The Story Of Rose Mouse

The Story Of Rose Mouse
XXI. THE TRUTH



Kini, mereka semua berkumpul di ruang diskusi. Agnes berdiri dan memilih bersandar pada tembok. Selama diskusi berlangsung, mereka tak banyak bicara karena Bagas hanya memberikan pengarahan.


Bagas meminta Genk Evos yaitu genk milik Bastian dengan Genk Red untuk menjadi rekan tim, dan Genk Black dan Genk Lily juga menjadi partner. Hanya Genk Rose milik Hani lah yanh tidak memiliki partner. Mereka terkejut kecuali Genk Red, karena mereka dan Bagas berkomplotan.


"Bagaimana bisa begitu? Bukankah seharusnya kami dan Hani-"


"Kalian membantah?"


Mereka terdiam, Bagas merasa puas ketika tak ada lagi bantahan. Ia meminta untuk mempersiapkan diri karena lusa akan berangkat. Setelah Bagas meninggalkan ruangan, Harun berdiri dan mendatangi Agnes disusul oleh Rere.


"Gue rasa bakalan ada yang terjadi deh."


"Gue merasa janggal, tapi gue kurang yakin juga. Apa rencana selanjutnya?" tanya Harun. Agnes menatap Bastian yang kini berusaha melepaskan diri dari jeratan manusia tengil yang caper.


"Bas, akhirnya kita satu tim! Lu pasti seneng kan?" tanya gadis itu padanya.


Agnes terkekeh dan meminta Rere untuk memberitahukan rencananya pada Hani.


...****************...


Kini mereka berada di bandara, Agnes memaksa untuk ikut bergabung di pesawat Genk Lily dengan alasan bahwa ia akan ke kamar mandi dulu. Bagas tak merasa bahwa Agnes merupakan ancaman baginya, jadi ia hanya mengiyakan apa yang Agnes katakan. Pesawat Genk Rose, alias Hani, dkk sudah berangkat kecuali Agnes. Sayangnya pesawat milik Hani mengalami kecelakaan karena adanya kerusakan mesin dalam pesawat.


Agnes menutup mulutnya dan wajahnya terlihat sedih. Air mata sialan! Keluar bodoh!, batin Agnes.


"Tidak mungkin," ujar Harun sambil menundukkan pandangannya. Bastian dan yang lainnya terkejut ketika mendapatkan berita tersebut. Dika menghampiri Agnes dan memeluknya, ia berusaha menenangkan Agnes yang bersusah payah mengeluarkan air matanya.


Bagas dan Genk Red tersenyum lirih, mereka langsung mengubah wajahnya menjadi sedih dan meminta mereka untuk segera bergegas. "Setelah kita menyelesaikan tugas ini, kita akan segera kembali dan mengunjungi mereka. Aku benar-benar turut berduka atas mereka, sungguh jika aku tahu, aku tidak akan meminta kalian untuk berangkat," ujar Bagas sambil memasang raut sedih.


"Takdir, Pak. Kita tidak bisa menyalahkan takdir," ujar Shiren, Ketua Genk Red.


Mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka memasuki pesawat. Agnes meminta tukar dengan Bastian untuk duduk disebelah Bagas. Bagas hanya diam dan tak berkomentar apapun. "Pak, anda tahu bahwa mereka adalah satu-satunya keluarga bagiku. Sungguh sedih ketika seseorang yang kita sayangi meninggalkan kita kan?" tanya Agnes kemudian menatap Bagas.


Yang ditatap berusaha untuk bersikap biasa dan tidak terlihat gugup. Ia pun tersenyum dan berusaha menghibur Agnes.


......................


Perjalanan menuju tempat mereka istirahat cukup jauh karena tempatnya sedikit terpelosok dan jauh dari perkotaan. Van yang membawa mereka kini berhenti di sebuah rumah yang cukup untuk mereka tinggali sementara. Mereka pum berhamburan keluar dan mulai memasuki kawasan rumah tersebut. Agnes melihat sekitaran rumah itu dan terpasang cctv disana. Ia melihat cctv dan kemudian mendipkan matanya.


"Kalian pasti lelah seharian, istirahatlah. Kita akan memulainya besok."


"Bastian~, hari ini mau jalan-jalan? Aku lihat daerah sini cocok untuk spot foto, mau menemaniku?" tanya Shiren. Bastian tak menghiraukan ucapan Shiren dan langsung menaiki tangga menuju kamar.


"Dika-"


Yang dipanggil juga pergi begitu dan wajah mereka terlihat kesal. Genk Red berusaha untuk mendekati Genk Evos, namun sama sekali tak digubris dan memilih untuk pergi menuju kamar mereka. Agnes berusaha untuk tidak tersenyum ataupun tertawa. "Cih! Kenapa harus mereka. Udah mati masih aja-"


PLAAKKK


Yang ditampar melotot tidak terima. "HEI! APA YANG KAU LAKUKAN HAH?! BUKANKAH MEREKA MEMANG SUDAH MA-"


PLAAKKK


"KAU MENAMPARKU?!"


"BERANI SEKALI KAU MENAMPAR ADIKKU?!"


Shiren menjambak rambut Agnes dan Agnes pun membantinya ke lantai. Mereka mulai memukul atau berusaha untuk melukai Agnes. Namun nihil, mereka lah yang terkena pukulan dari teman mereka sendiri. Agnes tidak melakukan apapun dan hanya menghindari serangan mereka.


"HEI! KENAPA MUKUL GUE?! PUKUL DIA SIALAN!!!"


"Lain kali kalau mau nyerang otaknya juga dipakai," ujar Agnes dan kemudian pergi meninggalkan mereka begitu saja. Nevan yang dari tadi hanya diam mengejar Agnes dan menjitak kepalanya. Ia menasehatinya dan memberitahunya untuk tidak dibutakan amarah atau mereka akan sadar.


......................


Terlihat Genk Evos duduk di balkon lantai dua. Mereka duduk dan membicarakan apa yang terjadi selanjutnya. Bastian dan yang lain merindukan Genk Rose karena muncul rasa suka dalam diri mereka. Bagas datang dengan raut wajah sedih dan duduk bersama mereka sambil tersenyum.


"Kalian tahu bahwa aku sudah bukan mafia lagi. Kini, aku adalah mata-mata. Terkadang aku merasa curiga pada Hani dan kawan-kawannya karena kemampuan yang mereka miliki. Aku khawatir bahwa mereka selama ini memanipulasi kalian," ujarnya. Agnes berdiri di balik tembok sambil mendengarkan ucapannya. Ia mengepalkan tangannya dan menahan emosinya.


"Tidak mungkin, mereka tidak akan memanipulasi kami. Justru putrimu-"


"Putriku memang melakukan kesalahan, dan aku menerimanya dengan tidak mengeluarkan ia dari penjara. Harun, kau pasti tau bahwa saudara mu Rere bukanlah anak biasa kan? Tidakkah kau sadar bahwa ia selalu lepas dari kejadian selama ini?" tanya Bagas sambil menatap Harun yang kini ragu-ragu pada Rere. Bagas bangkit dan pergi sambil tersenyum.


BRAK!


Suara pintu dari balkon telah ditutup oleh Agnes dan dikunci olehnya. Bagas terkejut dan Agnes memukulnya.


DOOR!!


Ia menembak cctv agar Wina dan sahabat-sahabatnya yang lain tidak melihat apa yang ia lakukan. Ia memukul Bagas tanpa henti hingga Bastian dan yang lain pun terkejut dan berusaha membuka pintu. Agnes memukulinya hingga hidung, dahi, dan bibirnya terluka. Tak hanya Bagas yang terluka, ia juga memukul Agnes hingga dahinya berdarah karena benturan. Agnes merasa marah, ia mengambil vas bunga dan hampir melemparkannya tepat di kepala Bagas.


Gadis itu mulai berjongkok dan mengangkat dagu Bagas. "Aku tahu bahwa kau tidak akan menyadari siapa diriku, Tuan B."


"A-apa maksudmu?" tanyanya sambil memegang kepalanya yang sakit.


"Selama ini kau hanya tertuju pada Kak Angel dan sahabat-sahabatku saja kan? Sayangnya kau tidak tahu bahwa aku adalah adik kandung Kak Angel."


Matanya melebar ketika Agnes mengatakan hal tersebut, ia mengatakan lirih bahwa tidak mungkin orang yang sudah ia bunuh memiliki 2 putri. Bagas menatap Agnes, ia merasakan detak jantungnya lebih cepat dan merasa orang yang ia rindukan ada dihadapannya.


Agnes pun menarik rambut Bagas dan menghantamkannya ke tembok. Setelah Bagas pingsan, ia pergi dalam keadaan marah.