
"Himiko!" seru Takumi.
"Himiko-san!" seru Saoru.
Kedua pemuda itu menyerukan nama Himiko selama beberapa saat, sambil terus berjalan memasuki lorong-lorong gelap dengan waspada.
"Fufufufu. Rupanya kalian telah berhasil masuk." kata suara seorang lelaki.
"Kau..!" Takumi terkejut.
"Huh, rupanya kau dapat mengenali suaraku. Kau memang hebat, Takumi Matsu." ucap suara itu.
"Kurang ajar! Takkan kubiarkan kau merebut Himiko!!" sentak Takumi dengan wajah yang amat marah dan mengancam.
"Fufufu. Merebut katamu? Bukankah dia adalah istrimu? Lagipula, aku tak tertarik pada wanita yang sedang hamil." ucap suara itu.
"Kau...!!" amuk Takumi.
"Oi, siapa dia?" tanya Saoru pelan.
"Cih. Dia adalah putra Ichizo Ken." jawab Takumi.
"Ichizo?!"
"Namanya Ichizo Mitsue. Tak kusangka dia adalah musuh kita itu." kata Takumi geram.
"Hmm. Rupanya kita telah terlalu meremehkan kejahatan keluarga Ichizo. Hoi, keluarlah kau, dasar lalat kecil!" ucap Saoru dengan ekspresi wajah jutek.
"Kamu!! Memangnya kau siapa? Berani-beraninya kau meremehkanku?!" seru pria itu.
"Makanya, ayo muncul dan bertarung. Lalat kotor." ucap Saoru dengan santai dan jutek.
"Kamuu!!!!" amuk pria itu, dan..
SATTTT
Tiba-tiba, seorang wanita asing tengah berdiri di hadapan Saoru dan Takumi, sambil menghentikan serangan dari pria bernama Ichizo Mitsue itu.
"Gu--guru..!" ucap Mitsue.
"Mitsue. Kau telah berjanji untuk tidak membunuh mereka. Bukankah yang kau inginkan hanyalah racun tubuh gadis bernama Himiko itu?" ucap wanita itu.
"Kalian...!! Takkan kumaafkan!!!" seru Takumi, lalu melesatkan serangan kepada kedua orang itu.
DUAKKK
"Ukkhh---!"
"Takumi!" seru Himiko dari dalam sebuah kekkai.
"Himiko..?!" seru Takumi.
"Huh. Berani sekali orang lemah sepertimu menyerangku. Kau cari mati rupanya." ucap wanita yang baru saja memukul keras perut Takumi dengan bagian bawah pedangnya.
"Takumi!!" seru Himiko.
"Himiko!!" balas Takumi.
Himiko nampak amat terkejut dan ketakutan, ia baru saja tersadar setelah lama pingsan.
"Fufufu. Gadis itu begitu lemah, dia takkan bertahan di dalam kekkai itu." ucap Mitsue.
"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" tanya wanita yang dipanggil guru itu.
"Fufufu. Terserah guru saja. Kedua pemuda ini cukup hebat karena dapat menghancurkan kekkai guru. Mungkin mereka dapat dijadikan bidak yang berguna untuk guru." jawab Mitsue dengan tawa yang seperti iblis.
"Kamu...!!" amuk Takumi.
"Fufufu. Rupanya temanmu telah berkhianat, Takumi. Dia telah menghilang sedari tadi, sama seperti dirimu yang pengecut." ejek Mitsue.
"Cih!!" geram Takumi.
"Aku harus mendapatkan rahasia penawar racun tubuh Himiko dengan membunuhnya! Oleh karena itu, aku harus melumpuhkanmu, Takumiii!!" Mitsue hendak menebaskan pedangnya ke arah Takumi yang nampak lemah setelah mendapatkan pukulan dari wanita tadi.
Takumi belum dapat bergerak dengan leluasa, dan hanya memejamkan mata..
"Takumi!!" jerit Himiko.
TRANGGGG
"Belum...! Belum selesai sampai di sini!!"
Tiba-tiba, Takumi dengan cepat menangkis serangan pedang itu dengan pedang ularnya, sehingga mengejutkan Mitsue.
Namun, beberapa detik kemudian, Mitsue menyunggingkan senyuman yang misterius.
"Fufufu. Kau pikir pedang ular murahanmu itu akan dapat mengalahkan pedang Hobakari yang legendaris ini?" ucap Mitsue dengan meremehkan.
Hobakari?! Celaka! seru Takumi dalam hati.
Mendadak, sinar kuning yang amat menyilaukan mata terpancar dari pedang bernama Hobakari itu. Mitsue bergerak amat cepat dan hendak menebas tubuh Takumi---
TRANGGG
Beberapa pasang mata tersebut amat terkejut. Pedang Hobakari tersebut terpelanting di udara, lalu terjatuh menancap di atas tanah.
"Sudah cukup bermain-main. Sekarang adalah pertarungan yang sesungguhnya. Lawanmu adalah aku."
"Saoru!" Takumi pun terkejut.
Takumi tidak dapat memahami apa yang sedang terjadi, namun ia mendapatkan kesempatan untuk menghancurkan kekkai pengurung Himiko.
"Takumi! Takkan kubiarkan!!" seru Mitsue, hendak menyerang Takumi.
SATTTT
"!! --" Mitsue terkejut bukan main.
"Oi, sudah kubilang bukan? Lawanmu adalah aku." kata Saoru, sambil menghalangi Mitsue.
Pedang yang digunakan oleh Saoru, yakni pedang Toshiwake tersebut memancarkan cahaya berwarna merah yang mirip nyala api. Mitsue sedikit gentar oleh kemampuan pedang Saoru.
"Mitsue." panggil wanita tadi.
"Ya, Guru?" jawab Mitsue.
"Pedang itu adalah pedang Toshiwake, yakni salah satu pedang terkuat yang hanya diwariskan oleh klan Kurosawa. Bila kau macam-macam, pemuda itu akan membunuhmu dengan mudah." ucap wanita itu dengan amat santai.
"A--apa..?! Guru.. bukankah pedang Hobakari adalah salah satu pedang terkuat di dunia?" seru Mitsue kepada gurunya.
"Hmm. Itu memang benar. Namun, hal itu juga bergantung pada penggunanya. Jika kamu gegabah seperti itu, kau pasti akan kalah. Lagipula, level pedang pemuda itu jauh di atasmu." jelas guru itu.
"Gu--guru..! Huwaaa!!" tiba-tiba Mitsue mundur dan hendak berlari terbirit-birit, setelah memperhatikan bahwa bara api pada pedang Toshiwake milik Saoru amat besar dibandingkan dengan pengaruh sinar kuning pada pedang Hobakari miliknya.
"Huh. Dasar tikus licik. Takkan kubiarkan kau kabur!" kejar Saoru, namun..
PATTSSS
"Ukkh--!"
Tiba-tiba, cahaya kuning yang sama, namun jauh lebih besar dan membutakan mata menutupi pandangan Saoru dan yang lain.
"Maafkan muridku yang bodoh dan serampangan ini. Dia telah melanggar rencana semula kami. Selamat tinggal." ucap wanita itu.
SYUTTTT
"Tunggu!!" seru Saoru.
Sayangnya, kedua orang tersebut telah menghilang dalam cahaya berwarna kuning terang tersebut, bersama dengan pedang Hobakari.
"Saoru.. tolong bawa Himiko kembali." ucap Takumi, setelah berhasil mengeluarkan Himiko dari dalam kekkai.
"Takumi!" seru Himiko, seraya mendekati kekasihnya.
"Himiko.. ikutlah bersama Saoru." pinta Takumi.
"Takumi.. kau.." ucap Himiko sedih.
"Oi, kau bicara apa, Takumi? Kau juga harus ikut bersama kami." kata Saoru.
"... Aku.. telah gagal. Aku tak dapat melindungi Himiko, aku tak pantas menjadi suaminya. Aku hampir membuatnya terbunuh, jika kau tidak muncul, Saoru! Aku pantas mati!"
"Takumi.." Himiko meneteskan air mata.
"Lalu, kenapa?"
"Eh?"
"Yang penting, aku ada di sini dan menolong kalian berdua. Bukankah yang penting kalian berdua selamat?! Dasar bodoh!" bentak Saoru.
"Saoru-kun.." ucap Himiko.
"Dulu, aku menyesal karena tidak dapat menyelamatkan kedua orang tuaku dan Yukako. Namun, kamu dan Himiko memiliki takdir yang berbeda. Bagaimanapun caranya, kau dan Himiko akan selalu selamat. Kau adalah suaminya, bertingkahlah sebagai seorang suami yang kuat dan setia! Dasar sampah!!" amuk Saoru.
Kedua orang itu amat terkejut oleh perubahan pada diri Saoru, meskipun Takumi tidak begitu mengenal Saoru.
"Baiklah. Aku akan menjaganya, selalu dan selamanya." jawab Takumi akhirnya.
"Takumi.." ucap Himiko, sambil menangis.
"Himiko. Aku mencintaimu, jadilah istriku."
Mereka berdua pun berpelukan dan berciuman mesra.
"Cih. Kalian tidak dapat menahan diri ya? Lanjutkan saja saat kembali di rumah Tuan Isanobu atau dimanapun itu." ucap Saoru, dengan menutupi matanya karena terganggu.
Pasangan itu hanya tertawa mengejek, lalu mereka bersama-sama kembali ke tempat kediaman Isanobu.
Setelah itu, di luar rumah Isanobu..
"Saoruu--kunnnn!!" seru Akiha.
"Ukh-- satu lagi sumber masalah." gerutu Saoru pelan.
"Ng? Apa katamu?" tanya Akiha.
"Bukan apa-apa. Bersiaplah, kita akan segera pulang." kata Saoru.
"Baik!" balas Akiha dengan senyuman yang seperti biasanya, lalu bergegas masuk dan meringkas barang-barangnya, beserta beberapa hadiah dari Isanobu.
Andai gadis bodoh ini lebih elegan dan pandai, mungkin aku akan jatuh cinta padanya. Hmm.. sepertinya tidak. Ayah, mungkinkah aku telah jatuh hati kepadanya? batin Saoru dengan ekspresi wajah jutek, lalu perlahan disertai oleh sebuah senyuman lembut, sambil menatap kosong ke arah langit.
Tak lama kemudian, mereka mulai berjalan kembali ke kuil.