
Setelah keributan yang ia lakukan dengan Bagas, ia keluar dan sebuah mobil datang untuk menjemputnya. Seorang wanita menyetir mobil itu dan bertanya kepada Agnes.
"Lu habis ngapain bonyok gitu?" tanyanya.
"Lu udah tau kenapa masih nanya, kak?"
Wanita itu mendengus mendengar jawaban Agnes dan terdiam beberapa saat. "Toh, ujung-ujungnya dia tahu juga. Hari ini Naya ada di rumah, lu jaga sikap," ujarnya.
"Kak Angel, gue gak peduli kalau dia saudara angkat kita. Selama dia gak ganggu gue, gue gak akan tonjok dia."
Kini mereka berada di sebuah gedung tua. Mereka bersiap ketika mendengar suara mobil dan langkah kaki yang mengendap masuk. Agnes berdiri tepat di pinggir tangga depan pintu masuk.
Terlihat Bastian dan lainnya masuk untuk menangkap pengedar narkoba di gedung itu. "Mereka masuk, kita berpencar," ujar Hani ketika matanya bertatapan dengan Bastian.
"Agnes!" teriak Dika ketika ia melihat Agnes yang berada di lantai dua berjalan menjauh. Ia berlari mengejar sosoknya sambil berteriak memanggil namanya.
"Ngapain lu ngikutin gue?" tanya Agnes ketika ia berhenti di sebuah ruangan kosong. Dika menatapnya dan berjalan mendekatinya.
"Gue minta maaf karena sudah ngeraguin lu," ujar Dika dan Agnes menatapnya malas. Ia menembakkan pistolnya ke arahnya, namun Dika mengaduh kesakitan setelah Agnes menembakkannya.
"Ahaha, gue maafin lu," ujarnya. Dika mengelus dahinya yang sakit akibat tembakan peluru buntalan kertas.
DORR!!
Terdengar tembakan yang menggema di seluruh penjuru gedung, Agnes memiliki firasat buruk dan lari menuju sumber suara. "RERE!"
Terlihat Rere menembakkan pelurunya dan melukai bahu Chandra. "Kalau lu menang, gue mau nerima-" potong Rere ketika ia melihat perutnya terluka.
Chandra menembakkan pelurunya tepat di perut Rere, seketika itu juga gedung pun hampir runtuh. Jika saja Agnes tidak mendorong Rere, maka Rere akan terluka terkena runtuhan gedung.
"AGNESSSS!!!!"
......................
Langit penuh bintang membuat malam terlihat indah dengan bulan purnama penuh. Gadis itu terpejam menikmati hembusan angin yang menyapu wajahnya ayunya.
"Nes, gimana keadaan lu?"
"Gue udah baikan," ujarnya. Pria itu memberikan jaket padanya dan menatapnya dalam.
"Gue suka sama lu."
"Gue tau."
"Gue serius."
"Gue juga," ujarnya kemudian mencium pipi pria itu. Ia berjalan masuk dan tersenyum.
"Gue ... diterima?"
Tanpa pria itu sadari, seorang gadis memperhatikan mereka sejak tadi. Gadis itu mengepalkan tangannya dan pergi.
......................
Hani menghela nafasnya lega ketika melihat kawan-kawannya lengkap. Mereka terlihat gembira akan kemenangan yang mereka dapatkan.
"Ciee Rere, lu udah ada pacar sekarang," ledek Sean yang kini menggoda Rere.
"Biasanya lu sok-sokan jual mahal. Sean, lu bakalan jadi lacar gue kalau gue tembak," ledek Agnes.
Sean dan Agnes tertawa membuat Rere semakin bete pada mereka. "Ntar pas mereka punya anak ditanya. Mah, dulu sama papa gimana?" ujar Sean sambil menatap Agnes.
"Mama ditembak sama papa," sahut Agnes sambil merangkul Sean.
"Terus?"
"Mama masuk rumah sakit," ujar Agnes membuat Sean semakin tertawa. Hani menjitak kepala mereka berdua dan menggelengkan kepalanya.
"Lu berdua iseng banget."
...****************...
Agnes berjalan memasuki rumah kawan lamanya dan duduk di sofa sambil menunggu temannya yang berada di dapur. Ia merasa aneh dan beranjak sambil melihat sebuah lukisan beruang besar yang berada di dekat televisi.
"Ada yang gak beres disini," gumamnya. Ia meraba lukisan tersebut dan temannya pun datang dengan dua cangkir teh di nampannya.
"Nes, minum dulu," ujarnya.
"Sa, lu dapat lukisan ini dari mana?" tanyanya.
"Oh, itu kepala sekolah yang kasih, Nes. Waktu itu gue menang lomba design, dan itu hadiah khusus buat gue. Kenapa, Nes?"
Agnes duduk dan mengambil teh dan meminumnya. "Nes, karena gue menang lomba, gue traktir lu ya?"
......................
"Nes, lu ngapain bawa gue ke rumah temen lu?"
Yang ditanya hanya diam dan tak menjawab pertanyaan Dika. Ia hanya tersenyum dan memencet bel rumah. Seorang gadis keluar dengan piyama yang masih melekat ditubuhnya.
"Oh, jadi dia pacar lu?" tanyanya pada Agnes membuat Dika terkejut bingung.
Gadis itu mempersilahkan masuk dan memintanya untuk menunggu. Agnes menghampiri lukisan lagi dan merabanya. Ia menekannya ketika tangannya berada di bagian mata lukisan itu.
"Sudah ku duga," ujarnya sambil merobek lukisan itu dan terlihat sebuah kamera kecil disana.
Ketika gadis itu datang dengan nampan berisikan minuman, ia terkejut dan tubuhnya membeku. "Nes, lihat. Jam ini, didalamnya juga ada kamera," ujar Dika.
Mata gadis itu semakin melebar dan ketika tahu bahwa selama ini ia sedang diawasi. Agnes mengambil kamera tersebut dan mulai meneliti.
"Perumahan Sakra Arwana, No.5-"
"Itu rumah kepsek gue, Nes."