The Secret Of My Dream

The Secret Of My Dream
Seseorang Yang Selalu Hadir





Malam itu sangat gelap, hanya sinar rembulan yang satu-satunya menerangi jalannya saat ini di tengah gelapnya hutan. Angin yang sesekali berhembus membuatnya merinding bahkan di setiap langkahnya.


Ia memandang kiri dan kanan bergantian bersama rasa takut yang sejak awal menyelimutinya. Entah kemana langkahnya akan membawanya, ia hanya tahu, hal ini sering kali terjadi.


Sesaat ia tersadar dengan pohon besar yang kini berada tepat di depannya. Sangat menyeramkan melihat daun-daun pohon itu bergerak riuh dengan angin yang terbilang pelan. Rasa takut semakin membesar membuat Nain berasumsi negatif.


"Mengapa pohon besar tepat di depanku rasanya ingin jatuh ke arahku? Aku ingin berlari, tapi kaki ku mati rasa. Seketika, seperti ada yang menahanku untuk tetap di sini." gumam Nain yang semakin merasa takut bahwa nyawanya bisa terenggut meskipun hanya sebuah mimpi. Benar, mimpi yang benar-benar nyata yang bisa merenggut nyawanya dan bangun dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.


"Aku benar-benar takut. Kumohon, cepatlah datang," gumam Nain lirih bersama air mata yang mulai bergenang di pelupuk matanya. Berusaha menenangkan diri nya bahwa ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berlalu. Menanti kedatangan sesosok pria yang selalu datang menyelamatkannya.


Tak lama kemudian pohon itu mulai goyah dan perlahan tumbang ke arah Nain, ia sontak menutup matanya pasrah, badannya terasa kaku bahkan untuk melangkah pergi, teriakan kecil menyertainya.


"Bruukkk!!" pohon besar mengerikan itu terjatuh. Yang seharusnya menimpa Nain, tapi hanya menggores kakinya karena ada seseorang yang menahan pohon itu dengan punggungnya. Seseorang yang begitu tampan terpadu cantik, berkulit putih dengan tinggi semampai dan berambut pirang putih.


Nain membuka matanya perlahan dan mendapatkan seseorang di atasnya. Melindunginya dari pohon besar yang ingin menimpanya dan kini pohon itu tengah bersender di punggung pria yang menyelamatkannya ini.


"(Aku begitu dekat dengannya, bagaimana ini? Dia tepat di atasku. Aku merasa jantungku tak terkendali, padahal ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengannya)." Nain terus memandang wajah pria itu dengan matanya yang bening dan berbinar. Namun pria itu tak menatapnya, ia terlalu fokus pada pohon di atasnya.


"(Wajahnya yang tarasa khawatir aku bisa merasakannya. Lagi-lagi kau mengubah mimpi burukku. Aku benar-benar merasa aman)." Nain tersenyum bahagia dengan tatapannya yang lembut.


"(Kau... Sebenarnya siapa?)" Nain kembali bergumam dalam hati dengan jantung yang berdegup kencang. Tak lepas dari tatapannya pada wajah di hadapannya.


Detik berikutnya, seketika Nain tersadar dari pandangannya, mengingat pria itu terlihat menahan rasa sakit. Nain segera merangkak keluar tanpa berpikir panjang lagi.


Pria itu, ia tidak tahu dari mana asalnya selalu mengubah mimpi buruknya dengan melidunginya. Terlepas dari itu, ia masih penasaran dengan kemisteriusannya. Bagaimana bisa pria itu selalu muncul di setiap mimpinya.


Setelah pria itu memindahkan pohon di punggungnya, Nain kembali menghampirinya dan berkata, "Terima kasih sudah menolongku, lagi." kata Nain dengan senyuman lebar di wajahnya.


Pria itu tidak mengatakan apapun dan tanpa melihat ke arah Nain yang berada di depannya.


"Kamu bisa bicara atau mendengar? Kenapa selalu diam saja setelah menolongku. Maksudku, aku hanya penasaran denganmu, apa alasanmu menolongku? Dan kenapa selalu muncul di setiap mimpiku?" senyuman Nain terlepas dengan rasa penasaran.


Pria itu tetap bisu dan hanya menjulurkan tangannya ke arah Nain.


"Apakah sakit?" Nain merasa kali ini mengulur waktu untuk meraih tangan pria ini. Namun pria itu masih bisu dan masih dengan juluran tangannya.


"Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Kau harus segera mengobati lukamu." Seperti biasanya, Nain menggapai uluran tangan pria itu perlahan sembari memejamkan mata. Dan seperti biasanya Nain terbangun dengan cepat setelah tangan mereka saling bersalaman.