terpenting adalah tidur. kedua lelaki tampan tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan tingkah absrud kedua gadis mereka. Semoga esok hari mereka tak mendapat masalah yang serius akibat ulah gadis mereka hari ini.


BERSAMBUNG!