
PERTEMUAN PERTAMA
PERPUSTAKAAN UMUM NEWYORK
Pesta pernikahan Keith Maverick dan Audrey Jackson.
Lidah Sean Maverick berdecak, menatap malas layar ponselnya yang berkedip menunjukkan foto seorang gadis cantik bernama Britney.
Terhitung sudah panggilan ke sepuluh yang gadis itu lakukan tapi Sean masih malas menjawab panggilan sang gadis.
Britney adalah anak dari klien Augusta Maverick-sang ayah yang tergila-gila padanya.
Beruntung gadis itu masih duduk di bangku sekolah menengah atas sehingga Charles Jhon-ayah Britney tidak mungkin menjodohkan sang putri dengan Sean.
Tinggal menunggu waktu sampai Augusta Maverick dan Charles Jhon menjodohkan Sean dengan Britney.
Sean akan bernasib sama seperti Keith-sang kakak yang menikah karena perjodohan.
Tapi beruntung bagi Keith dijodohkan dengan gadis cantik seorang Pengacara yang memiliki pembawaan kalem, anggun dan elegan tidak seperti Britney yang tingkahnya selalu membuat Sean sakit kepala.
Meski cantik tapi Britney bukan tipe gadis yang disukai Sean dan ia akan menolak perjodohan dengan Britney bagaimanapun alasannya.
Sean menyelinap ke pojok ballroom, ada sebuah stand minuman dan ia memilih menikmati pesta pernikahan Keith dan Audrey dari sini.
Netranya tanpa sengaja menangkap sosok Britney yang sedang celingukan mencarinya.
Tentu saja dia diundang ke pesta pernikahan sang kakak karena Charles Jhon-daddynya Britney adalah klien besar di perusahaan Augusta Maverick.
Sean refleks bangkit dari kursi, mengendap-ngendap keluar menuju pintu samping yang bisa mengantarkannya ke sebuah taman besar.
Ia akan bersembunyi sementara waktu di sana hingga Britney dan kedua orang tuanya pulang.
Sean melangkah panjang dan cepat menyusuri bagian sisi ruangan dengan sesekali menoleh ke belakang memastikan pelariannya ini tidak ketahui Britney.
Bugh!
Sean menabrak sesuatu karena tidak fokus melihat ke depan ketika melangkah.
"Ups!" seru seorang gadis, gaun bagian dadanya tersiram minuman dari gelas yang ia pegang karena Sean menabraknya.
"Sorry!" Sean berbisik, ia panik sampai mengusap dada sang gadis bermaksud menghilangkan noda.
"Cukup!" sentak suara gadis yang matanya menyalang itu dengan lantang membuat Sean semakin panik dan menutup mulut sang gadis dengan telapak tangannya.
"Jangan berisik!" Sean berbisik, menoleh ke belakang untuk mencari tahu apakah suara gadis mungil itu mendapat perhatian dari para tamu undangan dan Britney.
"Ikut aku," kata Sean seraya menarik tangan sang gadis melewati pintu setelah memastikan situasi aman dan Britney masih celingukan di sisi lain ruangan mencarinya.
"Dengar ... aku minta maaf, aku tidak sengaja." Sean memegang lengan gadis yang masih menunjukkan ekspresi berang.
"Maaf untuk yang mana? Yang menabrak aku hingga gaun aku hancur seperti ini atau karena telah menyentuh dadaku?" Kalimat pertanyaan dalam bentuk sindiran itu membuat Sean menaikkan kedua alisnya bingung.
Butuh waktu tiga detik hingga ia sadar jika tadi telah lancang menyentuh dada bagian atas gadis itu karena panik.
Sean memijat pelipisnya bersama pejaman mata erat.
"Aku minta maaf untuk dua-duanya ... aku tidak sengaja."
"Sean!" panggil Britney dari belakang pintu.
Sontak Sean menarik tangan gadis itu untuk bersembunyi di balik pilar.
Jantungnya berdetak kencang tidak karuan, tanpa sadar untuk yang kedua kali telah berbuat lancang dengan mendekap tubuh gadis yang ketumpahan minuman itu agar Britney tidak menemukan mereka.
Mata sang gadis membulat, kedua tangannya terkepal di depan dada Sean lalu memberikan dorongan tapi Sean menahannya.
"Sssttt!" desis Sean, menatap sang gadis penuh peringatan.
"Seaaan, kamu di mana?" Britney mendesah panjang.
Sementara gadis yang sedang Sean peluk itu tenggelam di dada Sean yang bidang.
Tidak bisa bergerak karena Sean menguncinya dengan pelukan.
Sean melepaskan gadis itu setelah memastikan Britney masuk kembali ke dalam venue.
"Sorry, sampai mana kita tadi?"
Plak!
Sean merasakan pipinya perih, gadis itu menamparnya.
"Apa-apaan kamu?" Pria itu malah bertanya dengan ekspresi tidak terima.
"Pertama ... kamu menabrakku ... menumpahkan minuman ke gaunku, kedua kamu memegang dadaku dengan sangat kurangajar dan ketiga kamu memelukku tanpa ijin." Sang gadis langsung menjawab dengan napas memburu berselubung emosi.
"Aku minta maaf, aku sedang melarikan diri dari seorang gadis yang tergila-gila denganku dan aku harus memastikan dia tidak melihat kita, itu kenapa aku ... memelukmu, itu refleks ... maaf." Sean meringis, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dasar brengsek!" umpat sang gadis sambil melengos.
"Tunggu!" sergah Sean mencekal pergelangan tangan sang gadis.
"Princes!" Suara berat seorang pria membuat sang gadis urung mengumpati Sean.
"Papa!" Gadis bernama Shamika Princes itu bergumam saat melihat sosok papanya mendekat.
"Tuan Folke?" Sean menyapa dengan nada tidak percaya karena klien di perusahaannya ternyata ayah dari gadis yang baru saja menamparnya.
"Tuan Maverick!" Arjuna Bernard Folke balas menyapa.
Raut wajah pria itu terlihat bingung melihat sang putri sedang berduaan bersama klien bisnisnya.
"Papa kenal sama ...." Shamika Princes, putri pertama Arjuna Bernard Folke pengusaha IT dari Jerman—menunjuk Sean dan papanya bergantian dengan ekspresi tidak percaya.
"Tuan Maverick ini klien bisnis Papa ...." Arjuna Folke menerangkan, tampak senyum sarat makna tercetak di wajahnya yang tampan.
"Anda sudah mengenal putri saya Tuan Maverick?" Arjuna melirik tangan Sean yang sedang mencekal tangan Princes.
"Ah maaf ... Tuan Folke, saya minta maaf ... tadi saya tidak sengaja menabrak putri Anda dan menumpahkan minuman ke gaunnya tapi saya akan bertanggung jawab, di sebelah gedung ini ada butik ... bagaimana kalau saya ganti gaun putri Anda dengan yang baru?"
Arjuna Folke menoleh pada putrinya yang masih memberengut karena kesal.
"Bagaimana Princes, kamu mau?" Arjuna Folke mengembalikan tawaran tersebut kepada Princes.
Princess menatap Sean kesal. "Tentu saja dia harus bertanggung jawab, Papa."
"Aku akan memilih gaun yang sangat mahal, biar kamu tahu rasa," ujar Princes di dalam hati.
"Baiklah kalau begitu Tuan Folke, saya bawa putri Anda sebentar ... tenang saja, saya akan menjaganya dengan nyawa saya."
Sean memang berlebihan, ia mengatakan hal tersebut hanya karena tidak enak hati mengetahui gadis yang telah ia lecehkan secara tidak sengaja dengan cara memegang dada dan memeluknya itu adalah putri klien bisnisnya.
Ia harus membungkam mulut Shamika Princes agar tidak mengadu kepada papanya.
Semoga saja gadis itu seperti para kekasihnya yang bisa disogok menggunakan barang- barang bermerk.
Arjuna Folke tertawa kemudian mengangguk, pria yang masih tampan di usia paruh baya itu bergerak merapat ke dinding untuk memberi jalan kepada putrinya dan Sean.
"Tunggu Princes ya, Pa ...."
"Ya sayang."
Sean kembali memegang pergelangan tangan Princess, menuntun gadis itu menuju pintu keluar lain yang penting tidak melewati venue karena mungkin Britney masih ada di sana.
"Lepasin ih, enggak usah pegang-pegang juga." Princess menghela tangan Sean kasar.
Princes menggunakan bahasa Indonesia, bahasa dari tanah kelahiran sang Mama-Kejora Gunadhya.
Langkah Sean terhenti seketika, pria itu menoleh dramatis keningnya mengkerut dalam.
"Bahasa apa itu?"
"Kamu tidak akan mengerti," ketus Princes, memalingkan wajah, menarik langkah panjang melewati Sean dengan ekspresi judes.
Sean merotasi matanya jengah tapi tak ayal menyusul Princes yang sudah beberapa langkah di depan.
PERTEMUAN KEDUA
DIAN BALLROOM, HOTEL RAFFLES JAKARTA
Baby Shower putri pertama Kenzo Maverick.
Sean memisahkan diri dari keluarganya, tadi ia pamit untuk mencari minuman.
Sesungguhnya bukan minuman yang Sean cari tapi seorang gadis.
Sean sudah belajar bahasa Indonesia selama setahun, ia sangat bertekad mendapat istri seorang wanita asli Indonesia.
Ia jatuh cinta pada kecantikan wanita Indonesia setelah bertemu Jillian dan Laura meski mereka adalah blasteran.
Sekedar memberitau, Jillian adalah istri dari Kenzo Maverick-adik tiri Sean dan Laura adalah ibu tiri Sean.
Augusta Maverick menikahi Laura-cinta sejatinya tahun lalu.
Sean ingin anak-anaknya secantik Laura dan Jillian bila nanti ia menikahi wanita Indonesia.
Satu gelas minuman berada di genggaman Sean, pria itu berjalan pelan sendirian mengitari venue dengan matanya bergerilya mencari mangsa.
Bugh!
"Yaaaah ...." Seorang gadis mengesah.
Sean menabrak gadis itu dan menumpahkan minuman di bagian dada sang gadis karena keteledorannya.
"Maaf ... aku tidak sengaja," kata Sean menggunakan bahasa Indonesia, pria itu refleks mengusap dada sang gadis yang terkena tumpahan minuman dari gelas miliknya.
Gadis itu mendongak, menatap Sean tajam penuh amarah dan kebencian setelah menghela kasar tangan Sean dari dadanya.
Tunggu, sepertinya Sean pernah mendapat tatapan itu sebelumnya.
Tapi kapan?
Dan di mana?
"Kamu?" Gadis itu menunjuk Sean, bola matanya seperti berapi dan tampaknya sebentar lagi mulutnya juga akan mengeluarkan api menyembur Sean.
Sean ingat sekarang, gadis itu adalah putri dari klien bisnisnya.
Setahun lalu ia pernah menumpahkan minuman juga ke dada gadis itu.
"Kam—emmmpph."
Sean membekap mulut gadis itu menggunakan tangan yang merangkul pundaknya.
Sean menyeret Shamika Princes ke luar Ballroom.
Tubuh Princes yang jauh lebih kecil membuatnya kesulitan meronta dari kungkungan Sean yang sekarang setengah mengangkat tubuh Princes agar mereka bisa secepatnya berada di luar sebelum tuan Folke melihat mereka.
Apa yang harus Sean katakan kepada klien bisnisnya?
Dua kali sudah ia menumpahkan minuman di gaun putri beliau.
"kamu mau ngapain?" bentak Princes ketika mereka sudah berada di luar Ballroom.
"Aku minta maaf, tolong jangan marah apalagi mengadu kepada tuan Folke ... aku benar-benar tidak sengaja." Sean memohon dan baru Princes sadari kalau pria bule itu fasih berbahasa Indonesia.
"Dua kali kamu menumpahkan minuman di dadaku." Princes mengangkat dua jarinya, menatap nyalang Sean yang terlihat cemas, terus-terusan melihat ke belakang.
Sean berpikir kalau tuan Folke bersama Princes datang ke pesta ini.
Dan ia ingin tahu kenapa kliennya itu bisa berada di pesta ini.
"Aku akan ganti ... aku lihat di loby hotel ini ada butik, ayo aku antar kamu ke sana."
Princes melirik arloji di tangannya, pesta sebentar lagi akan berakhir tapi ia juga tidak mungkin menggunakan gaun berlumur minuman apalagi warnanya merah sangat kontras dengan gaunnya yang berwarna broken white.
"Ya udah ... sana duluan jalan!" seru Princes ketus.
"Oke ... aku akan jalan duluan." Sean melangkah lebih dulu diikuti Princes tapi tiba-tiba berhenti sehingga Princes menabrak punggungnya.
"Kenapa berhenti?" Princes mengerang, matanya melotot, kedua tangannya terkepal di sisi tubuh.
Gadis cantik itu seakan ingin menelan Sean hidup-hidup.
"Aku minta maaf lagi, dan ini ...." Sean membuka jasnya lalu menutupi bagian dada Princes.
Tangan Princes yang tadi mengusap bagian kening kini beralih menarik jas Sean yang nyaris melorot.
Sean menggantikan tangan Princes, mengusap keningnya.
"Sakit? Maaf lagi ya?" Sean meringis.
Pria itu mencondongkan kepalanya mendekati wajah Princes.
Princes terlalu lambat menghindar hingga ia merasakan sebuah tiupan di kening.
Gadis itu pun membeku sesaat.
"Ayo ...," kata Sean menarik tangan Princes.
Jantungnya berdetak kencang, Shamika jadi bingung karena debaran ini rasanya bukan diakibatkan oleh kesal melainkan ada sebuah perasaan asing yang ia sendiri tidak tahu apa namanya.
Yang pasti mampu meredam segala amarahnya kepada Sean.
"Kamu ... kenapa bisa ada di pesta Kenzo?" Sean akhirnya bertanya setelah melihat Princes lebih tenang karena sedang memilih gaun baru.
"Kamu sendiri kenapa ada di pesta pak Kenzo?" Princes malah balik bertanya, matanya fokus memindai setiap gaun yang digantung rapih seiring kakinya yang terus melangkah pelan menyusuri lorong demi lorong.
"Kenzo adikku ...."
Princes langsung berbalik menatap Sean dengan kerutan di kening.
"Dia anak dari ayahku tapi beda ibu." Sean menjelaskan.
Princes hanya menanggapi dengan membentuk mulutnya seperti huruf O.
Memutar tubuhnya dan kembali memilih gaun.
"Hey ... kamu belum menjawab pertanyaanku, kenapa bisa diundang di pesta ini?"
"Aku menemani sepupuku ... pura-pura jadi kekasihnya karena mantan tunangannya juga diundang ke pesta ini." Princes menjawab santai, masih sibuk memilih gaun.
"Jadi, tuan Folke tidak di sini?"
"Enggak ... papa di Jerman ... aku lagi liburan di sini."
"Syukurlaaaah, dan tolong jangan beritau papamu." Sean memohon.
"Jangan beritau yang mana? Yang menumpahkan minuman atau memegang dadaku?" Princes bersarkasme.
"Sekali lagi aku minta maaf atas dua-duanya dan tolong jangan beritau papamu dua hal itu."
"Hem." Princes merotasi bola mata.
"Aku mau yang ini ...." Princes mengangkat satu gaun di tangan kanannya.
"Tapi aku juga suka yang ini." Princes mengangkat gaun lain di tangan kirinya.
"Tapi yang dipakai manekin itu juga bagus." Princes mengendik ke arah manekin membuat Sean ikut menoleh ke sana.
"Aku bingung pilih yang mana." Princes mengerutkan wajahnya.
Sean yang sudah mengembalikan tatapan pada Princes mendapati mata indah gadis itu seolah berkata 'aku ingin ketiganya'.
Pria itu pun menghela napas. "Ambillah ketiganya."
"Yeaaaay, Terimakasih ... aku tidak akan mengatakannya kepada papa tapi aku ingin sepatu heels itu ... itu dan itu juga dan tas itu ... aku belum punya yang warna navy."
Princes menunjuk tiga heels sekaligus dan tas produksi dalam Negri yang terkenal hingga manca negara dan sudah tentu harganya juga fantastis.
"Hey ... kamu mau merapokku atau apa?"
Princes tersenyum sangat manis lalu melengos meminta pelayan membungkus belanjaannya dan memberi tahu kasir agar memberikan tagihannya kepada Sean.
"Hey ... emmm ...." Sean mengejar Princes yang sudah keluar dari butik dengan pakaian baru dan tangan penuh paperbag.
Sean lupa nama gadis itu. "Nona Folke."
Akhirnya Sean memanggil Princes menggunakan marga sang gadis.
"Apa?" Princes hanya menoleh sekilas tanpa menghentikan langkahnya.
Sangat tidak tahu diri sekali padahal sebanyak puluhan juta Sean menghabiskan uangnya untuk Shamika.
"Bagaimana aku harus memanggilmu?"
"Kamu baru saja memanggilku."
"Tunggu sebentar." Sean mencekal tangan Princes.
Princes akhirnya menghentikan langkah.
"Siapa namamu?" Sean bertanya lagi.
"Untuk apa? Kamu hanya klien papa dan kita tidak akan bertemu lagi."
Princes menghela tangan Sean.
"Semoga kita tidak bertemu lagi." Princes melangkah cepat memasuki sebuah lift yang pintunya terbuka.
"Hey ... tunggu!" Sean tidak berhasil menyusul, pintu lift telah tertutup membawa Princes entah ke mana karena Sean yakin gadis itu tidak akan kembali ke Ballroom.
Di dalam lift, Princes tersenyum sendiri. "Sekali ... dua kali bisa dikatakan kebetulan tapi kalau sampai terjadi tiga kali, itu berarti takdir dan berarti kamu jodohku." Princes bergumam bersama sisa senyum di bibirnya.
Author Note :
Gheeeenks, Erna Azura di MangaToon yeaaay ...
Di sini 'kan gratis ya...
Sok atuh di like kalau udah baca setiap chapternya terus komen sebanyak-banyaknya atau cukup ketik ❤️ ❤️❤️ kalau bingung mau komen apa.
Terimakasih dan selamat membaca 😘