BEHIND THE SMILE

BEHIND THE SMILE
Dewi



Dengan air mata yang terus mengalir deras di pipinya, pikiran Saffa masih terpaku pada alasan apa yang membuat pamannya begitu tega menjualnya.


Mengirimnya ke negeri orang tanpa mau tahu bagaimana nasibnya kemudian.


Hiks. Kenapa?


Kenapa?


Pertanyaan itu terus terulang dalam pikirannya.


Hiks. Kenapa paman tega sekali kepadaku?


Selama ini dirinya menilai paman adalah sosok baik hati yang mau dengan ikhlas merawatnya,


yang sudah tak memiliki orang tua ini.


Setiap hari senyum hangat selalu muncul saat mereka berinteraksi.


Paman tak pernah sekalipun memarahinya.


Bahkan paman selalu menyanjung sikapnya yang santun dan baik.


Serta memuji kecerdasannya dalam dunia pendidikan.


Sampai-sampai membuat kedua putrinya merasa cemburu dan kurang diperhatikan.


Sungguh Saffa tidak memiliki satupun pemikiran buruk mengenai pamannya.


Tak terbesit dalam dirinya bahwa paman mungkin berbaik hati padanya dengan motif tersendiri.


Tapi motif apa?


Bahkan senyumnya itu sangatlah amat tulus,


hingga sangat sulit untuk menilai bahwa itu hanyalah senyum palsu.


Sungguh akting paman sangatlah hebat dalam memperdayainya.


Paman telah berhasil menipunya selama kurang lebih tiga tahun lamanya Saffa tinggal bersama keluarga mereka.


Saffa menghentikan tangisannya.


Tak ingin terus berlarut memikirkan sang paman.


Astaghfirullah.


Dirinya melafalkan do'a yang dapat menenangkan hatinya.


Allahumma Inni a'udzubika minal hammi wal huzni, wal ajzi, wal kasali, wal bukhli, wal jubni, wal dhola'id daini, wa gholabatir rijali.


Ini sudah menjadi takdir Allah, Saffa, begitulah hatinya berkata pada dirinya sendiri.


Menguatkan.


Ia menundukkan kepala.


Menggunakan lutut kakinya yang menekuk untuk mengusap airmatanya.


Tangannya yang diborgol kebelakang punggungnya memaksanya untuk mengusap airmata dengan bagian lain tubuhnya.


"Maaf. Aku malah jadi menangis."


Saffa beralih menatap wanita di hadapannya ini yang menatapnya dengan tatapan sendu.


"Tidak apa-apa." tersenyum tipis.


Sudah panjang lebar mereka berbicara bahkan sampai mengeluarkan airmata,


Saffa baru menyadari satu hal yang seharusnya sudah ia katakan sejak awal tadi.


Ia belum mengatahui nama wanita ini.


Mereka belum saling memperkenalkan diri di awal tadi.


"Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, siapa namamu?" berusaha sekuat hati untuk memunculkan senyum di bibirnya.


"Oh iya. Kita belum berkenalan ya. Namaku Dewi." senyum yang tadinya setipis kertas kini sedikit melebar.


Kedua tangannya yang diborgol itu bergerak sedikit hampir terangkat untuk menyalami gadis berhijab di hadapannya ini.


Namun ia urungkan karena baru menyadari kalau gadis itu tangannya juga dalam kondisi diborgol dan tangannya berad di belakang punggungnya. "Kau sendiri, siapa namamu."


"Namaku Saffa. Saffa Khadijah." tersenyum.


Pikirannya sudah mulai membaik.


Tenang. Kembali mengingat Allah.


"Emmm salam kenal...emmm mbak Dewi?" bingung memanggil dengan sebutan apa di depan namanya.


"Ah tidak perlu dengan panggilan 'mbak'.


Umurku baru akan memasuki dua puluh tahun bulan ini." jelasnya.


"Oh iya. Ternyata umurmu lebih muda dariku" kalau dibandingkan dengan dirinya yang berusia 22 tahun dengan tubuh mungil dan tinggi badan tak seberapa ini,


postur tubuh Dewi lebih besar darinya.


Meskipun ia belum melihat Dewi ketika berdiri, namun dilihat dari kakinya saja sudah pasti Dewi ini lebih tinggi beberapa senti darinya.


"Apa kau berpikir aku ini sudah tua?"


"Ti...tidak. Bukan begitu. Postur tubuhmu tampak lebih besar dariku.


Jadi kukira kau sedikit lebih tua dariku."


Seolah teringat akan sesuatu, Saffa ingin sekali menanyakan beberapa hal yang membuatnya penasaran.


Bagaimana gadis muda ini bisa berada disini?


Terjebak ditengah-tengah dunia perdagangan manusia,


yang jika dilihat dari ceritanya tadi sangatlah jauh dari kata manusiawi.


"Emmm... Dewi, bolehkah aku bertanya beberpa hal padamu?" menatap intens kedua bola mata Dewi.


"Tanya saja."


"Bagaimana kau bisa berada disini." bertanya dengan hati-hati. Takut menyinggung.


Pikirannya melayang mengingat bagaimana dirinya bisa berada di tempat mengerikan ini.


"Tidak apa-apa. Aku akan mendengarkannya, tapi tentu saja kalau kau mau bercerita."


"Baiklah."


Dan Dewi akhirnya menceritakan kejadian demi kejadian yang membawanya bisa sampai disini.


Dewi adalah seorang gadis miskin yang berasal dari sebuah desa di Jawa bagian tengah.


Diusianya yang kala itu baru menginjak delapan belas tahun harus terpaksa mengikuti keinginan kedua orang tuanya yang menjodohkannya dengan seorang pria yang merupakan anak dari juragan kebun tempat orang tuanya bekerja.


Saffa yang mengetahui fakta bahwa Dewi sudah menikah, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Jadi kau sudah menikah?"


Pertanyaan Saffa hanya dijawab dengan anggukan oleh Dewi.


Ia kembali melanjutkan ceritanya.


Pernikahan itu akhirnya terjadi.


Dewi yang terpaksa menikahi pria itu berusaha berpikir kalau ini adalah pilihan terbaik. Ia akan baik-baik saja setelah menikah dengan pria yang tak pernah ia kenal sebelumnya.


Dia adalah pria baik. Begitu pikirnya kala itu sebelum dia resmi menikah.


Namun ternyata ia salah. Salah besar.


Pria yang sudah menjadi suaminya ini ternyata sangat kasar padanya.


Tak jarang ia kena pukul dan makian hanya karena hal sepele.


Namun meskipun suaminya itu kasar,


Pria itu tetap menggaulinya hampir setiap malam di ranjang.


Tentu saja sikap dan kelakuan suaminya itu sangat menyakiti perasaan Dewi.


Hampir setiap hari saat suaminya pergi bekerja dirinya selalu menangis tersedu-sedu didalam kamar.


Terus seperti itu. Hingga mencapai lima bulan usia pernikahan mereka, Dewi yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda kehamilan pada dirinya, membuat kekejaman suaminya itu bertambah.


Bahkan suaminya itu tak segan memukul Dewi dengan benda yang ada disekitarnya.


Satu lagi, Dewi tak lagi di nafkahi.


Hingga pada akhirnya, Dewi memutuskan untuk menjadi TKI. Mendaftar di agen penyalur dikota yang paling dekat dengan desanya.


Saat dirinya meminta ijin dari suaminya,


tanpa pikir panjang suaminya itu langsung menyetujui.


Beberapa bulan kemudian Dewi berangkat ke Malaysia untuk bekerja menjadi asisten rumah tangga sesuai dengan yang dijanjikan oleh agen penyalur TKI yang menyalurkan dirinya.


Dewi berangkat ke Malaysia melalui jalur laut.


Dirinya dan beberapa orang lainnya yang tergabung dalam satu rombongan tiba di Malaysia setelah melalui perjalanan panjang nan memabukkan baginya.


Maklumlah dirinya hanyalah orang kampung yang bahkan akan merasa pusing saat naik bus.


Sesampainya disana orang yang kemungkinan pihak dari agennya itu membawa mereka menuju ke suatu tempat yang jauh dari keramaian.


Dapat dilihat bahwa orang itu sepertinya membagi kelompok menjadi dua.


Orang yang berwajah menarik akan dijadikan satu kelompok.


Dan sisanya yang berwajah kurang begitu menarik menjadi tergabung dalam kelompok lainnya.


Dewi sendiri termasuk kedalam kelompok pertama.


Wajahnya yang cukup rupawan dan perawakan yang tinggi ideal membuatnya pantas masuk dalam kelompok pertama.


Tanpa menaruh kecurigaan apapun, mereka semua mengikuti saja apa yang dikatakan pria itu


Selanjutnya, dengan kendaraan yang terpisah kedua kelompok itu menuju ke tempat yang berbeda.


Dan kendaraan yang ditumpangi oleh Dewi membawanya ketempat saat ini dirinya berada.


Mereka ditempatkan sebuah ruangan yang sempit sebelum akhirnya dipanggil satu persatu.


Saat tiba giliran Dewi, dua orang layaknya bodyguard membawanya dengan paksa, seperti saat pertama kali Saffa memasuki bangunan ini,


menuju ruangan lain dengan pintu berukuran besar.


Di dalam ruangan itu terdapat dua orang tak dikenal yang duduk berhadapan di sofa terpisah oleh sebuah meja.


"Tuan Badrol telah memilihmu untuk dibawa bersamanya.


Jadi, kau harus melakukan pekerjaan sesuai dengan yang diperintahkan oleh tuan Badrol." pria yang lebih tua berucap dengan nada tegas dan dingin. Dialah pak Ahmad.


Tanpa menunggu jawaban dari Dewi, dua orang bodyguard yang membawanya tadi langsung menyeretnya keluar menuju halaman tempat sebuah mobil terparkir disana.


"Tunggu..Barang-barangku masih tertinggal didalam." sedikit meronta, mencoba melepaskan diri dari genggaman kedua bodyguard itu yang terasa menyakitkan.


"Kau tidak memerlukan barang-barangmu." menjawab dengan dingin.


Sampailah mereka di dekat mobil.


Dibukanya pintu mobil bagian belakang oleh bodyguards itu dan dengan kasarnya mereka mendorong tubuh Dewi. Sungguh, ingin sekali Dewi berkata kasar atas perlakuan kedua orang itu.


Namun pintu mobil telah ditutup kembali, lalu masuklah seseorang yang beberapa saat lalu berada dalam ruangan berpintu besar itu.


Mobil yang ditumpanginnya kemudian melaju meninggalkan tempatnya.


Menembus jalanan dengan kecepatan tinggi, tak memikirkan jantung penumpang yang berada di kursi belakang. Dewi ketakutan setengah mati.


Tak sampai setengah jam, mobil sudah sampai di tempat tujuan.


Sebuah rumah besar, dengan cat berwarna putih serta lapisan emas dibeberapa bagian.


Gerbang besar akan menyambut siapapun yang datang sebelum memasuki halaman depan yang luas.


Rumah ini adalah milik tuan Badrol, pengusaha sukses dibidang properti.


Dan dirumah inilah kisah pilu Dewi yang begitu merusak jiwa san raganya dimulai.