BEHIND THE KITCHEN

BEHIND THE KITCHEN
Omo ... Ottoke?!



Sore setelah aku melihat-melihat ghosiwon aku pergi ke kawasan Nonhyeon mendatangi apartemen Oppa Sohyun,  kakak laki-lakiku nomor tiga. Aku harap Sohyun tidak berada di rumah,  jadi aku bisa leluasa meminjam beberapa barangnya.


Kutekan kata sandi pada kunci elektriknya tapi tidak bisa. Apa mungkin aku lupa? Tidak,  aku rasa ini sudah benar. Ah, sudah dua kali ditolak apa mungkin Oppa mengganti sandinya? Mungkin saja dia ada di rumah. Lagi pula ini sudah hampir malam. Baiklah, Kutekan saja belnya.


“Hei, begundal! Kau pikir aku tidak bisa melihatmu dari sini!” terdengar suara Sohyun dari audio interkom. Tak lama kemudian dia membuka pintu. “Hem,  aku tahu kenapa kau kesini. Pasti ingin menginap disini karena tidak ada lagi yang mau menampungmu. Jangan harap!”


Dia hendak menutup pintu. Dengan cepat aku tahan pintu itu sambil berkata manis padanya, “Oppa,  aku mohon. Aku janji tidak akan merusak apartemenmu lagi. Aku janji tidak akan menyentuh perabotan,  juga segala furnitur di dalam sana. Izinkan aku menginap,  satu hari saja.”


“Kau mungkin tidak merusaknya lagi,  tapi seperti waktu itu. Kau malah membawa beberapa barang milikku untuk digadaikan. Tidak-tidak,  lebih baik kau tinggal bersama Yeon.” Sohyun kembali menarik gagang pintu.


“Oppa tahu kan aku tidak pernah cocok dengan Yeon-sii.” Kuterobos pintu sampai Sohyun melepaskan genggamannya pada pintu. “Jadi, aku mohon. Tolong biarkan aku menginap satu malam saja di sini. Apa kakak tega melihat adikmu yang malang ini menjadi gelandangan.”


“Cih, kalau tidak mau jadi gelandangan pulang saja ke rumah.”


“Aku tidak akan pulang sampai aku berhasil dan menjadi orang sukses. Kakak juga pernah merasakan hal yang sama sepertiku kan? Pasti kakak paham bagaimana rasanya. Aku mohon.” Jemariku saling menyatu,  memohon sampai berlutut di hadapan Sohyun.


“Ya-ya. Baiklah, kau boleh menginap. Tapi ingat, cuma satu malam.”


“Ah,  terima kasih Oppa. Kau memang lelaki paling tampan di muka bumi ini.” Aku tahu Sohyun orang yang paling tepat untuk dimintai tolong,  dia juga orang yang paling lugu untuk dikelabui. Terbukti dengan pujian murahan saja hatinya langsung luluh.


Setelah malam tiba dan Sohyun sudah terlelap, aku mengendap-endap masuk ke kamarnya. Dia tidak akan bangun, sebab tidurnya seperti orang mati. Pantas saja dia belum memiliki kekasih,  bagaimana ada wanita yang mau dengan laki-laki yang suka mendengkur. Selagi tidur pun dia bisa mengeluarkan gas beracun berbau busuk merebak ke seluruh ruangan.


“Uhuk ... Uhuk ... Yaa, Kau ingin membunuhku!” kupukul bokongnya sangat keras, herannya dia masih tertidur pulas. Bagus, aku bisa menjalankan misi berikutnya.


Perlahan aku buka lemari untuk mengambil beberapa pakaiannya, memasukkannya ke dalam kausku. Setelah itu mencari dokumen miliknya di laci lemari juga tempat lainnya. Ternyata si bodoh ini menaruhnya di kolong tempat tidur, bukan di brankas. Kecerobohannya malah menguntungkanku. Kalau begini kan aku jadi mudah untuk mengambil ijazah akademi memasaknya. Sudah pernah kuceritakan bukan kalau Sohyun ingin jadi koki. Dia sempat mengikuti akademi memasak sebelum ayah memaksanya masuk ke Universitas Seoul. Ternyata nasib sialnya itu malah menjadi anugerah untukku.


Terakhir,  tidak boleh tertinggal. Aku harus mengambil kartu identitas Sohyun di dalam dompet. Banyak yang bilang wajah kami mirip. Awalnya aku kesal,  mana mungkin paras cantikku ini disamakan dengan wajah dungunya. Tapi hari ini aku merasa sangat beruntung mempunyai wajah yang mirip dengan Sohyun. Pokoknya sekarang aku sangat beruntung mempunyai kakak seperti dia. Sohyun adalah penyelamat hidupku!


Srekk! Mataku membelalak bersamaan napas yang tertahan ketika Sohyun menarik tanganku dari atas nakas. “Mau ke mana kau?“


“A-aku ....” Bagaimana ini? Tamat sudah riwayatku. Kalau ketahuan, semua rencanaku bisa gagal. Lalu dia akan menyeretku pulang dan ayah akan mengirimku keluar negeri. Oh, itu sangat mengerikan!


“Jangan pergi,  aku mohon ...” lelaki bodoh itu meletakkan telapak tanganku pada pipinya. Sambil menciumi punggung tanganku dia berkata lagi,  “Jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu,  Bae Suzy.”


“Yaa! Bodoh! Liurmu mengotori tanganku!” kutarik tangan Cepat-cepat setelah menendangnya dengan sebelah kaki sampai dia terperosok ke kasur. Kukernyitkan wajah mengintip dengan sebelah mata,  takut-takut dia membalas atau mungkin marah. Eh, ternyata dia kembali mendengkur.  Kuurut dada begitu mengetahuinya sambil bergumam, “Dia sudah gila, bisa-bisanya memimpikan artis. Untung saja aku selamat. Fuh ....”


Malam sudah sangat larut,  sedang aku masih berjalan mengendap keluar kamar Sohyun. Membawa koper lalu pergi.  Masih di gedung yang sama, aku turun ke lantai dua belas. Berkunjung ke apartemen Yeon. Aku tahu jam segini dia baru pulang dari klinik kecantikan miliknya. Yeon seorang dokter kulit, sebetulnya dia tidak ingin menjadi dokter kalau bukan paksaan ibu karena ingin mengembangkan produk kecantikannya. Yeon harus mengurungkan niatnya untuk mengikuti audisi menjadi artis dan menaruh semua atribut penunjang cita-citanya ke dalam gudang.


“Ada apa? Ini suda larut malam.” Yeon menyandarkan kepalanya ke sisi pintu sambil menguap,  dia terus memperhatikanku dari atas ke bawah.


“Eonni,  aku mau menumpang tidur.”


“Tidurlah di rumah Sohyun.”


“Uang?” tanya Yeon malas-malasan.


“Bukan,  aku ingin meminjam sesuatu di gudang.”


“Hehh. Sebaiknya kau pulang saja. Aku sudah mengantuk. Besok aku harus pergi pagi-pagi sekali, aju takut kau akan mengambil barang-barangku seenaknya.” Yeon mengibaskan tangannya. Sama seperti Sohyun tadi Yeon pun tidak membolehkanku masuk ke dalam.


“Eonni,  kali ini aku hanya pinjam. Bukan,  bukan. Maksudku,  aku akan sewa. Pasti nanti kukembalikan, aku janji. Aku mohon pertolonganmu Eonni.” Kupegang tangan Yeon untuk lebih meyakinkannya.


Setelah terdiam beberapa saat akhirnya Yeon berbicara, “tidak perlu sewa.  Aku tahu kau tidak punya uang. Ya sudah kau hanya boleh mengambil satu barang di dalam dan karena ini sudah larut kau boleh tidur di sini,  tapi untuk malam ini saja.”


“Oh, Eonni ... Kau memang baik hati.”


“Cih, tak perlu memuji. Penjilat sekali!” Yeon memang selalu sinis kalau bicara. Tapi aku tahu dibalik perangainya yang sombong dan acuh,  dia mempunyai hati yang lembut meski aku sering membuatnya kesal.


***


Siang hari di gang-nam yang cerah. Hah,  aku tidak sabar menunggu setelah memberikan resume di restoran Chef Wang. Hari ini adalah hari terakhir pengumpulan resume sekaligus hari penyeleksian. Semua duduk menunggu giliran interview termasuk aku.


Kumati bayangan diri di kaca etalase,  merapikan kemeja milik Sohyun yang kebesaran,  celananya  juga besar sampai-sampai aku harus mengikat kencang bagian pinggangnya dengan sabuk. Sedang bagian dada kuperiksa ulang takut-takut lilitan perban di bagian sini longgar. Ah,  sepertinya tidak. Untung saja dadaku tidak besar sehingga mudah untuk disembunyikan. Setelah itu kurapikan wig milik Yeon. Hem, ini sempurna aku rasa mereka tidak mungkin menyadari kalau aku bukan laki-laki.


“Kim Sohyun!”


“Kim Sohyun!” seorang lelaki separuh baya membuka pintu,  sambil melirik selembar kertas di tangannya. Hampir saja lupa,  bukankah dia sedang memanggilku.


“Ya saya!” Segera kuangkat tangan langsung berlari memasuki ruang interview.


Terdapat papan nama bertuliskan Lee Song Dong di atas meja kerja pria berperawakan besar itu. Matanya melirik antara aku dengan resume yang dia baca. “lulusan Le Cordon Bleu dengan nilai terbaik. Luar bisa.” Lelaki itu mengusap-usap dagunya sambil tersenyum menunjukkan barisan gigi yang tidak terlalu putih. Kemudian bertanya penuh antusias, “Menu apa saja yang anda kuasai?”


“Em itu...” Apa yang bisa kumasak? Paling cuma air dan mie instan. Mengarang saja,  bukankah itu bakat yang paling kukuasai. “Masakan italiy, America, Chineses, India,  semua jenis masakan aku bisa.”


“Wah, benarkah? Sungguh mengagumkan. Baiklah tidak perlu berlama-lama. Tuan Kim,  jujur saja kami belum mendapatkan kandidat untuk mengisi jabatan Sous chef.  Bagaimana kalau anda yang mengisi kekosongan jabatan ini?”


Apa tadi dia bilang? Chef? Aku harus jawab apa? Mana mungkin orang sepertiku—tidak,  tidak ini kesempatan,  aku tidak boleh menolaknya. “Ahaha ... Tentu saja. Saya akan berusaha dengan sangat baik dalam mengemban jabatan ini.”


“Baguslah,  kalau begitu sekarang kita uji kemampuan memasak anda.”


“U-uji?!”


“Tentu saja, kami harus mengetahui sejauh apa kemampuan anda,  dari condiment hingga proses pengolahan makanan agar staf cook nanti dapat menyesuaikan kemampuan mereka dengan anda.” Pak Lee berdiri dan menyibak gorden di belakangnya. Rupanya ruangan ini terhubung dengan dapur. Dapur yang luas dengan banyak kompor di dalamnya. “Untuk mempersingkat waktu, mari kita mulai ujiannya.”


Oh, tidak! Tamatlah riwayatku! Apa yang harus aku lakukan di dalam dapur besar itu?!