SINGLE MOMY

SINGLE MOMY
6. Penolakan



Aku sungguh tercengang dengan apa yang di lakukan Aulia sepertinya itu sudah di luar batas tapi aku tidak bisa memungkiri dan menolak rasa nyaman yang dia berikan padaku.


"Tuhan apa yang harus aku lakukan, tolong kuatkan aku ya Allah". Ucapku dalam hati


Aulia hanya diam dan terus memegangi tangan ku tanpa berkata satu kata pun, Aku enggak tahu apa yang ada di pikiran nya sekarang ini tapi yang aku tahu saat ini kami hanya sedang menikmati kenyamanan ini.


" Em .. Udah bisa belum kita jalan, soalnya hujan tambah deras kayaknya?" Ucapku memberanikan diri berkata terlebih dahulu.


" Belum". Ucap Aulia sambil mengangkat tangan ku yang dia pegang terus mengarah ke bibir nya. Sontak aku langsung menepis dan melepaskan tangan ku dari genggaman nya.


Aulia pun kaget dan langsung memandangi ku sementara aku diam dengan rasa canggung yang menyeruak di hatiku.


" Kamu kenapa sih? ini enggak bener Aulia?" Ucapku kepada Aulia dengan nada membentak.


" Emang kenapa sih? Lo juga nyaman kan?". Ucap Aulia terlihat kesal


" Nyaman? maksud Lo apa? " Ucapku menggertak


" Udah lah nikmatin aja rasa nyaman ini enggak usah banyak bicara dan baper". Ucap Aulia.


Perkataan Aulia seakan menjadi tamparan buat ku, Aku terdiam sambil menunduk tanpa aku sadari air mataku mengalir di sudut mata. Perkataan laki-laki yang sudah ku anggap adik itu membuat ku sadar akan siapa diriku sebenarnya tapi itu terlalu mengiris hatiku perkataan nya sangat ringan namun begitu tajam menusuk hatiku.


" Kak, Kamu nangis? Kak maaf aku tidak bermaksud. Aku...". ucap Aulia sembari memegang pipi ku yang berlinang air mata.


" Sudah cukup". kata ku sembari menepis tangan Aulia


Aku terus terdiam tanpa berkata apapun walaupun dia terus bertanya dan minta maaf aku tetap diam tak menggubris perkataan nya karena aku begitu sakit hati.


" Gue hanya ingin pulang". ucapku


Tetapi perkataan tidak membuat Aulia menjalankan mobil nya dia hanya duduk dan terus uring-uringan sambil minta maaf.


" Gue mau pulang, Apa Lo tuli?". Ucapku membentak Aulia


" Iya kak kita pulang ya tapi maafin aku dulu kalau aku salah bicara". Ucap Aulia memohon


Aku terdiam dan menatap Aulia dengan penuh emosi seakan ingin memakan Aulia rasa kesal terpancar di mataku jika ingat perkataan nya yang membuat ku merasa seperti sampah di matanya


" Mau Lo apa sekarang?". Ucapku sambil terus menatap nya


" Aku...aku..." jawab Aulia terbata-bata


" Sudah cukup Lo rendah in gue ya, Lo pikir gue cewek apaan bisa Lo rendah in gitu hah!" Ucapku kembali dengan lantang


" Ya Allah, enggak ada aku rendah in kamu kak, sumpah". Ucapnya mengacungkan kedua jari nya.


" Apa ! Enggak ada? terus tadi Lo bilang apa? Lo pikir kata-kata Lo bagus? Lo pikir karena gue diem aja nyaman sama Lo? Lo pikir gue cewek murahan? meskipun gue janda tapi gue masih punya harga diri. ngerti Lo " Ucapku mengeluarkan isi hati ku sembari menitikkan air mata.


Aulia hanya terdiam menunduk tanpa berkata apapun mungkin dia lagi mencerna semua perkataan ku tapi tiba-tiba dia langsung memelukku dengan erat meski aku memberontak tapi kekuatan nya membuatku tidak bertenaga untuk melawannya akhirnya aku hanya terdiam dan menangis.


" Lepasin gue, gue benci sama Lo ". ucapku sambil menangis.


Tapi Aulia tidak menggubris perkataan ku dia semakin kuat memelukku sampai aku kehabisan kata-kata di buat nya.


" Maafin aku ya, Aku tidak bermaksud membuat kamu sakit hati, aku hanya tidak tahu apa yang harus aku katakan". Ucap Aulia dengan lembut.


Aku tidak menjawab aku hanya terdiam lemas entah apa yang ada di pikiran ku sekarang dan situasi seperti ini harusnya membuatku marah tapi rasa marah ku terhalang oleh kata-kata lembut yang keluar dari mulut Aulia. Setelah tenang Aulia mulai melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di pipiku.


" Ayok kita pulang". Ucap Aulia dengan lembut.


Aku hanya bisa mengangguk mendengar perkataan nya tatapan Aulia pada ku membuat aku tidak dapat berkata apa-apa dan sekali lagi dia mencium tangan ku dan berkata


" Gue merasa nyaman dekat Lo kak, ini mungkin tidak wajar dan enggak masuk akal tapi itu yang gue rasain sekarang, soal perkataan gue tadi gue minta maaf tapi gue enggak bermaksud merendahkan Lo, sumpah". ucap Aulia panjang lebar.


Aku terperangah mendengar penjelasan junior ku ini seakan tidak percaya dia mengatakan itu padaku.


Aulia pun mulai menjalankan mobil nya dan menuju ke rumah ku, Namun sepanjang jalan menuju rumah aku hanya terdiam mencoba mencerna perkataan Aulia barusan yang mulai membuat hati resah dan tidak dapat berpikir dengan jernih.


Sepuluh menit perjalanan akhirnya aku sampai di rumah dan bertemu dengan ke dua anak dan orang tua ku. Aku sungguh sangat merindukan mereka setibanya di depan rumah aku di sambut hangat oleh mereka kemudian aku langsung memeluk dan menciumi kedua anakku sementara Aulia hanya berdiri sambil tersenyum melihat ku dan anak-anak.


" Barang-barang nya sudah aku keluarin kak, aku taruh di sini ya". Ucap Aulia sambil meletakkan barang-barang ku di teras rumah.


" Em... makasii". Ucapku ketus


Aulia pun meletakan satu persatu barang ku ke teras dan setelah itu Aulia langsung pamit untuk pulang, Aku melihat mobil Aulia yang melaju kencang terus dan terus sampai tidak terlihat oleh pandangan ku kemudian setelah itu aku langsung masuk dan mulai bercengkrama dengan anak dan orang tua ku banyak hal yang aku ceritakan kepada mereka baik itu yang lucu ataupun yang serius.


***********


Malam hari nya pada saat mau tidur aku baru ingat sedari tadi aku tidak memegang ponsel ku. Aku mencari ponsel ku di tas dan pada saat aku buka ternyata sudah banyak WA dan panggilan tidak terjawab dan yang paling banyak itu dari Aulia.


Saat aku baca pesan dari Aulia dan berencana untuk membalas pesan singkat itu tapi tiba-tiba muncul panggilan itu tidak lain dari Aulia.


" Hallo kak" Ucapnya di seberang telfon sana


" Iya hallo. Ada apa?". Ucapku masih ketus


" Kamu dari mana aja sih? Aku dari tadi telfon kamu kak" Ucapnya terdengar seperti khawatir


" Gue tadi tidur in anak gue maklum lah mereka kangen ". Ucap ku ketus


" Oh ya sudah lah, Aku kangen kamu kak". Ucap Aulia sambil tertawa kecil


" Apaan sih. Udah ah gue mau tidur ngantuk". Ucapku sembari mematikan ponsel.


Dretttttt Dretttttt


Tiba-tiba ponsel ku berbunyi lagi dan itu masih panggilan dari Aulia.


" Apa lagi? Gue mau istirahat Aulia". Ucapku kesel


" Iya iya kak istirahat lah, See you ". Ucapnya sembari mematikan ponsel nya. .


Aku heran dengan sikap Aulia dan itu jadi pertanyaan besar bagi ku apakah benar Aulia suka pada ku.


" Aggggrrrrrrr..... apaan sih. Gak mungkin Aulia anak ingusan itu suka sama gue, enggak mungkin banget". Ucapku menggerutu sendirian.


Keesokan harinya pada saat aku terbangun dan melihat ponsel ku sudah banyak sekali panggilan yaitu dari Aulia dan satu pesan WhatsApp


" Kak aku mau makan di tempat mu. tunggu aku ya" Tulis nya di pesan WhatsApp.


Aku terperanjat dan mengintip dari pintu kamar ku ternyata benar Aulia sudah nongkrong di teras rumah ku sambil makan nasi uduk Karena memang mama jualan nasi uduk semenjak aku melanjutkan kuliah katanya untuk membantu keuangan keluarga.


Aku buru-buru ke kamar mandi dan membersihkan badan setelah itu aku berdandan sedikit memakai alis dan lipstik.


" Ih apaasin gue ngapain mesti dandan segala sih kan ketemu sama Aulia doang". Fikirku dalam hati


Aku menoleh ke kamar tidur ku semetara anak-anak ku masih terlelap aku pun segera keluar menemui Aulia dan bersikap selayaknya seorang teman atau seorang kakak seperti biasa. Aku tidak ingin memperlihatkan kecanggungan ku terhadap nya biar suasana seperti dulu tidak ada perasaan canggung.


" Hai. Pagi-pagi dah Makan aja lu ya". Ucap ku sambil memukul lengan Aulia


" Iya dong. bukan makan tapi sarapan". Jawabnya sambil bercanda.


" Minum nya mau apa?". Ucapku sembari menghampiri Aulia


" Apa aja aku mau". Ucap nya sambil meringis manja


" Mau gue bawain air got". Ucapku ketus


" Hahahahahaha". Aulia tertawa sampai hampir tersendat


Aku bawakan air hangat untuk Aulia setelah itu aku duduk di dekatnya tanpa berkata sepatah katapun.


" Makasi ya ". Ucapnya sambil berbisik


Sontak aku langsung menudungkan kepala Aulia sambil menatap Aulia penuh dengan kekesalan.


" Kenapa sih". Ucap Aulia sambil tersenyum lepas


" Lagian pake bisik-bisik segala, geli tau". Ucapku kegelian


Aulia hanya tertawa sambil melanjutkan sarapannya dan setelah selesai Aulia langsung mengambil sebungkus rokok di mobil nya dan menyeruputnya dengan santai.


Pada saat pembeli ramai aku langsung bergegas membantu mama menyiapkan nadi uduk sementara Aulia masih merokok dengan santai sambil menunggu ku dan setelah selesai aku pun kembali duduk dekat Aulia.


" Cepet banget di hitung. Lo ngusir gue?". Ucapnya masih tersenyum


" Ya emang Lo enggak mau pulang?" Ucapku acuh tak acuh


" Masih mau di sini kakak". Ucapnya manja


Aku menghela nafas panjang tanpa berkata apapun namun sontak Aulia mendekat pada ku dan berkata dengan pelan


" Aku udah mikir-mikir tadi malam". Ucapnya sayu


" Apa?". Ucapku bingung


Aulia hanya tersenyum tanpa berkata apapun dan menyodorkan uang 50 ribu kemudian dia pamit pulang.


" Eh ini kembaliannya". Ucapku berteriak


" Kasih sama si Dede". Ucapnya sambil melambaikan tangan


Setelah Aulia pergi aku sedikit kebingungan dengan perkataan terakhirnya tapi aku masih berfikir positif dan tidak mau berfikir aneh-aneh.


*****************


Dua Minggu telah berlalu setelah puas berkumpul dengan keluarga akhirnya aku pun harus melanjutkan kuliah ku. Tapi kali ini ada rasa yang tidak nyaman seperti malas sekali untuk kembali kuliah tidak seperti sebelum nya namun aku harus kuat dan tegar karena kuliah ini adalah satu-satu nya masa depan ku agar aku bisa bekerja dan mengahasilkan uang untuk keluarga ku.


Sesaat muncul kembali semangat walau pun sangat kecil karena demi anak dan keluarga aku harus tetap semangat apapun halangan rintangan nya aku harus terus hadapi.


" Bismillah". ucapku dalam hati


Setelah packing selesai aku merebahkan badanku di dekat anakku yang sudah tertidur pulas.


Pukul 5 WIB aku terbangun karena suara alarm yang aku buat. Setelah mengikat rambut aku pun pergi ke kamar mandi mengambil wudhu dan langsung menjalankan shalat shubuh kemudian langsung mengaji beberapa ayat pendek.


setelah melakukan aktivitas ibadah aku kembali ke kamar dan melihat ponsel ku yang ternyata ada sebuah pesan dan beberapa panggilan yang tidak lain adalah dari Aulia. Pesan itu hanya ku baca saja dan setelah itu aku hapus tanpa memperdulikan isi dari pesan Aulia kemudian aku pun langsung menyiapkan sarapan.


Setelah aku mempersiapkan semuanya aku pun membersihkan diriku dan berdandan sembari melirik ponsel ku yang terus terusan bergetar tak lain dan tak bukan adalah dari aulia.


"Apa sih". Ucapku dengan nada kesal


Setelah semua nya beres aku pun pamit untuk kepada semua anggota keluarga ku terutama kepada anakku.


"Abang jangan nakal ya jagain adek, Nanti kalau pulang mama bawain oleh-oleh ya". Ucapku sembari memeluk kedua anakku.


"Iya mama sayang". Ucap anak ku yang paling besar


Setelah selesai bercengkrama aku pun pergi di antarkan ayahku ke stasiun dan aku pergi menggunakan bus. Aku memang sengaja pergi agak cepat demi menghindari Aulia.


2 jam perjalanan akhirnya aku pun sampai di tempat studi ku terlihat beberapa teman dan juga Aulia sudah sampai di sana tanpa melihat Aulia aku langsung bersapaan dengan teman lainnya.


"Hai semuanya maaf ya terlambat tadi bus nya agak macet". ucapku sembari tersenyum


"Enggak apa-apa Kaka, santuy". Ucap salah satu dari mereka


seketika Aulia langsung menghampiri ku tanpa berkata apapun dia mengangkat barangku dan dimasukan ke mobil nya.


"Eh, apaan sih, kenapa barang ku di tarik di mobil". Kataku sembari menyusul Aulia yang tak berkata sedikit pun.


"Kak, kita pindah lokasi tidak di sini". Ucap Salah satu anggota tim


"Lah kenapa?". Tanyaku bingung


"Kegiatan kita tetap di sini tapi asrama kita pindah, soalnya sudah ada penghuni kak". jawab nya


"Oh". Jawabku menarik nafas panjang.


Dan mau tak tidak mau aku harus ikut dengan mobil Aulia karena barang-barang ku ada di sana dan memang mobil Aulia yang masih kosong. Saat akan pergi aku sengaja berdiri paling belakang menghindari agar aku tidak duduk di depan dan pada saat Sila ingin duduk di depan Aulia langsung menutup pintu mobil nya.


"Gue di depan ya". Ucap nya sembari membuka pintu mobil.


"di depan bukan tempat elo". Ucap Aulia sambil menutup pintu mobil.


"Ayo kak". Ajak Aulia memberikan tangannya padaku


"Em.. enggak usah sila aja di depan". Ucapku menolak


"Cepatlah". Ucap Aulia dengan sedikit memaksa.


Karena mata semua orang tertuju padaku akhirnya aku pun dengan berat hati masuk dan duduk di sebelah Aulia dengan senyum tipis Aulia segera menjalankan mobilnya.


suasana hening di atas mobil sangat terasa padahal banyak orang disana yang masih menatap curiga kepada kami berdua tapi Aulia masih tetap santai dan terus menerus tersenyum menandakan kepuasan.


Tak berselang lama akhirnya sampai di tempat tujuan akhir yaitu asrama atau penginapan selama studi. Aku buru-buru keluar dan langsung mengambil barang-barang ku dan masuk ke asrama. Perasaan tak menentu menyelimuti hati ku dan entah bagaimana caranya menghindari Aulia yang semakin aku menghindar semakin Aulia mengejar.


"Aduh, gue pusing banget ah". Hardik ku sambil menggaruk kepala ku yang tak gatal


"Astaghfirullah...". Sontak aku terkejut melihat sesosok ada disamping yang tak lain adalah Aulia dan entah dari kapan dia berada disana bagaikan hantu sampai nafasnya pun tak terdengar.


"Gila kali Lo ya. kaget gue". Ucapku sambil menahan kaget


"hahahahaha... maaf kak, Lagian dari tadi ngelamun aja sampai aku Dateng aja enggak tahu padahal tadi aku panggil loh". Ucap Aulia sambil tertawa melihat aku kaget


"Ah, bokis banget". Teriakku kesal dan langsung berdiri akan masuk ke dalam rumah tapi tangan Aulia dengan cepat menangkap tangan ku.


"Mau kemana,sayang". Ucapnya membuat aku semakin tidak nyaman


"Ih, Lo ngomong apaan sih. cukup ya Aul". Ucapku menepiskan genggaman Aulia tapi tangannya lebih kuat memegang tanganku sehingga sedikit susah untuk melepaskan nya. Akhirnya aku mengalah dan duduk di samping Aulia dengan pasrah.


"Lo kenapa sih? Lo mau bikin gue baper dan habis tuh Lo jadiin gue bahan candaan kah?". Ucapku langsung ke inti nya


"Hah?. Lirih Aulia


"Iya, kenapa sikap Lo seakan-akan suka sama gue? itu buat gue enggak nyaman". Ucapku dengan penuh emosi.


"Sikap Lo kayak gini buat gue ilfeel, Lo tau dari dulu gue anggap Lo itu adek gue dengan segala kedekatan kita tapi dengan sikap Lo kayak gini gue enggak nyaman Aul". Ucapku semakin emosi.


"Lo lihat semua orang temen-temen kita melihat gue sebelah mata, berbisik-bisik, bergosip bla bla gue...".


"Udah kak, kamu bisa jangan berisik dulu". Bantah Aulia sembari menatap ku dengan tatapan kosong. Aku tertunduk dan air mataku jatuh tanpa aku sadari.


"kak, aku minta maaf kalau tingkah ku membuat kamu enggak nyaman,tapi aku tidak ada niatan jahat kak tapi aku memang nyaman". Ucap Aulia menunduk dengan mimik wajah sedih


"Aku suka sama Kaka, iya mungkin itu yang aku rasain sekarang tapi apakah itu salah". Lirih Aulia


"Memang kenapa kalau kamu janda? apakah adik kamu ini salah jika suka sama kamu? kita tidak ada hubungan darah kan? apakah itu tidak wajar? atau usia? kenapa dengan usia? Hah..". ucap Aulia. Mata ku tiba-tiba membelalak mendengar ucapan Aulia yang terlihat tulus, serius dan penuh emosi.


Setelah beberapa saat terdiam dengan perasaan bercampur aduk aku pun membalas perkataan Aulia.


"Aul..tidak ada yang salah dengan semua yang Lo rasain tapi keadaan yang membuat kita tidak bisa seperti yang kamu inginkan". Ucapku sambil memegang pundak Aulia.


"Kenapa? karena aku masih muda?". Jawab Aulia dengan mata berkaca-kaca. Aku terdiam kembali menatap mata Aulia yang begitu tulus.


"Bukan Aul, tapi...". Ucapku langsung di potong Aulia


"Tapi apa? tapi karena gue masih muda? gue enggak pantes sama elo? gitu? hah.." ucap Aulia sedikit emosi dan membentak ku.


"Bukan, karena itu adalah perasaan sesaat Aul dan perasaan aku hanyalah sebatas adek sama kamu". Ucapku kembali membentak. Aulia terduduk seketika sambil memegang rambutnya dengan kedua tangannya.


"Aul, gue sayang sama Lo tapi sayang gue sama Lo hanyalah sebatas sayang Kaka kepada adik nya enggak lebih, jadi gue mohon hentikan ya". Ucapku sembari memeluk Aulia.


"Gue enggak mau, gue mau lebih". Ucap Aulia membalas pelukan ku


"Aul. tolong ngerti ya dan jangan berbuat seperti anak kecil lagi". Ucapku


Aulia menangis dalama pelukan ku dan tetap tidak terima dengan penolakan ku tapi aku harus melakukan ini jika tidak Aulia tidak akan sadar Dan akan terus berbuat semaunya.


Setelah perkataan terakhirku Aulia beranjak dari tempat duduk dan pergi dengan mobil nya meninggalkan aku sendiri sementara aku hanya terdiam melihat mobil yang Aulia kendarai menghilang dari penglihatan ku.


"Alhamdulillah..". ucapku dalam hati sembari mengelus dada ku dan begitu leganya hati ini setelah aku luapkan perasaan ku kepada Aulia.


************************************************