The Lost Memory

The Lost Memory
Gereja Tua (2)



Gereja tua bekas penjajahan ini masih berdiri kokoh di jantung kota. Catnya yang mulai luntur termakan usia tak menyurutkan orang – orang untuk datang ketempat ini. Pohon – pohn besar yang melindungi bangunan ini dari terik matahari menambah rasa sejuk saat memasuki area gereja ini.


Suara deru mesin pemotong rumput di kebun gereja menambah kebisingan selain suara kendaraan yang lalu lalang di depan gereja yang konon sudah berusia ratusan tahun. Burung – burung yang berkicau di pepohonan dan suara air yang bergemericik membuat tempat ini seperti berada di tempat yang tenang untuk mendekatkan diri kepada tuhan.


Saat kupandangi puncak gereja ini terlihat Salib besar yang berdiri tegak berlatar belakang matahari yang mulai meninggi, menyilaukan mata. Seaakan-akan memancarkan cahay kekudusan surgawi yang mungkin membuatku merinding sendiri memikirkannya.


“ hmmm mungkin memamng benar “ gumamku tanpa arti yang angsung ditanggapi oleh Hendrik


“ apanya…???, “ ah enggak brow…he..he..” sahutku sambil nyengir.


Saat turun dari sepeda motor ternyata teman-teman yang lain sudah menunggu di bawah pohon mangga yeng besar sekali. Pohon mangga yang menutupi keklasikan gereja ini. Terlihat Nandy, Markus dan Yusuf yang sudah terlihat nyengir kepanasan karena kelamaan duduk di kursi tua.


“ ayo langsung berangkat aja gimana…mumpung belum sore-sore amat “, ajak markus sambil memakaikan helm di kepala botaknya.


“ sebentar tow ini masih panas nanti bias hitam donk aku “, rengek Hendrik sambil mengelus-elus motornya.


“ hadeh jangan kayak banci gitu he…..lha daripada nanti kemalaman lho nyampe sana”, tegas markus sambil mnyibirkan maju mulutnya.


“ heh..daripada ribut aja mending kita habiskan satu punting rokok aja dulu khan enak tow ”, celetukku sambil mengeluarkan satu pak rokok surya 12 andalan.


” Wahh kamu emang ngertiin aku banget ton “, sahut hendrik langsung menyambar rokok ditanganku.


“ iya deh…brow aku setuju kalau kayak gini..he..he”, markus ikutan ngambil rokok.


“ wah kalian nih selalu kayak gini kalau ada rokok “, celetuk dalbert sambil merebahkan diri di atas kursi tua yang berada di depan pintu gerbang gereja.


“ siang gi ap nich??? “,


Wuich langsung aja ku ketikkan jari-jariku,


“ lagi ma temen2 nc mw kemalang, qm sndiri gi ap? “,


Balasku sambil berharap-harap cemas dib alas apa enggak smsku.


“ayo berangkat udah mau sore nih”, tiba-tiba Dalbert membuyarkan semuanya yang lagi asyik menghisap rokoknya masing-masing. Akupun langsung memasukkan HPku ke dalam tas butut yang sudah lama menemaniku.


saat hendak berangkat tiba tiba dari belakang ada seseorang yang memanggil markus


"hai markus ko jangan pergi dulu, tunggu sa ini ada bingkisan buat suster theresa di Kota Batu, bikang dari om Andre".


ternyata om andre dengan tubuh tambun membawa bungkusan entah apa itu, bingkisan untuk suster theresa di Kapel.


"iya om nanti pasti tak sampikan" markus mengambil bingkisan itu dan menaruhnya di dalam tas.


"iya hati hati ko kalau dijalan"


"siap om" jawab kami serentak.


Akhirnya perjalanan jauh akan dimulai. Pengalaman pertama kali ke Malang dengan teman-teman yang sebentar lagi akan berpisah dan mungkin tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama.