
Terik matahari membuat udara panas dan lembap sehingga aku memilih berteduh di lovelix caffe. Duduk memandangi dinding kaca, mengamati para pejalan kaki di Seongsu-dong. Jalanan yang di jadikan pusat kedai dan caffe tempat berkumpul anak-anak muda. Jika menjelang sore tempat ini tidak terlalu padat sehingga jalanan lebih menyenangkan di pandang. Angin bertiup menerpa dedaunan sampai beberapa helainya terbang terinjak orang lewat. Kuhela napas sambil menopang dagu lalu berdeham lesu.
“Hemh, jadi apa yang harus aku lakukan?” tanyaku setelah bercerita panjang lebar pada temanku Eun-ram.
“Apa kau membawa uang?” gadis berkepang dua itu memutar strow, menelisikku lewat tatapan di balik kaca mata kudanya.
Aku kembali menggeleng lemas. Bagaimana aku mau membawa uang, aku tidak sempat mengambilnya dari laci ayah. Terburu diusir dari rumah. “Semua kartu kreditku dibekukan dan atm-ku di ambil. Mereka juga tidak memberiku uang sangu lagi.”
“Lalu siapa yang bayar semua makanan dan minuman ini?”
“Ya, kau ... Memangnya siapa lagi.”
“Sudah kuduga. Seharusnya aku menolak untuk datang ke sini! Kau ini benar-benar menyusahkan.” Ternyata bukan Cuma Eun-ram yang berbicara seperti tadi tapi Ibu juga sering menyebutku seperti itu. Apa benar aku menyusahkan?
“Lebih baik kamu menurut dan pulang ke rumah.” Eun-ram melipat tangan ke dada, berbicara seolah aku harus menyerah. Dia benar-benar payah! tidak bisa memberi solusi.
“Hei, teman macam apa sih kau ini?! Seharusnya kamu mendukungku bukan malah menyuruh pulang. Kamu kan temanku. Seharusnya teman bisa saling membantu.”
“Jangan bilang kamu ingin menginap di rumahku?” Mata Eun-ram mendelik, sepertinya dia tahu apa maksudku memintanya datang.
“Jadi, kamu tidak mau menolongku Eun-ram?” buru-buru kupegang tangan Eun-ram sambil memasang wajah memelas.
“Bukannya aku tidak mau. Tapi terakhir kali kamu menginap, beberapa perabot rumahku rusak karena ulahmu, dan itu membuatku sulit. Begini saja, aku akan meminjamkan uang untuk menyewa ghosiwon.”
“Ghosiwon?” yang benar saja mana mungkin aku tinggal di kamar kumuh, pengap dan sempit itu. Bahkan untuk meluruskan kaki saja sulit.
“Iya ghosiwon. Aku mana punya banyak uang untuk menyewakanmu kamar hotel yang mewah.” Eun-ram mengeluarkan uang dari dalam dompet dan menyodorkannya padaku. “Ambil lah.” Aku terdiam sejenak mengira-ngira ada beberapa lembar uang yang ada ditangannya. “Heh, jadi tidak? Apa kamu berubah pikiran?”
“Bu-bukan! Baik, kalau aku sudah dapat pekerjaan pasti segera kukembalikan. Terima kasih Eun-ram.”
Tiga ratus won, bujet menyewa ghosiwon berkisar seratus lima puluh sampai dua ratus won. Sisanya aku tidak tahu apa uang ini cukup untuk memenuhi kebutuhanku sampai mendapat kerja. Mungkin aku harus diet dan hanya memakan mie instan sampai bisa mendapatkan uang. Hah, hidupku yang malang.
Kami berjalan keluar Seongsu-dong, tidak jauh dari sana ada kerumunan orang mengantre di depan pintu bangunan bercat putih. Sedang di samping barisan antrean ada poster chef Wang dalam baner besar. Siapa yang tak kenal Alexander Wang, dia selebriti Chef yang sangat terkenal. Bahkan fotonya terpampang di majalah times baru-baru ini. Sudah kaya, terkenal dan dia, dia sangat tampan!
“Eun-ram, apa mereka mengatre untuk bertemu Chef Wang? Ah, aku juga ingin ke sana!” Segera kutarik koper berlari kecil menuju antrean.
“Hei, tunggu aku Kim Yuna!”
Sampai di depan antrean Eun-ram sibuk melihat-lihat sekitar sementara aku mencari orang yang tepat untuk bertanya. Ada salah satu lelaki yang baru masuki antrean. Lelaki itu membawa map berwarna coklat dan berpakaian sangat rapi. Memakai kemeja putih beserta calana panjang.
“Psst ....” desisku memanggil pemuda itu.
“Aku?” tanyanya. Pemuda dengan rambut coklat bergelombang itu menunjuk dirinya sendiri.
“Bukan, ini restoran chef Wang yang akan dibuka musim semi nanti.”
“Benarkah? Wah, ini hebat sekali.” Pandanganku berganti mengamati sekitar bangunan putih bernuansa modern itu. Ada tulisan recruitmen tenaga kerja di depan pintu antrean. Pantas saja mereka mengantre dengan pakaian serba rapi.
Eun-ram menepuk pundakku sambil membisik, “Yuna lebih baik kau mendaftar pekerjaan disini, pasti gajinya besar. Lihat saja restoran ini kelihatan elegan dan mewah.” Benar kata Eun-ram, banyak sekali keuntungan yang bisa aku dapatkan bila bekerja di restoran ini. Kalau gajiku besar, aku tidak perlu menyewa ghosiwon lagi. Lebih baik sewa apartemen di dekat sini.
Ini kesempatan emas. Lagi pula dari dulu aku memang mengidolakan chef Wang, juga selalu mengikuti program memasaknya di televisi. Kalau aku menjadi karyawan disini berarti aku bisa bertemu Chef Wang dan mungkin saja bisa mengambil kesempatan berdekatan dengannya. Bukankah itu sebuah prestasi yang gemilang?
Aku langsung mengikut baris di belakang tubuh si pemuda berambut coklat. Dia menoleh ke belakang lalu bertanya, “Kau juga mau ikut?”
“Iya. Mereka pasti membutuhkan pelayanan atau reception bukan?” Meski aku tidak pintar dandan tapi aku cantik dan mungkin saja kecantikanku cocok dijadikan penunjang pekerjaanku nanti sebagai penerima tamu.
“Tapi mereka baru saja menutup bagian Serving. Sekarang mereka membutuhkan tenaga ahli untuk dapur.”
“A-aku juga bi-sa.” Sebetulnya aku ragu mengatakannya. Bagaimana aku bisa menjadi tenaga ahli di dapur sedang memasak saja tidak pernah. Lagi pula latar belakang pendidikanku hanya sampai SMU, bukan dari sekolah kejuruan. Tidak apa-apa, yang penting daftar saja dulu. Masalah latar belakang adalah urusan nanti.
“Tapi kau perempuan. Tenaga ahli yang mereka perlukan hanya laki-laki.”
“Apa?!” sahutku berbarengan dengan Eun-ram. Sekarang bagaimana ini? Bukankah itu diskriminasi, mengapa perempuan tidak boleh menjadi tenaga ahli di dapur? Padahal setahuku perempuan lebih pintar memasak dari pada laki-laki. Asisten rumah tanggaku juga semuanya perempuan dan mereka pandai sekali memasak juga membersihkan rumah.
“Kenapa bisa begitu?! Ini tidak adil!” teriakku begitu saja, tanpa memperhatikan keadaan sekitar yang melihat aneh padaku dan Eun-ram.
Eun-ram segera menarikku, sedang aku kembali lesu mengikutinya. “Sudah Yuna, mungkin saat ini belum keberuntunganmu. Kita cari saja di tempat lain.”
“Tapi aku ingin sekali bertemu Chef Wang, Eun-ram.” Hah, semua sendiku jadi terasa lemas. Baru saja bersemangat sampai mengkhayal bisa melihat Wang secara langsung. Tapi kobaran semangatku malah meredup. Sepertinya nasibku memang selalu sial.
Aku mendorong koper perlahan, sampai suara roda menyeret aspal terdengar memilukan. Sementara pandanganku belum juga lepas dari baner besar chef Wang. Tulisan tebal yang berada di bawah foto membuatku terpaku mengamatinya. “Pengambilan formulir, tanggal lima sampai tujuh. Penyerahan formulir terakhir tanggal delapan.” Berarti masih tersisa dua hari untuk mendaftar. Itu artinya masih ada kesempatan!
Sontak aku segera berbaik arah. Meninggalkan koper dan berlari masuk ke dalam barisan. Meninggalkan Eun-ram yang kebingungan terus berteriak, “Hei, Yuna! Kau mau apa lagi ke sana?!”
“Mengambil formulir!”
“Tapi kan—“
“Tenang saja Eun-ram, aku ahli dalam urusan ini!”
Tentu saja mendengar jawabanku Eun-ram menggaruk kepalanya. Biarkan saja Eun-ram dengan kebingungannya, yang penting aku bisa mendapatkan pekerjaan. Aku hanya perlu mengisi data di formulir dengan identitas seorang pria. Ya, sebagai seorang pria.
...----------------...
Ghosiwon : kost-kostan sempit di pusat kota