
Pagi Harinya
Kediaman Muren
"Bi, kok Noah nggak ada ya?" tanya Raina begitu menyadari Noah sudah tidak ada di rumahnya. Tidak biasanya Noah pergi tanpa berpamitan, anehnya firasat Raina menjadi tidak enak. Dia merasa akan ada sesuatu yang terjadi.
"Em...itu Non. Kemarin malam Tuan Noah meminta saya memberikan surat ini ke Nona. Saya bingung, jadi...."
Dengan cepat, Raina mengambil surat itu dari tangan Bi Arum. Perasaannya semakin tidak enak, jantungnya berdegup kencang, dia tidak tahu kenapa tapi yang pasti dia merasa aneh dengan surat itu.
"Aku akan membaca surat ini, lebih baik bibi buatkan aku teh..."
"Baik Non..." Bi Arum segera pergi ke dapur dan membiarkan Raina membaca surat itu sendirian.
"Aku benar benar konyol bukan? Memberimu surat padahal aku bisa berbicara langsung.
Aku bingung harus mulai dari mana. Jujur, aku tidak pernah ingin mengatakan hal ini.
Dari awal, memang salahku memulai semua ini. Aku yang mengawalinya. Aku yang menghampirimu dan Roy tapi sekarang aku malah harus meninggalkanmu sendirian.
Kenapa timingnya selalu tidak tepat?
Seharusnya aku menemanimu di saat saat seperti ini tapi sekarang aku malah menambah kesedihanmu.
Maaf...
Aku sungguh minta maaf...
Aku pasti akan kembali menemanimu, Ok?
Kamu mau memaafkan dan menungguku kan?"
Raina menggenggam surat itu dengan kesal dan merobeknya, dia melempar surat itu ke lantai.
Bi Arum yang melihat itu, segera menghampiri Raina yang tertunduk sedih.
"Non, non nggak apa apa kan?"
Raina memeluk Bi Arum dan menangis di pundaknya, "Bi, kenapa semua orang meninggalkanku di saat seperti ini? Aku nggak mau ditinggal sendiri... aku capek, aku capek harus selalu sendirian bi..."
"Non, jangan sedih. Mungkin tuan Noah cuma pergi sebentar. Bibi yakin dia pasti akan kembali, dia itu anak baik jadi dia nggak akan ninggalin Non sendiri. Ya non?"
"Beneran bi..." Raina melepaskan pelukannya dan menatap Bi Arum penuh harap, matanya masih berkaca kaca, rasanya dia masih ingin menangis lebih lama.
"Iya non, percaya deh sama bibi. Sekarang non pergi ke kamar gih, belajar. Non kan udah izin nggak masuk sekolah 2 hari, ok non?"
Raina hanya mengangguk kecil lalu kembali ke kamarnya. Sementara itu, Bi Arum segera melakukan pekerjaan rumah seperti biasa.
Kemudian hari hari berikutnya hanya Raina lalui dengan Bi Arum dan kehidupan SMP yang membosankan.
Terkadang ada masa di mana dia merindukan Roy maupun Noah tapi dia memutuskan untuk tidak mengingat mereka agar tidak bertambah sedih.
...
Kini, 2 tahun sudah berlalu. Raina menduduki bangku SMA dan pribadinya lebih kaku daripada sebelumnya. Dia tidak bisa berdaptasi dengan orang orang baru, hatinya masih sakit dan belum bisa membuka ruang untuk yang lain tapi itu membuatnya dikucilkan dari lingkungan sekolah.
Hingga suatu hari...
"Hei bukankah itu Raina Muren? Kemarin ada rumor yang tersebar kalau kematian kakaknya ternyata disebabkan oleh dia. Jangan jangan dia yang membunuh kakaknya, lihat aja tuh orangnya aja dingin"
"Mungkin dulu kasusnya ditutup supaya dia nggak kena masalah tuh..."
"Cih, kok bisa ya cewek kayak dia sekolah di tempat ini?"
"Aduh takut gue, gimana kalau nanti kita juga jadi salah satu korbannya."
"Iya sih, hi!!! ngeri gue!!!"
"Udah ah jangan deket deket sama cewek brengsek itu...."
Hari itu tiba tiba menjadi hari yang tidak biasa bagi Raina. Entah dari mana tapi muncul rumor tentang kematian Justin yang dikaitkan dengan Raina.
Setiap dia ada di kelas maupun di luar kelas, anak anak lain akan selalu menggosipkanmya, tapi tidak ada dari mereka yang berani mendekati Raina karena mereka juga takut jika mereka akan menjadi salah satu korban Raina.
Namun suatu hari, anak anak itu beramai ramai meminta agar Raina dikeluarkan dari SMA itu.
Raina yang mengetahui hal itu sangat marah dan pergi ke tempat anak anak itu, selama ini dia merasa sudah cukup menahan hinaan dan olokan mereka. Dia sudah tidak tahan!
"Kepala sekolah keluarkan Raina dari SMA ini!!"
"Keluarkan cewek brengsek itu dari sekolah ini!!
"Keluarkan!!"
"Keluarkan!!"
Saat mereka melihat Raina sedang berjalan ke arah mereka, mereka dengan cepat mengambil telur yang sudah mereka siapkan dari tadi dan melemparkannya ke arah Raina.
Spontan, Raina mengangkat tangannya dan menutup matanya untuk melindungi diri.
Cproot...
Suara itu terdengar jelas namun anehnya Raina tidak merasakan sakit karena lemparan telur itu. Justru dia merasa jika ada seseorang yang berdiri untuk melindunginya.
Perlahan, dia membuka mata dan menatap orang itu. Pandangannya terlihat senang, senyum lebar terukir di wajahnya.
"Noah, kamu kembali...."
"Iya, maaf aku sudah meninggalkanmu terlalu lama. Kamu baik baik saja kan?"
"Iya..."
Noah tersenyum dan berbalik badan, seketika semua orang berhenti melempar telur ke arah Raina. Mereka takut saat melihat tatapan marah Noah.
"Kalau kalian berani melukainya maka kalian akan berurusan denganku. Ayo kita pergi!" katanya sambil menarik tangan Raina.
Mereka berjalan menyusuri koridor dan akhirnya sampai di depan kelas Raina, di sana mereka duduk di kursi dan Raina sibuk mengobati luka Noah karena lemparan telur tadi.
"Aw..."
"Sebenarnya ke mana saja kamu selama 2 tahun ini? Kenapa pergi begitu saja tanpa berpamitan langsung?"
"Maaf... Besok aku harus pergi lagi. Aku tidak bisa berlama lama di sini." Noah menundukkan kepalanya dengan sedih.
Sementara itu, Raina hanya bisa terdiam dan membelai punggung Noah dengan lembut. Dia memeluk tubuh itu dengan sedih, dalam hati dia ingin Noah untuk tetap di sisinya tapi dia tahu dia tidak akan bisa menghentikannya.
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja, kalau kamu mau pergi maka pergilah tapi jangan lupa untuk kembali. Jika kamu tidak segera kembali aku tidak akan menunggumu lagi."
Noah menggenggam tangan Raina dengan hangat, dia menatap langit sambil tersenyum sedih.
"Iya, aku akan kembali dan melindungimu. Lagipula aku tidak ingin gadis kecilku ini terluka karena aku."
...
Aku ingin selalu di sini Raina, menemanimu, memelukmu, melindungimu, tapi aku tidak bisa. Kenapa nasib kita harus seperti ini?
...
Aku akan tetap menunggumu kembali walau harus menghabiskan sisa hidupku, karena kamu adalah temanku, kakakku, ayahku, sekaligus ibuku. Bagaimana bisa aku tidak menunggumu Noah?
...
Setelab hari itu, Raina dan Noah kembali berpisah. Setelah Noah pergi, Raina keluar dari SMA itu.
Kini hidupnya sudah agak tenang di sekolah barunya, Raina sendiri masih sering mengunjungi pohon rindang tempat dia, Noah, dan Roy sering bersama tapi sekarang dia mengunjungi pohon itu sendirian, tanpa teman dan tanpa sahabat.
Biasanya, dia akan bersandar di pohon itu sambil mengerjakan tugas sekolah. Pohon itu juga adalah tempat Raina mrmbuang kalung tanda persahabatannya. Baginya kalung itu tidak berarti jika dalah sati dari mereka sudah berkhianat.
Berharap, suatu hari kehidupannya akan kembali berwarna seperti dulu.
.....
Kembali ke kenyataan, Raina kini masih duduk di tepi jalan sambil menundukkan kepalanya.
Walau kejadian itu sudah bertahun tahun berlalu tapi Raina masih belum bisa melupakannya, kenangan buruk itu masih membekas di hatinya dan terkadang hal itu membuatnya tidak bisa melangkah lebih jauh lagi.
Kenapa? Walaupun dulu Roy melukaiku dan menyebarkan rumor itu, tapi kenapa aku tidak pernah bisa melupakannya? Kenapa aku tidak bisa? Kenapa?
Raina memukul mukul mobilnya lalu menyandarkan kepalanya dengan lelah ke mobil itu. Malam itu dia lalui dengan melamun di pinggir jalan sendirian, dia tidak peduli lagi akan rumah maupun hal lain.
....
Pagi Harinya...
Group Sunjaya
Tok...tok...tok...
"Tuan Sunjaya, saya adalah Ken, sekretaris Nona Raina Zeto. Saya kemari untuk memberikan hadiah ini kepada anda." Jelas Ken sambil memberikan kotak putih itu ke Roy.
Roy yang penasaran segera membuka kotak itu, saat melihat kalung tanda perdahabatan mereka dia hanya tersenyum kecil. Dulu dia dan Noah yang memberikan kalung itu sebagai hadiah tapi sekarang Raina malah kembali memberikan kalung itu.
"Maaf atas kelancangan Nona Raina yang memberi hadiah rusak kepada anda. Seharusnya saya tidak memberikannya pada anda."
"Nggak, hadiah yang kamu bilang rusak adalah hadiah yang sebenarnya sangat berharga. Hanya saja nilainya tidak terlihat, bilang kepada Raina kalau aku menyukai hadiah ini."
Ken tersenyum bingung dan hanya bida menjawab, "Baik, kalau begitu saua permisi..."
Sambil melangkah pergi, Ken merasa sangat kebingungan. Bagaimana bisa seorang yang kaya raya seperti Roy senang menerima hadiah rusak seperti itu. Kali ini Ken yakin pasti ada cerita tersendiri di balik kalung itu, jika tidak Roy pasti tidak akan menerimanya. Tapi dia bingung apa cerita di balik kalung itu yang membuatnya begitu istimewa.
Bruuk...
"Auw...."
Karena terlalu penasaran dengan kalung itu, Ken tanpa sadar malah menabrak seorang wanita.
Wanita itu adalah Evelyn, Evelyn Sunjaya.
"Maaf..."
"Hei, kamu pikir kamu bisa minta maaf semudah itu? Sudah jalan nggak hati hati, pasti lagi ngelamun. Cakep cakep kok tukang ngelamun sih..." Evelyn berusaha berdiri sambil menggerutu.
Tukang ngelamun? Siapa sih cewek ini? Kok ceplas ceplos... Kalau dari tampilannya dia terlihat kaya tapi emang ada ya cewek kaya yang ceplas ceplos kayak dia?
Gumamnya sambil menatap Evelyn dengan ilfeel.
"Maaf Nona tapi saya harus pergi... Permisi."
"Hei, cowok brengsek!!! Hei!!! Dasar.."
Ken tidak mempedulikan perkataan Evelyn dan langsung pergi. Dia malas berurusan dengan wanita merepotkan seperti Evelyn.
"Evelyn, kenapa kamu teriak teriak di perusahaan kakak? Apa kamu tidak punya sopan santun? Lihat, para karyawan sedang memperhatikan kamu!"
"Maaf kak, tapi tadi ada cowok breng..-"
"Masuk ke ruangan kakak!!"
Evelyn tertunduk sedih dan mengikuti kakaknya, dia bosan setiap hari harus diperlakukan dengan dingin oleh Roy.
Ruangan Roy...
"Maaf kak soal kejadian tadi, habisnya tadi ada cowok yang nabrak Evelyn sembarangan." jelasnya dengan kesal.
"Baiklah, kamu duduk saja di sana sambil mengerjakan tugasmu... Kakak mau bekerja."
"Iya..."
Evelyn segera membuka tas kecilnya dan mengerjakan tugas sekolah seperti biasa.
Dalam ruangan itu hanya terdengar suara ketikan laptop Evelyn dan Roy, masing masing dari mereka sibuk dengan urusan diri sendiri hingga tidak saling bicara walaupun berada dalam satu ruangan yang sama.
Sementara itu, Group Zeto...
Hot News :
PERNIKAHAN DUA ANAK PEBISNIS SUKSES YANG MENCURI PERHATIAN, RANGGA STEVE × EMMA SHU
_____________________________
PERNIKAHAN RANGGA STEVE × EMMA SHU AKAN DIADAKAN SEMINGGU LAGI, BAGAIMANA REAKSI MASYARAKAT?
_____________________________
PERNIKAHAN ANTARA DUA PEWARIS KELUARGA TERPANDANG, APAKAH INI SEBUAH PERJODOHAN PAKSA?
_____________________________
DIBILANG "PERNIKAHAN PAKSA" , PERNIKAHAN RANGGA STEVE × EMMA SHU BERHASIL MENCURI PERHATIAN PUBLIK
_____________________________
....
Tunggu saja, aku pasti akan menghancurkan kalian semua...
Tok...tok...tok...
"Raina, barusan Roy Sunjaya menelefon. Dia bilang dia sangat menyukai hadiah yang kamu berikan. Kenapa kamu tidak bilang jika ingin memberi dia hadiah?" tanya Arian dengan penasaran.
"Hanya ingin aja..."
"Huh, ngomong ngomong barang apa yang kamu berikan sebagai hadiah? Emas? Cincin? Kontrak kerja sama? Atau berlian?"
"Hanya barang rusak..."
"Ba...barang rusak? Apa maksudmu?"
Raina hanya diam dan berdiri dari kursinya, "Aku ada rapat, jangan menggangguku..."
"Tap-"
Sebelum bisa berkata apa apa Raina sudah hilang dari pandangan Arian. Dalam hati, Arian masih penasaran apa yang dimaksud Raina dengan barang rusak.
Tok...tok...tok...
"Nona Raina, ini dokumen untuk perusaha- Tuan Arian, sedang apa anda di sini?"
"Hanya berkunjung, Raina baru saja pergi. Ngomong ngomong hadiah apa yang Raina berikan ke Roy Sunjaya, tadi dia hanya menjawab baranh rusak. Itu bercanda kan?"
"Um...sebenarnya memang barang rusak. Itu...itu adalah serpihan kalung berinsial RNR yang dulu merupakan tugas pertama saya, awalnya saya juga bingung tapi saya lebih bingung saat Tuan Roy menyukai kalung itu."
"Apa?"
"Tuan Arian, maaf jika saya lancang tapi sepertinya Nona Raina memiliki hubungan istimewa dengan Tuan Roy di masa lalu."
"Begitu ya?" tanya Arian sambil mengerutkan dahinya.
Benar juga kata Ken, tapi kalau mereka memiliki hubungan di masa lalu kenapa Raina selalu terlihat sedih saat bertatapan dengan Roy? Sebenarnya bagaimana kisah mereka?
~ BERSAMBUNG ~