CRUEL MAFIA'S MY HUSBAND

CRUEL MAFIA'S MY HUSBAND
2. Awal bertemu (2)



Di Bandara Soekarno-Hatta terlihat seorang pria berparas tampan keluar dari pintu kedatangan Internasional dengan langkah santai sembari menyeret kopernya sendiri. Semua orang yang dilewatinya tak mampu memalingkan matanya dari ketampanan pria tersebut yang memang memiliki ketampanan di atas rata-rata. Suasana bandara pada malam hari sedikit lengang, hanya beberapa orang saja yang mengambil penerbangan malam seperti dirinya.


Para wanita pun tak henti menjerit ketika pemuda itu melintas di


depannya yang kebetulan satu pesawat dengannya. Raut wajah dinginnya tampak mengerikan yang tentu membuat orang disekitarnya bergetar ketakutan. namun, sekali lagi ini adalah Indonesia yang mana setiap warganya tak kenal rasa takut selama semua yang dilakukannya benar.


Pria itu berjalan santai dan diiringi dua orang pengawalnya ke mobil mewah yang telah disiapkan sang asisten beberapa saat lalu. tangan kekarnya meraih handle pintu mobil lalu membukanya dan masuk kedalamnya disertai pengawal pribadinya di mobil lain.


perjalanan dari bandara agak sedikit lengang karena hari telah larut malam, paras menawannya masih datar tanpa ekspresi namun, siapa yang tau jika hatinya kalut akan ingatan masa lalu yang masih terbayang di otaknya.


 


Pagi menyapa Kota Jakarta walau kabut menghiasi langit yang tak terlalu cerah tersebut. Hari ini adalah hari Senin hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. namun,  kelihatannya kegiatan sekolah belum bisa dilakukan karena pandemi virus corona yang belum tau kapan akan berakhir.


Alhasil upacara wajib hari senin dilakukan dengan sistem online. seperti saat ini gadis cantik itu tengah bersiap-siap memakai seragam OSIS lalu membuka laptop dan memulai upacara tersebut.


Setengah jam kemudian upacara itu berakhir dan dilanjutkan pembagian tugas sekolah oleh para guru karena memang kegiatan belajar-mengajar belum bisa dilakukan secara langsung. Isyana mendengarkan penjelasan wali kelasnya tentang tugas yang akan ia kerjakan saat ini.


Tak lama kemudian pelajaran hari ini selesai, gadis itu merenggangkan tangannya yang sedari tadi menulis penjelasan gurunya untuk meredakan rasa pegal di jarinya. Isyana turun ke bawah untuk makan siang bahkan, ia lupa untuk sarapan sehingga perutnya lapar sekali.  Untung saja orang tua serta para kakaknya tak ada di rumah. jika salah satu diantara mereka berada di rumah, bisa dipastikan telinga gadis itu akan memerah karena jeweran maut sang ibu.


"Bibi, tolong buatkan saya nasi goreng ya!"


"Iya, Non!"


Sembari menunggu Isyana memainkan game diponselnya untuk menghilangkan bosan. Sampai ia tidak sadar pesanannya sudah matang.


"Ini nasi gorengnya, Nona!"


"Makasih, Bik!" Balas sang Nona ceria.


"Sama-sama, Non," Balas pembantunya sopan.


Isyana pun segera menyantapnya lahap, karena memang dirinya sangat kelaparan. tak lama gadis itu menyelesaikan makan siangnya cepat. setelahnya sang gadis pun segera melesat ke kamar untuk berganti pakaian.


"Bik, aku pergi ke mall dulu ya!" Teriak Isyana karena sudah berada di luar rumah.


"Iya, Non!"


Begitu Isyana memasuki mobil miliknya, Restu segera melajukan mobil mewahnya meninggalkan kediaman Keluarga Permana. Kedua sahabat itu memasuki mall dengan riang. Tak peduli jika tingkah keduanya membuat pengunjung mall lainnya menahan senyum akibat kepolosan mereka.


Termasuk seoeang pria berparas tampan yang tak pernah memalingkan pandangannya dari gadis tersebut.


Entah ini kebetulan atau memang takdir Tuhan, mereka secara tidak sengaja bertemu walau secara tidak disadari gadis itu. Michael Romanov berada di mall yang sama untuk menemui salah satu kliennya.


Lelaki itu tersenyum lembut ketika perhatiannya tidak pernah lepas dari sosok gadisnya tersebut. Senyum yang telah lama tak terlihat semenjak kejadian kelam yang merenggut kebahagiannya, memisahkan dirinya dari gadis yang sangat dicintainya.


Isyana merasa tak nyaman seakan ada sinar laser yang menghujam punggungnya. namun, itu tak lama kini keduanya kembali larut dengan aktivitas sebelumnya.


Kini kebahagiannya telah kembali, gadisnya telah ia temukan walau pertemuan keduanya tanpa di sengaja. Gadisnya semakin cantik dan menawan selama tujuh tahun tak bertemu.


~Skip!~


Ketenangan keduanya agak terganggu dengan keributan di depannya. sekelompok perampok memasuki mall dengan senjata tajam di tangan. Mereka tampak menyandra seorang gadis yang saat ini menangis ketakutan. Isyana yang melihat kejadian itu tampak berpikir keras. Bagaimana menyelamatkan sandera tanpa membahayakan keselamatan orang-orang disekitarnya.


"Res, kamu ada ide nggak?" Tanya Isyana pelan.


"Ada tapi agak beresiko," balasnya berbisik.


"Apa?"


"Begini....." Restu segera membisikan idenya ke telinga Isyana dan disambut dengan suka cita oleh gadis itu.


"Alright! Let's do it!" Balasnya sembari menyeringai.


Melihat sahabatnya senang membuat Restu agak menyesal mengenai idenya tersebut. Ia tak menyangka jika sahabatnya ini akan sesenang itu. Begitu pula dengan pria tampan yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku kedua gadis tersebut, ia bahkan terkekeh geli saat melihat binar kebahagiaan gadisnya.


Sang asisten tak percaya kala Tuannya terkekeh pelan saat melihat tingkah laku menggemaskan kedua sahabat yang sampai saat ini tak mengetahui keberadaan mereka.


Michael menyiagakan semua bodyguadnya untuk mengawasi gadisnya. Ia tak ingin gadisnya terluka karena perampok itu. Mata tajamnya tak pernah lepas mengawasi gadis imut miliknya, lengan kekarnya bersilang di depan dada bidangnya menunggu apa yang akan dilakukan kedua gadis cantik tersebut.


Sepertinya akan seru pertunjukkan gadisnya, senyum tipisnya tak pernah luntur dari paras tampannya. Ingin sekali ia mendekap tubuh mungil gadisnya, namun sekuat tenaga dia tahan.


"Kita akan bertemu secepatnya, sweetheart!" Batinnya senang.