
"Kenapa tidak membalas pesanku?" Pria tampan di samping Kanaya bertanya.
"Oh maaf ... aku sibuk." Kanaya menjawab santai.
Pria tampan teman dekat Kanaya mengerutkan kening, menyempatkan menoleh sekilas untuk melihat wajah Kanaya.
"Sibuk apa?" Pria itu bertanya lagi kemudian mengembalikan tatap ke depan karena ia sedang mengemudi.
"Liburan." Kanaya menjawab tanpa dosa.
Sudah pria itu duga kalau Kanaya akan menjawab demikian.
Pria itu mendengus kesal.
"Dua minggu sama sekali tidak ada kabar darimu, kamu membuat aku nyaris gila."
Kanaya menghadapkan wajah pada pria di sampingnya, kepalanya miring mengamati pria itu baik-baik.
"Apa?" Pria itu bertanya maksud dari tindakan Kanaya menatapnya begitu intens.
"Aku tidak melihat tanda-tanda awal sakit jiwa di diri kamu ... kamu bercukur, sepertinya juga kamu mandi sebelum bertemu denganku dan pakaianmu rapi ... tidak Dean, kamu tidak gila." Kanaya memberitahu hasil penelitiannya.
Dean berdecak lidah kesal disertai rotasi mata jengah.
"Bukan itu maksudku." Dean bergumam.
"Lantas apa?" Kanaya memfokuskan dirinya pada Dean, sengaja memposisikan duduknya menyerong.
"Seharusnya kamu balas setiap pesan aku, lalu kita video call—"
"Memangnya kita ini apa? Kita bukan pasangan kekasih dan aku tidak memiliki kewajiban untuk memberi kabar atau berbagi perasaan ku kepadamu."
Wajah Dean langsung pucat, jantungnya berdebar kencang padahal Kanaya mengatakannya dengan nada rendah.
"Kalau gitu ayo kita pacaran."
Dean meraih tangan Kanaya yang kemudian ditepis oleh sang gadis.
"Kita teman satu jurusan ... kita sahabat seperjuangan dari awal kuliah, jangan rusak persahabatan kita hanya karena roman picisan ...."
"Tapi kita pernah bercinta, kamu ingat?" Dean tidak terima perasaannya kepada Kanaya dianggap roman picisan.
Dean serius ingin menjalin kasih dengan Kanaya, ia jatuh cinta kepada Kanaya.
"Aku hanya ingat ketika aku bangun di pagi harinya ... waktu itu kita mabuk, Dean ... bukan masalah besar juga kalau kita pernah bercinta apalagi dalam keadaan tidak sadar, teman kita yang lain bercinta hanya untuk melampiaskan hasrat dan mereka tidak menjalin hubungan."
Kanaya sedang berusaha membuka pikiran Dean.
"Jadi hubungan kita ini friend With benefit?" Dean melirih.
"Tentu saja tidak, kita hanya melakukannya sekali dalam keadaan mabuk dan setelah itu kita tidak melakukannya lagi ... kamu sahabat aku, Dean ... aku hanya ingin menjadi sahabat kamu, tidak ingin lebih," tutur Kanaya lantang menegaskan.
Pandangannya ia alihkan ke depan begitu juga posisi duduknya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Lalu kenapa kamu begitu perhatian, kamu dekat dengan kedua orang tuaku, kamu yang menjagaku ketika sakit, kamu yang selalu menemani aku ... aku pikir kamu mencintai aku." Dean mengatakannya di dalam hati yang tengah terluka.
Semestinya ia tidak terlalu percaya diri dalam menghadapi Kanaya si Gemini.
Kanaya sebagai sahabat adalah pribadi yang menyenangkan.
Meski sikapnya dingin tapi itu hanya ditunjukan kepada orang di luar circle-nya.
Kanaya akan bersikap ramah dan hangat kepada segelintir orang yang ia percayai.
Jadi Kanaya membuat eksclusive orang-orang terdekatnya karena diperlakukan berbeda dengan dia memperlakukan orang lain.
Kanaya juga berwawasan luas, open minded dan seru walau terkadang manipulatif.
Tapi ketika seseorang menjatuhkan hati pada Kanaya si Gemini, orang itu semestinya langsung membuat appointment dengan psikiater atau psikolog karena ia sedang berurusan dengan setan.
***
"Halo Papa?" Princes menjawab panggilan telepon dari Arjuna-sang Papa.
"Kamu di mana? Berisik sekali." Di ujung panggilan sana Arjuna meninggikan suaranya.
"Lagi makan di Cafe." Princes menjawab singkat.
"Sama siapa?" Arjuna bertanya lagi.
"Sama Sean." Dengan santai Princes menjawab.
"Sean? Sean mana?" Andaikan Princes tahu, Arjuna sedang menunjukkan tampang curiga, khawatir dan was-awas saat ini.
"Sean Maverick ... klien bisnis Papa."
"Sean Maverick? Kok bisa kamu sama dia?" Ada nada tidak suka terdengar dalam kalimat Arjuna barusan.
Pasalnya Sean adalah seorang pria berusia tiga puluh tahun sedangkan Princes baru saja menginjak dua puluh tahun.
Saat ini Arjuna berpikir kalau Princes sedang menjalin kasih dengan Sean.
Tidak peduli Sean adalah rekan bisnisnya tapi apakah Sean tidak terlalu tua untuk Princes?
"Iya Sean Maverick ... sebentar, Papa ngomong aja sama orangnya."
Princes memberikan ponselnya kepada Sean.
Sean menerima ponsel dari Princes yang kemudian ia dekatkan ke telinga.
"Selamat malam tuan Folke." Sean menyapa ramah penuh percaya diri.
"Tuan Maverick, Apakabar?" Arjuna berbasa-basi.
"Baik Tuan ... dan dari suaranya saya menduga kalau Tuan juga pasti dalam keadaan baik."
Arjuna tertawa pelan menanggapi ucapan Sean barusan.
"Maaf Tuan, semestinya saya meminta ijin sebelum membawa Princes makan malam ... tapi kebetulan tadi kami bertemu di jalan ketika Princes hendak ke toko buku jadi saya antar dan sebelum pulang kami makan malam dulu." Sean menjelaskan kenapa ia bisa bersama Princes.
Tapi tetap saja tidak menjawab pertanyaan kenapa Sean bisa sedekat ini dengan Princes?
Sebenarnya itu maksud pertanyaan Arjuna karena yang Arjuna tahu—Sean dan Princes bertemu satu tahun yang lalu di sebuah pesta dan kenapa baru sekarang mereka dekat?
Apa sebenarnya selama ini mereka dekat tapi dirinya saja yang tidak tahu?
"Oh oke ... saya titip putri saya Tuan Maverick, tolong antarkan pulang tepat waktu."
Sean mendengar ketegasan dari kalimat perintah tersebut.
"Baik Tuan Folke, setelah makan malam kami akan langsung pulang.
"Oke ... Terimakasih Sean, boleh 'kan kalau saya panggil Sean saja?"
"Karena mungkin sebentar lagi aku akan menjadi keponakanmu," sambung Sean di dalam hati.
"Oke ... selamat malam Sean, pastikan Princes memakai baju hangat." Arjuna mengakhiri percakapan tersebut.
"Baik Tuan Folke," sahut Sean dan sambungan telepon terputus.
"Papa kamu kayanya sayang banget sama kamu." Sean mengembalikan ponsel pada Princes.
"Banget ... banget ... banget ... aku sampe pusing kalau Papa udah telepon, kaya diinterogasi."
Sean tertawa mendengar keluhan Princes.
"Kamu pergi ke toko buku sendirian aja?"
Princes menganggukan kepala. "Biasanya sama Eva."
"Siapa Eva?" Kening Sean berkerut.
"Evangeline Alterio, kakak sepupu aku." Princes menjawab dengan mulut penuh makanan.
"Alterio? Alterio menikah dengan Gunadhya?" Sean tampak terkejut.
Apalah artinya Maverick dibandingkan Alterio.
"Mampus kamu Sean." Sean mengumpat di dalam hati.
Sean sepertinya harus giat bekerja memenangkan tender untuk menambah profit perusahaan.
Princes mengangguk lagi, mulutnya masih mengunyah.
Sean menarik tissue dari atas meja kemudian tangannya terulur lebih jauh mendekati wajah Princes.
Pria itu membersihkan sudut bibir Princes yang terdapat saus.
Princes tertegun, ia baper lagi.
"Terus kenapa enggak minta anter sama Zyandru atau Kanaya?" pancing Sean untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan Kanaya hari ini.
"Zyan ketemuan sama teman-temannya kalau Kak Aya lagi ada teman deketnya ke Penthouse."
"Teman dekat? Pacar maksud kamu?" Sean menaikkan satu alisnya.
Princes menggelengkan kepala.
"Kak Aya enggak punya pacar dan enggak akan mau punya pacar, dia ingin hidup bebas tanpa ikatan."
"Lalu yang datang ke Penthouse? Itu siapa?" kejar Sean penuh rasa ingin tahu.
"Teman deketnya." Princes menjawab singkat.
"Cowok?" Satu pertanyaan selanjutnya Sean lontarkan.
"Iya cowok, Kak Aya jarang punya teman cewek ... suka berantem katanya kalau punya teman cewek, kaya sirik-sirikan gitu ... kak Aya paling benci drama."
Oke, Kanaya tidak suka memiliki ikatan dengan pria tapi memiliki teman dekat seorang pria.
Kepala Sean jadi pusing memikirkannya.
"Kamu tahu Friend With Benefit?"
Princes menganggukan kepalanya. "Tahu ... film 'kan? Yang pemainnya Justin Timberlake sama Mila Kunis?"
Sean tertawa, tangannya terulur mengusak kepala Princes.
"Kenapa?" Princes melongo bingung.
Jangan-jangan ia salah bicara.
Tidak ada yang salah, hanya saja Princes terlalu polos untuk mengerti kehidupan bebas New York.
"Maksud aku, apa mereka melakukan seperti yang ada di film itu?" Sean bertanya lagi.
"Making love, maksudnya?"
Sean menganggukan kepalanya cepat.
Ia bertanya bukan mempermasalahkan Kanaya pernah tidur dengan pria lain tapi apakah pria yang berada disekitarnya itu adalah kekasih Kanaya?
"Kalau itu enggak tahu ya, itu 'kan privasi ... lagian, kenapa kamu penasaran banget sama kak Aya?"
Princes mulai curiga.
Sean tertawa kering, ia ketahuan.
"Aku ingin mendekatinya ... sekarang, ceritakan apa yang dia suka dan enggak suka ... bagaimana cara agar aku bisa mendapat perhatiannya lalu apa saja yang ...."
Princes tertegun, telinganya mendengung tidak bisa lagi menangkap apa yang Sean katakan.
Dada Princes juga rasanya sesak, seperti ada yang retak di dalam sana.
Jadi, Sean tidak menyukaiku?
Jadi, Kak Aya yang disukai Sean?
Lalu kenapa Sean bersikap manis sama aku?
Menempelkan kepala ke kepalaku.
Bersandar di tubuhku.
Menggenggam tanganku.
Menjemputku di Bandara.
Mengatakan kalau aku cantik.
Mengantar ke toko buku dan mengajakku makan malam.
Mengelap noda saus di sudut bibirku.
Kenapa dia melakukan itu kalau tidak menyukaiku?
"Hey ... kamu melamun?" Sean menggerakan tangannya di depan wajah Princes membuat sang gadis tersadar kemudian mengerjapkan matanya yang telah basah.
Beruntung buliran kristal yang telah berkumpul di pelupuk mata mampu Princes tahan agar tidak luruh membasahi pipi.
"Jadi?" Sean bertanya.
"Ja-jadi apa?" Suara Princes tercekat.
"Apa kamu mau bantu aku agar bisa mendapatkan cinta Kanaya? Keren 'kan kalau aku jadi kakak sepupu kamu?" Sean bertanya dengan senyum penuh pesona di wajah tampannya.