
Aku dan Victoria masih berdiri membeku setelah melihat nasib teman kami di balik pintu kamar yang sekarang sudah terbuka ini.
Ia tampak menyedihkan, dan aku sama sekali tak bisa memperkirakan apa yang sebenarnya ada dalam isi kepalanya.
Yang jelas, Kristoff sama sekali tidak baik-baik saja saat ini.
"Christopher..." ucap Ayahku sambil berjalan perlahan mendekatinya.
Kristoff sama sekali tidak mempedulikannya. Pandangannya tetap terarah ke luar jendela, mulutnya tetap merekat, dan pose badannya sama seperti pose badannya beberapa detik yang lalu.
"Christopher, kau dengar aku kan?" Ayahku masih berusaha bicara dengannya.
Sama saja seperti sebelumnya, Kristoff sama sekali tak acuh pada orang-orang di sekitarnya. Setidaknya sampai beberapa saat kemudian...
"Apa yang kau inginkan dariku?"
Dia bicara, tanpa merubah posisi dan gerak badannya sedikitpun. Jujur, itu agak mengerikan bagiku. Belum lagi ditambah suara Kristoff yang sekarang benar-benar lemah layaknya orang yang tak makan tiga hari (tunggu, memang benar sih).
"Aku hanya ingin bicara denganmu." jawab Ayahku.
Hening. Kurasa beginikah rasanya bicara dengan orang-orang yang baru saja melalui kejadian yang amat sangat buruk dalam hidup mereka? Setiap kalimat memiliki jedanya sendiri?
"Bohong."
Kristoff angkat bicara. Nada suaranya seakan-akan menahan tangis dan kesakitan yang amat mendalam. Karenanya, Ayah kembali mencoba...
"Aku tidak bo-"
"KAU PASTI BOHONG!!!" potong Kristoff dengan kencang.
Kali ini badannya benar-benar berubah. Pandangan kosongnya berubah jadi tatapan sinis pada Ayahku.
Seluruh tubuhnya berputar ke arah kami bertiga. Tak lupa telunjuknya ia arahkan pada kami. Nafasnya tak beraturan, giginya nampak, dan badannya benar-benar kaku.
"APA LAGI YANG KAU INGINKAN DARIKU?! HAH?! AKU KEHILANGAN SEGALANYA!!! AYAH, IBU, ADIK, KELUARGA, HARTA, RUMAH, IMPIAN, SEMUANYA!!!" serunya dengan keras.
Kristoff memang sedikit pemarah saat kami bermain bersama dulu, namun itu biasanya karena sifatnya yang kekanak-kanakan.
Tak pernah sekalipun aku terpikirkan kalau amukan pria kekanak-kanakan itu akan semengerikan ini.
"JADI KATAKAN SAJA PADAKU, APA LAGI YANG KAU INGINKAN DARIKU?! AMBIL SAJA SANA, DAN TINGGALKAN AKU SENDIRI!!!" katanya.
Tep. Tep. Tep.
Ayah mendekati Kristoff yang masih diam di posisinya. Aku bisa merasakan kalau Kristoff mulai gentar karena Ayah bukannya menjauh, dia malah mendekatinya.
"HEI, APA YANG KAU LAKUKAN?! PERGI!!! AKU BILANG PER-"
Greb.
Ayah memegang Kristoff di bagian belakang kepalanya. Sebelum kemudian mendekatkan anak ke badannya dan mendekapnya layaknya anak sendiri.
"Hei!" Kristoff mencoba melawan.
"Aku sudah bilang padamu, Christopher. Aku hanya ingin bicara denganmu..." Ayahku kembali berucap.
Kristoff mulai tenang, tatapannya sekarang tertuju padaku dan juga Victoria. Tatapan orang khawatir, aku tak tahu kenapa dia melirik kami seperti itu.
"Kejadian tiga hari yang lalu, tidak ada yang menginginkan itu semua terjadi. Maksudku, tak mungkin kita semua menginginkan kehancuran desa kita sendiri, bukan?" Ayahku membujuknya.
"Jadi, Christopher. Apa yang terjadi pada hari itu sudah pasti bukan kesalahanmu. Itu memang sudah takdir, jadi jangan terlalu salahkan dirimu sendiri. Oke, nak?"
Tangan Kristoff mulai terangkat, terangkat perlahan-lahan menuju ke bagian pinggang Ayahku. Nafas anak itu mulai sesenggukan. Lalu air mata nampak mulai keluar dari kedua matanya.
"Jangan ragu untuk menangis, Christopher. Menangislah sesukamu, keluarkan saja semuanya. Tidak akan ada yang menyalahkan tangisanmu ini.
Kau sudah amat sangat menderita selama ini, dan kami tahu itu. Jadi tak perlu malu, menangislah sesukamu. Tidak apa-apa..."
Hug!
"HAAAAA...."
Kristoff mendekap Ayahku, sebelum berteriak sekencang-kencangnya sambil mengalirkan air mata yang amat deras dari ujung kedua matanya. Sungguh memilukan.
Aku melihat ke sekeliling, dan aku bisa melihat Victoria juga sedikit meneteskan air matanya. Kemudian Pamannya sendiri pura-pura tidak peduli, padahal aku bisa melihat terkadang dia mengusap matanya.
"IBU... AYAH... HUAAA..."
Pemandangan ini sama sekali tidak asing bagiku, tidak sama sekali. Karena faktanya, dulu Victoria juga seperti ini ketika kedua orangtuanya tewas dalam pertempuran.
Yang membedakan adalah Victoria setidaknya bisa kembali jadi setengah dirinya yang lama, dan itu karena Kristoff dan aku memutar otak untuk menghiburnya.
"CHRIS... CHRISTINA... CHRISTA... Hiks... HUAAA...."
Sedangkan Kristoff, aku sama sekali tidak yakin dia akan sama seperti dirinya yang dulu. Selain karena kehilangannya yang bisa kubilang "lebih parah" dari Victoria...
Ketika biasanya dia yang menghiburku dan Victoria saat kami sedih, sekarang saat dia sedih siapa yang bisa menghiburnya?
...----------------...
Waktu berjalan begitu cepat. Saat aku dan Ayah tiba di sini, mentari berada tepat di atas kepala kami. Sekarang? Bahkan sinarnya saja sudah tidak terlihat lagi.
Karena itu, aku rasa akan lebih baik kalau aku dan Ayah makan malam di sini sebelum kami memutuskan untuk pulang ataupun menginap di sini.
Victoria dan Pamannya sedang memasak di belakang sana, dan harumnya benar-benar enak. Enak kalau aku bisa mengabaikan bau asap api yang dari tadi menusuk hidungku.
Namun ada hal yang ajaib terjadi pada malam ini, Kristoff pada akhirnya mau makan malam bersama kami. Ia duduk tepat di sebelahku. Tatapannya kosong ke arah lantai bangunan ini.
Yep, aku tahu tidak akan semudah itu untuk mengembalikannya seperti semula. Tapi setidaknya sekarang dia mulai membuka dirinya, bukan?
"Makan malam sudah siap..." ucap Victoria sambil membawa sebuah Ayam Bakar yang sudah dipotong beberapa bagian.
Ayam Bakar bukanlah menu biasa, terutama bagi orang-orang desa seperti kami. Biasanya, kami baru bisa makan Ayam Bakar setidaknya setahun sekali. Bisa saja lebih cepat kalau kami beruntung.
Pamannya menyusul di belakangnya dengan membawa satu nampan yang di atasnya ada lima buah gelas berisi air bening (aku tak tahu kenapa orang-orang menyebutnya air putih padahal itu bening).
Setelahnya, Victoria menyimpan Ayam Bakar itu di tengah-tengah meja. Sementara itu, Pamannya menyimpan kelima gelas itu ke meja bagian kami masing-masing.
"Baiklah, sebelum kita makan. Kita sebaiknya menutup mata untuk berterimakasih pada Jiwa Pensylon karena makanannya pada malam ini..." ujar Paman Victoria.
Kurasa semua orang tahu kalau aku bukanlah tipe orang yang percaya akan hal-hal seperti itu, setidaknya tidak sebelum aku melihatnya sendiri.
Namun saat Victoria, Pamannya, Ayah, bahkan Kristoff menutup mata mereka. Aku sama sekali tidak punya pilihan lain selain untuk ikut melakukannya.
"Baiklah, sudah selesai. Kalian bisa membuka mata kalian."
Aku membuka mataku, begitu pula dengan kami semua. Semua kecuali satu, Kristoff. Anak itu masih menutup kedua matanya.
"Baiklah, saatnya makan! Amm..." ucap Victoria sebelum mengambil sepotong Ayam dan melahapnya.
"Victoria, makannya pelan-pelan." tegur Ayah.
"Kau makan ayam itu lahap sekali, kau ini seperti tak makan tiga hari saja." sindirku.
"Tutup mulutmu, Norman." balasnya.
Kurang lebih seperti inilah bagaimana makan malam itu berlangsung kedepannya. Victoria yang makannya banyak, Ayahku dan Pamannya yang kadang menegurnya, Aku yang menyindir nya...
Kristoff masih menutup kedua matanya...
"Hei, Kristoff. Bukalah matamu, makan malamnya sudah mulai. Sebaiknya cepatlah makan, nanti keburu kehabisan." ucapku.
"Benar, Christopher. Apalagi Victoria makannya rakus sekali."
"Paman!"
Christopher membuka matanya, matanya tidak lagi seterbuka dulu. Bisa dibilang, matanya hanya terbuka sebagian.
Ia melirik kami berempat, satu demi satu. Mulutnya tidak berubah sedikitpun, masih saja murung seperti tadi siang. Bagaimanapun, tangannya mengepal.
...----------------...
"Hah, kenyangnya..." ucap Victoria.
"Pasti lah, orang dari sepuluh potong ayam kau lahap tiga!" tegurku.
"Hehe, maaf..." balasnya.
Aku sendiri kebagian dua potong, Ayah harus puas memakan hanya dua potong, dan Paman Victoria juga sama.
Kristoff hanya makan satu potong, dan setelahnya dia tak lagi menunjukkan hasrat ingin makan. Padahal bisa dibilang dulu dia sama rakusnya dengan Victoria, bahkan lebih rakus lagi.
"Hah, tak terasa makan malam kita sudah selesai." kata Ayah.
"Kau benar, Ayah. Kapan-kapan kita harus melakukan ini lagi." aku setuju.
Namun di dalam lubuk hatiku, aku tahu itu akan sangat sulit, karena dalam satu bulan lagi pelatihan ku sebagai anggota Knights of Pensylon akan dimulai.
Faktanya, alasan kenapa Ayah sama sekali tidak ada di desa pada hari itu adalah karena dia sibuk membantuku mencarikan tempat tinggal selama aku jadi anggota Knights of Pensylon nanti.
Ketemu sih, tapi jadinya malah Ayahku yang harus pindah ke rumah itu karena desa kami diserang saat itu.
"Hei, Norman."
Panggilan itu membuat kepalaku berputar sangat cepat. Begitu pula dengan orang-orang di sekitarku. Mengapa?
Karena Kristoff yang memanggilku barusan.
"Ya?" sahutku.
Anak itu menatapku sejenak sebelum kembali melihat ke bawah.
"Kapan latihanmu jadi Knights of Pensylon dimulai?"
Hah? Kenapa dia bisa-bisanya terpikirkan pertanyaan seperti ini?
"Umm, bulan depan..." jawabku.
"Bulan depan, ya..." dia kembali berucap.
Sebelum kemudian dia berpaling ke arah Tn. Hendrickson dan bertanya
"Kira-kira apakah waktu dua minggu cukup agar luka di bahuku ini sembuh, Tn. Hendrickson?" tanyanya.
Kristoff, sebenarnya apa yang kau pikirkan?
"Bisa sih, seharusnya..." jawab Tn. Hendrickson.
"Baguslah."
Bukan hanya aku yang sepertinya heran akan sikap Kristoff yang tiba-tiba begini, Victoria juga sama. Karenanya, dia mulai angkat bicara...
"Kalau aku boleh tahu, apa yang sedang kau pikirkan Christopher?" Victoria penasaran, mewakili rasa penasaranku juga.
Kristoff berdiri dan kedua tangannya mengepal. Tatapannya mengarah ke piring bekas Ayam Bakar tadi. Wajahnya serius.
"Aku sadar satu hal selama kita makan tadi. Aku sadar kenapa Wheatville bisa diserang dan warganya menderita seperti ini. Aku sadar alasan kenapa aku jadi seperti ini." katanya.
Kristoff kemudian kembali menaikkan pandangannya, kembali melirik ke arah kamarnya. Bukan, tepatnya ke arah jendela di kamarnya.
"Karena aku terlalu lemah. Terlalu lemah untuk melawan, terlalu lemah untuk bertarung, terlalu lemah untuk bicara, terlalu lemah untuk hidup. Terlalu lemah untuk melindungi kalian semua.
Jadi, aku sadar kalau aku harus mengikuti jejakmu, Norman." ucapnya sebelum melirik kembali ke arahku.
Tunggu, jangan bilan-
"Aku akan bergabung dengan Knights of Pensylon, sama sepertimu."
...****************...
*Wheatville Arc Ended*