
Empat Tahun Kemudian
Andri sedang menunggu di dalam mobil menjemput adik perempuannya yang sudah lama pergi untuk melanjutkan studinya. Andri harus menunda rapat penting yang tidak bisa tunda, tapi demi mama tercinta ia rela menundanya. Ramai dan panas membuatnya malas untuk menunggu di luar mobil. Tidak lama sebuah notifikasi dari ponsel membuatnya membuka mata dan melihat di luar kaca mobil ada seorang perempuan sedang menunggu. Tapin entah itu perempuan itu ia juga tidak terlalu peduli.
Adik kamu sudah menunggu mu, Kamu di mana, sayang?. ~ mama
Andri terpaksa harus keluar dari mobil dan mencari adiknya itu. Tapi matanya kembali melihat ke arah wanita yang sedang menerima telepon, tidak lama perempuan itu berpamitan lewat telepon langsung berjalan ke arahnya. Membuat Andri bingung kenapa perempuan itu mendekatinya.
" kak Andri "
" Kamu panggil saya? " Tanya Andri setelah melihat sekeliling.
" Iya.. apa kamu kesini di paksa mama? " Tanya Nadira dengan dingin.
" Nadira! aku sangat mer-- " ucapannya sangat tidak penting bagi Nadira jadi ia memutuskan untuk menaruh barang bawaan ke dalam bagasi mobil.. tanpa meminta tolong untuk mengangkat barangnya pada kakak laki-lakinya itu.
" Sini biar a-- "
" Tidak perlu " potong Nadira tidak mau di bantu oleh laki-laki yang sedang berdiri diam di depannya.
Selama perjalanan Andri mengajak Nadira berbicara tapi tidak dijawab dan ditanggapi oleh Nadira, sedangkan Nadir hanya menatap lurus ke depan tanpa melihat kesamping. Sesekali hanya melihat jam yang berada di pergelangan tangan kirinya. Waktu terasa lama sekali berputar rasanya ingin sampai di rumah dan tidur.
Perjalanan memakan waktu empat puluh menit membuat Andri bosan hanya diam tanpa ada yang di bicarakan. Melihat adiknya yang lebih turun dan mengambil barang bawaannya turun di bantu oleh beberapa pekerja rumah. Tapi ada yang membuat ia merasa aneh dengan sikap Nadira yang biasanya mengajak bicara duluan sekarang sama sekali tidak bicara satu pun padanya. Andri menyusul masuk kedalam rumah bersama Nadira. Kedatangan Nadira di sambut meriah oleh mamanya yang sedang tersenyum bahagia dan juga papa, tapi tidak dengan Nadira padahal ini semua Jihan lakukan untuk anak perempuannya.
Jihan memeluk anak perempuan yang sangat ia rindukan selama empat tahun lamanya. Selama Nadira berada di negara asing ia sama sekali tidak mau menelpon atau memberi kabar pada keluarganya. Sengaja Menganti nomor telepon agar tidak ada yang mengganggunya.
" Akhirnya kamu punya juga, saya. Mama sangat merindukanmu dan mama sangat bangga kamu bisa mendapatkan nilai terbaik di kampus mu " ucap sambil mengelus punggung Nadira yang dari tadi tidak membalas pelukannya.
" Kamu kenapa sayang? " Tanya jihan khawatir dengan perubahan Nadira yang terasa sangat aneh baginya.
" Mulai kapan aku bekerja? " Satu kalimat itu bukan yang mereka bertiga tunggu.
" Terserah kamu, nak " Rendra sambil melihat memang sangat aneh sifat putrinya ini. Anaknya sudah sangat berubah dari penampilan dan juga sikap anehnya.
Nadira menaiki tangga menuju kamar lama yang sudah empat tahun lamanya ia tinggalkan. Masih terlihat sama tidak ada yang berubah dari kamarnya. Pintu tidak lupa ia kunci, tidak ingin istirahatnya di ganggu dengan siapa. Memasuki kamar mandi dan dududk di bawah shower mengalirkan air dingin membasahi seluruh tubuh dan juga pakaian yang tidak ia lepas dari. Inilah kebiasaan barunya menyendiri dan menyiksa diri sendiri, seperti sengaja menyiram air dingin, tidak makan, memukuli dirinya sendiri.
Sedangkan di lantai dasar sedang duduk di dapur menunggu Nadira turun dari kamar. Bibi Lia berulangkali memanggil Nadira tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar. Membuat Jihan menjadi khawatir dengan anaknya itu, tapi ia berpikiran baik kalo anak sedang tertidur karena kecapean. Mereka makan siang dengan lahapnya.
**
Matahari sudah berganti dengan bulan. Nadira sedang duduk di atas balkon kamarnya sendiri dan memegang dokumen yang harus ia harus pelajari untuk pekerjaan pertamanya besok pagi. Tanpa makan dan minum dari siang hingga sekarang. Ia sudah terbiasa menahan lapar sehari kadang bisa dua hari hanya dengan minum saja. Hidup dengan uang tabungan sendiri di negara asing harus bekerja keras untuk mendapatkan uang untuk mempertahankan diri. Bekerja sebagai seorang koki di sebuah restoran sederhana jarang pengunjung dan gaji perbulan kadang membantu temannya Joy untuk pengobatan ibunya yang sedang sakit jantung. Nadira membantu tanpa memikirkan dirinya besok itulah Nadira. Ketika ia sudah sangat lapar tapi tidak memiliki uang ia memutuskan untuk tidur, kadang meminum air putih dengan banyak. Ponsel yang sekarang cukup terlihat sederhana serta pakaian yang ia pakai.
Huh.. menghembuskan nafas panjang dan memejamkan mata menikmati dinginnya malam hari. Matanya mulai rabun karena sering memaksakan diri untuk terus belajar sampai larut malam hingga tidak tidur sama sekali. Demi nilai yang baik untuk orangtuanya, ia rela.
Di sisi lain ada yang memperhatikan setiap gerak-gerik Nadira dari jauh. Ia baru saja selesai menelpon kekasih hatinya. Mereka sudah empat tahun tapi belum juga menuju jenjang yang lebih serius. Sama-sama memiliki kesibukan sendiri hanya berkomunikasi pun dengan ponsel genggam saja. Ia melihat adik yang berulang kali mengucek mata sesekali juga menguap terlihat sangat mengantuk.
Penampilan baru adiknya tadi membuatnya sama sekali tidak mengenali adik sendiri. Tapi melihat pakaian yang adiknya pakai terlihat sangat sederhana tidak seperti dulu dan tidak sepertinya. Kemana semua pakaian mahal dan bermerek Milik adiknya?
Andri masih ke pikiran dengan ucapan terakhir sebelum ia pergi tanpa pamit. "Kak Andri aku mencintaimu dengan tulus dari hati yang paling dalam. Aku akan menerima tawaran papa, jadi kakak tidak usah khawatir karena aku akan melupakan cinta yang entah kapan tumbuh di dalam hati ku. Makasih atas perhatian yang kamu berikan padaku. Semoga dengan perempuan pujaan hati kakak bisa bahagia. " Ucapan itu yang selalu terngiang-ngiang di kepalanya selama empat tahun terakhir ini.
' jika aku menyukai .. berarti aku tidak menghargai mama dan papa yang sudah mau mengadopsi aku dan memberikan hidup yang sangat cukup ini. '
Andri kembali melihat Nadira yang sudah berlalu masuk kedalam kamarnya dan begitu juga dengan Andri juga merasa sangat mengantuk. Andri membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang sangat empuk dan nyaman sambil menatap langit-langit kamar tidur yang diberi polesan cat berwarna putih.