
Pic Zei dan Nain
***Pic Zei
________________
_____________________________________***
Nain membuka mata. Menatap dengan sempurna langit-langit kamar setelah terbangun dari mimpinya. Seperti biasanya ia terbangun dengan rasa penasaran dan bahagia hingga lupa bahwa ia telah bermimpi buruk.
Bermimpi buruk tentu menakutkan baginya. Sempat ia terjaga semalaman saat kali kedua ia bermimpi aneh seperti ini. Namun matanya tidak tahan dan ia tertidur. Dan benar, ia kembali bermimpi buruk dan lagi-lagi Pria itu muncul dan menolongnya. Pria itu selalu menolongnya, seakan-akan nyawanya akan terenggut jika ia mati dalam mimpinya sendiri.
Lama kelamaan Nain terbiasa dengan mimpi aneh ini dan membiarkan hal itu terjadi dengan semestinya. Terbangun dengan rasa penasaran den penuh tanya.
Nain mengerjapkan sekali lagi matanya dan duduk. Mengingat kembali apa yang telah terjadi padanya.
"Ahh ... akhirnya aku terbangun lagi setelah memegang tangannya. Pria misterius itu selalu membuatku hidup dengan rasa penasaran." Nain menutup matanya dan mengacak-acak rambutnya. Ia berpikir sejenak dan menghela napas, "Ahh, aku bisa gila memikirkannya." tak ingin terlalu lama dengan semua pertanyaan di pikirannya, ia lekas bangun dan mempersiapkan diri berangkat sekolah.
****
Setelah dari alam mimpi. Pria itu-Fiyyin Gifritan kembali ke alam jin, di kerajaan Jalis IX, letak rumah sahabatnya, Galtain.
Ia sudah lama tinggal di sana semenjak diusir dari istana Ghaur dan sebelum Raja Jin Ghaur-Gifritan Gaalxi, meninggal yang tidak lain adalah ayah angkatnya.
Raja Gifritan mati terbunuh karena perebutan kekuasaan antara Raja Ghaur. Kini singgasana Raja Gifritan di duduki oleh anak pertamanya, Vaqsyi Gifritan.
Fiyyin berjalan tertatih-tatih dan menggedor-gedor pintu kamar sahabatnya.
"Gal ... Gal? Cepat bantu aku!" teriak Fiyyin di depan pintu kamar Galtain. Menahan sakit sembari berjalan.
"Wah ... kau kembali? Aku kira kau sudah mati." ejek sahabatnya, Galtain. Berjalan menghampiri Fiyyin kemudian menuntunnya berjalan. Fiyyin menatap sinis. Galtain tersenyum kecil sembari membantu menuntun.
Setelah berhasil membaringkan Fiyyin, Galtain menepukkan tangannya 3 kali, tanda memanggil pelayan istananya.
"Cepat obati dia, sebelum dia merengek kesakitan." ucap Galtain kepada pelayannya dengan mengejek Fiyyyin sedikit bercanda.
"Baik, tuan." jawab pelayan istana dan pergi meninggalkan kamar Galtain untuk menyiapkan obat yang di butuhkan.
Wajah Fiyyin memerah, bukan karena rasa sakitnya, melainkan kesal terhadap Galtain karena mengejeknya dalam situasinya yang tengah kesakitan. Mata Fiyyin menatap Galtain tajam. Namun sahabatnya lagi-lagi membalas dengan tertawa.
"Ayolah, Fiy. Aku hanya bercanda." Galtain tersenyum dan mengalihkan pembicaraan karena penasaran, "Kali ini apa yang kakakmu lakukan?"
"Qoysan." jawab Fiyyin seadanya. Dengan terpaksa ia menjawab meskipun singkat, jika tidak, sahabatnya itu akan terus menuntut jawaban darinya.
Galtain belum puas dengan jawaban Fiyyin dan kembali bertanya.
"Lagi?"
"Aku terlambat."
"Lagi?" tanya Galtain lagi sambil tersenyum.
"(Astaga! Dia benar-benar menyebalkan. Ingin sekali rasanya aku mencekik dan merusak pita suaranya)." kata Fiyyin dalam hati dan menatap Galtain sinis. Sahabatnya itu selalu saja bertanya saat Fiyyin pulang dari alam mimpi meskipun dalam kondisi hampir mati.
Galtain tersenyum dan membalas dengan telepati. "(Banarkah? Kalau begitu berbicaralah dengan benar. Agar aku tidak bersikap menyebalkan.)"
Fiyyin menarik napas panjang dan berkata cepat tanpa jeda,
"Dia memerintah Jin Qoysan setelah kemarin dia turun tangan. Aku juga sedikit terlambat tadi menolang gadis itu, puas!"
Galtain tersenyum melihat wajah sahabatnya yang konyol saat sedang kesal. Inilah dia, bahagia jika melihat orang kesal karena ulahnya.
"Wah ... Hebat juga kakakmu sekarang berani memerintah Jin bawahan setelah beberapa kali turun tangan, bukankah itu membutuhkan dana yang besar. Ya, kan?" Galtain menyenggol pundak sahabatnya dengan tangannya.
Galtain menaikan sebelah alisnya dan memukul pundak Fiyyin.
"Oke, oke. Aku tidak akan bersikap menyebalkan lagi. Serius, oke?"
Fiyyin tersenyum dan ikut menatap Galtain serius. Dan Galtain kembali bergumam,
"Apa dia mulai berubah? Maksudku, jika dia memerintah Jin bawahan, bisa saja Jin bawahan itu membunuhmu untuk memuaskan hasratnya. Apa kau yakin dia kakakmu yang masih menyayangimu dulu? Seharusnya ia mengetahui resiko yang akan terjadi padamu." lanjut Galtain.
Fiyyin menghela napas berat, "Aku yakin, dia Vaqsyi yang dulu. Dia tidak mungkin cepat melupakan masa yang sudah kita lalui bersama saat masih kecil." Fiyyin berusaha meyakinkan dirinya. Kemudian kembali berpikir, "Tapi aku khawatir kali ini dia mulai menggunakan Jin bawahan dan mempersiapkan rencana diluar dugaanku. Mungkin kau benar, bisa saja Jin bawahan itu membunuhku untuk memuaskan hasratnya."
*TheSecretOfMyDream*
Saat ini Nain bersekolah di SMA SunStudent, di sana ia kelas XII IPA 4. Nain bersekolah menggunakan jalur beasiswa karena semenjak ibunya meninggal dan ayahnya sudah tidak waras, memaksanya untuk hidup mandiri.
Orang tuanya tidak meninggalkan uang tabungan untuk biaya hidup Nain, karena ekonomi keluarganya terbilang sederhana untuk meninggalkannya warisan. Hanya rumah yang ia tinggali saat ini satu-satunya yang ia miliki yang di bangun sendiri oleh ayahnya.
Kini ia harus bekerja paruh waktu di tempat sahabatnya-Zei, untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Nain berjalan menuju gerbang sekolah. Menatap sekitar dengan waspada jika mendapati kemunculan Zei. Namun, baru saja ia menghela napas lega, tiba-tiba terdengar suara memanggil namanya.
"Nain!" teriak pria tinggi, berambut coklat dan bibir tipis itu. Berdiri menyenderkan punggung di gerbang seperti sudah bersiap menunggu Nain lewat.
Nain melihat Zei langsung mengalihkan pandangannya dan bergegas melewati Zei dengan langkah cepat.
"Zei, sejak kapan dia di sana?" gumam Nain kesal.
"oh!" Zei yang melihat Nain melewatinya begitu saja bergegas menghampirinya.
"Hei, Nai?" Zei berjalan mengikuti Nain.
Nain tidak menghiraukan Zei. Ia terus berjalan dengan kakinya yang tidak terlalu panjang. Zei kini mencoba menghalangi jalan Nain dan berusaha menghentikannya.
"Aku lihat dari tadi ngelamun sampai tidak melihatku tersenyum padamu?"
Nain tak menanggapi dan terus melanjutkan jalannya. Namun, Zei berhasil menghentikannya.
"Marah, ya?"
"Masih marah dengan ucapan Ran kemarin? Atau padaku karena tidak memberi tahumu tentang hubunganku dengan Ran?" tanya Zei kembali.
Nain hanya diam. Mengerutkan dahinya dan hendak melanjutkan berjalan namun kembali Zei hentikan dengan menggenggam tangan Nain.
"Dengar, aku ingin minta maaf." Zei kembali berdiri di hadapan Nain.
"...Dan Ran? Dia sudah bilang padaku ingin meminta maaf padamu sepulang sekolah nanti. Ayolah, Nai, jangan marah lagi padaku." ucap Zei penuh harap dan mengangkat dagu Nain untuk menatapnya.
Nain menepiskan tangan Zei dan menatapnya kesal, "Kenapa tidak memberitahuku lebih awal tentang hubungan kalian. Apa harus Ran yang memberitahuku dulu?"
"Jika aku tahu, aku tidak akan terus bersamamu di sekolah, sehingga Ran tidak perlu menyebutku pengganggu hubungan kalian." ucap Nain lirih dan air mata bergenang di kelopak matanya. Hatinya benar-benar sakit saat Ran mengatakannya wanita pengganggu.
"Iya. Aku minta maaf, Nai. Aku salah tidak memberitahumu. Aku hanya perlu sedikit waktu untuk mengatakannya. Mengertilah,"
"Dan ucapan, Ran, jangan terlalu dipikirkan. Dia hanya cemburu, dia tidak tahu jika kita sahabat sejak kecil, aku sudah menjelaskan pada Ran tentang persahabatan kita dan Ran akhirnya mengerti. Dia akan meminta maaf nanti. Aku mohon jangan jauhi aku." jelas Zei dengan penuh harap dan tatapan tulus.
Nain menurunkan pandangannya dan mengangguk pelan.
"Padahal aku selalu mengutamakanmu, Zei)." ucap Nain dalam hati.
*TheSecretOfMyDream*
Sementara itu di kerajaan Ghaur, singgasana Raja Gifritan. Vaqsyi Gifritan memikirkan rencana selanjutnya setelah gagal dengan rencana sebelumnya karena ulah Fiyyin-adiknya.
"Cepat! panggilkan aku golongan Qoy'an!" teriak keras Vaqsyi dari kursi singgasana kepada pelayannya.