The Seven Attributes

The Seven Attributes
Epilog



Di suatu kediaman keluarga yang terpandang..


"APAA??"


"Maafkan saya, Nyonya.."


"Kamu ini memang tidak bisa diandalkan! Bagaimana jika Tuan Muda pada akhirnya diserang oleh musuh?!" omel seorang wanita di suatu siang hari kepada pelayannya.


"A--ampuni saya, Nyonya. Tadi Riku-san ada di tempat ini.. katanya dia ingin berjalan-jalan sebentar. Saya pasti akan menemukannya!" jawab pemuda itu, dengan sedikit panik.


"Hah~ tidak perlu." desah wanita yang terlihat seperti orang berkelas sosial tinggi itu.


"Eh? Namun, Nyonya.." ucap pria itu ragu-ragu.


"Tidak apa-apa. Lagipula, aku sudah menebaknya.. dia pasti berkeliaran lagi dan bukannya menjaga Tuan Muda. Cih, dasar pemuda genit!" celoteh wanita itu.


Sementara itu..


"Ayo, anak muda. Silahkan dilihat, barang-barang jualan kami semuanya adalah pilihan dan berkualitas paling tinggi." ujar seorang paman yang menjual pernak-pernik di pasar.


"Hmm.. benarkah itu, ojichan?" ucap seorang pemuda yang bertubuh tinggi dan berambut keperakan.


"Tentu saja! Lihat, contohnya adalah kalung mutiara hijau ini! Kalung ini benar-benar langka, dan konon pernah dikenakan oleh kaisar!" kata paman itu.


"Hmm.. sebenarnya, aku tidak terlalu tertarik pada mutiara atau pernak-pernikmu, ojichan. Ada hal lain di balik punggungmu yang sedari tadi mengusik pikiranku." balas pemuda itu santai dan malas.


"Hm? Apa maksudmu, anak muda?" tanya paman itu heran.


Paman itu menoleh dan..


"Ng? Ada apa, otōsan?" ucap putri dari paman yang sedari tadi menawari barang jualannya itu.


Sebelum paman itu berkata-kata, pemuda itu tiba-tiba saja sudah berada di dalam stan jualan mereka..


"Nona manis, siapa namamu? Apakah kamu memiliki seorang kekasih?" ucap pemuda itu, sekejap telah berdiri di hadapan gadis penjaga toko tersebut.


"A--aku.. namaku Kotomi.." jawab gadis itu malu-malu.


"Mmm.. rupanya Kotomi-chan. Nama yang manis, cocok untukmu." kata pemuda itu sambil mengedipkan mata, lalu berjalan dan melompat keluar dari bagian dalam stan itu.


"Ka--kau..!" paman penjual toko hanya terperangah sedari tadi.


"Benar, ojichan. Aku hanya tertarik pada wanita. Sayang sekali, barang-barang jualanmu belum dapat memuaskanku." kata pemuda itu, lalu meninggalkan kedua orang itu dalam keadaan bengong.


"Apa-apaan pemuda itu?! Cih, beraninya dia menggoda putriku! Kotomi, kamu tidak apa---"


Seketika, mata paman itu membelalak terkejut.


"Uwahhh.. dia keren sekali... Otōsan, apakah aku boleh menikah dengannya?" ucap gadis bernama Kotomi itu dengan wajah tersipu.


"APAAA?? Jangan harap ayah akan merestui! Kotomi, buka matamu! Lihatlah, pemuda sok pamer dan mesum itu saat ini telah menggoda gadis lain!!" kata sang paman, sambil mengguncang-guncangkan lengan anaknya.


Gadis itu pun menurut dan melihat..


"Ah.."


"Parasnya memang seperti lelaki sejati, namun semua orang di kota ini telah mengetahui tabiat pemuda itu. Dia benar-benar adalah seorang pemuda aneh yang misterius."


"Eh? Mengapa bisa begitu, otōsan? tanya Kotomi.


"Hmm.. ayah juga tidak yakin. Namun, kudengar bahwa pemuda itu sangat terkenal di kota seberang."


"Apaa? Kalau begitu, seharusnya aku--"


"Bukan terkenal yang seperti itu. Namanya Riku. Dia dikenal sebagai pemuda yang terkuat, namun juga paling tidak sopan di kota Seiko." sela sang paman.


"Tidak sopan? Maksudnya..?"


"Dia telah memacari setidaknya 2% dari penduduk wanita di kota yang berpenduduk sebanyak 100,000 orang itu! Kukira itu hanyalah sebuah rumor, namun aku langsung mengenalinya saat dia bereaksi demikian!" seru sang paman.


"Haaahh???" desah Kotomi, wajahnya terlihat kecewa.


"Oleh karena itu, berhati-hatilah. Ayah akan selalu mengawasimu." ujar sang paman.


"Baik, otōsan.."


Sementara itu, di kuil Zenshu..


"Hiyaaaa!!" seru Akiha.


DUAKKK


"HYAAA!!" seru Saoru.


BRUAKKKKKK


Akiha sedang berlatih secara fisik bersama dengan Saoru menggunakan berbagai macam peralatan.


"Masih lemah. Kamu harus lebih banyak melatih seranganmu, Akiha." kata Saoru dengan santai dan tidak nampak lelah sedikit pun.


"Hah.. hah.. hah.. Sa..oru-kun.. kok kamu tidak.. lelah?" ucap Akiha ngos-ngosan.


"Hm? Mana mungkin aku lelah? Memangnya aku akan merengek seperti dirimu?" ejek Saoru dengan ekspresi juteknya.


"Bukan begitu! Saoru-kun benar-benar sangat aneh! Darimana kamu bisa sekuat itu? Bagaimana mungkin aku dapat menggantikan Aoi Kurosawa? Kekuatanku bahkan jauh di bawahmu dan Kaoru-chan!!" pekik Akiha.


"Itu fakta." jawab Saoru singkat dan super cuek.


GRRRR


"Lalu.. mengapa aku yang dipilih?" ucap Akiha pelan dan lesu.


"...."


Melihat itu, Saoru seperti berpikir sejenak sebelum membalas; "Itu karena hidup ini penuh dengan misteri."


"Eh?"


"Bila semuanya mudah dimengerti dan mudah dijalani, maka tidak akan ada orang yang memerlukan ujian atau usaha agar menjadi seseorang yang lebih kuat dan hebat. Selain itu, bukankah kamu selama ini selalu berpikir bahwa dirimu itu lemah dan tidak berguna?" kata Saoru dengan nada suara yang setenang air, namun anehnya suara pemuda itu membuat wajah Akiha merona.


"Be--benar juga.." jawab Akiha pelan.


"Eh..?"


"Kekuatanmu unik, Akiha." kata Saoru singkat, dengan tatapan yang langsung menghanyutkan gadis itu.


"Unik.. apanya!" kata Akiha, sedikit malu.


"Kamu memiliki kemampuan untuk melindungi orang lain, Akiha. Aku yakin, suatu saat nanti kamu pasti akan dapat menunjukkan dan menggunakan kekuatanmu itu." jelas Saoru.


"Saoru-kun.." wajah Akiha merona lagi.


"Ng? Mengapa kau menatapku seperti itu? Apa kau sakit?" tanya Saoru tiba-tiba, hendak menyentuh kening Akiha.


BATTSS


"A--aku tidak apa-apa! Hahaha.." ucap Akiha kikuk, tanpa sadar menepis tangan Saoru.


"Hmm.."


"A--apa?" Akiha semakin gugup.


"Tidak, bukan apa-apa. Aku mau pergi dulu."


"Ehh?? Saoru-kunn! Jangan bilang kamu mau meninggalkanku lagi seorang diri?!" gerutu Akiha.


"Benar. Kali ini, aku tidak akan mengajakmu. Tunggulah sebentar, Kaoru pasti akan segera pulang setelah mengumpulkan tanaman obat." jawab Saoru santai dan tenang.


"Apaa? Tidak mauuu! Aku mau ikutt~!" rengek Akiha.


"Cih.. kamu ini. Bertingkahlah seperti seorang gadis yang lebih dewasa. Bukannya usiamu--"


"Seperti ini?"


"Eh.."


Tiba-tiba, Akiha melingkarkan kedua lengannya pada salah satu lengan kokoh Saoru.


"Saoru-kun~ kumohon. Bawalah aku bersamamu~~" pinta Akiha manja.


"Ukh.." wajah Saoru memerah seketika.


"Saoru-kun~~" goda Akiha.


"Hentikan!"


SRAATT


Saoru berhasil melepaskan lengannya, namun..


"Uwaaa!"


"Oi, hati-hati!"


DUKKK


Tiba-tiba, kening Akiha telah membentur sesuatu..


"Ah.. apa yang.. eh.."


Seketika, mata gadis itu membesar dan wajahnya amat merona..


"KYAAA!!" jeritnya.


"Oi. Ada apa?" kata Saoru bingung.


"Ah--- bukan apa-apa... Saoru-kun.. terlalu.. keren.." ucap Akiha pusing.


DEG


"Apa.. aneh-aneh saja!" kata Saoru, sedikit malu.


Wajah Akiha tidak berhenti merona setelah keningnya berbenturan dengan bagian dada Saoru yang padat dan sepertinya amat gagah itu. Untung saja, kali ini pemuda itu berpakaian lengkap.


"Ma--maaf..." ucap Akiha dengan wajah tertunduk malu.


"Eh.. tidak. Aku juga minta maaf." balas Saoru, sedikit kikuk.


"Saoru-kun memang keren.. pasti ada banyak sekali gadis yang menyukai Saoru-kun.. Oleh karena itu.. aku.." kata Akiha pelan dan tidak terduga.


"Tidak."


"Eh?"


"Aku biasa saja. Jangan berpikiran seperti itu." kata Saoru, lalu seketika lenyap dari tempat itu.


Entah mengapa, perkataan Saoru terdengar jauh lebih misterius dibandingkan biasanya. Bahkan, kalimat yang diucapkannya itu terdengar sedikit dingin, sehingga membuat Akiha langsung terkulai.


Tiba-tiba saja, Akiha merasa dunianya seperti sedikit runtuh. Gadis itu sendiri masih belum mengerti dan yakin mengenai apa yang telah membuat hatinya kini terasa begitu sakit.


"Apa aku.. telah ditolak..?" gumulnya seorang diri hingga sore hari.


Tak lama kemudian..


"Akiha~ niisan~, aku pulang." ucap Kaoru, sambil mencari-cari kedua orang itu.


"Kaoru-chan.." ucap Akiha pelan.


"Ng? Kamu kenapa, Akiha?"


"Kaoru-chann! hiks.. hiks.." tiba-tiba, Akiha memeluk Kaoru sambil terisak.


"Akiha.. Apakah kamu merasa tidak enak badan?" tanya Kaoru sekali lagi, sambil memeluk Akiha dengan khawatir.


"Ti--dak.. aku tidak apa-apa.. hiks.."


Sementara Kaoru kebingungan melihat Akiha yang tidak berhenti menangis, Saoru berada jauh di luar kuil..


"Sial... Seharusnya tadi aku lebih lembut padanya.. Apakah aku harus melawan takdirku? Tidak tahu ah!" gerutunya kesal, lalu berjalan kian menjauh.