Raina and Mystery

Raina and Mystery
Bag 4



Ruang Istirahat


"Bagaimana persiapan kita?"


Mendengar pertanyaan Raina, Ken menunduk sopan dan segera menjawab, "Semuanya sudah siap Nona, kini hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya."


Raina hanya mengangguk dan menatap kotak putih yang dia pegang, kotak putih itu dihiasi dengan hiasan hitam yang membuat kotak itu terlihat mewah. Raina tersenyum lalu memberikan kotak itu ke tangan Ken.


"Maaf Nona, tapi ini kotak apa? Apakah anda ingin memberikan hadiah pada seseorang?" tanyanya dengan nada bingung, tidak biasanya Raina memberikan sebuah benda pada dirinya. Dia yakin jika benda di dalam kotak itu pasti memiliki makna.


"Berikan itu pada Roy Sunjaya dan katakan padanya jika aku ingin mengembalikan sesuatu yang seharusnya tidak menjadi milikku lagi..."


Apakah Nona Raina memiliki hubungan khusus dengan Tuan Roy Sunjaya itu? Aku penasaran apa isi kotak ini...


gumam Ken dalam hati, ini pertama kalinya dia merasa penasaran akan kehidupan Raina, biasanya dia akan selalu cuek apapun yang diperintahkan Raina padanya.


"Baik Nona, besok saya akan memberikannya pada Tuan Roy. Tapi..."


"Ada apa?"


"Saya penasaran dengan isi kotak ini, bolehkah saya melihatnya?" tanya Ken dengan ragu ragu, dia tahu melihat isi kotak itu adalah lancang tapi rasa penasarannya tidak bisa tertahankan.


"Silahkan, lagipula itu hanya barang rusak..." ia menjawab dengan cuek lalu berjalan keluar dari kamarnya.


Barang rusak? Kalau barang rusak kenapa memberikannya pada Tuan Sunjaya?


Ken membubarkan lamunannya dan segera membuka kotak itu. Dia sangat terkejut saat melihat untaian kalung yang telah putus. Dia mengingat dengan jelas kalung itu, apalagi setelah melihat liontin di kalung itu.


Ini kan...perintah pertama Nona Raina. Bagaimana bisa dia menghadiahkan ini pada Tuan Sunjaya?


Ken teringat perintah pertama Raina pada saat dia pertama kali masuk ke Kediaman Zeto, saat itu Raina memerintahkannya mencari untaian kalung yang telah dia buang ke tempat sampah.


Saat itu Ken sangat kebingungan, tapi dia tetap melakukan perintah Raina. Setelah 3 bulan dia baru bisa berhasil menemukan kalung itu. Anehnya dia menemukan kalung itu di sebuah kursi di taman kota. Dia merasa jika ada orang yang sengaja meletakkannya di sana tapi dia tidak mengatakan apapun dan segera menyerahkan kalung itu pada Raina.


...


Ken kembali menutup kotak itu dengan bingung, dia takut jika Tuan Sunjaya akan tersinggung jika diberi hadiah rusak seperti itu. Bukankah memberikan hadiah rusak berarti menantang orang?


Di sisi lain, Raina mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Moodnya sangat buruk hingga ia tidak ingin mempedulikan apapun.


Ciiiitt....


Raina mengerem mobilnya dengan kesal, dia keluar dari mobilnya dan duduk di tepi jalan. Matanya menunjukkan kesedihan, di sana dia kembali mengingat masa buruk itu.


Beberapa hari setelah ulang tahunnya adalah hari yang tenang, dia masih menghabiskan waktunya bersama Roy dan Noel. Hari hari mereka masih menjalani kehidupan remaja mereka seperti biasa.


"Hei Roy, ajari aku rumus ini...." pinta Noel dengan ekspresi mata bayi yang sedang memohon, candaan itu membuat Roy dan Raina tertawa.


"Noah, kamu itu cowok masak mau pakai ekspresi itu sih? Tapi lumayan imut kok..." kata Raina yang disambut dengan gelak tawa.


Roy menghentikan tawanya dan segera mengajari Noah mereka belajar di bawah pohon hingga sore. Seperti biasa, mereka berdua akan mengantar Raina pulang sebelum berpisah.


Mereka bertiga berjalan bersama sambil bercanda, ya seperti itulah hari hari mereka. Bahagia, menyenangkan, tetapi saat itu sepertinya mereka tidak tahu jika mereka sedang melangkah menuju kehancuran.


Tok...tok...tok...


Raina mengetuk pintunya berkali kali namun belum ada yang membuka pintu, dia merasa aneh karena biasanya kakak tertuanya pasti akan selalu membukakan pintu.


Saat sadar pintu rumah itu tidak dikunci, mereka segera masuk ke dalam rumah itu.


Bruuk...


Tas Raina terlepas dari tangannya, ia menatap pemandangan di depannya dengan bingung.


Di sana dia melihat Vira, ibu Roy dan kakaknya, Justin. Tapi saat itu dia menyaksikan kakaknya terbaring di lantai dengan berlumuran darah, sementara di sebelah kakaknya ibu Roy memegang pistol.


Raina mendekati tubuh kakaknya dengan sempoyongan, "Tante, apa yang anda lakukan ke kakak saya? Jawab!!" tanyanya sambil menangis histeris, Noah yang melihat hal itu segera menghampiri Raina dan menelepon ambulans.


Kali ini Noah menghampiri Roy lalu mencengkeram kerah bajunya dengan marah sambil berkata, "Raina, tenanglah jangan menangis. Roy apa yang dilakukan ibumu pada Kak Justin? Sebenarnya ada apa ini? Jawab Roy!!!"


"Tenangkan Raina aku akan membawa ibuku pergi...." Dia melepas tangan Noah dan menarik ibunya pergi dari tempat itu.


"Hei, bagaimana bisa kamu membawa ibumu pergi? Dia yang sudah menyakiti Kak Justin..."


Plaak....


Vira yang dari tadi diam saja tiba tiba menampar Noah, dia menatap anak itu dengan marah. Bagaimana bisa Noah mengatakan itu tanpa tahu apapun? itulah yang dipikirkan Vira saat ini.


"Diam kamu, jika bocah brengsek itu tidak memulainya maka saya tidak akan membunuhnya. Harusnya kamu menyalahkan bocah Brengsek itu."


"Berani sekali anda menampar saya..."


Sebelum bisa membalas Vira, Roy mendekati Noah dan meninju wajahnya dengan marah. Sifatnya berubah dalam seketika dan itu membuat Noah tidak bisa berkata apapun sehingga dia membiarkan Roy dan ibunya pergi.


"Cukup Noah, urusan Roy kita bisa mengatasi nanti tapi kak Justin. Keadaanya semakin parah, jika dibiarkan seperti ini dia pasti...dia pasti akan...akan..."


"Sebentar lagi pasti ambulansnya datang, bersabarlah. Kak Justin pasti bisa bertahan lebih baik kamu hubungi ayahmu dan ibu tirimu saja, aku akan menjaga Justin di sini..." saran Noah sambil memberi semangat pada Raina.


"Nggak, papa dan wanita itu pasti tidak akan peduli. Lebih baik kamu panggil Bi Arum saja. Biarkan dia menemani Kak Justin dalam perjalanan ke rumah sakit."


"Baiklah..."


Noah segera berlari ke taman belakang dan memanggil Bi Arum, pembantu kepercayaan Raina. Mendengar perintah itu, Bi Arum sangat terkejut dan berlari ke arah ruang tamu tanpa mempedulikan Noah yang berusaha menyusulnya.


Bi Arum menyalahkan dirinya sendiri karena tidak tahu akan kejadian itu, dia pikir ibu Roy adalah orang yang baik jadi dia selalu membiarkan Justin dan wanita itu berbincang sendirian. Dia tidak menyangka jika jadinya akan seperti ini. Bi Arum benar benar merasa bersalah pada Raina.


"Non...non nggak apa apa kan? Kita tunggu aja ya ambulansnya. Saya yakin Tuan Justin pasti bisa bertahan." hibur Bi Arum yang hanya ditanggapi dengan anggukan Raina.


Beberapa menit kemudian, ambulans datang. Bi Arum masuk ke ambulans itu sementara Raina dan Roy tidak ikut, mereka ingin tahu kejadian yang sebenarnya dari mulut Vira.


Setelah ambulans itu pergi mereka segera masuk ke mobil dan menuju rumah Roy.


Di sisi lain, Kediaman Sunjaya


"Ma, kenapa mama melakukan itu ke Justin? Apa mama tidak bisa menunggu sebentar saja, Raina itu sahabatku bagaimana bisa mama menyakiti kakaknya seperti itu?"


Plaak...


Tamparan itu mendarat dengan mulus di pipi Roy, Vira mendekati Roy dan mencengkeram dagunya dengan marah. Dari ekspresinya, terlihat jelas kalau dia tidak suka akan kata kata Roy.


Roy mengerti sifat ibunya dan segera menjawab, "Baiklah, aku akan menghancurkan dia. Tapi mama tidak boleh ikut campur dalam hal ini."


"Baik...mama setuju."


....


Brruuuk....


Raina terduduk diam dan menangis pilu, Noah yang melihat itu segera memeluk Raina dengan sedih. Dia juga tidak menyangka jika Roy yang ceria, baik, dan menyenangkan ternyata memiliki niat yang tersembunyi di balik itu semua.


"Sudah Raina, dia memang pria jahat. Dari awal, kita memang salah memilih langkah. Sekarang kita hanya bisa berdoa agar kak Justin selamat. Ok?" hibur Noah sambil membelai rambut Raina dengan lembut, dia tahu persis bagaimana perasaan Raina dan dia tidak bisa membiarkan Raina menderita sendirian.


"Hiks...hiks... Ayo kita ke rumah sakit. Tolong kemudikan mobilnya."


Noah mengangguk dan menuntun Raina masuk ke mobil. Mereka meninggalkan rumah itu bersama dengan persahabatan mereka. Noah tahu setelah ini dia, Roy, dan Raina tidak akan bisa kembali seperti dulu setelah kejadian ini.


30 Menit Kemudian....


Rumah Sakit


"Bi Arum, bagaimana keadaan Kak Justin? Dia baik baik saja kan?" tanya Raina sambil memeluk Bi Arum dengan sedih.


"Non...Tuan Jus...tuan Justin... dia...dia tidak bisa diselamatkan. Dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Non yang sabar yah..." dia membelai pundak Raina dengan pelan, sementara itu Raina semakin tidak bisa membendung tangisannya.


Sepanjang malam, dia menangis di pelukan Bi Arum, walaupun lelah Bi Arum tidak mengeluh. Dia tidak bisa membayangkan rasanya berada di posisi Raina.


Sudah, ditinggal ibunya meninggal sejak dia lahir, ayahnya yang tidak pernah mempedulikan dia sejak dia menikah dengan istri barunya dan memilih menetap di luar negeri, Kakak keduanya yang dikirim ke luar negeri sendirian, sekarang di harus kehilangan salah dari kakaknya. Bi Arum semakin sedih saat mengingat hal hal itu, dia bingung kenapa Raina bisa mendapatkan begitu banyak penderitaan di usianya yang terbilang masih muda.


....


"Tuan Noah, sepertinya Non Raina tertidur karena terlalu kelelahan. Bisa tolong bawa dia pulang ke rumah. Saya harus mengurus administrasi rumah sakit dulu. Bisa kan?"


"Iya bi... bibi tenang aja."


Noah mengangkat Raina ke pelukannya dan segera membawanya pulang. Seluruh kejadian hari itu benar benar membuatnya bingung sekaligus sedih. Dia tidak mengerti mengapa Ibu Roy sangat membenci Raina hingga ingin menghancurkannya.


Drrrttt....


"Ada apa?"


"Bagaimana kondisinya, apakah dia baik baik saja?"


"Dia sedang tertidur, kakak tenang saja. Fokuslah pada pengobatan kakak agar suatu hari kakak bisa menemui Raina."


"Baiklah, aku sangat lega jika tahu dia baik baik saja."


"Kalau begitu aku akan tutup dulu telfonnya..."


....


Raina...maaf aku sudah membohongimu. Tapi ini semua agar kakakku bisa melindungimu.


....


Keesokan Harinya...


Kediaman Muren


"Non saya sudah menghubungi Tuan Besar tapi dia malah menyuruh untuk tidak memperpanjang kasus ini." lapor Bi Arum kepada Raina.


"Ikuti saja perintah Papa, lagipula dia tidak pernah peduli dengan anak anaknya. Lebih baik kita fokus saja ke pemakaman hari ini..."


"Raina kamu harus sabar...lagipula masih ada aku dan Bi Arum yang akan selalu menemani kamu."


"Makasih ya, bahkan di saat seperti ini orang tua aku nggak bisa menemani aku tapi kalian yang bukan keluargaku malah setia menemaniku...sekali lagi makasih."


Raina tersenyum sedih lalu memeluk Noah dan Bi Arum bersamaan.


"Raina Muren, bisa kita bicara sebentar?" pertanyaan itu membubarkan pelukan mereka.


Itu adalah Roy, melihat dia berdiri di sana Raina ingin menamparnya tapi dia menahan itu dan mendekati Roy.


"Mulai sekarang kita berdua adalah orang asing dan kamu..., kamu hanyalah sampah di mataku. Jadi jangan pernah muncul lagi di hadapanku."


"Baik....aku kemari juga untuk mengatakan itu padamu Raina."


"Pergi!! Pergi!!" Teriak Raina dengan marah, Roy hanya tersenyum kecil lalu pergi dari tempat itu.


"Raina,udah ya..."


Setelah kejadian itu mereka segera menyelesaikan acara pemakaman Justin.


Pemakaman itu akhirnya selesai pada malam hari.


Hari itu, Noah menginap di rumah Raina untuk menemani dia agar tidak semakin sedih.


Drrrtt....


Ponsel Noah kembali bergetar dan dia segera mengangkat telfon itu di sudut ruangan. Dia tidak ingin Raina dan Bi Arum yang sedang tertidur di sofa mendengar percakapannya.


"Hem..."


"Ini sudah waktunya, mama menyuruhmu ke Amerika untuk menyusulku. Sekarang waktumu hanya 24 jam sebelum pergi. Aku benar benar minta maaf, kali ini aku tidak bisa menolongmu."


"Nggak apa apa Kak, aku tahu suatu hari aku harus pergi... Tapi sekarang aku benar benar tidak rela meninggalkan Raina sendirian."


"Baiklah, aku tutup dulu..."


....


Noah menyandarkan badannya dengan sedih, tanpa sadar dia malah sudah menangis. Dia tidak menyangka akan sangat sesedih ini jika waktu meninggalkan Raina sudah tiba.


Raina, maaf tapi aku harus meninggalkanmu. Maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apa apa


~ BERSAMBUNG ~