
"Tapi, ini benar-benar mengejutkan ketika kau mengingat namaku seperti ini, Hoshino-san. Aku berterima kasih, itu membuat hatiku terasa hangat."
Alex mengucapkan itu ketika dia menyuguhkan sebuah cokelat hangat pada idolanya yang duduk di meja.
"Ahahaha, tidak perlu sampai segitunya. Yang berterima kasih harusnya adalah diriku, karena kau sudah mau mendukungku dari awal sampai saat ini, Alex-kun. Oh iya, terima kasih juga untuk susu cokelatnya."
Hoshino Ai tertawa kering saat bicara dan mengambil cangkir cokelat pemberian Alex, menyeruput itu untuk menghangatkan tubuhnya, lalu menghela nafas lega diam-diam didalam hatinya.
Beruntung, setelah dia tidak sengaja keceplosan untuk mengucapkan nama Alex, pria itu tampaknya tidak merasa aneh atau jijik padanya karena mengetahui namanya sebelum diberitahu.
'Tetapi jika dipikir-pikir lagi, bukankah ini hal yang wajar? Jika namaku ternyata diingat oleh orang yang aku idolakan, aku juga pasti akan senang dan bukannya merasa aneh. Itu harusnya reaksi normal, kan?'
Idola itu ingin menepuk wajahnya sendiri karena sudah merasa panik tadi. Dia lalu menaruh cangkir cokelat panas yang ada di tangannya ke meja setelah dia meminum itu, namun berhenti ketika dia menemukan Alex di depannya berbicara lagi.
"Ngomong-ngomong, Hoshino-san. Karena ini sudah sore dan waktunya makan malam, aku memasakkan porsi lebih untukmu. Apakah kau mau makan di sini juga sembari menunggu hujan mereda?"
"Itu ..."
Mendengar itu, Ai langsung kaku dan terdiam. Dia tidak bisa menjawab langsung tawaran yang diberikan padanya ini.
Ini bukannya apa, tetapi meskipun dia tidak berpikir Alex memiliki niat lain dengan mengundangnya makan saat ini, tetap saja dia masih merasa tidak nyaman untuk makan di tempat orang yang baru dia kenal—meski orang itu adalah fans beratnya sendiri.
Hanya saja, dia juga merasa sungkan jika dia menolak Alex sekarang. Karena bagaimanapun, pria ini telah membantunya dengan memberinya tempat meneduh, dan menolak niatan baik dari orang lain juga bukanlah suatu hal yang patut untuk dilakukan.
Pada akhirnya, setelah beberapa detik, Hoshino Ai kalah pada rasa tidak enaknya itu dan memutuskan untuk menerima tawaran Alex.
Idola itu mengangguk sambil tersenyum.
"Senang mendengarnya."
Melihat bagaimana ekspresi pria yang selalu datar itu menjadi terlihat sedikit senang dengan mengangkat kedua sudut bibirnya, setelah Hoshino Ai menerima tawarannya, idola bermata bintang itu menghela nafas lega untuk kedua kalinya didalam hati.
Alex kemudian berdiri dari tempatnya. Dia lalu mengambil makanan langsung dari penggorengan dan menaruh itu ke kedua piring—satu untuk dirinya sendiri, satunya lagi untuk Hoshino Ai.
Alex kembali dan menaruh itu ke meja, ke hadapan gadis berambut ungu gelap itu.
"Nasi goreng?"
Ai memiringkan kepalanya ketika melihat makan malam yang disuguhkan padanya.
"Apakah kau tidak menyukainya, Hoshino-san?"
"Tidak ... hanya saja, ini sudah lama sejak aku makan nasi goreng. Jadi aku sedikit terkejut melihatnya di sini."
Ai menjawab seperti itu ketika Alex bertanya padanya. Buru-buru, karena bau nasi goreng di depannya ini terasa sangat harum menggelitik hidungnya, tangannya tanpa sadar sudah memegang sendok yang ada di sampingnya dan mengatupkan tangan, berdoa.
"Selamat makan."
Hoshino Ai sang idola mengambil satu suapan dan mengunyah itu. Kemudian, matanya yang berbintang tiba-tiba terbuka dan bersinar dengan lebih terang, ketika dia merasakan bagaimana enaknya nasi goreng yang memasuki mulutnya itu.
Bajunya meledak.