
"Umi, Kemarin Alysa ketemu dengan seorang pria yang ingin bunuh diri, karena kecelakaan yang di alami calon istrinya. Dia terlihat sangat frustasi umi, tapi Alhamdulillah Alysa bisa menenangkan dirinya" Jelas Alysa panjang.
"Lalu? Bagaimana sekarang keadaan calon istrinya? " Tanya Umi Khadijah
"Kemarin polisi menemukan jenazah umi, Di temukan hancur dan tidak dapat di kenali lagi. Alysa tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan pria itu umi"
Umi menyimak cerita Alysa dengan prihatin.
Sekarang Alysa lebih memilih tinggal di pesantren bersama Umi khadijah yang telah merubah banyak dari hidupnya. Ia bisa belajar banyak ilmu agama dengan umi khadijah. Di rumah nya sendiri pun, Alysa merasa kesepian dan sendiri. Kedua orangtuanya selalu sibuk bekerja. Bahkan ia lebih merasa di sayangi oleh umi Khadijah.
"Alysa, kamu tidak punya keinginan menikah nak? Tanya umi
"Hmmm, Alysa mah pengen umi. Tapi jodohnya aja yang belum ada heheheh" Alysa terkekeh
"Usia kamu sudah matang untuk menikah nak, Kamu mau umi carikan calon pendamping untukmu? Tanya Umi kembali
Alysa lantas terkejut, Ia memang punya keinginan untuk menikah, namun apa daya ia belum menemukan seorang yang cocok untuk dirinya.
Dringgg dringgg dringgg Tiba-tiba ponsel Adibah berbunyi.
08231564XXXX Tertera nomor yang tidak di ketahui di ponsel itu.
"Halo, Dengan Alysa? "
"Iya, dengan saya sendiri.Maaf dengan siapa saya berbicara"
"Saya faiz, kamu masih ingat kan? "
"Oh,iyaaa Ada yang bisa saya bantu?
"Saya ingin meminta tolong padamu, tapi kita berbicara langsung saja ya. Saya tunggu kamu di taman kota selesai zuhur nanti,saya mohon kamu datang yaa ini sangat penting sekali. "
"InsyaAllah saya datang"
"Terimakasih sebelumnya, Assalamu'alaikum "
"Wa'alaikumussalam"
Sambungan telephone pun terputus, Alysa tampak bingung hal apa yang menyebabkan pria bodoh itu ingin berbicara langsung kepadanya.
🥀🥀🥀🥀
Sesampainya di taman, Alysa melihat Faiz yang tampaknya menunggu kehadiran Alysa. Tanpa berfikir panjang, Alysa pun menghampiri faiz.
"Assalamu'alaikum " Salam Alysa
"Wa'alaikumussalam " Jawab Faiz
"Maaf sebelumnya saya menyita waktu mu, kamu mungkin telah mendengar kabar tentang meninggal nya Adibah, calon istri saya kan?" Tanya Faiz dengan wajah yang lesu
"Ooh, iya saya turut berduka cita atas kabar itu"
"Tetapi, saya ingin meminta tolong padamu, mungkin menurutmu hal ini sangat tidak masuk akal. Namun saya sangat membutuhkan bantuan mu. Dan saya akan mengabulkan apapun permintaan mu, jika kamu bersedia membantu saya" ucap faiz panjang lebar
"Jika saya mampu, saya akan dengan senang hati membantu mu tanpa adanya pamrih" Ucap Alysa tulus
"Saya mohon,maukah kamu menjadi istri saya?"
Deg
"Apakah ia tidak salah? dia melamarku? Ya Allah.. Benarkah ini? Apakah ini mimpi? " Gumam Alysa di dalam hatinya.
Ia pun terdiam dan tampak rona merah muda terlihat jelas di pipinya. Seperti kepiting rebus! Bagaimana tidak? Seorang pria di hadapan nya sedang melamar seorang Alysa Az-zahra?!
"Tetapi.... " tiba-tiba ucapan Faiz menghentikan lamunan nya.
"Tetapi apa? " tanya Alysa berusaha menetralisir rona merah muda yang ada di pipi nya.
"Hmmmm, tidak ada. Nanti malam, saya dan keluarga akan datang ke rumah mu untuk melamarmu"
"Kamu baru saja kehilangan calon istrimu. Mengapa dengan mudah nya kamu meminta saya menjadi istrimu? Saya mohon, fikirkan kembali permintaan mu itu, saya tidak ingin kamu mempermainkan masalah pernikahan" Ucap Alysa tegas, entah mengapa perasaan nya bercampur aduk. Antara senang dan ada perasaan ganjal di hatinya.
"Saya sudah sangat memikirkan semua ini matang-matang. Dan keputusan saya ingin menikahi mu. Soal Adibah, memang seharus nya saya harus mengikhlaskan dia. Dan tidak boleh terus-terusan meratapi kematian nya. " Faiz mencoba meyakinkan Alysa,namun entah mengapa ada keraguan dalam nada bicaranya
"Kita baru pertama kali bertemu, Hal apa yang membuat mu meyakini untuk menjadikan saya istri mu? " Tanya Alysa
"Hmmm, Dari awal kita bertemu Saya yakin bahwa kamu adalah seorang yang baik dan kamu mampu berbuat baik kepada orang yang bahkan belum kamu kenal" Kata faiz jujur, namun bukan itu alasan utama ia ingin menikahi Alysa.
"Baiklah jika kamu yakin datanglah ke pesantren Al-Mu'minin.saya tinggal di lingkungan pesantren itu. Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum " Dengan cepat Alysa pergi meninggalkan faiz
🥀🥀🥀🥀