
"HAPPY READING"
Semoga suka ya🤗
"Vano lo ap-" Kania menghentikan ucapannya saat melihat seseorang yang tidak asing lagi baginya tengah berdiri disebelah Vano dan menatap dirinya.
"Kania?"
"Kak De-devan?" Ucap Kania terbata-bata.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Devan menyelidiki. Seharusnya jam segini Kania masih berada di dalam kelas dan belajar. Tapi kenapa dia malah ke rooftop?
"Emm anu itu kak..emm an-"
"Jangan bilang dia pacar lo Van?"
"Dia emang pacar gue."
Bughh
Satu bogeman mendarat dengan mulus di wajah Vano. Kania? Jangan ditanya lagi, iya sangat terkejud dengan apa yang dilakukan kakaknya.
"*** dia adik gue!" Emosi Devan.
"Sorry Van, gue gak tau." Ucap Vano memegang sudut bibirnya yang berdarah.
Bughh
"Itu buat lo yang udah berani melecehkan adik gue!"
"Devan udah, kasian si Vano!" Teriak Adit saat melihat Vano tersungkur ke lantai karena tidak kuat lagi menopang tubuhnya.
"Diem lo. Ini urusan gue sama dia!" Ucap Devan.
Bugh bugh bugh
"Lawan gue Van jangan diem aja lo, dasar pengecut!" Bentak Devan karena sedari tadi Vano hanya diam saja.
Ahh bugh bugh bugh
"Kak udah kak, kasian Vano" ucap Kania dengan derai air matanya. Kania tidak tahan lagi melihat Vano yang sudah terkapar dengan banyak lebam di wajahnya.
"Arghhhhh" Teriak Devan menjambak rambutnya frustasi menuju pintu rooftop.
Kania yang melihat tubuh Devan hampir tertelan pintu langsung lari menuju ke tempat Vano terkulai lemas dengan derai air mata yang terus saja membanjiri pipinya. Entah kenapa iya tidak tega melihat Vano diperlakukan seperti itu.
"GUE CINTA SAMA ADIK LO!" Teriak Vano dengan sisa tenagannya sebelum Devan benar-benar pergi dari rooftop. Setidaknya Devan harus tau bahwa dirinya benar-benar mencintai Kania.
"Kamu gak papa kan?" Tanya Kania memangku kepala Vano.
"Dasar cowok gila, udah babak belur masih aja bilang gak papa" batin Kania menggerutu.
"Kita ke uks ya, aku bantu" Vano menganggukan kepalanya sebagai jawaban, iya juga sudah tidak tahan menahan rasa perih di sudut bibirnya yang sobek.
..........
"Kamu tiduran disini dulu, aku ambilin air hangat buat bersihin luka kamu" ucap Kania merebahkan tubuh Vano di atas brangkar. Lalu Kania pergi meninggalkan Vano menuju kantin untuk meminta sedikit air hangat ke ibu kantin.
Tidak membutuhkan waktu lama Kania datang dengan membawa baskom yang sudah berisikan air hangat.
"Van bangun" ucap Kania menggoyang-goyangkan badan Vano.
"Hmmm"
"Bangun dulu aku bersihin luka kamu." Mau tidak mau Vano bangun dari tidur singkatnya. Padahal kepalanya terasa sangat berat.
"Tahan ya." Kania menempelkan handuk yang sudah dibasahinya dengan air hangat ke luka lebam Vano dengan hati-hati.
"Awhh" ringis Vano.
"Aduh sakit ya?" Panik Kania.
"Becanda" ucap Vano terkekeh.
"Ih dasar, aku kira beneran sakit!" Kesel Kania memajukan bibirnya satu centi.
"Itu ngekode minta di cium?" Tanya Vano dengan sebelah alis dinaik turunkan.
"Yaampun kenapa ini cowok mesum banget sih!" Batin Kania.
"Udah sini deketen kalau mau dicium gakusah ngebatin deh" celetuk Vano seakan tau apa yang sedang dipikirkan Kania.
"Apaan sih!" Ucap Kania salah tingkah.
"Ehh itu pipi kamu kok merah sih? Kamu pakek pemerah pipi ya?" Tanya Vano dengan polosnya memegang pipi Kania.
"Ehh tapi enggak deh" ucap Vano menjawab pertanyaannya sendiri.
"Dasar, udah mesum gak peka lagi!" Kesel Kania.
"Disini panas ya" ucap Kania mengibas-ngibaskan tangannya.
Panas? Vano yang mendengarnya mengeriyitkan dahinya bingung. Padahal suhu diruangan ini sudah sangat dingin, dirinya saja sampai menggigil. "Masa sih panas?"
"Dasar gak peka!"