CRUEL MAFIA'S MY HUSBAND

CRUEL MAFIA'S MY HUSBAND
3. Akhirnya Bertemu



Situasi di mall terbesar di Jakarta itu belum kondusif, para perampok melakukan perlawanan walaupun lawannya hanya dua orang gadis muda. Kedua pria berbadan kekar itu tak ingin kalah dari lawannya, sungguh tidak tahu malu. Pertarungan itu semakin seru, ketika gadis cantik itu mengeluarkan sejatanya kesayangan nya dari balik pakaian.


Pria yang sedari tadi tidak melewatkan tatapannya menjadi terkejut bukan main, ia tak menyangka jika gadisnya akan menggunakan sejata semengerikan itu. Ada rasa ngeri dalam hatinya saat ia melihat cara gadisnya memainkan senjata berbahaya tersebut. Senjata itu merupakan pemberiannya tujuh tahun yang lalu, sebagai hadiah ulang tahun gadisnya yang ke delapan tahun.


Senjata itu adalah buatannya sendiri, juga bisa menjadi tanda pengenal gadisnya saat mereka bertemu lagi. Setelah sekian lama mereka terpisah. Pertarungan kedua gadis itu belum ada tanda-tanda akan berakhir. Isyana memainkan pisau kembarnya dengan lihai, tatapan lurus kepada dua orang perampok itu, ia sangat geram dengan sikap sombong keduanya.


"Dasar gadis kurang ajar!" Teriak Salah satu perampok yang merasa diremehkan.


"Buset dah!" Telinga kedua gadis itu berdengung hebat setelah suara menggelegar sang perampok menyapa pendengarannya.


"Etdah tuh suara toa amat!" Jemari mungilnya mengorek lubang telinganya brutal.


"Diam nggak lu!" Desis Isyana pelan sembari memainkan pisau kesayangannya.


Tak terima dengan hinaan gadis tersebut salah satu penjahat itu menyerang gadis pemegang pisau belati yang berdiri sekitar empat meter darinya. Posisi siaga segera gadis itu lakukan seakan ia siap menerima serangan perampok tersebut. Begitu juga sahabatnya yang tak mau jadi penonton saat rekan musuhnya lengah melonggarkan cekalan terhadap sanderanya.


Segera tanpa membuang waktu Restu berlari cepat menyelamatan gadis kecil yang di jadikan tawanan para perampok tersebut. Saking cepatnya serangan Restu pria berkumis tebal itu tak sempat mengelak dari gerakan mendadak gadis manis bersurai ikal didepannya.


Pria bengis itu harus merelakan kepalanya menjadi sasaran pukulan telak sang gadis dengan tenaga penuh hingga menghantam salah satu pilar di mall tersebut sampai retak. Semua pengunjung mall tersebut menganga takjub dengan kekuatan tak terduga gadis mungil itu. Tak terkecuali seorang pria tampan yang berdiri tenang di samping Sang Mafia Kejam.


Tampak binar ketertarikkan terpancar di netra kelabu sang pria takjub dengan kekuatan luar biasa sang gadis yang tak biasa. Pandangan matanya tak lepas dari aksi kedua gadis manis yang tak sengaja mereka klaim bersamaan. Kini hati mereka telah menemukan pusat dunianya yang mana akan menjadi tujuan hidup kedua pria penguasa dunia itu dengan kerajaan bisnisnya.


Tak mau kalah dengan sahabatnya Isyana masih menyeringai sinis pada perampok yang akan menyerangnya. Kedua lututnya di tekuk sedikit memasang kuda-kuda pertahanan. Kedua tangan mungilnya memegang erat pelati kembar kesayangannya. Surai legamnya sudah ia gelung rapi agar tak mengganggu pertarungan maut keduannya.


Belati kembar pemberian pria masa kecilnya yang sekarang entah ada dimana sangat berharga untuknya. Sebelum memulai aksinya bibir mungil gadis itu mencium mesra belati itu sembari menahan laju airmata yang ingin menetes. Sungguh rasa rindu ini seakan ingin membunuhnya, ia sangat merindukan prianya. Sangat.


Perilaku tak biasa gadis itu tak lepas dari tatapan tajam sang pria. Netra birunya berkaca-kaca melihat airmata gadisnya menetes sekilas di paras cantik tersebut. Dadanya bagai di hantam tangan tak kasat mata yang membuatnya sesak. Ingin sekali dirinya mendekap tubuh mungil gadisnya yang tengah menahan tangis dalam diam.


Para perampok itu menyeranng bersamaan setelah Restu Anggita menghajar tanpa ampun ketua mereka. Para penonton menahan napas menyaksikan kedua gadis itu melawan kawanan perampok kejam yang meresahkan pengunjung mall tersebut. Bahkan, kedua pria tampan itu ingin beranjak dari tempatnya untuk membantu gadis-gadis itu.


Namun, pemandangan tak terduga mereka saksikan. Semua kawanan perampok itu tumbang dengan sekali serangan yang dilakukkan kedua gadis yang semula mereka remehkan. Rupanya mereka menggunakan tenaga dalam yang keduanya kuasai untuk melumpuhkan para penyerangnya.


"Hanya segitu kemampuan kalian, Hm?" Tawa mengejek Isyana mengalun lembut namun mengerikan.


"Huh, ternyata hanya omong besar mereka, Say!" Ejek Restu tak mau kalah dengam sang sahabat.


"Bedebah! Sombong sekali mereka!" Pria berkumis tebal itu meludah di lantai mall yang dipenuhi bercak darahnya.


"Kurang ajar sekali gadis sialan itu!" Yang lain tampal menimpali sembari menahan sesak akibat hantaman tenaga dalam yang dilakukan kedua sahabat tersebut.


Perlahan sang ketua yang memiliki lima tingkat tenaga dalam di bawah lawannya bangkit untuk kembali menyerang. Namun sayang sebuah pisau kecil lebih dulu melayang kearahnya menyuruh berhenti melancarkan serangan kedua. sebuah pisau serupa dengan milik gadis yang menjadi lawannya menancap tak jauh dari kaki kanannya.


Jika ia terlambat menghindar sudah dapat dipastikan akan mendarat di pahanya. raut ngeri terlihat di paras para perampok tersebut. Dengan gemetar tatapannya beralih ke arah dimana serangan mendadak itu berasal. Kini tampak didepannya berdiri gagah kedua pria berparas sangat tampan tersenyum sinis penuh peringatan.


Lutut para perampok tersebut bergetar ketakutan akan aura kekejaman yang menguar salah satu dari keduanya.


Netra hitam kecoklatan Isyana tampak melebar mendapati belati mewah serupa miliknya hampir mancap cantik di kaki salah seorang perampok yang hendak kembali menyerangnya. Manik cantiknya berair menahan diri untuk tidak mengalir di pipi chubbinya. Netra kecoklatan miliknya menatap dalam pria tampan yang tadi melempar pisau belati mewah itu.


Seketika kenangan masa lalu melintas dibenaknya bagai air bah, seorang remaja lelaki yang sangat tampan tengah mendekapnya sayang. Pertemuan pertama yang dikehendaki takdir akan keterikatan hati keduanya. Dan ternyata saat itu juga adalah pertemuan terakhir mereka. Sang pria pindah ke Amerika bersama keluarganya tanpa sempat berpamitan. Sedangkan sang gadis juga pindah ke Bandung untuk mengobati penyakit sang ibu yang semakin kritis. maka keduanya berpisah tanpa kata di taman ibukota saat itu, sesaat sebelum berpisah remaja laki-laki itu memberikan sepasang belati kembar kesayangannya. Untuk menjadi pengenal ketika takdir kembali mempertemukan mereka suatu hari nanti.


Kini mereka kembali dipertemukan, Sang Gadis tanpa pedulikan sekitarnya segera berlari kencang menubrukkan tubuhnya dalam dekapan sang terkasih. Pria tampan itu sedikit terhuyung ke belakang, karena dorongan tubuh mungil yang saat ini memeluknya erat.


Kedua lengan kekarnya melingkar erat di pinggang ramping gadisnya, seulas senyum lembut terlihat di bibir tegas sang pria. Tak henti bibirnya mengecup lembut puncak kepala gadis imutnya sayang. Isakkan lirih Isyana terendam di dads bidang prianya, tak lupa kedua tangan mungilnya menggenggam erat jaket yang terbuat dari kulit itu erat.


Restu Anggita sampai dibuat melongo dengan kelakuan absud sahabat kentalnya. Tak peduli akan keramaian di mall tersebut, dengan santai kaki jenjangnya melangkah menyusul sang sahabat yang masih betah memeluk pria asing didepannya. para perampok yang mengetahui tak lagi di pedulikan kedua gadis itu segera melarikan diri, tak lagi peduli dengan tujuan mereka saat ini. Nyawanya lebih penting.


mereka tak peduli dengan kawanan perampok itu kabur tersebut, pemandangan ini lebih menarik daripada para perampok tidak jelas itu. Isyana masih terisak pelan, ia ingin meluapkan kerinduan dihatinya terlebih dulu. Tak peduli dengan anggapan sahabatnya nanti, yang penting rasa rindunya tersalurkan.


Dunia seakan miliknya yang lain cuma numpang. Ya, biarkan mereka bahagis sejenak sebelum masalah menimpa keduanya.


"Finaly I found you, Baby!" Batinnya senang.