BEHIND THE SMILE

BEHIND THE SMILE
Dewi 2



Dan dirumah inilah kisah pilu Dewi yang begitu merusak jiwa san raganya dimulai.


Dewi menghentikan ceritanya sejenak.


Kedua tangannya saling meremas


dengan gemetar yang terlihat jelas.


Bibirnya yang pucat itupun juga kembali bergetar.


Ketakutan, amarah, penyesalan semuanya campur aduk menghampirinya.


Membuncah dalam dada menyisakan rasa sakit teramat dalam.


Dewi sering mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya.


Tapi Ia masih bisa menguatkan hatinya karena ibunya yang selalu berada dipihaknya.


Menenangkan dirinya.


Dan perlakuan tak mengenakkan itu kembali didapatkannya saat berada dirumah besar tersebut.


Matanya tak sanggup lagi menahan buliran kristal cair yang sudah berada di sudut matanya.


Airmatanya terjun bebas tanpa bisa dihentikan.


Wajahnya yang pucat kini berubah memerah.


Bibirnya mulai mengeluarkan suara bergetar sambil sesenggukkan.


Saffa merapatkan tubuhnya pada Dewi.


Ingin sekali ia memeluk gadis malang ini, yang diusia mudanya harus sudah mengalami peristiwa mengerikan berbalut kekerasan.


Tapi apa boleh buat tangannya yang berada dibelakang punggungnya lagi-lagi mempersulitnya.


Hingga otaknya itu memberikan sebuah ide bak dalam film drama yang tiba-tiba memunculkan bola lampu yang terang menyala.


Saffa berbalik membelakangi Dewi hingga tangannya berada persis didepan Dewi.


Lalu diangkatnya kedua tangan yang saling bertautan itu.


Mencoba untuk meraih bahu atau kepala Dewi. Dengan maksud supaya ia bisa mengelus perlahan bagian tubuh itu dan mengalirkan rasa simpati dan dukungan pada Dewi.


Jarang sekali Saffa menenangkan sesorang dengan kata-kata.


Jika salah seorang temannya sedang dirundung pilu maka Saffa akan memberikan pelukan terhangatnya pada temannya itu.


Dewi yang sedang menunduk dan meneggelamkan kepala di lutut kakinya,


seketika mengembalikan kepalanya pada posisi semula, saat dirasakannya telapak tangan Saffa sedang mengelus bahunya.


Ia tersenyum tipis atas tindakan Saffa yang entah kenapa bisa menghilangkan kepedihan dalam dirinya walaupun hanya sedikit.


Setelah beberapa saat Saffa membalikkan tubuhnya.


Kembali menghadap kearah Dewi.


"Aku tidak akan memaksamu untuk meneruskan cerita itu.


Kalau kau tidak mau menceritakannya padaku tidak apa-apa.


Aku bisa mengerti perasaanmu."


"Tidak. Aku harus melanjutkan ceritaku.


Meski memang sangat menyakitkan mengingatnya.


Tapi kau harus mengetahuinya supaya nanti kau bisa menghindari kemungkinan terburuk yang akan terjadi padamu nanti."


Saffa mengernyit, kurang paham dengan yang diucapkan oleh Dewi.


"Maksudmu?"


"Aku sudah mengatakannya padamu tadi.


Ada dua kemungkinan transaksi yang akan terjadi di dunia jual beli ini.


Karena wajahmu itu cantik


dan memiliki aura yang baik,


pak Ahmad mungkin akan menjualmu pada orang kaya diluar sana.


Dan kemungkinan besar nasibmu juga akan sama sepertiku."


Baru pertama kali Saffa mendengar pujian yang ditujukan padanya namun sangat menakutkan untuk didengar oleh telinganya.


Dewi kembali melanjutkan ceritanya.


Mobil yang membawanya kala itu telah memasuki gerbang besar yang membatasi area rumah mewah itu dengan dunia luar.


Tepat didepan pintu rumah, mobil itu berhenti.


Pria yang mengemudikan mobil yang ditumpangi Dewi turun lebih dahulu.


Memutari mobil.


Lalu membukakan pintu mobil untuk Dewi.


Heran.


Begitu yang dipikirkan Dewi saat itu.


Dia hanya akan bekerja sebagai Asisten rumah tangga.


Kenapa harus sampai dibukakan pintu mobil segala.


Dirinya lebih terkejut lagi saat pintu besar rumah itu dibukakan untuknya.


Beberapa pelayan berseragam tampak berjajar rapi disisi kanan dan kiri.


Seolah menyambut kedatangan Duchess of Cambridge Kate Middleton yang datang dari kerajaan inggris.


Ini semua terlalu berlebihan.


Sangat berlebihan.


Kecurigaan tiba-tiba datang menghinggapi pikirannya.


Benarkah ia akan bekerja sebagai ART dirumah ini?


Apakah ini memang sudah merupakan cara mereka menyambut siapapun yang datang ke rumah ini?


Seorang wanita paruh baya menghampiri Dewi tanpa memasang ekspresi apapun. "Selamat datang nona Dewi.


Saya adalah kepala pelayan di rumah ini.


Silahkan ikuti saya."


Tunggu. Pelayan itu bahkan sudah mengetahui namanya.


Dan apa tadi, meskipun pelayan itu berucap dengan bahasa melayu tapi Dewi yakin pelayan itu menyebutnya dengan panggilan formal.


Seperti menganggap Dewi adalah tuan mereka.


Tanpa berkata apapun, Dewi mengikuti langkah pelayan itu yang sudah mulai menjauh.


Dirinya dibawa menuju sebuah kamar yang letaknya berada di lantai dua.


Kamar tersebut sangat besar bahkan lebih besar dari rumah yang ditinggalinya bersama sang suami di kampung.


Ruangan tersebut bernuansa hitam putih dengan tempat tidur ukuran sedang dan jendela besar yang memenuhi salah satu sisi ruangan.


"Silahkan membersihkan diri anda terlebih dahulu.


Sudah tersedia beberapa pakaian wanita didalam lemari pakaian.


setelah mengatakan kalimat tesebut kepala pelayan itu segera pergi dan menutup pintu kamar sebelum Dewi sempat melayangkan pertanyaan.


Dewi duduk termenung di lantai.


Menekuk kakinya untuk ia peluk.


Dan menyandarkan punggungnya di dinding.


Bingung.


Sekali lagi pertanyaan itu muncul dikepalanya atas perlakuan aneh yang didapatinya.


Kenapa ia diperlakukan layaknya tamu spesial?


Jika benar dia akan dipekerjakan sebagai ART sudah pasti ia tak akan mendapat fasilitas kamar mewah ini.


Memakai seragam yang sama dengan pelayan yang lain.


Juga sudah mulai mengerjakan pekerjaannya.


Bukannya disuruh membersihkan diri dan istirahat sepuasnya.


SEPUASNYA.


Mana ada ART yang istirahat sepuasnya.


Dewi memiringkan kepalanya menatap pintu kamar mandi.


Memang sudah beberapa hari ini ia tak mandi jadi ia memutuskan untuk beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.


_


Seseorang mengetuk pintu kamar, kemudian masuk setelah Dewi mempersilahkannya.


Pelayan datang membawa nampan yang diatasnya terdapat berbagai makanan lezat yang amat menggugah selera makan.


"Silahkan dimakan, makan malam anda nona." pelayan itu hendak pergi setelah meletakkan nampan yang dibawanya diatas meja.


Namun Dewi lebih dulu mencegahnya.


"Maaf. Saya ingin memperjelas sesuatu.


Saya dari Indonesia datang ke Malaysia untuk bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga.


Tapi kenapa saya tidak digabungkan dengan pelayan lain?


Kenapa saya malah dibawa ke kamar ink?" akhirnya pertanyaan itu muncul kepermukaan.


"Anda akan mengetahuinnya esok pagi."


"Kenapa tidak anda beritahu sekarang saja?"


"Maaf saya tidak berhak untuk itu. Besok tuan Badrol sendiri yang akan menjelaskannya pada anda. Permisi."


Pelayan itu meninggalkan Dewi yang terdiam penuh rasa ingin tahu.


___


Pagi-pagi sekali pelayan sudah membangunkannya.


Menyuruhnya untuk segera membersihkan diri karena sebentar lagi tuan Badrol akan segera pulang dari perjalanan bisnisnya di luar kota.


Dewi menuruti saja perintah pelayan tersebut.


Saat ini Dewi telah berdiri diantara barisan para pelayan.


Ia berdiri disamping kepala pelayan yang diketahuinya bernama Cik Noor.


Saat pemilik rumah datang dari pintu masuk bersama dengan asisten pribadinya dibelakangnya, Pandangan mata tuan Badrol langsung tertuju pada Dewi yang penampilannya berbeda dari pelayan lain.


Segera Cik Noor memberi tahu tentang Dewi pada majikannya itu.


Senyum tipis muncul di bibir pria yang masih mengenakan jas rapi itu.


Gadis yang dibelinya dengan harga mahal itu telah datang.


"Bawa dia ke kamar."


Perintahnya pada siapapun yang mendengar. Lalu melangkah pergi dengan langkah kakinya yang lebar.


Tentu saja hal itu juga didengar dengan jelas oleh Dewi.


Apa maksudnya dengan kalimat itu.


Kamar siapa yang dimaksud oleh tuan Badrol.


Perasaan was-was seketika muncul.


"Anda sudah dengar dengan jelas bukan, nona Dewi?


Mari, nona ikuti saya." Cik Noor berbicara.


Kamar yang maksud ternyata kamar di lantai dua yang lebih besar dan mewah dari kamar yang ditempati Dewi semalam.


Cik Noor meninggalkannya sendiri didalam kamar setelah tadi mengantarkannya.


Dewi berdiri terpaku antara takut dan curiga.


Terdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi.


Seseorang sepertinya sedang mandi disana.


Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka dan dari dalamnya minculah tuan Badrol yang baru selesai melakukan ritual pagi harinya.


Yang membuat Dewi terkejut selain kamar ini ternyata milik tuan Badrol adalah, laki-laki itu muncul hanya dengan memakai handuk di pinggangnya.


Tubuh Dewi seketika dilanda ketakutan memikirkan hal-hal buruk.


Wajahnya pucat pasi.


Tangannya gemetaran.


Tuan Badrol tersenyum melihat reaksi Dewi saat melihatnya.


Dengan langkah santai ia berjalan mendekati Dewi.


Dewi memundurkan langkahnya saat melihat tuan Badrol mendekat ke arahnya.


Perasaannya campur aduk.


Takut, was-was, bingung, khawatir semuanya menjadi satu.


"Apa yang akan anda lakukan pada saya tuan." suaranya terdengar bergetar.


Terlihat sekali kalau ia sedang ketakutan.


Sementara pria dihadapannya ini hanya tersenyum.


Senyum yang menakutkan bagi Dewi.


Saat punggung Dewi menatap tembok artinya ia tak lagu bisa melangkah mundur, sedangkan tuan Badrol hanya berjarak dua langkah saja didepannya.


"Jangan mendekat. Jangan macam-macam dengan saya." teriakannya bergema memenuhi ruangan.


Dewi hendak melangkah ke samping, namun sudah terlambat.


Kedua tangan kekar tuan Badrol sudah menguncinya di kedua sisi.


Tuan Badrol mendekatkan wajahnya menatap intens kedua manik mata Dewi.


"Tenanglah sayang. Kita akan bersenang-senang mulai hari ini."


.


.