
"Hei, sedang apa hari ini?"
Lagi - lagi suara itu terdengar di kepalaku. Suara yang selalu terdengar ketika aku sedang gelisah dan resah. Suara yang awalnya kupikir adalah suara hatiku, entah mengapa semakin hari semakin terdengar berbeda. Suara itu tak lagi hanya menjawab kegelisahanku, tapi juga mulai tanpa kusadari memanggilku. Menegurku layaknya seorang teman.
"Kau siapa?" tanyaku.
"Aku adalah kamu. Kamu dan aku adalah satu," jawabnya.
"Kau suara hatiku, kan?" tanyaku dalam hati, seperti orang bodoh.
Suara itu tak menjawab dan hanya terkekeh ringan.
"Menyebalkan," gumamku.
"Hei, apa kau marah?" suara itu merespon gumamanku.
"Tidak," jawabku.
"Kau marah," ujarnya lagi.
"Berhenti membaca pikiranku," gumamku pelan.
Suara itu terkekeh lagi. "Itu karena apa yang kau pikirkan selalu tergambar dengan jelas di dalam kepalamu," ujarnya.
Perkataannya membuatku semakin kesal. Tapi sedikitnya itu membuktikan kalau suara itu adalah suara hatiku. Karena tak ada orang yang bisa membaca pikiran orang lain, bukan?
Namun ketika suara itu muncul di keesokan hari dan berkata, "Night...kau tak apa?". Aku kembali meragukan eksistensi dari suara itu.
"Aku tak apa - apa," aku berbohong.
"Benarkah?" tanyanya.
"Tentu," jawabku.
Suara itu terdiam beberapa saat, lalu berkata, "Baguslah kalau begitu."
Aku kemudian bertanya, "Tadi kau memanggil apa?"
"Night," jawabnya ringan.
"Kenapa?" tanyaku.
"Karena itu namamu kan?" ujarnya.
Aku terdiam sesaat. Itu jelas - jelas bukan namaku. Itu adalah nama karakter novel yang kutulis semasa SMP.
"Ya itu memang namaku," jawabku, mengiyakan. "Lalu siapa namamu?"
Kali ini gilirannya yang terdiam sesaat. "Terserah kau mau memanggilku apa," ujarnya.
"Kau tak punya nama?" tanyaku.
"Punya," jawabnya.
"Lalu kenapa menyuruhku memberi nama?" tanyaku lagi.
"Karena aku lebih suka begitu," jawabnya.
"Kau menyebalkan. Kuharap kau menghilang," ujarku.
"Hei! Jangan jahat begitu! Aku sudah lama menunggumu, jadi bisa tidak kau sedikit berbaik hati," ujarnya.
"Kau menungguku? Kenapa? Memangnya kau siapa?" tanyaku dengan nada yang skeptis.
Dia tampak berpikir sebentar, lalu berkata, "Sepertinya aku diperbolehkan memberitahumu ini."
"Apa itu?" tanyaku.
Dan aku dengan segala logika yang kumiliki di kepala mulai berpikir: 'Aku pasti sudah gila. Ini jelas - jelas tidak nyata.'
"Kau boleh percaya, boleh tidak," ujarnya lagi.
Dengan cepat aku memilih 'tidak percaya'. Namun, keadaan ini sangat menarik sehingga walau tak memilih untuk percaya, aku tetap memilih untuk mengikuti alur permainan ini.
"Kau serius?" tanyaku.
"Yup!" jawabnya ringan.
"Kalau begitu kenapa kau tak menemuiku langsung? Dan kenapa kau bisa berbicara denganku lewat pikiran?" tanyaku.
"Aku tak diijinkan mengatakan itu padamu," jawabnya.
"Siapa yang mengijinkan?" tanyaku, tak mau kalah.
"Tuhan," jawabnya, dan aku pun kalah telak.
Aku terdiam sesaat, lalu kembali bertanya, "Kau di mana sekarang?"
"Kalau kau mengikuti apa kata hatimu, terus mencintai apa yang sekarang kau cintai, dan tak berhenti mengejar mimpimu, kau akan tahu dengan sendirinya," jawabnya.
Aku mengernyitkan kening. "Kau ini manusia apa bukan?"
Dan suara itu pun tertawa dengan lantangnya, sampai aku dipaksa untuk menutup telinga walau sebenarnya aku tahu itu percuma.
"Apa yang akan kau lakukan kalau aku bilang aku ini iblis?" ujarnya.
"Aku akan membunuhmu," jawabku.
Dia terkejut. "Anak perempuan tak boleh mengatakan hal seperti 'ingin membunuh' dan sebagainya. Nanti tak akan ada pria yang mau mendekatimu," ujarnya kemudian.
Aku berpikir sejenak lalu menjawab, "Apa itu berarti kau rela membiarkanku didekati pria lain?"
Kali ini dia yang terdiam, dan aku dipaksa untuk menahan tawa.
"Walau kau cuma bercanda tapi itu tidak lucu," ujarnya. "Tapi kemudian, kurasa itu bukan hal yang patut ku khawatirkan."
"Kenapa? Mungkin kau tidak tahu, tapi aku ini sudah SMA dan begini - begini aku juga punya tipe laki - laki yang kusukai," ujarku.
"Aku tahu itu. Toh kita tak jauh beda," ujarnya. "Tapi aku yakin kau tak akan bisa serius menyukai mereka."
Aku mendadak kesal mendengar ucapannya. "Kenapa kau bisa yakin?"
Dia terkekeh. "Kau akan menyadarinya suatu saat nanti," ujarnya.
"Kalau aku mengikuti suara hati dan tetap mencintai apa yang kucintai?" tanyaku.
"Ya," ujarnya.
Aku kemudian berhenti bertanya dan mulai melanjutkan hidup seperti apa katanya. Terkadang ada saatnya di tengah kehidupanku yang tak berwarna, aku merasakan sedikit demi sedikit percikan warna - warni mulai muncul. Bagaikan membentuk sebuah jalan, warna samar - samar itu membimbingku menuju berbagai pertemuan yang membuatku tersadar akan banyak hal. Bahkan ada yang membuatku menemukan jalan menuju impian yang selama ini kupikir mustahil untuk diraih. Dan di saat - saat aku ragu dan resah, di saat aku mulai kehilangan arah dan melenceng dari jalan berwarna itu, suara itu datang sekali lagi. Memanggil namaku.
"Night, kau tak apa?"
Dan kali ini tak ada kebohongan lagi di dalam jawabanku.
"Ya, aku tak apa."
Sebab aku juga telah menyadari bahwa dengan mendengar suaranya semua keresahan itu hilang dalam sekejap.
"Baguslah kalau begitu," jawabnya. "Lalu apa yang terjadi hari ini?"
Aku tersenyum.
Dan sekali lagi telepati di antara dia dan aku kembali berlangsung.