
...Rasa sayang itu datang...
...mengusir adil nya rasional,...
...membutakan mata dengan berjuta kelopak bunga yang berguguran...
...mengaburkan hal yang jelas adanya....
...Seperti kerja filter kamera,...
...memperindah gambar yang di tangkap...
...menghapus noda yang ada....
...*****...
Hubungan ku dan Ian bisa dibilang lancar tanpa ada nya masalah selama ini, hubungan yang selalu ku inginkan, tetapi mendengar beberapa cerita dari senior di kantor tentang lika-liku yang harus di hadapi dalam hubungan yang bisa mempererat hubungan antar kedua hati membuatku sedikit memikirkan apakah sudah berada di jalan yang benar hubungan ini?.
" Aku kemarin abis berantem sama pacarku, gegara milih gaun buat prewedding, kita sama sekali ga ada obrolan selama 2 hari, tapi kita jadi makin deket makin lengket aja tiap abis berantem"
" Bener tu, hubungan emang perlu lika liku, biar ga lempeng aja, kalo lempeng aja malah mencurigakan ga sih?, berarti ada yang di tutupi tu"
" Bukannya kalo ga pernah berantem itu berarti mereka emang udah cocok banget dan saking ngerti ya?"
" Ya ngga dong, di mana-mana menyatukan dua hati dua pikiran tu pasti ada salah satunya yang ga cocok barang sedikit aja"
obrolan di kantor kemarin terus terngiang di kepala ku sampai aku tak terlalu paham dengan apa yang di katakan Ian yang sedang bercerita dihadapan ku.
"- pokok nya gitu, jadi aku berharap hubungan kita tu dewasa dan serius, dewasa maksut ku itu, kamu ga usah terlalu khawatir ga usah terlalu bawa perasaan juga atau terlalu berfokus sama aku"
" Maksut nya?" alis di dahi ku dengan otomatis mengerut mendekatkan diri satu sama lain mendengar ucapan Ian barusan
" Ya kamu nanti kedepan nya ga usah terlalu gampang cemburu atau terlalu bawa perasaan kan ga baik, intinya saling percaya aja aku ga bakal larang kamu keluar sama temen cowok kamu dan kamu sebalik nya"
" O gitu, oke-oke" jawab ku sembari menganggukan kepala meski kurang setuju dengan permintaan nya, tapi sekali lagi aku meyakin kan diri ku, bahwa tujuan dari hubungan ini jelas
" Pinter" sembari mengusap halus kepala ku suara nya yang sudah nyaman di telinga dan menjadikan hati ikut nyaman pula pun semakin menghipnotis ku.
" Eh iya, ada wedding expo loh di citymal, mampir yuk kan sejalan pulang nanti mumpung di sini"
" Bole-bole, tapi aku agak laper deh kita makan dulu ya"
" Mau makan apa?"
" Eemm, soto?, soto aja"
" oke deh, cari soto nya sekarang aja gimana?, uda selesaikan kopi nya?"
" Nghokey~"
...*****...
Sesampai nya kami di tempat makan yang sederhana kami langsung memesan dua porsi soto ayam beserta tulangan yang terkenal disini. Warung soto yang berada di dekat stasiun kereta api, terlihat sederhana namum sangat ramai pengunjung karena sudah terkenal akan rasanya yang istimewa, seperti itu cerita Ian mengenai warung soto ini.
" O ya, temen ku ada di deket sini ni, dia mau gabung juga nanti ke tempat expo" kata Ian
" Ira, dia temen aku dari jaman kuliah, dia mau nikah tahun depan jadi uda harus cari-cari referensi buat acaranya"
" Sama calon suaminya juga nanti?"
" Enggak, dia sendiri kok jadi kita nanti bertiga"
" Oke!".
Sembari menyantap soto yang sudah dihidangkan di hadapan kami, kami membahas beberapa hal yang tidak penting layaknya pasangan normal lainya. Entah kenapa, tapi sepertinya aku jarang sekali menikmati waktu seperti ini bersama Ian.
" Kapan-kapan kita renang yuk, lama banget gak renang nih" ajak Ian ditengah obrolan kami
" Tapi, aku ga bisa renang, bukan ga bisa sih, ga suka tepatnya renang tu ribet banget nanti berangkat bawa baju buat renang nya pulang nya bawa baju basah nya" jelasku
" Tapi aku pengen banget renang lho, lagian baju renang cewek kan simpel kecil bisa di lipet"
" Bikini maksut kamu?"
" Emang kamu mau renang pake apa?
" Renang nya di tempat umum kan?, pake kaos ama celana pendek dong"
" yang simpel aja pake baju renang, tap kalo kamu ga mau ga papa sih"
" Ya udah kamu renang aja aku temenin, tapi aku ga ikut renang ya cuma nemenin aja"
" Kok kayak nemenin ponakan renang gitu jadinya, tapi ga papa deh, minggu depan ya"
aku mengagguk tanda setuju dengan gagasan Ian untuk pergi berenang. Terjadi lagi, aku memikirkan hal sepele dari obrolan kami barusan, bukan kah terlalu aneh memakai bikini di kolam renang umum, inikan bukan bali surabaya atau jakarta.
Setelah selesai dengan urusan perut, kami menuju ke tempat wedding expo itu diadakan, matahari sudah bersiap untuk berganti peran dengan bulan menemani bumi di malam hari. Jalanan padat dengan orang-orang yang menikmati akhir pekan nya entah bersama keluarga, teman, atau kekasihnya.
Tak sadar kami pun sudah sampai di tempat parkir, sembari menuju pintu masuk, Ian dari tadi sudah sibuk dengan ponselnya. Dengan memegang ponselnya Ian melihat sekeliling
" Nyari siapa?" tanya ku
" Temenku yang tadi bilang mau gabung, dia udah disini katanya-"
" Oh itu dia,"
Ian melepas gandengan tangan nya sembari berjalan menuju seorang wanita seumuran nya di depan pintu masuk expo. Tubuh yang bisa dibilang berisi seperti idaman lelaki lain nya, dengan gaya berpakaian yang dewasa, heels yang tak terlalu tinggi mengenakan rok span di bawah lutut dan juga kemeja santai yang pas di badan tak lupa dengan tas yang terlihat mahal, jika dibandingkan dengan ku yang hanya memakai celana jeans biasa dengan sneakers dan kaos polos serta tas bahu berbahan kanvas, perbandingan nya terlalu jauh.
" Ini kenalin Ririn, ini Ira, kamu udah lama nunggunya?"
" Enggak kok baru aja, oya kita langsung aja yuk, nanti kemaleman nih soalnya banyak banget lho yang ikut expo nya"
" Ayo deh" jawab Ian.
Mungkin karena perbedaan usia kami aku merasa seperti aku berada di dunia yang berbeda dengan mereka. Kami pun berjalan masuk menuju ke area wedding expo yang terlihat ramai itu, memang sedikit susah untuk berjalan dengan inisiatif ku aku berjalan di belakang mereka agar tak terlalu berhimpitan dengan orang sekitar. Sudah sejak Ian melepaskan gandengan tangan nya tadi kami tak lagi bergandengan tangan, entah sungkan dengan teman nya atau bagaimana, tapi aku bisa memaklumi.
Karena keadaan yang ramai, aku tertinggal oleh mereka beberapa kali tanpa sadar, belum sempat aku menggandeng tangan Ian tangan nya sudah di raih duluan oleh Ira dan ditarik nya menuju salah satu stand, aku pun mengikutinya. Di stand yang mereka tuju hanya tersedia dua kursi, dan karena aku sedikit tertinggal mereka sudah duduk terlebih dahulu dan tersisa aku yang terpaksa harus berdiri di antara mereka. Sedari tadi rasa hati yang tak nyaman sudah kutekan dengan sebisa ku, tapi entah kenapa saat melihat bayangan di cermin salah satu backdrop aku merasa seperti membohongi diri sendiri itu sangat menyiksa. Raut di wajah ku tak bisa tertutupi dengan senyuman yang terpaksa, melihat Ian yang biasa saja dan mungkin tak merasakan apa-apa semakin membuat senyumku berat.
...*****...