Love Without Reason

Love Without Reason
Episode 2. Agresif



"Loh.. dia itu.. bukannya.... tidak tidak.. masa iya.." Desi bergumam kecil


"Des, lu kenapa sih.. udah kayak malin kundang aja, lu dikutuk? Diem diem bae" tanya Tina


"Engg.. anuu, dia itu cowo yang ada di mimpi gue"


"Eellehh, mentang mentang cowonya keren ganteng good looking gitu langsung di klaim, coba kalo jelek item dekil, boro boro ngakuin, liat aja pasti amit amit dah lu. Emang udah bener itu keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang good looking"


"Ngga Tinn, gw serius tau, itu beneran dia, demi odading mang oleh" balas Desi


Si murid baru tersebut mulai membuka mulutnya dan memperkenalkan diri.


"Selamat pagi semuanya, nama saya an-


"ANDREE..!" Potong desi teriak dengan penuh percaya diri


Semua mata yang ada dalam ruangan itu seketika langsung tertuju kepada Desi


"Umm.. Dess..? Sehat? lu ngapain njirr, duduk cepetan, malu maluin aja lu" bisik Tina


"Lo ga percaya kan ama gue kalau dia itu cowo yang di mimpi gue, noh gue buktiin"


Tina hanya bisa geleng geleng menunduk, mengambil buku, lalu pura pura membaca, seakan tidak mau tahu akan apa yang terjadi dan tidak ingin mengenal manusia gila yang bersebelahan dengannya


"NAMA LO ANDRE KANN?!! LEBIH TEPATNYA ANDREAS CHANDRA KANN..!" teriak desi dari belakang dengan percaya diri


"Des, kamu ini kenapa sih, biarpun kamu kenal ga perlu sampai teriak teriak gitu, biarkan dia memperkenalkan diri. Maaf yah murid baru, dia memang agak cerewet, silahkan memperkenalan diri" kata si bu guru dengan sedikit kesal


"Nama saya Andreas Chandra, kalian bisa panggil aku Andre, aku berumur 17 tahun, hobi saya belajar. Terima kasih"


"Lah gitu aja?" "Singkat banget" "gantengnyaa" "dia mau ga ya ama gue" "dia keren bngt sumpah"


Seperti itulah yang terpikir oleh para wanita yang ada di dalam ruangan itu, emang ya semua orang mau cowo apa cewe itu sama aja, kalau ada yang goodlooking, kayak mau langsung di embat.


"Andre silahkan duduk di kursi kosong di sebelah sana" suruh bu guru


Rupanya kursi kosong yang tersisa tersebut tepat berseberangan dengan Desi. Wajah Desi seketika langsung berubah menjadi wajah ceria tanpa beban. Andre hanya berjalan menuju ke kursi tersebut dengan wajah datar dan dingin seperti es batu.


Sepanjang pelajaran, mata desi hanya tertuju pada Andre dengan senyum yang terus terpasang di wajahnya. Andre yang menyadari hal itu merasa aneh dan agak risih, lalu berbalik ke Desi.


"Em.. maaf, lu ngapain?" Tanya Andre dengan wajah tanpa ekspresi


"Ngga, gue cuma liatin masa depan gue, emang apa lagi?"


"Hah?.. apa?.." Tanya Andre dengan wajah tak senang


"Iya masa depan gue, cowo yang ngambil cinta pertama gue, heheheh.."


"Apaansih, kenal juga nggak" Andre berbalik risih


"****** lu, makanya jadi orang tuh pedenya dikontrol dikit, jadinya kebablasan kann" ejek Tina


"Au ah, gelappp"


***


TENG TENG TENG TENG TENG TENG TENGGG


Suara merdu nan indah yang paling dinantikan oleh seluruh siswa. Gemuruh dentuman lonceng yang menggelegarr membuat seluruh stamina dan semangat siswa siswi terisi kembali. Ya apalagi kalau bukan bel pulang. Dasar murid jaman sekarang


"Des, gue duluan yah, sampai besok sayaaangg" Tina melambai keluar kelas


"Dih merindingg gue, sana sana pulang"


Andre sedang duduk merapikan mejanya, memasukkan bukunya kedalam tas, tiba tiba tampak seperti ada orang berbaju putih, yang berdiri di sampingnya, dengan mata yang terus tertuju padanya. Bukan, bukan mba kunti kok. Ya tentu saja siapa lagi kalau bukan Desi.


Andre berbalik risih


"Gue mau bilang sesuatu hal yang penting yang lo harus tau, tapi kamunya sibuk jadi aku tungguin deh"


"Harus ya nungguinnya berdiri sedekat ini?"


"Eng... harus" jawab Desi mengangguk angguk


"Harus juga ngeliatin gitu?"


"Ga harus sihh, tapi mata desi nih yang nakall, udah gue suruh liat kesamping tapiii mata nya mau ke andre terus, jadi yahh, aku pasrah aja hehehe.."


Andre sedikit kesal melirik tajam ke Desi


"Lu gila ya?" Tanya Andre tajam


"Emm nggak gila kok, desi masih normal, kalau desi gila mah pasti ga bakal ada disini sekarang ya kann?? Hehe"


"Jadi, sesuatu yang penting itu apa?"


"Gue suka ama lo" jawab Desi


"Oh, gue enggak"


Sekilas Desi terdiam seperti patung, raut wajahnya yang sangat bahagia berubah menjadi wajah tanpa ekspresi, datar seperti lapangan bola. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Karna ini adalah pertama kalinya ia jatuh cinta dan menyatakan cintanya namun ia mendapat jawaban yang sama sekali ia tidak duga. Ia menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum ceria


"Tapi kenapa? Desi kan cantik, maniss kayak gulali, imutt lagi"


"Ambil hp lu, buka kamera depannya"


"Emm... udah, emang knp?"


"Cermin sana"


Desi bergaya depan kamera nya dengan percaya diri


"Heumm.. beneran cantik kok, lagian buktinya banyak cowo yang nembak gue, kalau ga cantik kan ga mungkin mereka pada nembak gue"


"Bukan lo yang cantik, selera mereka aja yang rendah"


Sekali lagi desi terdiam mematung, dadanya semakin sesak mendengar perkataan andre yang begitu tajam menusuk tepat di hatinya. Ia menggeleng geleng lalu tersenyum kembali


"Ada lagi ga? Kalau ga ada, udah minggir, gue mau pulang" ucap Andre


"Kok lu kayak gini sih, yang gue tau itu lu baik, ceria, ramah, dan lu suka ama gue"


"Hah? Gausah sok kenal gitu, baru aja ketemu udah sok tau soal gue"


"Tapi emang bener kok.. jadi kemarin itu gue mimpiin lu, dan lu itu baikkk banget, murah senyum, dan kita saling suka gitu"


"Jadi hanya karna lo mimpiin gue, lo langsung ngaku kenal gue?"


"Hu'umm, dan langsung jatuh cinta ama lo hihi.."


"Udah gila emang, udah sana, gue mau pulang"


"Eh ehhh etsss, 1 lagi, gue udah terlanjur cinta ama lo, jadi gue ngga bakal nyerah, pokoknya hati gue milik lo, dan hati lo bakal jadi milik gue"


"Udah? Kalo udah minggir"


Andre langsung berjalan meninggalkan desi


"POKOKNYA GUE TETAP SUKA AMA LO, MAU LO TOLAK GIMANA PUN TETEP DESI KEJARR, SIAP SIAP AJA, LU BAKAL GUE KEJAR AMPE BIKINI BOTTOM SEKALIIIPUUUN.." teriak Desi


Dan.. Andre tak peduli sama sekali, tak membalas satu kata pun, dan tetap diam berjalan keluar ruangan..