
Entah sudah berapa lama Saffa terlelap dalam pengaruh obat biusnya.
Namun ia dapat merasakan sesuatu yang berbeda ketika membuka matanya untuk pertama kali.
Dimana ini?
Batinnya, mencoba mengenali tempat ini.
Gudang.
Kesimpulannya untuk menjelaskan tempat ia berada saat ini.
Barang-barang berdebu saling bertumpukan memenuhi ruangan.
Lantai kotor serta suara decitan hewan pengerat yang memenuhi indra pendengarannya, membuatnya yakin bahwa tempat ini memang sebuah gudang.
Ia mencoba menyentuh kepalanya yang terasa pusing.
Namun ternyata ada hal yang dilupakannya. Borgol masih melekat dengan setia dipergelangan tangannya.
Apakah mungkin ia sudah berada ditempat lain atau masih di gedung yang sama?
Astaghfirullahhaladzim. Aku bahkan lupa waktu sholat.
Pukul berapa ini.
Pikiran Saffa kalut.
Ia tak mengetahui jam berapa sekarang.
Apakah hari sudah berganti?
Berapa lama ia tertidur dalam pengaruh bius itu?
Pakaiannya yang lusuh, kotor dan penuh keringat tidak memungkinkannya untuk menjalankan ibadah yang mengharuskannya berada dalam keadaan suci dan bersih.
Tak ada air untuk berwudhu.
Pun jika harus tayamum diharuskan dengan debu atau tanah yang bersih dari kotoran najis dan bau.
Sedangkan tempatnya berada saat ini sudah pasti tidak memenuhi syarat untuk menunaikan ibadah.
Bau kotoran hewan-hewan kecil menyeruak membaui indra penciuman.
Udara dalam ruangan ini sudah pengap karena tak ada ventilasi udara sebagai jalur keluar masuknya oksigen.
Hanya berputar dalam ruangan.
Ditambah lagi dengan bau menyengat dari kotoran hewan atau mungkin juga bercampur dengan bangkai hewan kecil yang mati dalam ruangan ini, menyesakkan rongga dada yang membutuhkan udara segar dari luar sana.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka membawa udara baru yang datang
beriringan memasuki ruangan itu.
Sedikit mengurangi kepengapan udara didalam ruangan.
Seorang wanita yang memakai seragam seperti seorang asisten rumah tangga masuk kedalam ruangan itu dengan sedikit menyunggingkan senyum diwajahnya yang mulai berkeriput.
Ia memberi isyarat dengan dagu kepada orang dibelakangnya untuk mengikuti langkahnya.
Dua orang wanita yang juga memakai seragam yang sama, kemungkinan usianya lebih muda dari wanita yang pertama.
Siapa mereka?
Pertanyaan yang secara spontan muncul dibenak Saffa.
Tanpa kata mereka masuk kedalam gudang tersebut dan langsung menghampiri Saffa yang duduk meringkuk di lantai.
Salah seorang dari mereka terlihat membawa kunci.
Pandangan Saffa terarah pada kunci yang dibawa wanita tersebut.
Mungkinkah kunci itu dibawa untuk membuka borgol ditangannya.
Dugaan Saffa ternyata benar.
Mereka membuka borgol yang entah sudah berapa lama melekat di pergelangan tangan Saffa.
"Maaf boleh saya tanya sesuatu.
Dimanakah tempat saya berada saat ini?"
Pertanyaan itu meluncur dari mulut Saffa saat seorang dari mereka sedang mencoba membuka borgolnya.
Ketiga asisten rumah tangga itu saling pandang.
Bukan karena sedang merahasiakan sesuatu, yang membuat mereka harus membungkam mulut mereka.
Tapi kalimat yang diucapkan oleh Saffa yang mana menggunakan bahasa indonesia itu membingungkan mereka bertiga.
Mereka sama sekali tak memahami apa yang diucapkan gadis ini.
Akhirnya wanita yang sekiranya paling senior diantara mereka bertiga berucap dengan sedikit senyum menyertai.
"I'm sorry miss. We don't understand bahasa. English please."
Borgol telah berhasil dibuka.
Saffa mengerutkan dahinya.
Bukankah ia saat ini berada di negara Malaysia yang notabene menggunakan bahasa melayu yang sedikit banyak, mirip dengan bahasa indonesia.
Kenapa wanita ini bilang tidak memahami bahasa indonesia dan malah menggunakan bahasa inggris.
"Oh I'm sorry." Saffa kemudian mengulang lagi pertanyaannya dengan menggunakan bahasa inggris.
Sambil mengibaskan tangannya yang seolah mati rasa karena terus-menerus berada di posisi yang sama.
Dibelakang punggung.
Pertanyaan yang diutarakan oleh Saffa kembali membuat ketiga pelayan itu saling bertukar pandang.
Haruskah mereka menjawab pertanyaan tersebut.
Boss mereka hanya memerintahkan untuk mendatangi gadis ini, membuka borgol sebelum akhirnya digiring keluar dari ruangan itu.
"Lagi-lagi saya harus meminta maaf karena tidak bisa menjawab pertanyaan anda.
Kami tidak diberi wewenang untuk menjawab pertanyaan tersebut."
kembali wanita paling senior yang menjawab. Dengan bahasa inggris tentunya.
"Mari ikut dengan kami."
Wanita yang lebih senior berjalan mendahului.
Sedangkan dua yang lain mwnangkup kedua sisi lengan Saffa.
Layaknya tahanan yang siap digiring menuju meja persidangan, meski tanpa borgol yang malah sudah dilepas terlebih dahulu.
"Saya akan dibawa kemana?"
Mengingat kembali bagaimana kejadian yang menimpa Dewi,
Saffa tentu saja merasa waspada, tak ingin bernasib sama dengan Dewi.
Pertanyaan itu tak dijawab oleh kedua wanita disampingnya.
Mereka hanya mengeluarkan perintah untuk mengikuti saja kemana ia akan dibawa.
Saat mereka sudah keluar dari pintu,
Saffa meronta sekuat tenaga dan menginjak kaki mereka sebelum akhirnya menendang tulang kering kedua wanita itu.
Maaf.
Hatinya bersuara.
Kedua wanita tadi memang tidak memegangnya dengan erat sehingga Saffa bisa melepaskan diri dari mereka dengan perlawanan yang dilakukannya.
Dengan tenaga yang tersisa dalam tubuhnya Saffa mencoba berlari menjauhi mereka yang saat ini berteriak memintanya untuk berhenti.
Tapi teriakan itu tak dihiraukan oleh Saffa.
Ia berlari menuju pagar yang dikelikingi semak yang membatasi area tersebut.
Satu-satunya jalan kelua yang terpikir oleh otaknya.
Beberapa orang yang mendengar teriakan para pelayan tersebut mendekat kearah sumber suara.
Sebagian dari mereka mengejar Saffa yang sudah mulai mendekat mencapai pagar.
"Berhenti atau kami akan menembakmu."
Teriakan itu masih diabaikan oleh Saffa.
Ia sudah mencapai pagar tembok dengan tinggi kira-kira hampir mencapai dua meter.
Jleb.
Lagi.
Saffa merasakan itu lagi sebelum ia berhasil memanjat pagar tembok.
Kali ini benda itu menancap di punggung sisi kanan.
Benda itu tak hanya menancap namun sudah menusukkan seluruh batang jarumnya kedalam kulit tubuh Saffa.
Rasa sakit yang kembali mendera tubuhnya membuatnya ambruk kesemak-semak dekat pagar.
Allah...
Ucapnya pelan sebelum akhirnya benar-benar tak sadarkan diri seutuhnya.
"Gadis pembangkang.
Menyusahkan saja."
Pelayan senior itu mengumpat kesal pada gadis berjilbab yang baru pertama kali dilihatnya ini.
_____
"...Gadis bodoh..."
"..Tak tau di..."
Samar-samar Saffa dapat mendengar percakapan yang masuk ke telinganya saat ia baru mulai membuka mata.
"Dia sudah bangun."
Suara salah satu dari mereka ketika melihat Saffa yang tengah mengedipkan mata mengumpulkan kembali kesadarannya.
"Dimana ini?" Erangan yang keluar dari mulut Saffa dengan suara parau.
"Bicara apa kau gadis bodoh.
Apa kau tidak bisa berbahasa inggris."
Hardik salah satu dari mereka dengan suara lantang saat mendengar Saffa berucap dengan bahasa yang terdengar asing di telinga mereka.
Saffa tak menanggapi protes wanita itu.
Matanya sibuk berkeliling mengamati sekitar.
Tempat ini seperti halnya kamar yang dengan cat warna terang dan beberapa furnitur pelengkap.
Jendela kaca disisi ruangan dengan gorden yang terbuka lebar menampilkan pemandangan dari luar.
Apa ini sudah pagi?
Gumamnya dalam hati saat melihat keluar jendela dimana matahari dalam posisi rendah baru saja muncul dari persembunyiannya.
"Cepat bangun."
salah seorang wanita itu menarik lengan Saffa dengan kasar.
"Enak sekali kau. Tidur pulas sementara kami harus menungguimu sejak pagi buta sampai kau bangun."
Pelayan yang satunya lagi ikut menimpali.
"Lepaskan."
Saat kedua wanita itu mencengkeram lengannya dengan kuat dan menyeretnya keluar kamar.
____
"Mandilah terlebih dahulu.
Sudah beberapa hari kau tak mandi, bukan?"
bibir pria itu menampakkan seringai.
Saffa tak menanggapi perkataan pria itu.
Ia lebih memilih diam, sambil menatap kesembarang arah.
Saat ini ia sedang berada dalam kamar luas bernuansa monokrom.
Kedua pelayan tadi menyeretnya kemari dengan susah payah.
Setelah itu meninggalkannya sendiri dan mengunci pintu kamar dari luar.
Sendiri, sebelum ia menyadari keberadaan seorang pria yang saat ini sedang duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya.
Menyadari respon gadis dihadapannya yang hanya diam terpaku, Berdiri sambil menatap kesembarangan arah.
Pria yang masih diusia kisaran tiga puluh tahunan itu tersenyum kecut.
Gadis ini telah berani mengabaikannya.
"Ah aku tahu. Kau terlalu segan untuk mandi ditempat yang tak kau kenali ini. Apa kau mau aku yang memandikanmu gadis manis?"