
"Aku benar-benar menerimanya."
Hoshino Ai membaringkan dirinya di kasur dengan pandangan kosong setelah dia kembali ke apartemennya sendiri. Dia bahkan tidak mandi dan bajunya masih sama seperti yang dia pakai ketika kencan tadi.
Hari ini benar-benar hari yang luar biasa bagi sang bintang.
Bagaimanapun, itu jelas. Tidak hanya dia telah berkencan untuk pertama kalinya dengan seseorang, dia bahkan juga mencium orang itu melalui insiatifnya sendiri.
Karena Alex mengantarkan dia pulang hanya sampai ke stasiun, tidak ada orang yang tahu tentang kencan ini tetapi Hoshino Ai bisa membayangkan bagaimana produsernya akan mengamuk jika mengetahui hal ini.
"Tapi diluar dugaan, bibir Alex-kun benar-benar lembut ..."
Hoshino Ai bergumam seperti itu saat dia tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri, mengingat perasaan di senja itu.
Namun, setelah beberapa detik sang idola itu memerah dan malu untuk dirinya sendiri ketika dia sadar betapa mesumnya hal yang dia pikirkan saat ini.
Hoshino Ai lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk menghilangkan hal di benaknya itu dan bangkit duduk. Meskipun dia tahu besok dia memiliki konser yang harus dia lakukan, dia masih merasa tidak bisa tidur hari ini.
Untung, karena dia sudah terbiasa bergadang sambil berlatih di malam hari sebelum konser, dia tidak terlalu khawatir untuk besok. Tetapi, dia bertanya-tanya apa yang harus dia lakukan sekarang untuk menghabiskan waktu.
Pada akhirnya, setelah beberapa detik merasa tidak nyaman mendengar detak jantungnya sendiri, Hoshino Ai mengambil ponselnya dari saku dan menyalakan itu.
Seperti yang dilakukan oleh anak jaman sekarang ketika menghabiskan waktu, Hoshino Ai memutuskan untuk bermain sosial media dan membuka twittar.
Namun, ketika dia baru saja mengetik password untuk membuka ponselnya, tangannya berhenti saat dia melihat ikon aplikasi chat di layar utama.
Itu membuat sang idola ingat.
"Bukankah tadi ... aku sudah bertukar nomor dengan Alex-kun?"
Pikiran untuk membuka media sosial langsung hilang dari benak Hoshino Ai.
Idola itu lalu malah bertanya-tanya.
"Alex-kun ... dia belum tidur 'kan?"
Detakan jantungnya berjalan menjadi semakin lebih cepat.
Hoshino Ai dengan bergegas membuka daftar kontak dan mencari nama Alex, kemudian memulai pesan di nomor pria itu.
Namun, bukannya langsung mengetik sesuatu untuk memulai pesan, tangan gadis itu malah berhenti dengan ragu.
Hoshino Ai tidak tahu tepatnya apa yang membuat dirinya ragu karena dia tidak pernah mengalami perasaan seperti ini, tetapi dia merasa pipinya panas seperti dibakar rasa malu setiap kali jarinya menyentuh layar saat mencoba membuat kata melalui ketikan di ponsel.
Sampai—sebuah suara notifikasi datang dari ponsel sang idola, membuat Hoshino Ai yang sedang gugup langsung melompat karena terkejut.
"A—Apa?"
Hoshino Ai tergagap sedikit saat dia dengan tergesa-gesa meng-klik notifikasi yang datang tanpa melihat tentang apa itu.
Akibatnya, dia bingung ketika ponselnya malah membawa dia kembali ke panel pesan yang sama di nomor Alex.
Namun, kebingungan itu tak berlangsung lama ketika Hoshino Ai menyadari kalau ada pesan yang terkirim padanya.
Jelas itu dari siapa.
[Alex]: "Hoshino-san, apakah kau sudah kembali ke rumah dengan selamat?"
"...."
Hoshino Ai tidak bisa mengatakan apa-apa setelah dia melihat pesan yang datang dari pacar barunya itu.
Kemudian, dia tertawa.
Itu adalah tawa yang datang untuk menertawakan dirinya sendiri, karena merasa bodoh sebab gugup tanpa alasan jelas tadi.
"Tapi ... Alex-kun ternyata juga memiliki pikiran yang sama denganku, huh? Aku merasa kalah karena dia berhasil mengirim pesan padaku duluan."
Hoshino Ai melengkungkan bibirnya. Jarinya lalu menyentuh layar ponsel, dan mulai mengetik sebuah kalimat balasan. Kali ini, tangannya bergerak dengan ringan.
[Hoshino Ai]: "Tentu. Lagipula ini semua berkatmu, Alex-kun. Terima kasih karena telah mengantarkan aku sampai ke stasiun."
[Alex]: "Ya."
[Hoshino Ai]: "Ngomong-ngomong, aku lupa mengatakannya tadi tetapi kencan hari ini seru banget kok. Kalau boleh tahu, kenapa kau memilih untuk mengajakku ke kebun binatang?"
[Alex]: "Acak. Karena aku tidak tahu kau suka pergi ke mana Hoshino-san, aku hanya memilih tempat yang kusukai dan sering aku kunjungi dulu."
[Alex]: "Ya. Itu jelas. Meskipun ... ini tidak seperti aku menyukai semua hewan yang ada di sana."
[Hoshino Ai]: "Wkwkwk! Andai saja kau ikutan berfoto bersama ular tadi, Alex-kun. Itu pasti seru untuk melihat bagaimana ekspresimu melalui foto."
[Alex]: "Tolong jangan terus menggoda aku, Hoshino-san. Ini membuatku bingung harus merespon bagaimana."
[Hoshino Ai]: "Wkwk!"
[Hoshino Ai] "Kemudian Alex-kun, ini mungkin tiba-tiba tetapi karena kau menyukai kebun binatang, apa kita akan berkencan ke sana lagi kapan-kapan?"
[Hoshino Ai]: "Maksudku, karena kita sudah menjadi pasangan ... kencan kita tidak hanya akan menjadi sekali saja, kan?"
[Alex]: "....."
[Hoshino Ai]: "Alex-kun?"
[Alex]: "Maaf untuk keterlambatan responnya, Hoshino-san."
[Alex]: "Hanya saja aku masih merasa tidak nyata. Aku masih tidak menyangka, kalau aku akan berpacaran denganmu, Hoshino-san. Ini seperti sebuah mimpi."
[Hoshino Ai]: "Alex-kun ... meskipun kau mengungkapkan kejujuranmu hanya melalui pesan, itu tetap membuatku malu mendengarnya."
[Alex]: "Maaf."
[Hoshino Ai]: "Tidak perlu meminta maaf. Aku senang banget kok kalau kau merasa seperti itu. Aku juga tidak menyangka kalau suatu hari, diriku yang seperti ini akan disukai oleh seseorang, apalagi mendapat pacar."
[Hoshino Ai]: "Tapi Alex-kun, kau tadi mengatakan "seperti sebuah mimpi", kan?"
[Alex]: "Ya? Apa ada yang salah dengan itu, Hoshino-san?"
[Hoshino Ai]: "Tidak. Aku cuma penasaran, kalau kau masih merasa dalan mimpi ... bagaimana kalau aku memberimu ciuman lagi agar kau tahu kalau ini semua memang nyata?"
[Hoshino Ai]: "Seperti ini ( ˘ ³˘) ( ˘ ³˘)."
[Alex]: "..................."
[Hoshino Ai]: "Alex-kun?"
[Alex]: "( ˘ ³˘) ( ˘ ³˘)."
[Alex]: "Aku membalas ciumanmu, Hoshino-san."
[Hoshino Ai]: "......."
[Hoshino Ai]: "Sekarang giliranmu yang membuatku tidak bisa berkata-kata, Alex-kun. Aku tidak menyangka kau akan membalas dengan seperti itu. Aku hanya bisa terkejut, w(°o°)w."
[Alex]: "Kau yang memulainya duluan, Hoshino-san. Sekarang ini membuatku malu."
Hoshino Ai terkekeh ketika dia melihat balasan dari Alex dan jarinya terus mengetuk layar ponsel, tanpa ada tanda untuk berhenti.
Kemudian, malam berlalu dengan panjang.
.
.
.
.
Sampai keesokan harinya, di ruang latihan sebelum konser di mulai.
Hoshino Ai yang sedang memeriksa riasan di wajahnya setelah dia berlatih sebelum naik ke panggung dan khawatir apakah kantung matanya akan kelihatan, tiba-tiba dihampiri oleh salah satu teman anggota grup idolnya.
"Hei, Ai! Dengar deh, aku membawa berita menarik untukmu! Apa kau ingat salah satu fans berat kita yang memakai kacamata besar itu? Aku cuma dengar ini dari kru, tetapi dia kayaknya hampir menabrak pohon karena mengantuk pas naik motor ke sini! Itu lucu sekali bukan?"
"Eh?"
"Untung dia katanya tidak kenapa-kenapa. Tapi aku penasaran apa yang membuatnya seperti itu. Bukankah dia biasanya datang jauh sebelum konser dimulai dan bahkan sering membawa tenda untuk menginap semalaman?"
"...."
Hoshino Ai tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia merasa, ini mungkin semua adalah kesalahannya.