The Immortal Migular

The Immortal Migular
Eps XXI : Saudara baru Migular(2) dan Moment Of Truth



...Moment Of Truth...


'Huft... Aku harus berani' Migular masih ada di belakang sofa sedangkan Adelia dan Rahel menghadap ke televisi. Setelah monolog Migular itu, Migular melangkahkan kakinya, maka di detik itu juga, "BERITA : para ahli astronomi timur telah menemukan sinyal aneh komunikasi mahkluk halus di luar angkasa, diduga sinyal tersebut berasal dari hexoplanet terdekat dengan bumi, belum ada bukti yang cukup kuat atas dugaan tersebut, namun tim kami akan menelusuri lebih jauh lagi tentang perkembangan penelitian saat ini" Berita televisi disampaikan dengan keras. "Mahluk halus?" Tanya Adelia. "Hexoplanet?" Tanya Rahel. Keduanya bertanya dengan kontras. "Pindahkan saja tayangannya! Paling hanya hoax, rata-rata berita seperti itu pada akhirnya juga bohongan, kita tidak akan tertipu dengan yang itu" Ucap Rahel.


"TUNGGU... Jangan dulu dipindahkan!" Migular berteriak dari belakang. "Migular? Sedang apa kau disana?" Adelia bertanya. Sontak Rahel juga berbalik badan lantaran terkejut dengan teriakan Migular di belakang. "Oh kak... Maaf... Aku keceplosan" Migular merasa malu. "Aku bahkan tidak mendengar langkah kakimu menuju kemari" Kata Adelia. "Maaf kak, ayah sudah membuat kalian terkejut... Tapi bisakah kalian memindahkan saluran televesi itu kembali?" Tanya Migular ke Adelia.


Adelia dan Rahel terlihat bingung dengan permintaan Migular. "Kenapa harus diputar kembali? Apa ada yang penting dalam berita itu?" Tanya Rahel. Migular mengalihkan pandangannya ke luar jendela dan kemudian menjawab, "Tidaklah, tapi mungkin saja berita itu adalah petunjuk. Kalian tahu kan, aku tidak selalu bisa mengontrol kemampuan supranaturalku dan apa yang aku rasakan saat ini sangatlah intens, seakan ada prasangka buruk yang akan terjadi dalam waktu dekat ini". Adelia dan Rahel saling pandang sejenak sebelum akhirnya Adelia menekan kembali tombol televisi dan berita tentang sinyal aneh dari hexoplanet terdekat dengan bumi diputar kembali. "Apa yang sedang kau bicarakan Migular?" Adelia bertanya kembali.


Namun, rasa gelisah dalam diri Migular semakin memuncak setelah melihat berita tentang sinyal aneh tersebut. Ia merasa bahwa hal itu ada kaitannya dengan hal-hal aneh yang pernah Migular alami. Migular mencoba untuk merenung dan fokus pada dirinya sendiri. Ia membutuhkan waktu untuk menstabilkan diri agar bisa mengendalikan mentalnya dengan lebih baik. Ia ingin memastikan bahwa dirinya siap menghadapi apapun yang akan terjadi di masa depan.


Migular benar-benar melupakan tujuan awalnya untuk membuka hati kepada keluarganya itu. Migular menunggu lagi setelah berhari-hari ia merenungkan diri di kamar. Tanpa mengetahui bahwa Adelia sedang masuk ke dalam kamarnya, Migular tak mendengar suara pintu membuka, dengan lantangnya ia menyebutkan semua kejadian aneh yang pernah ia alami selama di rumah sakit. "Kenapa wanita itu sangat persis dengan ibuku!!! benar-benar persis dengan ibuku!!! apakah ada hubungannya dengan buku rahasia itu? buku rahasia itu! Kemana perginyaaa!!??!!!?!!" Migular mengatakan dengan sangat lantang. Migular mengira tidak ada orang lain selain ia sendirian di ruangannya yang bisa dibilang cukup luas. Padahal, ada Adelia di belakang sedang mengantarkan makanan Migular ke dalam kamar, seluruh ucapan lantang Migular tersebut telah terserap masuk ke dalam telinganya.