BEHIND THE KITCHEN

BEHIND THE KITCHEN
Yuna's life



“Papa don't preach, I'm in trouble deep!”


“Papa don't preach, I've been losing sleep!”


“Yeah!”


Kakiku melonjak-lonjak mengikuti irama musik rock dari radio,  sementara tanganku menggenggam sisir sebagai pengganti mic  kepalaku terus bergerak naik turun  memutar sampai uraian rambutku berantakan.


Brak! Suara keras bantingan pintu mengagetkanku. Pandanganku berlari pada seseorang yang berdiri di depan pintu sambil bertolak pinggang. Lubang hidungnya membesar seperti ingin menyemprotkan napas api.


“Apa ini?!”  Baru saja datang, ibu langsung melempar kertas ke arahku.


“Surat.” Malas sekali aku menjawabnya, ibu juga  sudah tahu apa isinya kenapa masih tanya.


Ibu mengangkat dagunya sambil melipat tangan ke dada. Alisnya menyatu dan menekuk tinggi setinggi jambul sasaknya. Bibirnya mulai mengeriting lalu mengerucut bersiap untuk—


“Yaa! Menjawab saja bisanya! Dasar anak pemalas!” ditariknya satu telingaku sampai aku berteriak kesakitan.


“A-aa!”


Ini bukan pertama kalinya telingaku ditarik habis-habisan.  Mungkin kalau telinga ini bisa copot,  dia akan kabur dan enggan kembali lagi ke tempatnya. Semakin bertambah tahun rasanya semakin panas saja jeweran ibu. Panas dan pedasnya mengalahi level sepuluh tingkat kepedasan ramyeon. Ibu memang pantas dijuluki naga api.


Bukan hanya ibu,  tapi ada yang lebih menyeramkan lagi. Dia adalah dewa kemarahan dirumah kami. Semua yang tinggal di rumah ini harus tunduk dengan segala perintahnya. Jika tidak, dia akan memberikan keputusan yang paling kejam juga hukuman terberat sampai kami mengemis ampunan. Kami bisa saja disuruh membersihkan WC, membuang kotoran hewan,  tidak diberi makan  atau tidak diberi sangu selama setahun. Bayangkan saja,  tidak ada satu pun dirumah ini yang berani melawan ayah. Dan dari lima saudaraku hanya aku yang sanggup bertahan dari hukumannya.


“Ish!” ibu melepaskan jewerannya setelah menyeretku sampai ke hadapan ayah yang sedang duduk membaca surat hasil ujianku di Universitas Yonsei.


“Apa-apaan ini! Memalukan!” dikepalnya surat itu sedang aura menyeramkan keluar dari balik kepalanya. Hawa hitam kemerahan nan menyeramkan itu membuatku menelan ludah berkali-kali.


Dengan sorot mata yang berkaca-kaca aku memandang ayah seperti seekor anak kucing yang tidak berdaya. “Ayah tahu kan,  volume otakku tidak seberapa besar. Itulah sejak awal aku tidak mau mendaftar di Yonsei. Lagi pula bakatku tidak seperti Oppa Jin, thaeyun, Sohyun dan Eonni Yeon.”


“Lalu apa lagi yang harus aku lakukan mempunyai anak sepertimu,  hah?! Semua yang kau lakukan tidak pernah becus!” Ayah menghardikku dengan pukulannya yang dikenainya ke  lengan kursi. “Dengar Yuna,  tidak ada satu pun manusia bodoh di muka bumi ini. Yang ada hanya orang-orang pemalas yang menganggap diri mereka bodoh dan tidak berdaya. Apa kau mau menjadi salah satu dari mereka?!”


“Bu-bukan begitu,  aku cuma merasa tidak cocok berada di tengah-tengah lingkungan elit.  Lagi pula passionku bukan di dunia bisnis,  hukum atau kedokteran. Mungkin saja pashionku itu menjadi seorang musisi,  Ayah.” Ini alasan yang masuk akal supaya aku tidak dipaksa masuk fakultas hukum seperti Kak Sohyun, padahal dia ingin sekali menjadi koki. Ah,  aku tidak ingin nasibku juga seperti  Onnie Yeon yang terpaksa jadi dokter padahal dia ingin menjadi artis.


“Mana mungkin kau menjadi Musisi. Apa kau tidak ingat lima tahun lalu, kau menghancurkan biola Nyonya Martin ketika latihan. Lagi pula kau tidak pernah lulus tes akademi musik,  bahkan suaramu parau setiap kali bernyanyi.” Ibu tidak pernah membelaku sedikit saja,  apa aku bukan anak kandung mereka? Menyedihkan sekali.


“Itu karena aku masih belajar ibu. Aku yakin suatu saat aku akan menemukan bakatku ada di mana.”


“Bagaimana kau mau menemukannya jika setiap hari tidak ada kegiatan berguna yang kau lakukan! Kerjamu hanya berleha-leha dan berbuat onar!” lagi-lagi Ibu mengeluarkan api dari kedua lubang hidungnya. Sedang Ayah berdiri membelakangiku.


Dia menoleh dan menatapku tajam. “Kau sudah ditolak lima Universitas terbaik. Ayah rasa tidak ada jalan lain selain mengirimmu ke New York,  tinggal bersama Jin di sana.”


“Ayah tidak ingin mendengar bantahan! Ayah sudah menyiapkan semua dokumennya. Berkemaslah malam ini karena besok kau harus berangkat ke sana!”


Bagaimana mungkin aku tinggal bersama Oppa Jin apalagi bekerja dengannya. Dia dan ayah sama-sama manusia berhati dingin. Sangat disiplin,  otoriter, juga pelit. Membayangkan diriku nanti hanya dipaksa bekerja dengan uang jajan yang sedikit,  itu mengerikan. Bukan itu saja setiap liburan aku hanya bisa melihat anak-anak muda bersenang-senang dari kaca jendela. Hidupku pasti bagai burung pionix dalam sangkar emas. Percuma saja keluar dari rumah dan pindah ke luar negeri.  Aku tetap tidak akan bisa menikmati kebebasan jika bersama Jin si manusia beku.


“Ini tidak adil! Kenapa Ayah selalu memaksakan kehendak?!”


Mata ayah membelalak,  kemudahan dia bergegas mendekatiku. “Apa katamu?!”


Tanganku mengepal,  rasanya sudah belasan tahun aku memendam kekesalan ini. Apa pun yang aku lakukan tidak pernah benar di mata mereka. Rupanya pemberontakanku tidak pernah membuat mereka sadar. “Aku tidak mau hidup terkekang terus menerus mengikuti kemauan Ayah! Itu memuakkan!”


 “Kau ini! Benar-benar anak tidak tahu diuntung!” Tangan ayah kembali terangkat hendak memukulku. Wajahku mulai mengernyit meski terus memberanikan diri menghadapi kemurkaan ayah.


Tapi pukulan itu berhasil ditangkap ibu. Dia menahan tangan ayah sambil berseru, “cepat minta maaf pada ayahmu!”


“Kenapa?! Aku tidak salah! Kalian memang orang tua yang selalu memaksakan kehendak. Coba kalian lihat Ka Thaeyun, dulu dia periang dan selalu bersemangat. Tapi kalian mematahkan hatinya dengan memaksanya menikahi wanita kaya yang tidak pernah dia cintai. Padahal dia sudah memiliki kekasih yang baik. Apa hidup Ka Thaeyun bahagia menurut kalian?! Apa kalian tidak melihat air wajahnya yang selalu redup dan berubah dingin sama seperti kalian?!”


“Kau benar-benar!” Ayah berusaha melepaskan cengkaman ibu  agar bisa mengajarku. Dengan sekuat tenaga ibu menahan lalu berteriak,


“Cepat masuk ke kamarmu,  sekarang!” aku berhenti berbicara setelah mengeluarkan semua kekesalanku. Kubalikkan tubuh mengikuti perintah ibu.


“Anak kurang ajar! Keluar saja dari rumah ini jika kau tidak mau hidup bersama kami!” Suara menggelar ayah membuat langkahku terhenti.


Dengan mantap kuputar kembali tubuh menghadap mereka. “Baik! Aku juga tidak ingin tinggal di penjara ini!”


“Yaa! Hidupmu hanya terus menyusahkan kami! Keluar dari rumah ini dan jangan pernah kembali!”


Perkataan terakhir ayah terus terngiang sangat membekas. Sampai-sampai aku tidak tahu harus marah atau malah menangis. Sambil memasukkan pakaian ke koper aku menyadari  kalau dari dulu aku bukan anak yang pantas dibanggakan seperti keempat saudaraku  lainnya. Mereka semua penurut,  pintar, dengan prestasi karier yang gemilang. Sedang aku, tidak pernah lulus walaupun sudah dua tahun mengikuti ujian masuk Universitas. Mungkin mereka malu mempunyai anak sepertiku. Atau memang mereka menyesali kelahiranku. Kelahiran Yuna, seorang anak pembangkang dan bodoh dimata semua orang.


Ke mana aku harus tinggal? Bagaimana hidupku ke depannya? Aku pun tidak tahu apa aku bisa bertahan dari dunia yang kejam ini. Apa mungkin aku yang pemalas sanggup hidup bekerja keras?


 


...----------------...


Oppa : kakak laki-laki


Eonni : kakak perempuan