
Migular benar-benar tidak tahu keberadaan Adelia tersebut benar-benar sangat dekat dengannya. "Buku ajaib?" Tanya Adelia dengan pita suara yang berat dari belakang. *CRACK* Suara gelas besi yang pecah dari belakang Migular. Migular benar-benar terkejut tak karuan seketika mendengar kebisingan itu. 'Siapa itu?' Monolog dari otak Migular yang paling dalam. Untuk mengatasi rasa penasarannya itu, Migular segera membalikan badannya.
Dan di detik itulah "Kakak!!??!!!?, sejak kapan kau ada disana?" Tanya Migular. 'Astaga!!! Sejak kapan dia ada disana, apakah dia mendengar semua ucapan yang ku ucapkan barusan?' Ucap Migular di dalam hatinya. Migular berfikir bahwa Adelia sudah meresapkan semua kata-kata yang ia ucapkan barusan. 'Aku memang bodoh' Migular sudah pasrah, dirinya hanya menjalani dan melihat apa yang akan terjadi kedepannya. Migular mengejamkan matanya sejenak, dan ketika ia membuka matanya kembali, semua hal-hal yang matanya lihat berubah seketika menjadi fantasi yang menyeramkan, begitu pula Adelia. "Ap-ap- apa yang sudah terjadi?" Seketika seluruh benda dan pertikel-partikel yang ditangkap oleh pandangan mata Migular berubah. Partikel-partikel dan atom yang begitu kecil yang menyusun serangkaian benda atau objek seperti dinding, kaca dan lantai. Begitu pula dengan Adelia dan yang lainnya diluar rumah. Sel atom tersebut berterbangan tak karuan, kemudian menghilang begitu saja. Migular sudah tak habis fikir lagi dengan apa yang matanya lihat. Dia tidak bisa menggerakan dirinya sendiri, tidak bisa menampakan dirinya kembali ke lantai, Adelia yang sebelumnya berada di hadapannya kini menghilang begitu saja.
"Adelia, ayah? pergi kemana kalian?" Tanya Migular dari tempat asing tak tahu dimana. Migular masih memerlukan banyak waktu untuk merenungkan apa yang baru saja ia alami. Begitu aneh, namun semuanya terasa begitu nyata. Migular mencoba untuk mencubit dirinya sendiri, dan ia bisa merasakan rasa sakitnya itu, kemudian ia mencoba untuk berteriak sekuat mungkin yang ia bisa, dan kemudian ia bisa mendengar suaranya yang begitu keras berdengung begitu kencang. Lantas tempat apakah ini. "Migular!" Tertiba Migular mendengar suara seseorang yang memanggil namanya dari salah satu arah. Kulitnya sudah mati rasa, ia tidak bisa merasakan kemana arah angin menuju.
......Waktu yang ditunggu-tunggu oleh pembaca telah datang......
Tak hanya satu kali ia menyebutkan nama Migular disana, Migular berada di tempat misterius. Ia terus melayang di antara kekosongan, matanya dipertontonkan dengan pemandangan galaksi luar angkasa yang begitu indah dan mempesona. Namun disamping itu, rasa penasaran dan shock Migular yang mendalam dan masih belum mereda seolah-olah mengalih kendalikan otaknya sebagaimana ia bekerja. Telinga Migular hanya bisa mendengar suara seseorang misterius itu memanggil namanya terus menerus. Hanya otak dan hati dalam Migular yang dapat berkomunikasi satu sama lain. Mulut Migular tidak bisa digerakan, kedua bibir atas dan bawah menutup rapat. 'Aneh sekali! Mulutku kenapa tidak bisa digerakan!??!!!?, bukankah baru saja aku berteriak???!!!!? Lantas siapa yang memanggil-manggil namaku itu!!??!?? ' Masih banyak pertanyaan yang muncul dibenak-benak Migular, namun mulutnya kini diam dan tak bisa membantu dirinya menjawab pertanyaan itu.
*Migular Terbangun*
"Dimana aku???, KEMANA IBLIS ITU MEMBAWA KU PERGI??!!!??" Di saat itu juga, tepat dihadapan Migular Nihon melangkahkan kakinya satu demi satu ke arah Migular. Migular tak bergerak sedikitpun. Kedua tangannya di ikat dan di gantung di sebuah salib raksasa di sebuah gua yang luas. Banyak dedaunan merah yang menyala mengikat kedua tangan dan kaki Migular. Migular melihat dua cahaya mata merah yang begitu terang menghampirinya. Semakin dekat ia melangkah. "Si- siapakah gerangan?" Dengan panik dan keringat yang bercucuran di sekelunjur tubuh Migular. Masih belum sirna rasa penasaran Migular yang sebelumnya. Sekarang matanya lah yang menyaksikan jawaban dari semua itu. Biarkan otaknya memproses dan memikirkan apa yang ditangkap oleh matanya.
Sosok misterius itu terseyum di tengah kegelapan. Hanya ada kedua mata merahnya dan gigi putih dan tajamnya di perlihatkan ke Migular. Bagaimana Migular tidak takut? Dirinya tidak mengenal sama sekali sosok itu. Suaranya persis seperti saudaranya, Nihon. Namun ia belum tahu akan kepastian hal itu. Hanya saja, firasat supranatural Migular merasakan sesuatu buruk akan menimpanya di kala itu.
'Orang itu pasti akan berniat jahat kepadaku!!! Apa yang harus ku lakukan??!!!' Migular benar-benar berfikir keras apa yang harus ia lakukan demi keselamatannya. Hal ini benar-benar terjadi menimpa Migular dan bukan Mimpi, hidupnya di dunia kini sudah berakhir sampai disini. Namun, Tubuhnya tidak pernah beristirahat, ia selalu dibawa menjalani kehidupan-kehidupan yang harus ia jalani berikutnya. Setiap kali ia mati, arwahnya akan membawa seluruh tubuh Migular ke kehidupan yang berbeda, orang-orang biasa mengenalnya dengan istilah Reinkarnasi. Namun di kehidupannya kali ini, ia berada di fase pertengahan kehidupannya antara yang paling pertama dan yang terakhir. Setiap kehidupan baru yang ia jalani, dirinya tidak akan bisa lepas dari gangguan sihir dan jin besar. Kedua kekuatan jahat itu akan terus melekat di diri Migular. Migular adalah salah satu gadis timur yang terpilih di antara lebih dari 5 Miliar orang yang hidup di belahan Bumi bagian timur.
Itulah yang seketika dirasakan Migular di dalam batinnya. Migular merasa bahwa ia memiliki kewajiban yang besar demi keselamatan bagi orang-orang di bumi, Ia merasa terpilih dan sudah dipercaya untuk menyelesaikan misi terpendam yang disimpan oleh nenek moyang timurnya selama ribuan abad yang lalu. Rasa takut untuk menghadapi iblis-iblis yang melekat di jiwa dan raga Migular sirna sedikit demi sedikit. Rasa percaya diri Migular membuatnya yakin akan kekuatan yang ia miliki mampu untuk menghadapi tantangan-tantangan hidup yang penuh lika-liku. Meskipun begitu, dilain sisi hatinya Migular merasa sedih yang cukup berat, dirinya sudah cukup dekat dengan orang-orang yang dia kenal seperti Nihon, Adelia, dan bahkan ayahnya Rahel hanyalah buat-buatan semata untuk melemahkan kekuatan Migular yang sebenarnya. Ia menghabiskan waktu lebih dari 20 tahun bersama dengan mereka, namun sekarang semuanya terkuap. Migular telah menyadari maksud dari istilah /WAKE UP TO REALITY" yang sesungguhnya.
Selama hidup 20 tahun di dalam konspirasi tersebut, ia cukup dekat dengan saudaranya laki-lakinya, Nihon. Namun siapa sangka, ternyata Nihonlah dalang dari semua keanehan yang dialami Migular selama Nihon koma di rumah sakit. Selama Nihon koma dan jasadnya di bekukan, dirinya berada di alam lain meneror keanehan ke Migular untuk melalaikannya dalam menggunakan kekuatannya. Tapi, ketika Migular benar-benar menyadari segala keanehan yang terjadi pada dirinya, Iblis tersebut 'Nihon' menemukan waktu yang tepat baginya untuk memulai pertarungan sengit antara iblis dan gadis anti sihir, yaitu Migular.
"Majulah! Maju kau Iblis! Aku tidak takut denganmu! Jangan sekali-kali kau membodoh-bodohiku dengan semua konspirasi yang kau buat untuk mempengaruhi imajinasiku!" Migular membuang semua amarahnya di salib tersebut. Migular menantang iblis tersebut demi kesejahtraan penduduk timur di Bumi. Daun-daun yang mengikat Migular di salib tersebut kemudian sedikit demi sedikit mulai layu lalu patah dan melepaskan Migular dari salib besar tersebut. Iblis jahat tersebut merasa tertantang dengan ucapan Migular yang lantang terdengar jelas di kedua telinganya. Kemudian Iblis tersebut mendekatkan dirinya ke hadapan Migular dan memperlihatkan wajahnya yang persis seperti Nihon, saudara Migular yang biasa ia kenal. Ditengah-tengah keduanya, Migular dan Iblis, terdapat pedang yang menancap di tanah hitam yang gersang. Keduanya saling menatap sejenak dan kemudian berlari mengarah ke pedang tersebut. Lari, terus berlari. Pada akhirnya. Migular sampai lebih dulu ke pedang tajam tersebut dan melepaskannya dari tanah dibawah.
Migular mengarahkan pedang tajam dan besar tersebut tepat ke wajah si iblis. Iblis itu bernasib sial kalah laju dengan Migular. Pertempuran dimulai.
Pertarungan sengit sedang berlangsung antara kekuatan api dan pedang baja begitu tajam yang siap menusuk siapa saja yang didepannya. Pertarungan tersebut terjadi sangat dahsyat, itu memakan waktu sampai lebih dari 3 tahun untuk membuat salah satu dari keduanya kalah. Semburan api ungu yang besar tersebut sering kali mengenai seluruh tubuh Migular, namun ia tidak merasakan apapun seolah olah ada perisai yang melindungi segala pergerakannya di hadapan. "Kenapa kau sangat sulit untuk dimusnahkan?!!" Si Iblis mengeluh dengan lemah. Dari balik pertempuran dasyat itu. Arwah ibu Migular yang sudah lama meninggal sedang menonton pertarungan tersebut.
Suara semburan api dan tebasan pedang terdengar dengan keras di luar angkasa. Para ahli astronomi timur di bumi tahun 5028 mendeteksi getaran tersebut begitu kuat dengan alat-alat canggih yang mereka punya. Dengan rasa penasaran yang tinggi para peneliti di sana, mereka mengirimkan satelit untuk meleliti lebih lanjut, yaitu AI-78 ke sumber getaran tersebut dimana sumber getaran tersebut adalah pertengkaran iblis dan sang gadis anti sihir.
Hingga pada akhirnya puncak kemenangan Migular datang...
Wajah iblis itu seketika berubah menjadi sosok Nihon yang baik seperti yang biasa Migular kenal. "hey, ini Nihon, saudaramu yang biasa kau kenal! kau ingat aku bukan?" Dengan raut dan expresi wajahnya yang begitu dibuat-buat. Hampir saja Migular terjerumus kedalam jebakan itu. Tapi ia tetap bertekad lurus untuk mengalahkan iblis itu. "AKAN SEBERAPA KALI AKU JATUH DENGAN YANG SATU ITU?" ucap migular dengan tegasnya. Migular hendak menancapkan pedang tajam itu tepat ke dada si iblis, namun hal yang tak diduga pun terjadi. "Tak kusangka Migular! Kau benar-benar setega itu kepada ku, ingatlah Migular! Inilah Nihon, saudara sedarah denganmu" Iblis itu masih berusaha untuk membuat Migular percaya dengan ucapannya. Dengan ekspresi wajah yang cukup membuat hati Migular terguncang. Tapi di tengah-tengah peristiwa itu, ada arwah ibunya yang berbisik di telinga sebelah kanan Migular : "Apa kau benar ingin mengasih hani iblis jahat itu? Dia sudah menyihir kehidupanmu! Dia membuatmu sengsara!" Bisikan halus dari ibunya membuat Migular kembali sadar dan kembali ke tujuan utamanya. Dengan sekali tusuk! *JOSSSS * *BRACKK!!* Suara percikan darah hitam si iblis yang sudah mati tergeletak tak berdaya di tangan Migular.
Pada akhir pertarungan sengit itu, kemenangan diraih oleh Migular dengan gemilang. Tak lama setelah kemenangan yang Migular raih, datanglah sosok ibunya menunjukan wujudnya di hadapan Migular. "Nak, kau berhasil mengalahkan iblis itu! Ibu bangga denganmu!"
"Ibu? Bukankah kau bagian dari iblis itu?" Tanya Migular.
"Aku mencoba menyusup ke kehidupan seorang gadis anti sihir untuk menyelamatkan wanita bumi timur dari gangguan sihir luar angkasa, semua ku lakukan agar keturunan kami masih tetap berjalan sebagai pelindung bumi.
Aku dan kau awalnya tidak mempunyai hubungan apapun, namun karena kita sebagai satu tim, kita harus saling menolong siapapun itu orangnya" Begitulah jawaban dari sosok yang disebut sebut Ibu Migular.
Seperti itulah orang-orang bumi timur mempercayai mitologi naga Migular, kemenangan gemilang yang diraih Migular tersebut terjadi pada 3 September 5028. Maka dengan itu umat-umat tionghoa dan dataran korea mulai meresmikan tanggal tersebut sebagai salah satu perayaan nasional yang dirayakan.
[Disclaimer : Semua cerita ditulis berdasarkan naskah, plot dan konteks yang sudah ditulis sebelumnya. Cerita berikut hanya untuk hiburan semata dan tidak ada keterikatan sama sekali dengan realita]
~Septyana | Author mengakhiri naskahnya.