Our Life

Our Life
Kelanjutan misi




Kelanjutan misi



Ini adalah hari ke dua penyelidikan. Sehari kemaren aku di sibukkan oleh Jessica yang terus saja menggangguku. Semalam tepatnya pada dini hari, aku baru saja menyelesaikan seluruh kamera mikro buatanku. Aku berencana untuk memasang kameranya sore ini. Sialnya seluruh kegiatan bergadang demi kamera mikro itu benar-benar membuat tubuh mudaku terasa lelah.


Aku bahkan tak memiliki mood untuk berbicara. Aku hanya ingin tidur. Tapi ini adalah hari sekolah. Aku tidak bisa membolos atau sengaja tidur di kelas. Maka dari itu aku menghabiskan hariku di sekolah dengan cara melamun. Aku tetap terjaga dan waspada tetapi sembari tertidur. Itu membuatku seperti orang linglung dengan seribu satu masalah. Tapi aku tak peduli, aku sangat butuh istirahat meski sangat sedikit.


Untungnya sekolah sepertinya memihakku, berhubung sebentar lagi kami anak kelas IX akan ujian. Para guru sering mengadakan rapat atau ada keperluan. Dengan demikian istirahatku terbayarkan. Aku hanya membenci Jessica yang sepertinya sengaja menempel kepadaku.


Saat aku tanyai dia mengapa tidak bermain dengan teman barunya saja. Dia akan berujar. "Tidak seru, mereka semua terlalu lembek! Lagi pula aku kan punya Aris untuk teman bermain."


Ia akan selalu membuntuti ku kecuali aku memasuki toilet. Ini menyebabkan aku tidak bisa melatih kemampuanku. Untungnya dia lebih muda dariku, sehingga ia sekarang berada di kelas VIII. Begitu aku lulus dari SMP, aku takkan bertemu gadis merepotkan ini lagi.


Dengan alasan istirahat untuk tidur siang, aku memasuki kamar setelah hari beranjak sore. Dengan demikian takkan ada yang menggangguku. Aku memanfaatkan waktu 'istirahatku' untuk memasang kamera mikro. Aku memasukkan seluruh kamera mikro itu ke saku pakaian atasku. Lalu berubah menjadi burung kecil dan terbang ke arah rumah Mayra. Aku mendarat di tempat yang agak jauh dari rumah Mayra. Lalu meletakkan masing-masing kamera mikro itu di antara semak belukar. Aku akan membawanya satu persatu dalam bentuk kupu-kupu.


Namun sebelum itu terjadi, Princess tiba-tiba berujar panik. "Tuanku! Nyonyaku datang! Berhati-hatilah!"


"Ap-" Sebelum aku sempat bereaksi, seseorang muncul dari udara kosong. Sosok itu memiliki mata biru dan rambut putih yang indah.


"Abang! Aku datang." Panggilannya menyadarkan aku. Aku harus pergi!


Sebelum aku pergi, ia sudah memelukku. Aku sama sekali tidak bisa bergerak! Pelukannya lembut namun kuat! "Ah, Abang jadi lebih imut deh, mukanya masih manis dan lucu."


Maya mencubit pipiku pelan. Aku sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari kungkungannya. "Percuma Bang, aku ini bukan tokoh figuran biasa loh! Aku ini mahluk dari Ras Dewa, mana bisa Abang melepaskan diri dari kekuatanku."


Ada seringai yang tercetak jelas di wajahnya. "Ras Dewa?"


"Benar, Dunia ini sangat menarik dan sangat menyenangkan. Aku merancangnya sendiri dengan segala usaha dan kerja keras. Aku harap Abang juga bersenang-senang ya! Saat mulai dewasa, Abang akan mengetahui segalanya. Abang juga akan mengenali aku menjadi siapa, lalu Abang adalah siapa. Hihihi... memikirkan segalanya membuatku sangat bersemangat."


Lalu Maya mencetak ciuman sukup lama di pipiku. "Abang juga harus semangat ya! Sampai jumpa sayangku! Princess perhatikan My Darling ya!"


"Siap Nyonya!" Suara Princess menggema.


Lalu seperti ia muncul, ia menghilang pula di udara kosong. "Apakah Tuan baik-baik saja?"


"Baik-baik saja kepalamu! Kekuatannya nggak ngotak gitu, aku sama sekali ngga bisa apa-apa, sialan. Arghh! Wanita gila! Aku benar-benar berharap aku tidak pernah bertemu dia lagi!" Aku masih berbaring di atas rerumputan hijau. Menghadapi Maya selalu membuatku lelah secara mental. Awalnya aku pikir Maya di dunia ini adalah Mayra. Tapi Mayra punya mata emas dan rambut hitam yang gelap. Bukan rambut putih atau mata biru.


Kalau aku pikir Maya menyamar ke bentuk Mayra, itu tidak mungkin karna aku memperhatikan ada yang berbeda di bentuk tubuh mereka. Jika Mayra adalah gadis muda yang sedang dalam masa pertumbuhan, maka Maya adalah wanita dengan body luar biasa indah, dan jelas sekali kalau ia adalah wanita dewasa. Ah, meski aku membencinya, aku masih lelaki normal. Dia memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang indah. Bahkan jika tubuhnya bukan lagi tubuh Maya Adikku, aku masih tidak ingin berada di sisinya lagi. Obsesinya terlalu mengerikan!


"Tuan?"


"Ya, aku tidak ingin menghabiskan waktu atau terkena kutukan wanita gila itu. Aku akan segera bergerak! Misi ini tak bisa tertunda. Princess duduk saja. Tak perlu memperhatikan aku." Akupun segera menjalankan misi yang sempat tertunda. Aku harus menemukan bukti sebelum hari ketiga berakhir. Begitu bulan naik di hari ke tiga, kutukan Maya akan datang dan aku benci itu.


Sialnya selama sisa hari tidak ada aktivitas mencurigakan dari Mayra. Jujur saja diriku mulai panik. Aku menolak untuk tidur malam, siapa tau Mayra akan menunjukkan kekuatannya saat aku tertidur.


"Tuan, aku menghargai usahamu, tapi memaksakan diri itu tidak baik." Princess mengomeliku sejak tiga puluh menit lalu.


Aku menyeruput gelas kopi yang diam-diam ku buat. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Dan aku bahkan belum menemukan tanda-tanda Mayra menggunakan kemampuan Istimewa miliknya. Ia tersenyum dalam tidurnya seolah memimpikan sesuatu yang baik. Sementara diriku harus terjebak dalam malam yang sunyi dengan secangkir kopi untuk tetap terjaga.


Jujur saja ini mengesalkan sekaligus menakutkan untukku. Hari ini sudah memasuki hari ke tiga. Waktuku tinggal sedikit, perasaan di kejar-kejar waktu ini membuatku berdebar dengan rasa gelisah dan takut.


"Tuan..."


"Tidak apa-apa Princess, aku sanggup menahannya. Aku bukan anak kecil lagi."


"Tapi Tuan, Tubuhmu bahkan belum mencapai usia dewasa. Anak remaja seperti Anda membutuhkan tidur yang cukup agar kesehatan Anda terjaga." Tampaknya Princess benar-benar menghawatirkan diriku.


Ku pikir aku harus mengalihkan perhatiannya. "Princess, semua misi yang kamu berikan padaku akan di tukar dengan poin keberhasilan. Setelah banyak misi berlalu apakah yang akan terjadi?"


"Seluruh poin itu akan menjadi sumber energi untuk Princess. Nyonya pernah bilang semakin banyak Princess mendapatkan poin semakin cepat bagi Princess untuk berevolusi." Suara Princess terdengar bersemangat. Sepertinya aku berhasil mengalihkan perhatian Princess. Tapi aku juga tertarik dengan pembicaraan ini. Meski demikian aku tetap memperhatikan monitor kamera.


"Berevolusi?"


"Ya! Princess bisa berevolusi ke bentuk nyata. Tidak hanya berteriak dalam pikiran Tuan atau berdering di ponsel Tuan."


Aku mengangguk-angguk. "Seperti apa bentuk nyata milikmu?"


"Kucing! Princess adalah kucing hitam yang cantik dan menggemaskan!"


"Kamu kucing betina?"


"Tentu saja! Princess adalah kucing betina yang imut, manis, dan lucu!" Mahluk narsis satu itu sudah mulai berkoar-koar.


"Hehehe... Imut atau tidak kita akan lihat saat nanti ketika kamu bisa berubah." Aku hanya terkekeh saja mendengar kalimat narsisnya.


Ketika ia menyebutkan kucing hitam, teringat olehku masa lalu. Itu adalah saat aku masih kelas tiga SD. Aku menyukai kucing, kebetulan saat itu seekor kucing liar berwarna hitam selalu datang ke rumahku. Aku sangat senang. Ku pikir hanya dia satu-satunya pelarianku ketika ada Ibu yang selalu marah-marah atau menganiaya diriku.


Adikku menyayangi semua yang aku sukai. Ia juga sangat senang dengan kucing hitam itu. Dia mengusulkan untuk memberi nama kucing itu Princess. Kebetulan ia adalah kucing betina kecil yang lucu. Aku selalu ingat kata-kata Maya saat menamainya.


"Kita beri saja dia nama Princess! Lalu aku adalah Queen dan Kakak akan menjadi Kingnya!"


Aku hanya mengangguk pelan karna saat itu aku mengira kalau Adikku hanya bercanda. Aku tidak pernah tau kalau Adikmu menyimpan perasaan menyimpangnya kepadaku sejak kecil. Aku baru tau saat kami memasuki usia remaja. Dan dia adalah tipe wanita posesif, dia selalu beranggapan kalau aku adalah miliknya dan hanya dirinya yang boleh berada di sisiku.


Haaaah.... Setiap kali mengingat Maya bulu kudukku selalu meremang.