That Woman Is My Soulmate

That Woman Is My Soulmate
Prolog



" aku tidak mau melanjutkan perusahaan papa, ma. Aku ingin menjadi seorang dokter. Aku tidak bisa! Menjalankan perusahaan papa yang besar itu, ma. Ku mohon! ma tolong bujuk papa. " Nadira Farhana Rendra memohon kepada ibu yang telah melahirkan dia ke dunia ini dengan mempertaruhkan nyawa.


" Maafin mama " Jihan Farhana menunduk kepala karena tidak mampu untuk membantu anaknya saat ini.


" Emang dari awal aku tidak bisa memilih apa yang aku mau dari dulu, dari aku kecil. Kalian selalu saja menyuruhku untuk mengikuti segala yang kalian mau, tapi ketiak aku menuruti kemauan kalian apa yang aku dapat! Dari dulu aku tidak bisa bebas main bersama teman-teman ku, aku di tuntut untuk belajar! belajar! Aku ingin bebas, ma. Aku ingin hidup seperti kak Andri " Mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam otaknya.


Plakk...


Pipi kanan Nadira terasa panas bekas tamparan keras dari papa yang selama ini ia hargai dan hormati. Ia selalu menuruti semua keinginan papanya itu, tapi apa yang ia mau selalu saja tidak bisa di turutin oleh kedua orang tuanya.


" Dasar anak... " Ucap Rendra Aditya sudah tidak bisa menahan lagi emosi yang siap meledak kapan saja.


" Apa! Heh dasar anak tidak tau Untung. " Nadira melanjutkan kalimat yang sangat menyakiti hatinya sendiri.


Plakk..


" Bicaralah dengan sopan kepada orang tua. Apa ini yang kamu balas setelah orang tua mu memperjuangkan kamu waktu kecil hingga sekarang? " Andri Mengingat adik angkatnya untuk tidak terlalu kurang ajar kepada kedua orang tua mereka.


" Kau tau ap.. "


Ucapan Nadira terhenti melihat mamanya yang pingsan di pelukan papanya. Papanya terlihat sangat panik dan segera menidurkan Jihan ke sofa ruang tengah. Meminta bibi Lia untuk mengambil minyak kayu putih dan segara di ambil. Tidak lama bibi Lia datang dengan minyak kayu putih segera Rendra mengambilnya dan membalurkan ke hidung dan juga perut istrinya. Andri baru saja selesai menelpon dokter pribadi milik yang selalu ada. Jika Nadira menjadi dokter tidak harus memanggil dokter pribadi itu untuk ke sini, Nadira bisa menanganinya.


Badan Nadira menegang ketika tidak sengaja tatapannya bertemu dengan Rendra " sampai terjadi sesuatu pada mama kamu, Nadira aku tidak tau apa yang terjadi, jika itu terjadi " ucapan yang di penuhi dengan kata-kata yang tajam menusuk hingga ke hati anak perempuannya.


Entah mau buat apa lagi, sudah setengah jam dokter pribadi itu belum datang juga dan setengah jam Nadira terus berdiri diam tanpa ada pergerakan. Cintanya sudah tidak lagi terbalaskan dan di tambah lagi dengan orangtuanya seperti sudah membencinya. Jalan satu-satunya adalah mengikuti semua yang kedua orang tuanya mau dan hubungan mereka akan kembali seperti dulu.


Semua yang berada di dalan ruangan ini bernafas lega setelah dokter datang dan memeriksa Jihan, Ternyata Jihan hanya kecapean dan terlalu banyak berpikir memaksakan pikirannya. Syukur hanya pingsan jika terus begini bisa-bisa membuat orang yang banyak pikiran bisa sedikit mengganggu kejiwaannya.


Setelah menjelaskan tentang apa yang dialami oleh Jihan, dokter pribadi berpamitan karena jadwal operasi. Suasana terasa sangat menegangkan Rendra mengendong Jihan menaiki tangga dan memasuki kamar mereka. Nadira masih berdiri di tempat yang sama selama satu jam lebih kakinya menjadi kram karena terlalu lama berdiri. Nadira menjatuhkan diri ke lantai dingin karena di luar sedang hujan deras. Menundukkan kepala, memukul kakinya agar tidak lagi kram. Sudah lama ia terus memukul kakinya sendiri dengan pelan tapi masih saja kram, mengepalkan tangannya dan memukul kuat kaki kanan.


" Ach! " Mengepal kembali tangannya dan memukul kaki bagian kiri lebih keras dari pada yang kanan.


" Ini bukan cara yang bisa mengeluarkan kamu dari masalah, Nadira . Kau hanya menambahkan beban mu sendiri. Aku kecewa sama kamu kali ini " ucap Andri membantu Nadira untuk berdiri tapi langsung di tepis oleh Nadira.


" Apa perdulinya kamu pada ku. Kamu yang membuatnya hancur berantakan " ucap Nadira terselip sedikit percikan emosi.


" Kak Andri! aku mencintaimu dengan tulus dari hati yang paling dalam. Aku akan menerima tawaran papa, jadi kakak tidak usah khawatir karena aku akan melupakan cinta yang entah kapan tumbuh di dalam hati ku. Makasih atas perhatian yang kamu berikan padaku. Semoga dengan perempuan pujaan hati kakak bisa bahagia. " Lanjutnya sambil menatap mata ..


Andri termenung mendengar ucapan Nadira adiknya yang baru saja menaiki tangga dengan tertatih, melangkah kaki sangat pelan.


Keesokan harinya..


Jihan merasa enakkan setelah mengistirahatkan tubuh tadi. sekarang Jihaningin bilang pada anak perempuannya kalo Rendra menyetujui bahwa Nadira bisa melanjutkan impiannya untuk menjadi seorang dokter. Tapi nyatanya kabar baik itu tidak sampai ke telinga Nadira. Jihan mendapatkan sepucuk surat yang terdapat pada atas nakas.


Ma, aku sangat bersemangat untuk melanjutkan perusahaan nanti. Entah terlalu semangat aku bangun sangat pagi hari ini. Aku sudah menyiapkan otak untuk menerima materi yang nanti di berikan pada dosen-dosen di sana, semoga dosennya baik dan ramah. Ma, maaf ya.. aku sudah buat mama sangat khawatir. Aku juga sangat khawatir sama mama. Mama jangan lupa makan ya.. dan jaga kesehatan jangan sampai sakit, ma. Oh, iya! Ma aku ada menaruh sesuatu di dalam laci. Mama boleh buka tapi jangan marah ya..) ~ Nadira.


Jihan membuka laci nakas karena penasaran apa sesuatu yang di bilang oleh anak perempuannya. Mata membulat melihat isi nakas yang seharusnya di ada di tangan perempuannya. Kartu kredit dan ponsel terbaru berwarna hitam yang ada di dalam laci nakas itu. Ia sangat tau sekali itu ponsel milik anak perempuannya, karena itu pemberian darinya untuk anak perempuan. Namun Jihan melihat kembali ke dalam laci nakas ada lagi sepucuk surat.


Jangan marah, ma!. Menurut Nadira, ini lebih baik Nadira tinggalkan dari pada nanti Nadira tidak bisa menjaga dan hilang bagaimana? Nadira mau fokus belajar, ma agar nilai Nadira bagus dan bisa membanggakan, mama. Mama jangan nangis ya.. Nadira sayang mama kok. Maaf soal kemarin, ma. Memang Nadira bukan seperti anak yang bisa bicara langsung atau meminta maaf langsung kenapa mama dan papa. Nadira hanya bisa meminta maaf lewat surat ini saja. Maaf lagi. ~ Nadira.


Tetesan bening mengalir membasahi pipi Jihan hingga jatuh mengenai dua surat yang di tinggalkan oleh Nadira. Rendra baru saja datang terkejut melihat istrinya menangis tersedu-sedu. Memeluk istri, tapi melarangnya untuk mendekat. Tapi ia tidak tahan melihat istrinya terus saja menangis, memasukan ke dalam dekapannya. Namun istrinya terus saja memberontak, menangis dan meneriaki nama anak perempuan kita.


Teriakan Jihan sampai ke lantai dasar yang lebih tempatnya dapur membuat Andri sedang mengambil buah di dalam kulkas berlari ke arah suara itu. Andri melihat Jihan terlihat kacau terbaring di tempat tidur Nadira sambil terisak-isak, air mata pun masih mengalir.


" Pa, mama kenapa? " Tanya Andri melihat mamanya mulai tertidur.


" Entahlah " jawab Rendra sambil menghapus air mata yang saja terus mengalir di sudut mata istrinya.


Andri melihat ke arah nakas ada sebuah kartu dan ponsel. Kening berkerut berpikir ini milik siapa? Mengambil ponsel canggih berwarna hitam itu mengaktifkan ponsel canggih itu. Sebuah foto pemandangan matahari terbenam berwarna kuning keemasan menjadi wallpaper, tapi matanya terus memperhatikan, lebih jeli dalam melihat gambar pemandangan itu. Di dalam gambar ada seorang berdiri, tapi tidak terlalu jelas. Namun Andri bisa mengambil mengambil kesimpulan bahwa yang dalam foto itu adalah dirinya sendiri. Pernah ia mengajak Nadira ke tempat ini untuk melihat matahari terbenam.