The Lost Memory

The Lost Memory
Anak Kos



06.00 pagi, ketika mataku terbuka. Hari yang melelahkan telah ku lewati, hanya beberapa kasus yang harus segera aku selesaikan di sekolah ku. Kasus kenakaln remaja yang mungkin sudah umum dilakukan oleh kebanyakan pelajar di Indonesia. Kuayunkan kakiku melangkah menuju lamar mandi, pagi ini begitu sepi karena mungkin aku penghuni kost terakhir ditempat kos yang menurut teman-temanku adalah tempat yang buruk untuk ditinggali.


“pagi, ton cepet sarapan”,suara ibu kost dari dapur terdengar agak berat seperti sedang menahan batuk.”nggih bu”,sahutku sambil menuju kamar mandi.


Perasaan aneh menghampiriku mungkin ini saat-sat terakhir aku berada di kota kecil ini, hari-hari SMA yang indah akan segera hilang berganti dengan dunia yang sama sekali aku belum siap untuk menghadapinya.


06.45 pagi, aku sudah berada di dalam kelas yang sudah mulai penuh dengan teman-teman yang sebentar lagi akan berpisah.


Semuanya sangat cepat berlalu masa-masa dimana anak kampong yang tidak tahu apa-apa bias berada ditengah-tengah kehidupan elit, kehidupan intelektual tinggi yang disertai kedisiplinan yang sangat kuat. Saat dimana aku pertama kali merasa menjadi paling bodoh, paling jelek di sebuah komunitas, bahkan guruku merendahkan aku ,hanya karena aku anak kampung.


Masa-masa berat sudah kulampaui, dan mungkin itu membuatku sangat kuat, seperti tak memiliki rasa takut sedikitpun menghadapi hidup. Tapi mungkin perasaan ini salah, karena siapa yang bias menebak jalan hidup manusia. Ya mungkin saat ini aku berani menghadapi apapun, aku berani terhadap apapun, tapi keberanianku itu ada karena ketidaktahuanku akan ketakutan yang sebenarnya, yang beberapa hari lagi akan kurasakan.


Pagi itu saat jam istirahat, aku dan temanku yang mengalami satu kasus yang sama, sedang berada di kantor Guru. Semua mata guru memandang sisnis terhadapku dan temanku, ya aku tahu kami memang bersalah tapi apakh harus sekejam ini.


Keringat dingin membasahiku saat seorang Guru senior memaki-maki kami. Aku masih ingat kata-katanya yang keras tapi setelah kupikir-pikir besar juga selera humor pak guru ini. Kata-katanya kalau tidak salah “ kalian ini coba baca, surat pernyataan kalian yang tdak akan mengulangu perbuatannya lagi, bagaimana bias mengulangi perbuatan lagi lha sekarang khan sudah hari terakhir kalian berada di sekolah ini tow”. Begitulah kata-kata yang indah dari guru kami yang sebentar lagi kami lupakan.


******


Parkiran motor yang biasanya ramai sekarang sudah mulai sepi. Aku duduk di pos satpam ketika teman-temanku dating dengan motornya masing-masing. “ayo gimana?? Pakek seragam aja biar gak ada masalah nanti di sana.”.kat hendrik sambil mengelap-elap helmnya yang butut.


“ah kamu ndrik ,justru pakek seragam nanti kita bias urusan ama satpol PP”. tegasku sambil melotot kearah markus”. “iya ya bener juga kamu ton…he..he maaf brow ,ya udah sekarng pulang dulu nanti kita ngumpul ndk kostmu aja ton”. “oke”jawabku singkat.


Sudah jam 01.00 siang, belum ada tanda-tanda dari teman-teman. Kurebahkan diriku di kasur yang sudah usang karena lama terpakai. Kupandangi langit-langit kamar yang penuh dengan sarang laba-laba.


Saat mataku mulai terpejam handphoneku berbunyi. Kulihat ada sms dari hendrik { “aku ndk luar bro ayo berangkat”}. Aku bergegas menata barang bawaan yang nantinya mungkin diperlukan disana.


“mana markus daan nandy??”. Tanyaku. “ mereka nunggu di depan gereja” jawab hendrik. “yuk langsung aja kesana” .”oke”. deru sepeda motor kawasaki emang enak didengar lembut sekali di telinga.


Kupandangi jalan-jalan sekitar kostku. Jalan yang selama ini selalu aku lewati, jalanan yang hanya diam ketika aku sedang memaki-makinya saat aku terjatuh atau tersandung batu. Semuanya ini akan segera terlupakan.


Perjalanan yang singkat. Langsung aku teringat masa-masa dimana aku belum punya teman disini. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan di kota kecil ini. “hmmmh” nafasku sedikit tersengal saat rokok yang kuhisap mengeluarkan asap yang banyak. “uhukk..uhukkk..”. batuk ku langsung membuyarkan lamunanku.


********