
Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu Christina masih setia mengurung diri didalam kamar, Kedua orang tua nya merasa sangat khawatir dengan hal itu mengingat Christina adalah anak tunggal keluarga Hai.
Siang ini salah satu maid yang kebetulan tengah membersihkan depan kamar Christina menghentikan aktifitasnya sejenak, dalam hatinya merasa begitu iba, kamar nona nya yang terbilang kedap suara itu tak mampu lagi menyedap suara tangis nya.
Tangisan itu terdengar begitu pilu mengisaratkan Hati nya yang benar - benar sakit, hancur, rasanya sulit dikatakan mungkin hanya air mata lah jawaban nya.
" Ada apa?,,
Maid itu begitu terkejut dengan kemunculan nyonya Hai yang secara tiba - tiba di belakangnya.
" Maaf nyonya, Saya mendengar seperti nya Nona Christina sedang menangis,,
Ucapnya dengan suara pelan.
" Haih, dia menangis lagi,,
Clara menghembuskan nafas kasar mengingat putrinya terus menangis, dia khawatir lama - lama putrinya itu bisa gila.
Merasa tidak enak Maid itu kembali mengerjakan tugas nya.
" Nyonya saya permisi,,
" Iya pergi lah,,
Dengan nafas berat Clara mengetuk pelan pintu kamar putrinya.
Oh ternyata tidak terkunci, kakinya melangkah pelan memasuki kamar, dan apa ini kenapa begitu gelap, segera dia melangkah menyalakan lampu dan,
" Astaga Christina, Nak, sayang, Hei,,
Clara menggoyang - goyangkan tubuh Christina, Gadis itu tengah meringkuk diam di sudut kamar, Saat dia mengangkat kepala tatapannya benar - benar kosong, kamar yang tadinya sangat rapi itu kini lebih layak disebut sebuah kapal pecah, Sangat porak
poranda.
" Jangan seperti ini kamu membuat mommy khawatir, Bukankah putri mommy adalah gadis Cantik yang kuat, jangan terlalu lemah hanya karena seorang laki - laki,,
Clara memeluk Christina dengan erat, tanganya mengelus punggung putrinya dengan lembut, Fikirannya panik putrinya ini masih saja bungkam tidak mau berbicara.
" *Ayolah Christina kenapa kau begitu lemah, untuk apa kau terus bersedih memekirkan pria itu, mungkin saja saat ini dia malah bahagia, ayolah jangan terus larut dalam kesedihan, hiks... hiks...
Tapi bagaimana pun juga aku punya perasaan, aku punya ingatan, apakah semua hal yang telah aku lalui dengan nya hanyalah waktu yang sia - sia saja, dua tahun bukan lah waktu yang singkat banyak hal yang sudah terkenang, bagaimana ini semua hancur hanya dalam waktu yang singkat.
Kenapa juga Harus Fanny kalian berdua benar - benar mendorongku ke tepi jurang,,
Christina hanya bisa mengatakan semuanya dalam hati, saat dia ingin bersuara rasanya ada sesuatu yang menahan lidah nya untuk berucap*.
*
*
" Bagaimana keadaan Christina?,,
Dengan nafas yang terengah - engah Pria itu berjalan menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa ruang utama.
" Masih sama, justru terlihat buruk,, Ujar Clara dengan nada yang terdengar putus asa.
" Buruk bagaimana maksud ya?,,
Hati Lewis semakin Dag Dig Dug tak menentu, Buruk? Buruk bagaimana?, kata - kata itu bisa di sambungkan dengan banyak hal bukan?.
" Dia tidak makan, tidak minum, tidak mau bicara, hah, huhuhu,,
Akhirnya wanita yang menyandang status nyonya Hai itu menangis juga, lagi dan lagi, Wanita memang lah sangat lembut hatinya terluka sedikit saja akan langsung mengeluarkan air mata.
Lewis rasanya benar - benar stress menghadapi Masalah akhir - akhir ini, tidak di kantor, tidak di rumah, Apalagi saat keduanya wanita nya menangis ingin sekali dia menukarkan segala yang dia punya untuk menggantikan kebahagiaan kedua wanita kesayangannya.
" Bagaimana kalau kita menyuruh Christina pergi ke tempat Mama,,
Clara yang sudah berhenti menangis mendongak menatap wajah suaminya, kerumah mama nya? Maksud nya ke jerman gitu, yang benar saja sekarang ini kondisi mental putri nya sedang tidak baik kenapa pria ini malah ingin mengirim anak nya pergi jauh dari nya?.
" Mama Scarlett?,,
" Memang mama siapa lagi yang kita punya,,
Ais,, kenapa jawaban Lewis ini seolah mengatakan bahwa Clara bodoh.
" Sebenarnya kau ini Dady macam apa,,
" Dengar dulu penjelasan ku,,
Ujar Lewis memotong ucapan istrinya yang sudah tertebak akan mengomel.
" Jika Christina tetap disini dia akan terus larut dalam kesedihan nya, orang seperti itu membutuhkan suasana baru, dia juga pasti senang tinggal dengan mama, dan di jerman juga terdapat universitas terbaik dalam bidang kue, bukan kah putri kita sangat menyukai hobi nya membuat kue, aku yakin jika dia disana suasana hatinya akan membaik,,
Lewis menatap istrinya yang terlihat mengangguk - anggukkan kepala menyetujui saran nya.
Akhirnya wanita ini paham juga apa maksud nya.
*
*
*
*
*
🌸💞🌸
Next ep.