My Girl is Mine

My Girl is Mine
Di hukum berdua



Happy Reading🌹


_______________________


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang akhirnya mereka berdua sampai di parkiran sekolah. Yang pertama kali Kania lakukan adalah buru-buru turun dari motor Vano dan melepas helem yang dipakainya lalu pergi meninggalkan Vano menuju kelasnya.


"Ehh tungguin gue!" Teriak Vano buru-buru turun dari motornya ketika melihat Kania meninggalkan dirinya.


"Jalannya slow dong" ucap Vano mensejajarkan langkahnya dengan Kania.


"Ngapain lo ngikutin gue? Kelas lo udah lewat tuh!" Ketus Kania.


"Aku-kamu."


"Tadi lo ngomong 'gue' waktu teriak" ucap Kania tidak mau kalah.


"Ii-iya itu kan aku lupa hehe" cengir Vano melirik Kania.


"Serah lo!" Ucap Kania memutar bola matanya malas.


"Belum ada semenit udah lupa. Aku-kamu jangan gue-elo!" Ucap Vano dengan suara tegasnya.


"Iya-iya"


"Udah sampai, sana masuk belajar yang bener biar calon anak-anak kita gak **** nantinya"


"Iya biar gak **** kayak lo!" batin Kania.


"Jangan ngedumel dalam hati gak baik"


Kania memutar bola matanya malas"yaelah tau aja ini anak." Batinya lagi.


"Yaudah sana pergi!" Usir Kania


"Sebentar" ucap Vano menoleh kanan dan kiri.


"Mau apa lag-"


"Cup" Sebuah kecupan singkat mendara di kening Kania.


"Sana masuk, nanti keburu si botak dateng" ucap Vano dengan santainya setelah mencium kening Kania sembarangan.


"Apaan sih lo main cium-cium aja!" Kesel Kania.


"Salah cium pacar sendiri?"


Blussss pipi Kania memerah


"Ciee blushing" goda Vano mencolek pipi Kania.


"Apaan sih" ucap Kania malu-malu, gengsi dong kalau ketahuan.


"ENAK YA PACARAN JAM SEGINI!" Ucap Pak Bambang menjewer telinga Vano dan Kania dari belakang.


"Aduh aduh Pak ampun!" Ringis Vano dan Kania.


"Bukannya masuk ke dalam kelas malah pacaran, perlu saya panggil orang tua kalian?"


"Ohh nyaut kamu ya."


"SEKARANG KALIAN LARI KELILING LAPANGAN SEPULUH KALI! CEPAT! ATAU HUKUHAM KALIAN SAYA TAMBAH LEBIH BERAT LAGI!" Teriak Pak Bambang dengan muka memerah dan kepala yang mengeluarkan asap membuat Vano dan Kania langsung menghilang dari hadapannya.


Setibanya di lapangan


"Ini semua gara-gara lo tau gak!" Kesel Kania.


"Iya tau"


"Coba aja lo gak nganter gue pasti sekarang ini gue lagi ada di kelas baca novel!"


"Iya aku tau"


"Jawaban lo itu-itu mulu!" Ucap Kania tambah kesel.


"Iya aku yang salah"


"HEH KALIAN BERDUA LARI, MALAH NGOBROL!" Teriak Pak Bambang dari pinggir lapangan.


"Ii-iya pak!" Teriak Vano dan Kania.


Kania lari mendahului Vano kemudian disusul oleh Vano di belakangnya.


Baru lari satu putaran saja Kania sudah ngos-ngosan bagaimana nasibnya yang lari sepuluh kali?


"Kalau capek jangan dipaksa" ucap Vano yang sudah memasuki putaran ke dua.


Hening


Ahh Vano lupa Kania kan masih marah, pantas saja ucapannya tidak ditanggapi sama sekali. Karena saking gemasnya Vano pun memutuskan menarik tangan Kania dan membawanya pergi meninggalkan lapangan.


"Iihhh...lo mau bawa gue kemana sih? Main tarik-tarik aja!" Protes Kania.


"Diem!"


"Ya, tapi lo mau bawa gue kemana?!" Vano benar-benar membuat Kania tambah kesal saja. Hukuman dari Pak Bambang aja belum selesai ini malah diajak nyari masalah lagi.


"Sampai" ucap Vano melepas genggaman tangannya.


"Ngapain bawa gue kesini?" Tanya Kania dengan polosnya.


Vano yang sedang merebahkan tubuhnya di atas rumput balik bertanya"emang kenapa?"


"Masa lo gak tau sih? Gue yang murid baru aja tau kalau tempat ini dilarang untuk dikunjungi" ucap Kania yang ikut merebahkan tubuhnya di samping Vano. Lebih tepatnya saat ini mereka sedang berduaan ditaman belakang sekolah.


"Terus berlaku ya buat yang punya sekolah?" Tanya Vano yang sudah berada di atas Kania.


"Jantung gue kenapa?" Batin Kania.


"Emm?" Vano semakin memajukan wajahnya sehingga tidak ada jarak lagi diantara mereka.


"K-kamu mau a-apa?" Ucap Kania gugup.


"Mau...." ucap Vano terpotong semakin memajukan wajahnya membuat Kania memejamkan matanya saat wajah Vano semakin dekat dan.....