Change The Plot

Change The Plot
Chapter 5 - Keanehan (3)



"Sihir adalah hal yang rumit tapi juga sederhana." Rion mengulurkan dua tangan membenahi buku di atas meja beroda. Mencari sebuah buku.


Sedangkan ucapan Rion itu berputar di kepala Seth.


Rumit tapi juga sederhana?


Dia mengernyit.


Apa maksudnya?


Tiran tersenyum mencemooh. "Kau bicara seolah kau mengerti sihir saja."


Rion tersenyum kecil. "Sebenarnya, saya bisa, tuan muda." Dia mengulurkan tangannya di depan tubuhnya. "Sedikit."


Sebuah cahaya berwarna hijau muncul di atas tangannya. Membuat Tiran semakin mengernyit. Tidak menyangka remaja di depannya itu akan menunjukkan hal di luar ekspektasinya. Kemudian mengeluarkan dengusan.


"Sihir apa itu?"


"Pelayan ini tidak pandai. Saya hanya bisa menggunakan sihir penyembuh ini." Dia meredupkan sihirnya. Mengeluarkan senyum kekehan canggung. "Sepertinya saya tidak bisa menjadi penyihir." Rion memasang senyum simpati. Simpati kepada dirinya sendiri.


"Ha!"


Suara itu membuat Rion mengangkat wajahnya. Melihat Seth tengah memiliki senyum mencemooh sembari membalik halaman-halaman kertas buku di tangannya.


"Anak sepertimu, berpesimis sebelum mencoba."


Tiran sedikit ingin memberungut. Nyatanya anak seperti Rion, terutama yang memiliki pemikiran seperti itu, sangat membuatnya geram. Mereka adalah salah satu tipe orang yang paling dirinya tidak sukai.


Dia mengangguk anggukan kepalanya. Menyerah. "Baiklah. Jika kau bilang kau tidak bisa, maka kau memang tidak bisa." Dia mengangkat wajahnya. Mendongak kesamping untuk memandang Rion.


"Apakah kau akan bisa mengajariku untuk menggunakan sihir?"


Rion yang tengah berwajah datar perlahan melebarkan matanya.


"Tuan muda ingin saya untuk menjadi guru tuan muda?"


"Guru, tutor, terserah." Dia menutup buku dan mengayunkannya di sebelah kepalanya.


"Aku hanya perlu tau dasarnya."


Wajah Rion yang awalnya terperangah berubah menjadi sumringah. Senyum lebar terpasang di wajahnya.


"Saya akan melakukan yang terbaik!"


Tiran menghela nafas tanpa suara. Membiarkan Rion mengajarinya.


"Hal yang pertama harus dilakukan adalah memahami bahasa mantra, tuan muda." Rion mengucapkan sesuatu yang tidak bisa Tiran pahami. Kemudian sebuah kristal es muncul di atas telapak tangan Rion. Disertai cahaya terang putih dan aura dinginnya.


Hal itu membuat Seth sedikit terkejut. "Kau bilang kau tidak bisa menggunakan sihir?"


Kedua alis Rion bergerak naik. "Ya." Rion mulai mengingat kenyataan bahwa tuan muda di depannya adalah anak seumurannya yang baru saja membuka matanya satu tahun lalu. Dia perlahan memasang senyum lembut.


"Semua yang mengucap mantra bisa menggunakan sihir, tuan muda. Manusia terlahir dengan inti yang membuat kita bisa terhubung dengan energi di dunia dan menggunakan energi kehidupan itu untuk untuk melakukan hal-hal di luar kemampuan kita. Sayangnya," Rion menahan nafas. Seolah dikecewakan oleh suatu fakta yang baru saja dia dengar.


"Orang seperti saya terlahir dengan inti yang lemah."


Tiran mengernyit terhadap penjelasan itu.


Tentang inti dan energi kehidupan. Tapi kemudian dia mengingat buku-buku yang dimiliki oleh Falgi. Komik-komik itu. Para penulisnya terlihat gemar sekali menciptakan teori-teori sihir mereka sendiri.


Dia masih mengernyit tapi perlahan merilekskan wajahnya. "Baiklah."


Di menit-menit berikutnya adalah Rion berbicara dan Seth mendengarkan.


Rion mungkin tidak bisa menggunakan sihir karena intinya yang lemah tapi dia paham tentang sihir. Rion memberi banyak penjelasan yang mudah dimengerti selayaknya seorang tutor yang masih dalam usia belia. Antusiasme dan semua gerakan tangannya juga tindakannya yang mengucap mantra pendek juga memunculkan sihir di depan Tiran membuat Tiran bisa melihat kecintaan Rion terhadap yang mereka sebut sihir.


Sihir memiliki bahasanya sendiri. Maka para makhluk hiduplah yang harus menyesuaikan diri untuk berkomunikasi dengan mereka. Menggunakan energi yang ada di seluruh daratan, dengan inti sebagai perantara, manusia bisa memperoleh energi dan menjadikan inti sebagai wadah penampung energi yang akan menjadi sumber kekuatan untuk berkomunikasi dan membuat sihir dari energi yang mereka kumpulkan.


Dan bahasa sihir sangatlah penuh aturan. Kekeliruan cara membaca akan membawa sihir yang berbeda. Seseorang hendak memanggil air laut dan justru malah membuat dirinya terpindah ke tengah laut.


Membayangkan itu membuat bulu kuduk Tiran berdiri.


Rion memberikan sebuah buku padanya. Buku yang bisa membantunya mempelajari bahasa sihir. Rion juga mengucapkan setiap kalimat. Memberitahu Seth cara mengucapkan yang benar.


Ini mengingatkan Tiran pada satu bahasa yang dia tahu. Dimana sebuah kata bisa berubah artinya ketika diucapkan dengan cara yang berbeda.


"Tuan muda akan mencobanya?"


Ucapan tiba-tiba Rion di tengah menjelaskannya membuat Tiran mengerutkan kening. Mengingat cerita Rion tentang seseorang yang bukannya memanggil hujan justru malah membakar tubuhnya sendiri, seseorang hendak menumbuhkan tanaman tomat dan justru malah membuat buahnya meledak,


Rion tidak pernah melakukan kesalahan dan tidak pernah mengalami kejadian kejadian mengerikan seperti itu. Tapi bagaimana dengan Tiran?


Dengan kerutan di kening dia perlahan mengulurkan kedua tangannya. Membuat bentuk tangan menopang.


Dia menggumamkan mantra.


Di luar dugaan keduanya, tidak ada apapun yang terjadi. Tiran yang memejamkan matanya perlahan membukanya lagi.


? Tidak terjadi apa-apa?


Dia melirik Rion dan melihat anak itu tengah memiliki wajah bingung.


"Ini aneh."


Dia yakin Seth sudah mengucapkan bahasa sihir dengan benar. Rion menggunakan mantra yang sama dan sebuah cahaya seperti lampu muncul di telapak tangannya. Itu adalah mantra cahaya.


"Mungkin tuan muda ingin mencobanya lagi?"


Tiran menahan nafas. Menggumamkan mantra lagi.


Tapi, lagi-lagi tidak ada yang terjadi.


"Ini, tidak pernah terjadi sebelumnya." Rion mulai sibuk dengan pikirannya. "Satu satunya yang membuat seseorang tidak bisa menggunakan sihir adalah-"


"Orang itu tidak mempunyai inti."


Seseorang lebih dulu memotong. Orang itu adalah Tiran.


Mengingat semua penjelasan dari Rion, kesimpulan itulah yang dia dapat.


Jika seseorang tidak memiliki inti maka tidak peduli berapa jumlah mantra yang diucapkan dengan tidak adanya inti sebagai perantara maka sihir tidak akan tercipta.


"Menurutmu semua yang berasal dari keluarga bangsawan akan memiliki inti yang kuat?" Ucapan Tiran membuat Rion merapatkan bibirnya.


Dia menundukkan kepalanya. Butir keringat muncul di keningnya. "Keluarga kerajaan Ansell diberkahi dengan inti yang kuat. Tuan muda Seth,"


Rion terlihat sedih dengan pikirannya sendiri.


Hal itu membuat alis Seth bergerak naik.


Dia pikir aku dari keluarga kerajaan?


Kenyataannya itu salah.


Seth Ansell bukanlah anggota keluarga kerajaan. Dia berasal dari pasangan penghuni lautan.


Mengingat hal itu membuat Tiran merasa dia mendapat titik terangnya.


Meski sejak awal dia tidak begitu penasaran.


Inti adalah perantara untuk menggunakan energi di daratan.


Seth adalah putra dari penghuni lautan. Dia tidak memiliki inti.


Dia tidak tahu ini?


Tiran melirik Rion. Yang masih tampak begitu sibuk dengan pikirannya sendiri.


Jika Rion benar-benar berpikir bahwa Seth adalah semacam anak bungsu keluarga Ansell yang terlahir dengan tubuh begitu lemah hingga tidak mampu membuka mata sejak pertama kelahirannya,


Apakah semua orang berpikir seperti itu?


Bisa jadi fakta tentang Seth Ansell sebagai bukan putra Zed Calvin adalah rahasia.


"Hei."


Tiran memanggil. Membuat Rion teralih dari pikirannya. Menatap Seth.


"Apa yang kau tau tentangku?"


Pertanyaan Seth membuat Rion terperangah.


Dia menjawab ragu-ragu. "Tuan muda menyukai kue stroberi-"


"Bukan itu." Tiran memotong. Sekaligus tercengang dengan kesalahpahaman Rion. "Kau, apa yang kau dan orang lain tahu tentang aku." Dia memperjelas. "Putra bungsu Zed Calvin?"


Cara bicara Tiran membuat Rion melebarkan matanya kaget seraya menggoyang goyangkan kedua tangannya. "T, Tuan muda tidak seharusnya menyebut yang mulia raja seperti itu."


Tiran memasang wajah masam, terganggu. "Jangan mempeributkan hal yang tidak perlu. Beritahu aku. Apa yang orang-orang tahu tentang Seth Ansell." Tiran melanjutkan. "Apa yang kau tau tentang aku."


Meski Rion masih dibuat bingung dengan pertanyaan tiba-tiba Tiran dia mengusahakan dirinya untuk menjawab. "Saya sudah dididik untuk menjadi pelayan kerajaan sejak saya kecil. Pertama kalinya saya mendengar desas desus tentang Anda adalah ketika saya berumur 13 tahun. Waktu itu," Dia mengingat masa lalu.


"Keberadaan tuan muda Seth adalah rahasia keluarga kerajaan. Hanya ada segelintir pelayan dan tabib juga mage yang mengetahui keberadaan tuan muda di ruangan ini." Rion mengusap lengan kirinya. "Saat itu seorang pelayan sepertinya tidak sengaja melihat tuan muda Seth." Dengan warna rambutnya yang sangat berbeda dari penghuni Hreft dan keluarga kerajaan hal itu justru menarik perhatian si pelayan.


Gosip menyebar cepat. Cukup banyak pelayan yang mengetahui keberadaan tuan muda misterius di salah satu ruang kamar bangunan istana. Rion yang sedang diajari untuk menjadi pelayan istana mendengar gosip itu juga dari pelayan-pelayan wanita yang tengah menggosip.


Itu adalah empat tahun kemudian. Ketika Seth Ansell membuka matanya untuk pertama kali.


Keributan yang dihasilkannya menarik perhatian hampir semua yang berada di istana. Dan akhirnya keberadaan Seth Ansell terkuak.


Sebagai anak bungsu keluarga kerajaan Calvin. Dengan nama yang tidak diketahui oleh siapapun.


Namun warna rambut yang berbeda mengundang teori-teori dari banyak penghuni istana. Bahwa sang tuan muda misterius bukanlah sekedar anak bungsu yang mulia raja Zed Calvin.


Enam bulan lalu adalah pertama kalinya keberadaan tuan muda Seth Ansell diumumkan kepada seluruh penghuni istana. Juga keharusan mereka untuk menjaga kabar hanya hingga pintu gerbang istana.


Rion yang diminta Grell untuk menjadi pelayan pribadi tuan muda Seth Ansell tidak memiliki dugaan apa-apa. Yang dia tahu adalah tuan muda yang akan dia layani memiliki warna rambut sewarna air lautan yang mengelilingi Hreft dan Esfand, dan dia akan mencurahkan hidupnya untuk melayani tuan muda Seth Ansell. Yang kian hari semakin menaikkan kesetiaan Rion padanya.


Seorang remaja seumurannya. Dengan warna rambut yang mencuri nafas orang yang melihatnya. Yang terus memiliki aksi melukai dirinya sendiri.


Hal itu mengejutkan Rion. Semua teriakan dan usaha keras yang dilakukan oleh remaja dengan tubuh yang pucat dan kurus untuk melukai dirinya sendiri. Membuat Rion memiliki keinginan untuk melindungi remaja itu.


"Meski banyak gosip yang menyebar tapi bagi saya tuan muda adalah tuan muda Seth Ansell. Tuan yang akan saya layani hingga akhir hayat."


"......." Penutup yang diucapkan Rion membuat Seth tidak mampu berkata-kata.


Hm.


Tiran membiarkan otaknya berputar.


Berdasarkan ucapan Rion maka kesimpulan yang Tiran ambil adalah fakta bahwa Seth Ansell merupakan putra dari penghuni lautan bukanlah hal yang diketahui oleh orang-orang. Bisa jadi hanya Zed Calvin satu satunya yang tau sebagai teman dari Aruna Suvis. Dan meski gosip menyebar, yang mereka tahu adalah bahwa sang tuan muda misterius bernama Seth Ansell. Dan mereka yakini sebagai anggota keluarga kerajaan, meski dengan latar belakang yang rumit.


"Bagaimana dengan tentang Seth Ansell yang baru membuka matanya satu tahun lalu? Berapa banyak orang yang tahu?"


Rion dibuat bingung dengan cara bicara Tiran tapi tetap menjawab. "Yang tahu soal tuan muda hanya keluarga kerajaan, beberapa pelayan, tabib, dan mage yang merawat tuan muda." Rion memainkan jemari tangannya dengan jemari di tangan yang lain. "Dan saya."


Tiran melipat kedua tangannya di depan dada. Mendapat informasi baru. "Aku bukan anggota keluarga kerajaan."


Ucapan Tiran membuat Rion yang tengah menunduk melebarkan matanya. Mengangkat wajah guna bisa melihat wajah Tiran. "Ya?"


Tiran menyenderkan punggungnya pada dinding dan menolehkan wajahnya pada kaca jendela. Memandangi pemandangan yang masih terasa asing. "Aku bukan dari keluarga Calvin. Orangtuaku ada di tempat yang tidak aku ketahui."


Tiran berucap asal. Membuat Rion yang mendengar ucapan itu tiba-tiba berekspresi kaku tidak mampu berkata-kata.


"I- Itu," Rion tidak tahu harus bereaksi seperti apa. "Saya tidak tahu itu."


Tiran mendengus.


Apa jadinya jika Tiran memberitahunya bahwa orang yang ada di hadapannya bukanlah tuannya yang asli dan justru orang lain?


Tiran mengulurkan tangannya. Menggumamkan mantra lagi. Dan tidak ada apa-apa. Dia benar-benar tidak memiliki inti yang disebut-sebut Rion.


Tok tok


Seth dan Rion bersamaan menoleh kearah pintu. Keduanya saling melirik. Rion memberi tundukkan kepala dan membawa langkahnya menuju pintu.


Dia membuka pintunya. Melihat seorang mage berdiri di depan ruangan. Bersama seorang remaja dengan pakaian mewah.


Putra tunggal pasangan Zed Calvin dan Narla Calvin. Kakak Seth.


24/04/2022