
"Tuan muda!" Rion mengambil langkah lebar berdiri di depan Seth. Satu tangannya bergerak seolah membuat penghalang.
Sebuah tangan, dari air, keluar dari permukaan. Terulur ke arah Tiran yang tubuhnya dibentengi Rion.
Semakin lama rupanya semakin jelas. Wanita. Dengan tubuh dari air.
Pemandangan yang mencuri nafas semua orang yang melihatnya. Tidak ada satupun orang yang mengeluarkan suara. Semuanya terlalu terpukau dan terkejut dengan kejadian di depan mata mereka.
Tiran melotot.
Apa itu?!
Kenapa airnya berbentuk orang? Kenapa dia muncul ke arahku?!
Sosok wanita air itu seolah berdiri dari permukaan.
"P- Patung, rupanya seperti patung itu!"
Seseorang berseru. Semua orang tampak tersadar. Begitupun Tiran dan Rion. Air berhenti mengalir dari tangan sang patung. Kini air kolam tampak tenang, namun sebagai gantinya, sosok aneh muncul.
Seth merasakan kumpulan orang berlari dan berjalan cepat ke arahnya dari belakang. Penasaran dengan keributan di dalam dan terdiam melihat apa yang terlihat di visi mereka.
Sosok wanita air, seorang remaja dengan rambut sewarna air yang membentuk sosok wanita itu. Ditambah sang wanita berdiri menghadap sang remaja.
Seth melihat mulut sosok di depannya tampak bergerak, seolah berbicara. Namun air bukanlah makhluk hidup yang memiliki pita suara. Lidah berucap namun kata-kata tak keluar.
Rupa wajah sosok wanita air itu tampak tersenyum ke arahnya. Seth mengerutkan kening.
Kenapa dia? Dan apa yang harus dia lakukan?
Tiba-tiba tangan wanita itu bergerak. Butiran air bergerak ke arah Seth. Rion menghalanginya dan butiran air itu berhenti.
"Tuan. Sepertinya Anda harus membiarkan air itu."
Sebuah suara perempuan terdengar. Sosok perempuan berumur 20 tahunan berdiri tiga meter darinya.
Rion tetap tidak bergerak, namun sebuah tangan kemudian menyentuh lengannya.
"Rion. Minggir sedikit."
Itu Tiran.
"Tuan muda."
Rion memanggil kalut tapi mata Tiran terfokus pada butiran air itu. Dia mengangkat wajahnya, menatap wajah sosok wanita air. Wanita itu tampak terkejut sebelum butiran air tadi kembali bergerak ke arah Seth dan tanpa disangka, menghampiri dada kirinya. Detik selanjutnya, dia merasakan dingin mengepal jantungnya. Dingin, dan basah. Sensasi yang benar-benar memuramkan. Dia reflek membungkukkan badannya. Menggerakkan tangan bergerak menggapai tempat dimana butiran air itu menghilang.
"Tuan muda!" Rion langsung menggapai bahu Tiran. Mengira Seth tumbang.
"Putra Aruna."
Sebuah suara muncul di kepala Tiran. Dia reflek memegang kepalanya.
"Tuan muda. Ada apa?" Tanya Rion cemas. Kepanikan memenuhi dirinya.
"Kau akhirnya menemuiku."
Suara itu kembali muncul. Dengan dahi berkerut Tiran mengangkat wajahnya, melihat sosok wanita itu lagi.
Bibir itu bergerak, dan suara kembali terdengar.
"Aku sudah menantimu. Dengan begini aku akan pergi dan mengikutimu."
Tiran cemberut.
Mengikutiku? Apa maksudnya?
Tubuh wanita air itu kemudian terpecah menjadi butiran air dalam jumlah besar. Semua butiran itu bergerak ke arah jantungnya seperti tadi.
Dia reflek melangkahkan kakinya mundur. Terlalu takut untuk merasakan sensasi itu lagi.
"Putra Aruna. Kau tidak mau?"
Suara di kepalanya bertanya. Butiran air itu berhenti.
Tiran mengutuk di dalam hati. "Kau itu apa?"
Dia memasang wajah kesal.
Apa-apaan. Sebenarnya apa yang terjadi? Makhluk apa itu?
Sekali lagi suara seorang wanita muncul di dalam kepalanya.
"Putra Aruna. Aku adalah keberadaan yang diciptakan oleh ibumu. Aku adalah wujud dari keinginan dan kekuatannya. Dia menyimpanku di tempat ini. Aku diciptakan untuk mengikutimu sampai kau melepaskanku untuk keturunan Suvis selanjutnya."
"Tuan muda?" Seth tadi bergerak mundur, membuat pegangan Rion padanya terlepas. Rion mengamati tuan mudanya khawatir. Dia merasa kalau pertanyaan Seth tadi ditujukan pada wanita yang kini menjadi butiran air di depannya.
Seth sibuk dengan pikirannya.
Wanita itu menyadari kebimbangan Seth. "Putra Aruna. Kau tertakdir untuk menerima kekuatan keturunan Suvis. Tidak ada siapapun yang berhak. Kesadaranku akan tetap ada, membantumu. Kekuatanku akan menjadi milikmu."
Kata-kata kutukan tidak berhenti Tiran bunyikan di benaknya.
Setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya dia membuka mulutnya. "...Baiklah. Lakukan maumu."
Butiran air di hadapannya kembali bergerak, menghilang ke dalam jantung di dadanya. Sensasi basah dan dingin kembali menyerangnya. Hampir membuatnya gila. Dia hampir jatuh sembari mencengkeram kain bajunya namun tubuhnya ditahan oleh Rion.
"Tuan muda!"
Sensasi itu berlangsung cukup lama. Selama waktu itu Tiran berusaha mengatur nafas dan menenangkan diri. Rion memegangi tubuh Seth yang perlahan merileks dan bisa menahan beban tubuhnya sendiri.
Dua menit berlalu. Barulah Tiran menggerakkan tangannya, melepaskan tangan Rion dari lengannya.
Lucu karena sekarang sensasi dingin dan basah itu bukan hanya di jantung, melainkan seluruh tubuhnya. Tapi setidaknya itu membuatnya merasa lebih baik.
Tubuhnya terasa begitu sejuk. Dia ragu apakah dia akan masih bisa berkeringat dengan betapa sejuk tubuhnya terasa.
Dia menyeringai sarkas.
Ketika Tiran melihat sekelilingnya bersama Rion, semua orang tengah memandanginya dengan beragam ekspresi. Dia langsung menepuk lengan Rion. "Rion. Ayo pergi."
"Y- Ya? B- Baik."
Seth berbalik dan Rion mengikutinya di belakang. Dia benar-benar mengabaikan pandangan orang-orang kepadanya. Ketika mereka sudah dekat dengan kereta kuda, melihat sang kusir yang tampak tak terganggu dengan keributan di kuil, suara sorang perempuan terdengar berseru.
"Tuan!"
Ketika Seth dan Rion berbalik, yang mereka lihat adalah perempuan yang tadi bicara pada Rion.
Perempuan itu memiliki keringat di dahinya. Dia mengenakan gaun selutut berlengan panjang, dengan sebuah buku dan pena di tangannya.
Seth mengerutkan kening.
"Nona?" Rion membuka suara. Berwajah bingung.
Perempuan itu berbicara. "Tuan muda, namaku Edrea. Aku ilmuwan yang bekerja sendiri. Aku.. melihat Anda barusan. Apa saya bisa mengajak Anda bicara?"
Tiran memasang wajah masam. Dia menggerutu dan mencemooh.
Bicara apa? Jangan bertanya apapun padaku. Aku akan melupakan kejadian tadi dan pergi dari situasi di luar akal ini.
"Tidak." Dia menoleh pada Rion. "Rion. Aku pergi."
"T- Tuan muda." Edrea terperangah dengan penolakan yang dia terima.
"Maaf, nona. Tuanku butuh istirahat." Rion pun masih syok dengan kejadian barusan. Dia melihat tuannya hampir jatuh setelah bicara pada si wanita air. Seth memiliki tubuh yang lemah setelah koma selama 16 tahun untuk alasan yang tidak dia ketahui, dan dia tidak bisa tidak khawatir kepada tuannya.
Edrea berdiri diam di tempatnya, melihat dua remaja yang terlihat lebih muda darinya masuk ke dalam kereta sebelum kereta itu berjalan meninggalkan kawasan kuil.
Rion mengamati Seth yang duduk di depannya. Bertopang dagu menonton jalanan melewati jendela.
Dia sibuk dengan pikirannya akibat kejadian tadi, sedangkan Tiran tengah memfokuskan diri dengan suara wanita di kepalanya.
"Putra Aruna. Apa aku harus memanggilmu tuan muda?"
"Maaf?" Rion terkejut dengan Seth yang bicara tiba-tiba, tapi Tiran mengabaikannya.
"Benar. Kesadaranku sebagai wujud yang diciptakan oleh Aruna Suvis akan mendampingimu sampai kau melepaskanku." Si wanita menjawab.
Tiran mencemooh. "Aku bisa membuangmu?"
"Kehadiranku adalah milikmu, putra Aruna."
"Bagaimana cara melepasmu dari kepalaku?"
"Tuan muda harus membuat segel dengan kekuatan milik tuan muda dan memindahkan kekuatan keturunan Suvis ke penyegel itu."
Tiran tercengang.
Naskah cerita jelek apa yang baru saja aku dengar?
Dia merasa kalau dirinya baru saja dibacakan naskah sebuah film berating rendah. "Kau. Bagaimana aku bisa memanggilmu?"
Si suara menjawab. "Panggilanku adalah kebebasanmu, putra Aruna."
Tiran terdiam. Dia memikirkan nama untuk si suara di kepalanya. "Huil."
"Tuan muda?" Rion memanggil ragu-ragu.
Tiran memilih nama kuil sebagai nama si wanita.
Huil menjawab. "Huil akan menjadi namaku mulai sekarang."
Tiran menyeringai puas. Rion hanya diam mengamati tuannya bingung tanpa bisa mengucapkan apa-apa.
Mereka kembali ke istana. Sinar matahari sudah menjadi lebih terik. Tiran berjalan memasuki pintu yang dibuka oleh kedua penjaga. Mereka tampak terdiam melihat sosok Seth tapi berhasil mempertahankan ketenangan mereka.
"Tuan muda.." panggil Rion ragu.
Seth menjawab tanpa menoleh. "Apa?"
"Apa kita perlu memberi tahu yang mulia tentang kejadian tadi?" tanya Rion.
Seth menjawab cepat. "Tidak. Jangan beritahu siapapun."
Tiran tidak ingin terlibat banyak dengan tempatnya berada sekarang. Di mana sebenarnya dia? Dia akan merasa lebih tenang kalau berpikir bahwa dirinya hanya bermimpi.
Tapi dia berfikir dirinya tidak akan bisa bermimpi serinci ini. Selama 31 tahun dia hidup dengan dua tubuh, dia tidak pernah sekalipun memiliki mimpi dunia khayalan seperti ini. Dia jarang bermimpi, dan sekalinya dia bermimpi, maka mimpinya adalah mimpi yang terbilang wajar. Tapi ini?
Dia juga bukan orang yang banyak menonton film bergenre fantasi atau supernatural. Seharusnya dia tidak punya cukup referensi untuk memiliki mimpi seperti sekarang.
Mari kita lihat apakah aku akan bangun di tubuh orang lain lagi di masa depan.
Ini kedua kalinya. Dia tidak bisa tidak memikirkan kemungkinan itu.
Rion hendak mengatakan sesuatu tapi kembali menutup mulutnya rapat.
Tiran meminta Rion untuk memimpin jalan menuju kamarnya. Dia berpikir untuk menenangkan dirinya di sana.
Di tengah perjalanan, Seth melihat seorang remaja laki-laki dengan pakaian mewah diikuti oleh seorang pria di umur 30 tahunan. Mereka berkontak mata. Remaja itu mengalihkan pandangannya ke depan. Pria di belakangnya memberi senyum ramah dan menundukkan kepalanya ke arah Seth. Seth memandanginya tapi tidak memberi respon apapun. Rion di depannya memiliki senyum canggung dan membungkuk ke arah kedua orang yang kini berpapasan dengan mereka sebelum akhirnya berjalan menjauh ke arah sebaliknya.
"Tuan muda. Anda baik-baik saja?"
Tiran tidak menjawab, tapi pikirannya pergi ke buku yang dia baca tadi pagi.
Hal yang hendak dia lakukan ketika tiba di kamarnya adalah membaca buku Seth Ansell lagi. Rion dia perintahkan untuk membiarkannya sendiri. Meski dengan hati bimbang, Rion menurut dan pergi keluar dari kamar tuannya.
"Tuan muda hidup di tempat yang menarik." Suara Huil muncul di kepalanya.
"Sudah berapa lama kau ada di kuil itu?" tanya Tiran ketus.
"Oh, jadi Tuan Aruna menyimpanku di sebuah kuil? Keberadaan sepertiku tidak tersentuh oleh waktu. Tapi jika tuan muda bertanya, aku yakin aku sudah tersembunyi di kuil sejak Tuan Aruna pergi dari dunia manusia."
Tiran berwajah masam. "Maksudmu meninggal?"
"Ya. Tapi jiwa manusia akan tetap berada di sekelilng Anda, tuan muda. Aku yakin Tuan Aruna sedang mengawasimu."
Tiran bergidik. Sosok yang tidak dia kenal mengawasinya? Meskipun itu ibu Seth Ansell, tapi dia tidak mengenal sosok wanita bernama Aruna itu. Dia tidak mau memiliki sosok hantu menontoni segala gerak-geriknya.
Ini hari pertama. Dia keluar sebentar dan langsung mengalami kejadian di luar nalar.
Ha. Di luar nalar? Kenapa aku masih harus bingung? Kau pikir bangun di tubuh orang lain masuk nalar?
Dia berkacak pinggang, memandangi kamar barunya. Kasurnya sudah kembali rapih. Dia langsung mengambil buku yang tergeletak di atas meja dan membacanya dengan kaki terlipat di sofa.
Seth Ansell tertidur sejak dia bayi. Dirinya baru bangun satu tahun lalu. Dan ketika dia bangun, hal yang langsung dia lakukan adalah melukai dirinya sendiri. Seolah dia tidak mau dirinya terbangun begitu cepat.
Seth berpikir, bagaimana seseorang, yang tertidur sejak pertama kali keluar dari rahim ibunya, memiliki pengetahuan cara melukai diri sendiri. Seharusnya dia bersikap bagai seorang anak bayi. Bayi tidak punya akal untuk melukai diri mereka sendiri.
Selama satu tahun, Seth Ansell tidak pernah keluar dari kamarnya. Dia terus melakukan aksi percobaan bunuh diri dan pelayan serta tabib—bukan dokter tapi tabib. Baiklah—selalu berhasil menggagalkan aksinya.
Seorang tabib memberinya buku dan pena. Memberitahunya bahwa dia bisa menggunakan kedua benda itu untuk mengungkapkan segala yang ada di hati dan pikirannya.
Anak itu bisa menulis. Tulisannya berantakan tapi Tiran bisa membacanya.
Ha. Dia bagai bayi yang bisa bicara.
Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah diajari cara menulis dan bicara bisa menulis diari seperti ini.
Memang tidak masuk akal. Tapi keberadaan Huil di dalam kepalanya juga tidak masuk akal. Lalu apa yang harus Seth pusingkan?
"Tuan muda. Apakah itu tulisan Anda?"
Tiran sedikit terkejut mendengar suara Huil lagi. "Tsk. Kau bisa membacanya?" Tanyanya kesal.
"Benar. Tuan Aruna memberikan semua pengetahuannya padaku. Bisa dibilang aku adalah Aruna Suvis itu sendiri. Tapi tuan tidak memberikan perasaan diri dan keibuannya padaku. Tuan ingin tuan muda mengetahui bahwa aku bukanlah ibumu yang sebenarnya."
Tiran mencemooh. "Tentu saja. Jangan pernah bergaya sebagai ibu padaku."
Dia berpikir. "Kalau begitu kau bisa memberitahuku? Siapa aku. Siapa ibuku."
Tiran menjeda kalimatnya. "Kenapa aku tidur begitu lama."
Tidak heran tubuhnya kurus dan pucat. Fakta bahwa tubuh Seth Ansell tidak mati adalah keajaiban. Wajar dikagumi juga bahwa tubuhnya tidak sekurus orang anoreksia.
Kurus, tapi masih terbilang sehat, mungkin.
Mungkin para tabib itu mengawasi Seth Ansell selama 17 tahun.
"Benar. Huil ini akan membantu tuan muda, putra satu-satunya tuan Aruna."
Seth menyenderkan punggungnya. "Bicaralah."
"Tuan adalah wanita yang sudah melakukan banyak hal selama hidupnya. Dia adalah penguasa laut di Timur. Tuan-"
"Stop."
Seth memotong ucapan Huil. Dahinya berkerut. "Kau bilang penguasa? Apa. Dia bajak laut?"
Dia mencemooh. Huil bingung apa itu 'stop', tapi tetap menjawab pertanyaan Seth. "Bajak laut? Bukan, tuan muda. Tuan Aruna sebagai penerus keluarga Suvis sudah sepantasnya memegang kekuasaan laut timur."
"Bajak laut adalah faksi-faksi yang menggunakan laut di bawah kekuasaan para Muhudu." Huil melanjutkan ucapannya.
"Tunggu." Tiran memotong lagi. Tidak menyangka dirinya akan mendengar kata 'faksi' selain di film yang pernah dia tonton. "Muhudu? Apa itu?"
"Muhudu adalah mereka yang menguasai lautan, tuan muda."
Seth mengeluarkan ******* mencemooh. "Lanjutkan."
"Tuan Aruna menikah dengan Lot Maldy. Penguasa laut selatan."
Tiran menyandarkan kepalanya pada tangannya. "Kau. Kau bilang Aruna, ibu Seth adalah penerus Suvis penguasa laut Timur, lalu dia menikah dengan Lot, si penguasa laut Selatan." Dia mengerutkan kening.
"Bukankah itu artinya Seth akan menjadi penguasa dua wilayah?"
24/04/2022