
Madam Teresa
Sejak hari aku bermimpi aneh, aku merasa ada yang berubah dari kehidupanku. Misalnya warna mataku, sejak aku bangun dari mimpi itu, mataku yang seharusnya berwarna kehitaman malah berubah menjadi merah menyala. Karna itu pula sekarang aku harus menutupinya dengan lensa kontak berwarna hitam.
"Aris, kamu baik-baik saja?" Panggilan itu menyadarkanku dari lamunanku. Itu adalah panggilan dari Mayra.
"A-aku baik-baik saja."
"Aris, kamu sering melamun belakangan ini, apakah ada masalah?" Dahinya berkerut dan ia jelas sangat menghawatirkan ku.
"Benarkah? Aku tidak merasa begitu. Tapi aku baik-baik saja kok." Jam pulang telah lama tiba, dan aku melamun sepanjang jam pelajaran terakhir hingga saat ini. Kelas juga telah sepi entah sejak kapan. Mayra berada di sisiku sepanjang aku melamun.
Sebenarnya selain warna mataku, aku juga merasakan banyak hal yang samar. Seperti dalam kelas yang sunyi, aku mendengar suara para siswa dan siswi yang ada dalam kelas. Selain itu aku bahkan juga bisa merasakan niat buruk dan baik yang muncul dari setiap orang. Aku mampu mengetahui apa yang orang lain tidak ketahui, ku rasa ini bukan sekedar kemampuan istimewa. Ada sesuatu yang lain yang tidak ku ketahui.
Aku juga tidak bisa meminta bantuan Princess untuk mengetahui kebenaran, ini di karnakan Princess telah menghilang sejak lama. Ia tidak lagi berbicara denganku, namun misi yang biasanya di berikan akan selalu ada dalam ponselku. Aku tidak tau kemana dia pergi.
Aku cukup merasa bosan saat dia menghilang. Perubahan tubuhku terasa mengganggu juga. Aku merasa kesal. "Kamu lagi-lagi melamun. Bahkan tidak sadar saat aku mengantarmu kerumah."
Mayra menyadarkanku lagi. Aku ingat kalau aku tadi berada di kelas, tapi sekarang aku malah muncul di depan rumah. Mungkinkah Mayra membawaku berteleportasi?
"Aku membawamu ke rumahmu agar kau bisa istirahat lebih cepat. Sudah sana masuk." Mayra mendorongku ke gerbang.
"Kamu berteleportasi?"
"Begitulah. Sudah sana cepat."
Aku pun memasuki rumah di bawah pengawasan Mayra. Aku berbaring dengan perasaan lelah setibanya aku ke kamar. Tanpa sadar aku tertidur lagi. Ini sudah sering terjadi sejak hari itu berlalu. Aku semakin bingung dengan diriku.
Aku tak tau sudah berapa lama waktu berlalu, pintuku di ketuk dan aku terbangun. "Masuk..."
Kemudian Ayah dan seorang wanita asing muncul. Wanita itu mengenakan tudung hitam, namun terlihat rambut putih yang menjuntai di bagian depan. Meski demikian, aku tetap saja tidak mampu melihat wajahnya. "Ayah datang secepat mungkin setelah Pamanmu mengabari Ayah tentang luka anehmu."
"Ya?"
"Apakah ada yang berubah sejak luka itu muncul?" Ayah bertanya lagi.
Aku melepas lensa kontak yang ku kenakan. "Ini berubah, selain itu aku juga mendengar banyak suara yang tidak seharusnya aku dengar. Lalu aku bahkan bisa merasakan niat buruk dan baik seseorang. Lalu bisakah Ayah katakan siapa dia?"
Ayah mengangguk-angguk. "Ah, ini adalah Madam Teresa. Dia orang yang sengaja Ayah bawa untuk melihat apa yang salah denganmu. Dia adalah salah satu tabib terbaik di 'Dimension Core' jadi jagalah sikapmu."
'Dimension Core' dua kata itu adalah kata yang seharusnya tidak ada dalam ingatanku. Tapi aku merasa familiar dengan kata itu.
Tiba-tiba sebuah ingatan masa kecil terputar di kepalaku. "Mengapa tidak ada orang yang tinggal di sini Ayah?"
"Nak, ini adalah Dimensi yang Ayah dan Ibumu ciptakan bersama. Dimensi pribadi seperti ini hanya bisa di masuki oleh pemiliknya atau orang yang di izinkan oleh pemiliknya."
Aris kecil bertanya kepada Ayah. "Apa itu Dimensi Ayah?"
"Kapan aku bisa berkunjung ke sana Ayah?!" Aris kecil terlihat bersemangat saat itu.
"Ketika kamu dewasa, Ayah akan membawamu ke sana. Kamu akan Ayah bawa ke Dimensi sejarah terlebih dulu." Ayah tersenyum saat itu.
"Apa itu Dimensi bersejarah Ayah?"
"Dimensi Sejarah, itu adalah dimensi yang berisi peradaban dasar tempat ras manusia membangun kehidupannya. Dunia itu akan berjalan dan terus berputar mengikuti sejarah sejak ras manusia di ciptakan. Hanya manusia yang memiliki akses untuk memasukinya. Dimensi itu juga di jaga oleh para ras manusia berkemampuan istimewa. Itu adalah harta bagi Ras manusia. Ayah akan mengantarmu ke region Nusantara nanti. Di sana orang-orang memiliki kepribadian baik. Ayah harap kamu bisa belajar banyak di sana."
"Aris... Kamu baik-baik saja Nak? Ini yang membuat Ayah khawatir." Kembali ke kenyataan, Ayah menghela nafas saat aku mengenang masa lalu.
"Aku baik-baik saja, hanya mengenang masa lalu." Aku berujar segera agak Ayah tak lagi khawatir.
"Syukurlah. Sekarang fokuslah dan biarkan Madam Teresa memeriksamu."
Lalu Madam Teresa mendekatiku. Sejenak madam Teresa berbalik melihat Ayah. Aku tidak mendengar suara apapun, tapi ayah mengangguk-angguk.
"Aris, buka pakaianmu. Biarkan Madam Teresa melihat Lukamu."
Aku mengangguk. Lalu dengan segera membuka pakaian atasku. Madam Teresa melihatku lagi. Aku tidak bisa melihat seluruh wajahnya. Aku hanya dapat melihat separuh wajahnya karna tudung yang dia kenakan itu. Dia membuka perban yang melilit dadaku. Seingatku sudah hampir sepuluh hari berlalu namun luka itu masih tidak kering. Selain itu entah mengapa darahku terlihat hitam. Tapi bukan hitam biasa. Itu memiliki bubuk berkilau yang seperti glitter dalam darah yang hitam.
Ia melihat luka itu. Lalu jari telunjuknya di gerakkan membentuk pola tertentu di area yang terluka. Secara ajaib darah hitamku berubah merah kembali. Lalu Madam Teresa juga merentangkan jemarinya di depan lukaku. Kemudian partikel cahaya yang temaram muncul. Cahaya itu terasa hangat dan lembut. Lalu secara ajaib lukaku menghilang. Aku tidak terlalu terkejut dengan bagian ini. Sebab di duniaku sebelumnya seorang rekanku juga memiliki kemampuan yang sama.
Madam Teresa menepuk dadaku, lalu aku lihat dia tersenyum. Aku balas tersenyum meski terasa sedikit canggung. Lalu madam Teresa menampungkan tangannya ke Arahku. Apa ini? Mungkinkah ia meminta sesuatu dariku?
"Aris Teteskan darahmu ke tangannya." Ayah segera berbicara.
Karna aku tidak tau untuk apa dia membutuhkan darahku, aku agak enggan. Tapi karna Madam Teresa ini telah menyembuhkan lukaku. Ini mungkin bayaran yang tidak seberapa. Aku menggigit sedikit jempol kananku. Lalu meneteskan darah yang keluar ke tangannya. Ku lihat Madam Teresa menggigit bibirnya. Saat lukanya muncul cairan kental yang mirip darah namun berwarna emas muncul. Madam Teresa meludahkan darah itu ke telapak tangannya yang di tampungkan.
Aku senantiasa memperhatikannya. Kemudian Madam Teresa berkomat-kamit. Lalu darah yang ada di telapak tangannya berputar dan tercampur dengan sendirinya. Lalu sebuah sinar bercampur asap hitam muncul. Aku dan Ayah harus menutup mata karna sinarnya terlalu terang.
Saat sinar menghilang, sesuatu yang menyerupai bola berbulu muncul. Itu berwarna hitam. "Apa itu?"
Tepat setelah aku bertanya, bola bulu itu bergerak dan dia berteriak. "Tuan!"
Suaranya persis terdengar seperti suara Princess. Dan terlihat kalau bola bulu itu berubah menjadi kucing. Madam Teresa berbalik menghadap Ayah. Tak lama setelahnya Ayah berujar.
"Aris, ini adalah Kucing Roh. Hanya kamu yang bisa mendengar suaranya. Bagi orang lain itu seperti kucing biasa. Kamu harus menjaganya. Dia akan membantumu di saat yang di butuhkan." Ayah berujar sambil tersenyum. Madam Teresa menyodorkan Kucing itu.
"Princess?"
"Ya Tuan! Princess telah berevolusi!"
"Apanya?" Ayah segera bertanya.
"Ah, bukan apa-apa. Ku pikir aku akan memberinya nama Princess saja." Ujarku. Saat aku mengatakan itu ada cahaya emas di dahi Princess. Itu membentuk ukiran yang sama seperti lambang yang ada di tangan kanan Maya.
"Dia telah mengakui nama itu sebagai namanya. Jagalah dia ya. Ayah dan Madam Teresa akan segera pergi."
Aku mengangguk sebagai jawaban.