Change The Plot

Change The Plot
Chapter 2 - Lagi-lagi (2)



"Ha."


Pakaian yang dia kenakan begitu nyaman dan rancak. Tekstur kainnya jauh lebih bagus dari pakaian-pakaian yang pernah Tiran kenakan seumur hidupnya. Baik sebagai Tiran maupun Vian. Selain itu, desainnya benar seperti pakaian yang dipakaikan pada aktor-aktor di film bajak laut yang pernah dia tonton.


Tiran tertawa di dalam hati memikirkan dirinya ada di tempat dimana bajak laut ada. Karena kalau begitu dia bukan berada di bumi, melainkan sebuah dunia fantasi—yang mana bukanlah hal yang mungkin.


Tiran menekan kenop pintu tempat pertama Rion muncul. Mengabaikan ocehan Rion yang mengatakan bahwa membuka pintu adalah tugasnya.


Bangunan tempatnya berada terbuat dari susunan batu bata besar berwarna abu-abu gelap. Tiran mengerutkan kening melihat itu. Ada di mana dia sebenarnya?


"Rion. Aku mau keluar."


Suara Rion terdengar dari belakang. "Keluar? Ke kota?"


Seth menggerutu di dalam hati. Terserahlah. "Ya."


"Tuan muda. Kalau begitu akan lebih baik jika kita meminta ijin pada yang mulia raja terlebih dahulu."


Tiran berwajah kecut.


Ha.


Raja, ya?


Dia mendengus tanpa suara.


Baiklah. Mari temui dia.


"Baiklah. Pimpin jalannya."


"Baik."


Tak lama setelah jawaban terdengar, Tiran merasakan orang di belakangnya mempercepat langkah sebelum akhirnya muncul di sisi kanan depannya.


"Mari, tuan muda." Pelayan muda itu memberi senyum lembut.


Seth tidak menjawab dan hanya memberi lirikan pada Rion yang akhirnya mengembalikan pandangannya ke depan.


Tiran bisa merasakan sensasi geli di lehernya akibat rambut biru muda sebahu di kepalanya.


Setelah berjalan beberapa lama akhirnya Tiran melihat sekumpulan orang berpakaian aneh berjalan di lajur yang sama dengan arah yang berkebalikan darinya. Setiap dari mereka memegang sebuah buku yang memiliki batu di sampulnya dengan warna yang berbeda-beda.


Mereka menyadari kehadiran Tiran yang berjalan di belakang Rion dan Tiran bisa melihat bagaimana mereka tidak memalingkan mata mereka darinya. Tiran balas memandang mereka tanpa peduli. Beberapa dari kumpulan orang berpakaian aneh itu terlihat terpukau melihatnya untuk alasan yang tidak Tiran ketahui.


Tidak, sebenarnya dia familiar dengan tatapan seperti itu. Dia sudah biasa menerimanya ketika dirinya dengan tubuh aslinya, dan wajah atraktifnya. Sudah lama dia tidak mendapatkan pandangan itu. Dia tenggelam dalam masa lalu dan tidak bisa menahan seringainya. Dia merasakan beberapa orang itu terkesiap tapi dia tidak peduli.


Ketika dia dengan tubuh dan wajah yang jauh dari kata atraktif Vian, dia juga sudah mendapatkan tatapan kagum tapi untuk hal yang berbeda. Tiran teringat dengan sosok Damar. Bagaimana bisnisnya sekarang? Tiran membantunya mewujudkan keinginannya memiliki usaha makanan sendiri, dan sudah lama dia tidak melihat wajah Damar lagi. Tapi dari Damar lah dia menerima tatapan kagum itu.


Rion menoleh ke arahnya dan Tiran bisa melihat senyum tulus di wajah anak itu.


"Apa?"


Rion menggeleng. "Rambut Anda adalah hal yang paling dikagumi oleh keluarga kerajaan. Begitupun semua orang yang akan melihat sosok Anda di masa depan. Saya ingat kekaguman yang saya rasakan ketika pertama kali dibawa kepala pelayan untuk menemui Anda." Rion berujar dengan suara lembut. Seth merasa seolah-olah anak itu tengah menyatakan cinta padanya.


Seth terperangah. "Rion. Kau punya perempuan yang kau suka?"


"Maaf?" Rion tampak tertegun.


"Kata-katamu barusan seharusnya kau katakan pada perempuan yang kau suka." Tiran menyeringai.


Jadi warna rambut ini memang tidak umum?


Rambut Rion berwarna hitam. Begitupun kumpulan orang tadi.


"Rion. Orang-orang yang berpapasan dengan kita tadi, siapa mereka?"


Rion mendengar Tiran yang langsung mengganti topik dan langsung menenangkan dirinya untuk menjawab meskipun masih memiliki perasaan bingung kenapa Tiran menanyakan hal itu. "Mereka mage kerajaan, tuan muda. Mereka yang lulus ujian masuk kerajaan dan tinggal di istana untuk bekerja di sini."


".......Mage? Apa itu?"


"Ya?" Rion tampak bingung lagi. Begitupun Tiran. Dia sama sekali tidak mengerti dengan kata mage.


"Mage, tuan muda. Orang-orang yang mempelajari sihir."


"........."


Tiran tercengang.


Sihir?


Apa. Aku ada di buku H*rry P****r?


Si laki-laki berpenampilan remaja namun dengan jiwa berumur 31 tahun itu tidak bisa mempercayai situasi ini.


Jadi aku bukan di bumi, melainkan di buku? Buku novel?


Tapi seingat Tiran tidak ada kerajaan di dalam cerita karangan J.K Rowling itu.


"Tuan muda? Anda baik-baik saja?"


Tiran tersadar dari lamunannya.


Lupakan. "Hm. Apa masih jauh?"


Rion tertawa miris. "Istana adalah bangunan besar, tuan muda."


Oh benar.


Tiran cemberut.


Dia benar-benar melalui perjalanan panjang mengikuti Rion. Berapa lama waktu yang sudah berlalu?


Tiran mengamati pemandangan di sekitarnya sembari berjalan.


Rasanya seperti mengunjungi Belanda, Rusia, masuk ke bangunan sejarah, dan berjalan-jalan di dalamnya. Namun bukannya orang-orang yang memakai pakaian lazim, justru orang-orang di sana mengenakan pakaian aneh. Beberapa berdandanan seperti Rion. Ada yang perempuan juga.


Lalu orang yang berpakaian hampir mirip dengannya, juga karakter-karakter bangsawan di film bajak laut tontonannya. Dia juga menemukan beberapa orang yang berdandanan dan membawa buku seperti kumpulan orang yang Rion sebut sebagai mage tadi.


Tiran melihat Rion yang akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar. Lebar dan tinggi. Terbuat dari kayu mengkilap dan memiliki dua buah lingkaran gelang logam yang berfungsi seperti kenop. Ada dua orang pria dengan tombak di samping mereka.


Tiran memandangi pakaian mereka yang berupa sepatu bot, pakaian dengan bros seperti yang ada di baju Rion, dan logam di beberapa titik pakaian mereka.


Tiran berwajah masam.


Aku khawatir aku benar-benar ada di dunia lain.


Siapa yang masih menggunakan senjata seperti tombak di tahun 2021? Senapan, masuk akal. Tapi tombak? Dan pelindung tubuh logam?


Dia pasti benar-benar berada di sebuah buku atau film.


"Tuan muda Seth ingin menemui yang mulia raja."


""Siap.""


Kedua pria itu menjawab ucapan Rion bersamaan. Mereka kemudian bergerak mendorong pintu yang dengan akal sehat sudah bisa diperkirakan betapa beratnya.


Pintu terbuka, dan pemandangan ruangan di balik pintu besar itu bisa terlihat oleh Tiran.


Ha.


Di depan sana. Dua buah bangku dengan desain klasik, begitu mengkilap hingga Tiran curiga ornasinya terbuat dari emas. Kedua bangku itu masing-masing diduduki oleh seorang pria dan seorang wanita.


Sang pria memiliki mahkota di kepalanya. Rangkaian pakaian tebal yang tidak akan pernah mau Tiran gunakan seumur hidupnya dikenakan olehnya. Sang wanita memiliki tatanan rambut yang begitu rumit dan dipastikan memerlukan seorang ahli seperti Tiran untuk menatanya. Orang itu juga mengenakan gaun dengan rok lebar yang Tiran yakini akan berharga belasan hingga puluhan juta jika dijual olehnya. Sebuah mahkota yang lebih kecil juga ada di atas kepala wanita itu.


"Seth.."


Zed terperangah. Tidak pernah menyangka Seth akan menginjakkan kakinya di sana. Apalagi untuk menemuinya. Zed menoleh pada istrinya Narla. Narla juga menoleh padanya. Sama terkejutnya dengan kemuculan tiba-tiba remaja yang baru bangun satu tahun lalu dari koma.


Zed berdiri.


Tiran, melihat pria di depan sana berdiri tiba-tiba merasa tersentak dan tubuhnya bergidik. Rion tampaknya tidak menyadari itu. "Tuan muda. Silakan."


Rion tersenyum dan memasang pose yang seolah memberi petunjuk pada Tiran bahwa dia harus berjalan sendirian ke hadapan dua orang itu.


Silahkan apa?!


Tiran belum pernah bertemu presiden.


Sekarang dia harus berhadapan dengan raja ratu?


Unbelieveble.


Dia menenangkan dirinya dan mulai berjalan dengan langkah tenang dan percaya diri miliknya.


"Seth."


Sang raja menggerakkan kedua kakinya menuruni empat anak tangga dan menghampiri Tiran. Meraih kedua bahunya yang lebih pendek dan sempit.


Tiran tidak mencoba menyembunyikan ekspresi canggungnya. Tiba-tiba seorang pria tua menghampirinya dan memegang kedua bahunya. Berdiri tinggi menunduk memandangnya. Apa yang harus Tiran lakukan?


Setelah menenangkan diri akhirnya dia memutuskan untuk berlaku sebagaimana tulisan di buku yang tadi dia baca.


"Yang Mulia."


Orang di depannya memiliki senyum keayahan. Tiran merasa canggung menerima tatapan itu.


"Yang mulia. Aku mau jalan-jalan." ucap Tiran.


"Jalan-jalan?"


Kedua tangan besar di bahunya ditarik kembali oleh pemiliknya. "Ya. Mungkin ke kota." Tiran menjawab asal.


"Tapi.. kau tidak pernah keluar dari kamarmu sebelumnya."


Ya, benar.


"Ya. Sekarang aku mau mencoba berjalan-jalan, yang mulia. Apakah boleh?"


Pria itu terdiam memandanginya sebentar sebelum tersenyum dan mengangguk.


"Boleh. Pelayanmu itu akan menyiapkan semuanya untukmu. Aku senang kau sudah mendapatkan keberanianmu." Dia tersenyum hangat.


Tiran memasang senyum. "Aku pamit, Yang Mulia."


"Ya. Bersenang-senanglah."


Tiran tidak menjawab lagi dan langsung kembali menghampiri Rion. Rion membungkuk ke arah sang raja dan ratu sebelum menuntun Tiran keluar dari ruangan besar tersebut. Setelah mereka berjalan pergi, pintu besar itu kembali tertutup.


"Tuan muda. Anda tunggu di sini. Saya akan segera kembali."


Rion membawa Tiran ke sebuah aula. Tiran bisa melihat sebuah pintu besar di sisi ruangan. Rion mempersilahkannya duduk di sebuah sofa yang ada di pinggir aula kemudian meninggalkan Tiran duduk sendirian di sana.


Tiran membayangkan kelelahan yang dimiliki orang-orang di istana untuk mengunjungi satu ruangan ke ruangan lainnya. Memang benar bangunan tempatnya berada adalah sebuah istana. Tiran bisa melihat bangunan menara unik dari jendela besar di visinya.


Seth diam menunggu lagi. Entah berapa lama waktu berlalu. Sembari menyandarkan kepala pada tangannya yang bertumpu pada lengan sofa, dia melihat Rion yang berjalan ke arahnya. "Tuan muda. Semuanya sudah siap." ujarnya dengan senyum lembut.


Begitu Rion selesai bicara pintu besar di sisi ruangan terbuka. Seth bisa melihat tangga menurun dan kereta kuda di bawahnya. Dia bersiul.


Tanpa dituntun Rion dia langsung menuruni tangga dan membuka pintu masuk kereta. Sekali lagi mengabaikan cicitan Rion yang mengatakan bahwa membuka pintu adalah tugasnya.


Tiran duduk di sisi kanan kereta. Rion masuk dan duduk di seberangnya.


"Tuan muda sudah siap?"


Seth melirik Rion yang tersenyum padanya dan langsung mengiyakan. Rion mengetuk kaca jendela dan detik kemudian Tiran mendengar suara pecutan disertai ringikan kuda. Kereta mulai berjalan.


Memang benar istana ada di sebuah tebing tinggi. Begitu keluar dari pintu gerbang—yang lebih tampak seperti sel penjara dengan ujung runcing menusuk tanah—, kereta kuda berjalan menurun. Tiran tercengang bagaimana kereta yang dia naiki tidak melaju turun bagai roller coaster. Diam-diam bergidik melihat pinggir jembatan.


Jauh di depannya, barisan gunung dan perpanjangan sungai besar yang tadi dia lihat dari jendela kamar Seth bisa terlihat dari jendela kereta.


Kereta akhirnya kembali berjalan di jalanan datar. Pemandangan yang Seth lihat adalah barisan bangunan. Rumah dan toko. Dengan kumpulan orang dalam berbagai umur berkeliaran di sisi jalan. Dia bisa melihat orang-orang yang menyadari keberadaan kereta yang ditumpanginya. Sejenak menghentikan aktifitas mereka untuk mengamati kereta yang dinaikinya.


"Tuan muda. Apakah ada tempat yang ingin Anda kunjungi?" Rion bertanya dengan senyum di wajahnya.


Tiran mengangkat bahu dan berujar terus terang. "Aku tidak tahu apa-apa. Bagaimana menurutmu?"


Rion tampak tersenyum lebar. "Tuan muda. Bagaimana kalau kita ke Huil?"


Tiran mengernyit. "Apa itu?"


"Kuil di daerah ini."


Tiran tercengang. "Kuil? Kau ingin berdoa?"


Rion tersenyum hangat. "Tuan muda akhirnya pergi keluar setelah 17 tahun. Anda tidur terlalu lama. Saya ingin menunjukkan banyak hal pada Anda."


Tiran yang kini memiliki rambut berwarna biru bagai permukaan air laut di pagi hari mengela nafas. "Terserah."


Rion masih memiliki senyum hangatnya. Dia menggeser pintu kecil di belakangnya. Dari sana Tiran bisa melihat punggung sang pemegang kendali kereta.


"Ke Huil."


"Saya mengerti."


Setelah jawaban terdengar Rion kembali menutup pintu kecil itu dan menghadap Tiran yang sudah kembali menyandarkan wajahnya pada tangan di bingkai jendela menonton pemandangan di luar.


Waktu berlalu. Tiran merasakan sinar matahari yang menjadi semakin menyilapkan mata.


Sudah jam berapa sekarang?


Isi kereta hening dengan Tiran yang tidak mengucapkan apa-apa dan Rion yang duduk diam mengamati tuan muda di depannya.


Tiran menyadari pandangan yang begitu lekat tertuju padanya tapi bersikap tidak peduli.


Dia akhirnya melihat gerbang batu besar yang terbangun dari susunan batu berwarna putih kekuningan.


Bentuknya cukup unik. Jika teman-temannya melihat itu pasti mereka akan langsung mengeluarkan HP mereka dan mengambil foto dari berbagai macam sisi. Sandra akan mengeluarkan skill dari hobi fotografinya dan mengunggah hasil-hasil foto itu di web miliknya.


Kereta masuk melewati gerbang batu tersebut.


"Tuan muda. Kita sudah sampai." ucap Rion begitu kereta berhenti. Dia bangkit dan membuka pintu. Keluar lebih dulu dan mengulurkan tangannya menawarkan Tiran bantuan untuk turun.


"Tidak perlu." Tiran menepis uluran tangan Rion pelan dan turun sendiri.


Pemandangan yang ada di visinya adalah paving blok berwarna putih tulang. Ada orang-orang yang meramaikan tempatnya berpijak. Bangunan besar dari batu menjadi objek utama daerah dimana dia tengah berada. Tiran menyadari kenyataan bahwa semua bangunan yang dia lihat terbuat dari susunan batu. Dan tidak dicat.


"Tuan muda. Ayo ke sana."


Rion menuntun Tiran ke bangunan tersebut dengan senyum lembut. Ada banyak orang yang keluar masuk bangunan yang Tiran anggap sebagai kuil itu. Bersama keluarga, kekasih, teman, atau sendirian. Kebanyakan memakai pakaian yang lebih sederhana. Sedangkan Tiran mengenakan setelan yang terlihat sedikit lebih mewah. Ditambah dengan warna rambutnya yang begitu mencolok, tidak heran mengapa semua orang terpaku ke arahnya.


Tapi Tiran yang sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu tidak bereaksi sama sekali. Rion memasang senyum hangat. Tampak begitu bangga menjadi pelayan Seth.


Meski luarannya terlihat rumit, nyatanya yang ada di dalam bangunan itu hanyalah lingkaran dinding batu berisi air. Ada patung berbentuk wanita berukuran besar di tengahnya. Tangan wanita itu membentuk pose menangkup di depan perut dan air mengalir deras dari telapak tangannya. Seth mengira-ngira di mana letak generator yang terhubung dengan patung air mancur itu.


Banyak orang berjongkok di sekeliling dinding kolam, menontoni genangan air di depan mereka. Beberapa tampak mengatupkan tangan dan berdoa dengan mata terpejam. Seth berjalan mendekati kolam dengan Rion yang setia berada di sampingnya.


Airnya terlihat jernih. Berwarna biru dan tampak berkilau.


Warnanya mirip dengan rambut di kepalaku.


Seth menyadari beberapa anak yang tampak memandanginya sebelum kembali memandang kolam, memandanginya lagi, dan memandang kolam lagi.


Tiran memasang wajah masam. Jelas sekali semua orang menjadikannya sebagai pusat perhatian. Tidak masalah sebenarnya. Tiran berdiri diam bersikap seolah tidak menyadari mata orang-orang ke arahnya.


Rion justru yang terlihat gugup dengan pandangan orang-orang ke arahnya. Ke tuan mudanya, lebih tepatnya.


....Hm?


Tiran melihat air bergerak. Seolah ada ikan yang berenang. Namun faktanya tidak ada apapun di kolam itu.


Seth memfokuskan pandangannya dan akhirnya mengenali bentuk makhluk yang berada di dalam air itu.


Memiliki kepala, tubuh, dan dua tangan.


Tiran bergidik.


Apa itu?!


Satu kakinya melangkah ke belakang.


"Mama! Ada sesuatu di sana!"


"Ayah! Lihat!"


"Hei lihatlah!"


"Apa itu?!"


Seruan orang-orang terdengar. Kerumunan yang awalnya tenang menjadi ribut.


Sesuatu, dengan rupa seperti manusia berenang ke arah Seth.


24/04/2022