Knight Of Pensylon: Rise Of The Cavalier

Knight Of Pensylon: Rise Of The Cavalier
Chapter 21 - Gerbang Asrama



*PoV Christopher*


Aku ingat betul apa yang terjadi sebulan yang lalu. Ingatan itu benar-benar melekat di kepalaku. Hari dimana aku kehilangan segalanya.


Keluarga, harta, rumah, desa, harapan, impian, segalanya hancur dibakar api pada malam itu. Aku sendiri hanya bisa diam tak berdaya. Alasannya?


Karena aku terlalu lemah.


Itulah sebabnya aku berada di sini, bersama Norman dan beberapa orang yang makin lama makin ramai. Kami berdiri di tempat ini bersama dengan kuda kami.


Kami sendiri berada di pintu masuk asrama Knights of Pensylon. Menunggu untuk dilatih, menunggu untuk jadi lebih kuat, menunggu untuk memulai.


Menunggu untuk jadi Knights of Pensylon.


...----------------...


Aku ingat tiga hari setelah malam terburuk itu, aku memutuskan untuk bergabung dengan Knights of Pensylon. Bisa dibilang, semuanya tidak setuju akan keputusanku.


Victoria tentu saja langsung protes memarahiku karena aku malah "mengikuti jejak Norman menuju kematian".


Lalu Tn. Hendrickson dan Tn. Alexander sama-sama mempertanyakan keputusanku itu karena mereka tahu kalau itu sangat berbahaya.


Bahkan Norman sendiri pun awalnya melarangku untuk bergabung dengan Knights of Pensylon mengikuti jejaknya.


Namun malam itu keputusanku sudah bulat. Aku akan bergabung dengan Knights of Pensylon apapun yang terjadi. Aku tak lagi peduli akan bertapa berbahayanya jadi Knights of Pensylon.


Aku sudah menyaksikan dan merasakan sendiri rasa takut dan rasa tak aman dari peperangan secara langsung, aku bahkan tak perlu jadi Knights of Pensylon untuk merasakan itu semua.


Karena itu, pada akhirnya mereka semua terpaksa membiarkan keputusanku untuk menjadi ksatria yang rela mati demi Sang Raja (setidaknya itulah kata orang-orang)


Andai mereka tahu alasanku yang sebenarnya untuk bergabung dengan Knights of Pensylon, kurasa mereka tak akan setuju.


Alasanku ingin bertambah kuat agar aku bisa melindungi teman-temanku itu sebenarnya tidak sebesar itu kok, bahkan hanyalah omong kosong belaka kalau kau tanya aku.


Alasanku adalah, karena aku ingin mencari siapa saja yang menghirup udara Wheatville pada malam itu, dan mempertemukan mereka dengan Jiwa Naga mereka sendiri.


"Ngomong-ngomong, Norman. Berapa harga kuda barumu itu?" tanyaku sambil menunjuk ke kuda coklat di sebelahnya.


Kuda itu benar-benar baru. Aku lupa namanya, tapi kalau tidak salah ada hubungannya dengan kecerdasan pemiliknya. Namun yang jelas aku benar-benar tak tahu sehebat apa kuda satu ini.


Apakah dia secepat Spirit atau bahkan lebih cepat? Apakah dia memiliki stamina sekuat Snow atau bahkan lebih kuat lagi? Atau bahkan keduanya?


Itu semua tergantung dari harga kudanya, setidaknya itu menurutku. Norman melirik kuda itu sebentar sebelum kemudian kembali berpaling ke arahku dan berkata...


"Sekitar 10.000 Graft seingatku."


10.000 GRAFT?! DEMI JIWA PENSYLON ITU MAHAL SEKALI! Bahkan perabotan rumahku di Wheatville dulu saja jika semuanya dijual tidak akan menca-


Ah sial, aku kembali mengingat Wheatville. Kembali mengingat... Sial.


Aku benar-benar harus jadi lebih kuat.


"10.000 Graft?! Demi Jiwa Pensylon, Norman. Darimana kau dapat uang sebanyak itu?!" tanyaku.


"Apa kau sadar kalau semenjak ibuku meninggal, aku sama sekali tidak membeli barang apapun yang tidak penting?" Norman bertanya balik.


Benar juga, ketika aku membeli barang seperti buku dan Victoria harus membeli barang-barang penting "khusus wanita", Norman sama sekali tidak membeli barang apapun yang rasanya tidak penting.


Aku tidak bilang kalau buku itu tidak penting, tapi Norman sering memintaku untuk membawa buku baru yang kubeli agar ia juga bisa membacanya juga. Jadi kurasa dia tak perlu membeli buku itu sendiri.


"Ah. Aku mengerti, kau menabung sejak awal agar kau bisa membeli kuda baru untuk bergabung ke Knights of Pensylon, ya..." aku menyimpulkan.


Norman menganggukkan kepalanya, sebelum kemudian dia menambahkan beberapa kata...


"Kalau boleh jujur, Kristoff. Pada awalnya aku ingin membeli Spirit darimu, karena kuda itu bisa dibilang kuda terbaik yang pernah kutunggangi.


Namun karena aku sadar bertapa pentingnya Spirit bagimu, dan juga karena aku sadar kalau Spirit sama sekali tidak cocok denganku, makanya aku memilih untuk membeli Genius." jelasnya.


Itu dia! Genius! Itulah nama kuda baru Norman, namanya benar-benar Norman sekali. Maksudku, siapa lagi yang menamai kuda mereka Genius selain Norman?


Tapi dia awalnya ingin membeli Spirit, hmm...


"Aku ingin memperingatkanmu satu hal, Norman." kataku sambil mengelus kepala Spirit.


"Bahkan uang sebanyak 10.000 Graft pun tak akan cukup untuk membuatku ingin melepas Spirit padamu, atau pada siapapun." kataku.


"Aku tahu kau tidak akan memberikannya padaku, tapi setidaknya kel- lupakan." ucap Norman.


Aku tahu apa yang ingin dia ucapkan, namun dia memilih untuk tidak mengatakannya agar dia tidak menyakiti perasaanku. Maksudku, jujur...


Jadi diriku yang sekarang ini saja rasanya sudah keajaiban, dan aku tahu Norman tak mau membuatku kembali tenggelam dalam kesedihan.


"Hei, kalian datang pagi sekali." kata seorang gadis di belakangku.


Norman nampak tersenyum melihat orang itu, karenanya aku tahu itu pasti...


"Victoria." sahut Norman.


Victoria nampak sedang berjalan sambil memegangi tali kekang Snow di sebelahnya. Rambutnya yang pirang dan wajahnya yang cantik (percayalah, Norman yang pertama kali mengatakannya dan aku sepakat dengannya) membuatnya jadi pusat perhatian orang-orang di sini.


"Sulit dipercaya kalau satu bulan yang lalu kau mengatakan kalau kau membenciku juga karena bergabung dengan Knights of Pensylon, dan sekarang di sinilah kau berada..." sindirku pada Victoria.


"Hei, kau tahu aku bergabung hanya sebagai petugas Medis, bukan?" jawab Victoria.


Masuk akal saja menurutku kalau gadis ini memilih masuk ke bagian Medis. Memiliki seorang Paman yang berpengalaman jadi dokter tentu saja setidaknya membuatnya paham satu dua hal tentang paramedis.


Selain itu, dia tak mungkin mau berada di garis depan karena kedua orangtuanya dulu tewas dalam pertempuran sebagai pengintai.


Kedua... Orang tua... Keluarga... Tewas... Sial...


Aku benar-benar harus jadi lebih kuat.


"Tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau pada akhirnya kau akan bergabung dengan Knights of Pensylon, Victoria." kata Norman.


"Sama." aku sepakat.


Victoria membuang mukanya, sebelum menunjuk Norman dan berkata "Ini semua gara-gara kau tahu!"


"Hah?! Apanya yang gara-gara aku?!" Norman membantah


"Karena ide sintingmu untuk bergabung dengan Knights of Pensylon, Christopher jadi ikut-ikutan!"


"Lantas apa hubungannya kalau Kristoff ikut bergabung?! Apakah kau benar-benar berpikir kalau itu salahku?! Kristoff sendiri yang mau bergabung dengan Knights of Pensylon!!"


"Tentu saja itu salahmu! Kau kan yang duluan ingin bergabung dengan Knights of Pensylon!!"


"Memang apa salahnya?! Sejak dulu aku sering bilang ingin bergabung dengan Knights of Pensylon! Lagipula kalau kau tak mau bergabung, kau tak perlu ikut bersama kami!!!"


"Dasar orang aneh!"


"Dasar gadis sialan!"


"Dasar otak udang!"


"Kalau otakku itu seperti otak udang, lantas seperti apa otakmu itu?!"


Percaya atau tidak, tak akan ada yang bisa menghentikan Norman dan Victoria saat mereka sedang bertengkar, bahkan Tn. Alexander ataupun Tn. Hendrickson juga menyerah soal itu.


Tapi ada satu hal yang membuatku merasa aneh setiap kali melihat mereka bertengkar sejak dulu. Namun aku tak pernah tahu apa sebenarnya yang aneh dari pertengkaran mereka.


"Um, permisi..."


Eh?


Aku seketika memutar badanku yang awalnya menghadap arah Utara hingga sampai ke Selatan, dan aku melihatnya.


Seorang gadis berambut hitam kemerahan panjang. Kurang lebih sama saja seperti gadis-gadis lain yang pernah aku temui (atau setidaknya, Victoria).


"Bisakah kalian minggir sebentar? Kuda kalian menghalangi jalan..."


Benar juga, kuda kami (atau tepatnya kudanya Norman dan Victoria) sekarang tengah berdiri di depan pintu gerbang bangunan ini.


Sialan, kedua pasangan ini terlalu fokus bertengkar sampai-sampai tak sadar kalau kuda mereka telah menghalangi jalan.


Kenapa aku berani menyalahkan mereka berdua? Percayalah. Spirit bahkan bisa dibilang yang paling jauh dari gerbang jika dibandingkan kami bertiga beserta kuda masing-masing.


"Oh, maaf. Sebentar ya..." kataku walau tak yakin bisa menghentikan pertengkaran dua orang ini.


"Gadis sialan."


"Otak Udang!"


"Gadis sialan."


"Otak Udang!"


"Gadis sialan."


"Otak Udang!"


"Gadis sialan."


"Otak Udang!"


"Bisakah kalian ini berhenti bertengkar? Kalian menghalangi jal-" ucapku.


"DIAMLAH, KRISTOFF!!!"


"DIAMLAH, KRISTOFF!!!"


Mereka baru bertengkar beberapa detik yang lalu, dan mereka sekarang malah saling kompak menyuruhku untuk menutup mulut. Pakai nama Kristoff pula...


Mereka dengan kompak juga menatapku dengan sinis. Benar-benar kalian ini, kenapa kalian tidak n- tunggu. Mereka diam? Ini kesempatanku..


Dengan sejenak kuarahkan telunjukku ke gadis yang tadi meminta tolong padaku. Itu berhasil mengalihkan pandangan mereka berdua yang pada awalnya tajam padaku menjadi lebih terbuka pada gadis tadi.


"Maaf, kuda kalian berdua menghalangi jalan..." katanya.


Mereka sontak bergerak sambil menarik kuda mereka agar memberi jalan masuk untuk gadis tadi berserta beberapa orang yang sepertinya sudah marah dengan mereka.


Tapi kenapa mereka juga melirikku dengan tajam? Padahal bukan aku yang menghalangi jalan...


"Maaf." Norman menunduk-nundukan badannya.


"Maaf juga..." Victoria menyusul Norman melakukan hal yang sama.


Tingkah laku kedua manusia ini benar-benar melakukan kerja bagus untuk membuatku menepuk jidatku sendiri. Gadis di sebelahku juga malah tertawa kecil akan tingkah konyol mereka berdua.


"Maaf soal mereka, tapi jujur. Sekedar memberitahu, aku tak kenal siapa mereka." kataku pada wanita tadi.


"Hehe, Terima kasih..." ucapnya.


Tep. Tep. Tep.


Wanita tadi mulai berjalan ke arah pintu gerbang itu. Hadeh, memalukan saja...


"Ngomong-ngomong, rambutmu bagus juga..."


Hah?


Gadis itu baru saja berbisik ke telingaku, dan yang ia katakan adalah soal rambutku? Tadinya kukira orang-orang akan menganggapnya aneh. Maksudku...


Ketika Norman dan Victoria melihat warna rambutku berubah jadi putih sebulan lalu, mereka nampak melihatku layaknya orang aneh. Ditambah lagi Paman Victoria bilang aku nampak seperti orang tua dengan rambut putih ini.


Tapi gadis ini bilang warna putih rambutku itu bagus? Menarik...


Jika kupikir-pikir, rambut gadis itu juga tidak buruk. Hitam kecoklatan, kurang lebih sama seperti Christina dulu... Setidaknya sebelum dia-


"Cie, ada yang jatuh cinta rupanya..." ucap laki-laki di dekatku ini.


"Aku baru tahu kau bisa jatuh cinta juga, Christopher..." Victoria malah ikut-ikutan.


Merusak suasana saja.


"Setidaknya aku bisa memaklumi tindakanmu, Victoria. Mengingat di rumahmu sama sekali tak ada kaca. Tapi kau, Norman? Kau benar-benar butuh cermin." sindirku pada mereka.


"Hah? Apa ada yang salah dengan rambutku?" tanyanya.


"Bukan rambutmu, bodoh. Tapi lihatlah kalian! Beberapa menit yang lalu kalian baru saja bertengkar layaknya sepasang suami-istri." ucapku.


"Kami bukan suami-istri!" seru Norman.


"Kami bukan suami-istri!" seru Victoria.


"Memang bukan, karena belum." balasku.


Hadeh, kenapa pula aku malah membahas ini. Maksudku, lapangan depan ini sekarang benar-benar sudah sepi. Apa lagi yang kami tunggu di sini?


"Sudahlah, kalian sialan. Lihatlah sekitar kita. Bukankah akan lebih baik untuk segera masuk ke dalam?" kataku.


"Benar juga." ucap Victoria.


"Baiklah, siapa yang masuk paling terakhir dia yang kalah!" kata Norman sambil berjalan ke arah pintu gerbang.


"Hei, tunggu aku!" kata Victoria.


Mereka berdua bergegas lari masuk ke dalam pintu gerbang bangunan ini. Meninggalkanku yang memilih untuk berjalan saja masuk ke sini.


Melihat kedua orang ini berlarian sambil tertawa sepanjang jalan, rasanya... Menenangkan. Benar-benar menenangkan. Mereka masih bisa tersenyum seperti itu ketika aku sudah mulai lupa caranya.


Aku hanya bisa berharap, mereka tak pernah kehilangan senyuman kebahagiaan itu. Karena itulah...


Aku harus bertambah kuat, dengan bergabung ke Knights of Pensylon.


...****************...


*Knights of Pensylon Arc - Begin*