
“astaga... baru saja datang ke sekolah, sudah banyak sekali masalah” oceh Shayla
“maafkan saya, izinkan saya membantu tuan putri berdiri” anak yang menabrak Shayla tadi menjulurkan tangannya untuk membantu Shayla berdiri
“baiklah, Terima kasih” kata Shayla sambil berdiri
“maaf tuan putri, apakah anda berada dikelas ini?” tanya anak itu
“iya” jawab Shayla singkat
“saya juga mulai hari ini akan belajar dikelas ini. Perkenalkan, saya Eden. Dan anda?” anak yang menabrak Shayla bernama Eden, dia memperkenalkan dirinya
“bukankah anda sudah tahu? Tapi baiklah, saya Shayla” jawab Shayla
“apakah saya boleh mengikuti anda ke kelas?” tanya Eden
“lagian kita memang sekelas, anggap saja kebetulan” kata Shayla
“sepertinya aku tidak asing dengan yang bernama Eden” gumam Shayla
Shayla dan Eden memasuki kelas mereka bersama. Dikelas Shayla, hanya ada 5 anak bangsawan saja. Semuanya adalah anak dari orang berpengaruh karena ini adalah kelas royal
“selamat datang Princess Aislinn Shayla de Fancy, selamat datang Edelweiss Eden” kata Chatan, guru dikelas Royal 1
“selamat pagi guru” kata Eden
“selamat pagi Chatan” kata Shayla
“jadi, dia anak dari bangsawan Edelweiss ya? Pantesan namanya tidak asing. Ayahnya kan pemimpin pasukan di medan perang, walaupun sekarang tidak ada perang sih... ayahnya juga adalah pelestari bunga Edelweiss yang terkenal” gumam Shayla
“dia memanggil guru dengan nama?” gumam Eden
Shayla memang dari kecil terbiasa memanggil Chatan dengan namanya karena dialah yang menjaga Shayla saat kecil, waktu dia mengajar, Shayla selalu disampingnya. Oleh karena itu, Shayla tidak biasa memanggil Chatan dengan panggilan guru
“tuan putri, jangan panggil dengan nama saya lagi ya” kata Chatan dengan lembut
“baiklah guru” jawab Shayla dengan ceria
“sebelumnya, tuan putri, perkenalkan, dia adalah Edelweiss Eden anak dari Arion. Ksatria penjaga anda waktu kecil” Chatan memperkenalkan Eden kepada Shayla
“huh! Untuk apa aku diperkenalkan? Aku ingin memperkenalkan diriku sendiri” gumam Eden
Dan Eden pun memperkenalkan dirinya kepada Shayla "halo Princess Aislinn Shayla de Fancy, perkenalkan saya Edelweiss Eden. Anda bisa memanggil saya Eden"
“baiklah Edel” kata Shayla
“maaf tuan putri, nama saya Eden”
“aku lebih suka memanggilmu Edel” jawab Shayla dengan smirik
“pfffttt” Chatan menahan tawanya. Karena dari sifat Eden, dia pasti akan marah jika namanya dipanggil asal-asalan
“baiklah, panggil saja aku Edel” kata Eden dengan senang hati
“tuan dan nona, pelajaran hari ini adalah...” Chatan mengajar mereka berdua dan siswa lainnya seperti biasa
Shayla memang tidak menyukai sekolahnya karena dia tidak memiliki teman. Hanya Chatan lah yang dianggap Shayla sebagai teman sekaligus guru, namun sepertinya dengan adanya Eden, Shayla jadi memiliki teman baru yang menyenangkan
Setelah pulang sekolah...
“hoam... ngantuk sekali. Aku ingin segera tidur siang” kata Shayla sambil berjalan di lorong sekolah menuju keluar sekolah
“masih jam 11 siang loh... biasanya waktu tidur kan jam 12?” Eden menghampiri Shayla di lorong
“sejak kapan kau mengikutiku?” Shayla tidak menyadari Eden yang sudah mengikutinya dari tadi
“sejak kau keluar dari kelas” jawab Eden dengan santai
“kau penguntit yang mengaku ya” Shayla bicara begitu karena dia sedikit tidak suka diikuti terus, tapi Eden hanya menjawabnya dengan senyuman
“huh! Aku tidak membutuhkan senyuman itu!” kata Shayla kesal
Shayla mempercepat langkahnya namun Eden tetap bersikeras mengikuti Shayla. Saat mereka berdua berjalan, anak-anak perempuan yang menyukai Eden berkumpul mengerumuni Eden
“kyaaa!! itu Eden!” teriak salah satu anak perempuan disitu
“haih... sangat merepotkan, dikerumuni anak-anak perempuan ini” gumam Shayla.
Namun, saat dia sampai di gerbang sekolah, Anne belum juga menjemputnya sehingga dia menunggu di gerbang sekolah sedikit lama.
Beberapa saat kemudian...
Eden datang menghampiri Shayla dan berkata “hei tuan putri, cuaca disini sudah mendung dan langit mulai gelap. Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Saya ada payung, apakah anda ingin memakainya?”
“tidak, saya selalu bawa payung didalam tas” Shayla mengambil payung kecil didalam tasnya karena sudah mulai gerimis
Eden hanya menjawab Shayla dengan senyuman sambil menggenggam erat payungnya
“kenapa? berharap aku menerima payung darimu? Dengan begitu aku akan mengucapkan terimakasih” tanya Shayla dengan senyuman dingin
“tentu saja. Tapi tuan putri malah membawa payung, saya jadi kecewa” kata Eden dengan ceria
“terus kenapa kau tidak menggunakan payung?” tanya Shayla
“saya akan menggunakan payung ini jika tuan putri juga mengenakannya. Jadi kita satu payung saja” kata Eden yang masih berharap bisa menggunakan payung dengan Shayla
“aku tidak peduli” jawab Shayla
“oiya, tuan putri, apakah anda merasa kita dekat? Anda menggunakan kata "aku" dan "kau" yang seharusnya tidak digunakan kepada teman yang baru dijumpai” jelas Eden
“oh, bukankah jarakmu dari tempatku berdiri tidak lebih dari satu meter? Jadi bisa dibilang dekat. Jadi, aku bisa bicara santai kan?” tanya Shayla
“saya kira anda hanya pintar dalam belajar. Ternyata pintar dalam berbicara juga ya” Eden tertawa dengan jawaban Shayla
“jawabannya tidak salah. Tapi... sudahlah” gumam Eden
Hujan semakin deras, Eden tetap tidak memakai payungnya. Padahal dia sudah memegang payung tersebut dari tadi, pakaian Eden pun sudah mulai basah
“hei, lebih baik kau di dalam saja” pinta Shayla
“aku tidak mau, kau juga harus didalam. Kalau kau didalam, aku juga kan kedalam” kata Eden
“haih... sudahlah, ayo. Sepertinya Anne akan lama menjemput. Oiya, cara bicaramu cepat sekali berubah” kata Shayla. Eden hanya menjawab dengan senyuman
Mereka berdua pun kembali ke dalam sekolah untuk berteduh dari hujan. Saat berada didalam, Shayla dihampiri oleh Allura.
“hei Shayla, kita harus segera memulai misi” Allura bersembunyi dibalik helaian rambut Shayla agar tidak dilihat oleh orang-orang didalam sekolah
“hei, bagaimana mau memulai misi? Aku masih di sekolah” bisik Shayla dengan pelan
Eden menyadari Shayla yang berbicara pelan “hei Shayla, kau bicara dengan siapa? Apakah sedang membicarakan aku?”
“siapa yang ingin membicarakanmu!?” ujar Shayla
“kita bisa telepati saja Shayla” kata Allura
“kenapa tidak bilang dari tadi?” Shayla langsung memulai telepati dengan Allura
“aku lupa. Hehe... oiya! Misi harus segera di mulai, kau cepatlah cari cara agar bisa pulang” pinta Allura
“baiklah... kau cepat pergi saja. Takut ada yang menyadari keberadaanmu disini” pinta Shayla
“baiklah” Allura segera meninggalkan tempat Shayla
Namun, saat Allura ingin keluar dari jendela...
Dia melihat Eden dan bergumam “aku seperti tidak asing dengan wajah itu. Siluet bayangannya juga aku pernah lihat.... tapi kenapa aku tidak bisa ingat ya? Aih... lebih baik aku segera pergi saja” gumam Allura dan dia pun terbang untuk segera pergi
“nona Shayla dan tuan muda Edelweiss, sepertinya kalian lama dijemput ya? Bagaimana jika saya antarkan saja” Chatan menghampiri Shayla dan Eden
“aku mau pulang Chatan! Anne pasti lupa menjemput” jawab Shayla
“baiklah, tuan muda Eden, apakah ingin ikut?” tanya Chatan
“iya, kalau Shayla ikut, saya juga ikut” jawab Eden
“sepertinya Eden sedang mengincar Shayla ya?” gumam Chatan dengan senyum yang sangat terlihat jelas
“aih... si Chatan pasti mikir kalau Edel lagi ngincar aku. Ngapain sih si Edel itu ngomong kayak gitu” gumam Shayla
“baiklah, silahkan ikuti saya” kata Chatan
Shayla dan Eden mengikuti Chatan ke depan gerbang sekolah untuk pulang menaiki kereta kuda milik Chatan