
manusia dengan berbagai macam rupa
berbagai macam parasnya
tetapi seolah mereka membuat aturannya sendiri
berkulit putih seperti porselen
berambut halus sehalus sutra
berkaki jenjang bak lukisan
berwajah seperti dewi yang mengenakan senyum tipis
mengingatkan sebuah percakapan
antara burung merak dengan burung pipit
burung pipit selalu mengeluh dan iri dengan paras rupawan burung merak
dan pada akhir nya,
burung merak mengatakan hal yang sebenarnya ada di hatinya selama ini
berterimakasihlah jika kau tak rupawan dan ada seseorang yang mencintaimu
setidak nya dia mencintai dirimu bukan rupa dan bentuk mu
aku, tak tau siapa yang benar-benar mencintai diriku
bukan karena rupa dan bentuk ku
melainkan karena kehadiran ku
...*****...
Hari-hari seperti biasa dengan sedikit taburan romansa sudah mulai menjadi kebiasaan bagiku. Kurang lebih sudah tiga bulan kami saling bertukar pesan, bertemu di akhir pekan untuk sekedar nonton atau pun berkunjung ke beberapa kafe.
Pagi ini seperti biasa Ian mengirim pesan manis pagi hari yang seolah memenuhi kebutuhan asupan gula harian.
"Pagi masa depan nya aku, semangat ya kerja nya biar cepet ketemu lagi di akhir pekan" ucap Ian melalui whatsapp.
"Semangat yuk kerjanya" balas ku tak lupa dengan emotikon senyum pipi merah.
"O iya, aku mau ngajak kamu nih tanggal 13 bulan depan saudara aku nikah nih, temenin aku ya, sekalian aku kenalin ke orang-orang" ajak Ian yang langsung membuat kaki ku terasa dingin jantungku pun serasa berhenti berdetak untuk sekejap, rasanya ingin berteriak, tapi tak mungkin karna ini masih terlalu pagi untuk membuat keributan.
"Oke, nanti kita obrolin lagi ya" balas ku dengan keren nya.
Berkali-kali aku mengingatkan diriku sendiri, jangan terlalu menunjukan perasaan mu ke orang lain sekalipun itu orang terdekat mu stay cool gurl.
...******...
Sesampai nya di kantor ada segudang pekerjaan yang harus diselesaikan secepatnya, menyusun materi, mengatur jadwal pelatihan untuk para karyawan,membuat lembar diskusi dan masih banyak lagi. Energi kehidupan ku selama beberapa tahun serasa terkuras mengahadapi pekerjaan yang tak kunjung habis dan tak lupa dengan permintaan atasan yang sangat mendambakan kesempurnaan.
Saat jam istirahat tiba rasanya otak ku sudah tak mampu memberi aba-aba pada tubuhku untuk bergerak lagi, aku hanya bisa duduk di meja kerja sembari membiarkan pikiran ku kosong, sampai pada akhir nya ada panggilan dari resepsionis melalui telepon kabel kantor yang memintaku untuk turun ke lantai satu karena ada kiriman makanan.
"Makanan apaan, perasaan ga pesen deh, au ah yang penting turun dulu cari pemandangan baru di lantai satu" gumam ku sembari berjalan seperti zombie di film yang kemarin malam ku tonton bersama Ashana.
...*****...
Lantai 1 perusahaan
"Makanan apaan mbak?" tanya ku pada resepsionis kantor kami.
"Cie ada yang di kirimin makanan nih, ternyata kamu uda punya pacar to? padahal mau aku kenalin ke temen aku" tanya mbak resepsionis cantik ini padaku dengan senyum mengejek nya.
"Pacar apaan? dari siapa si? buat aku?" tanyaku sembari mengambil makanan tersebut dan langsung kabur untuk kembali ke alam kerja.
Sembari menuju ke meja kerja aku sembari melihat pengirim nya dan seperti yang ku duga Ian yang mengirimkan nya.
Tepat setelah aku duduk lagi di meja kerja ku, aku melihat telepon genggam ku dan ternyata Ian sudah mengirim pesan.
" Makan yang banyak ya, biar agak gemukan dikit, biar tambah cantik, kamu ga suka pedes kan?, aku pesenin yang pedes nya dikit kok, belajar makan pedes biar selera makan nya nambah biar agak berisi" tulisnya.
"Makasih ya, hehe" balasku sembari mengirimkan gambar dari makanan ini.
"Pean uda makan siang juga? makan apa?" tambah ku.
"Jauhan rasa deket nih, o iya acara nya gimana?"
"Aku pengen nya kita pake baju yg matching sih, kita cocokin warna aja gimana?"
"Oke, kita pake warna apa nih?"
"Aku ada dua opsi sih, navi bawahan nude, atau putih bawahan nude"
"Aku ada sih kebaya warna nude"
"Kamu nya pake putih atau navi nya aja"
"Oke deh, tapi enakan navi aja deh kalo putih d sangka kita pengantin nya nanti"
"Iya juga sih, navi aja deh"
"Oki doki"
" O iya aku ada gambar nih kaya nya cocok kalo kamu pake"
"Kayanya kalo kamu pake yang atasan nya agak pendek jadi keliatan agak tinggi deh, jangan lupa pake heels ya, aku suka rambut kamu di urai aja biar keliatan lebih elegan"
"Baju gampang, masih jauh juga tanggal nya"
Percakapan kami lewat pesan pun berakhir seiring waktu berjalan dan habis nya jam istirahat siang.
****
Sesampainya di rumah pada sore hari aku pun melihat lagi isi lemari barang kali ada kebaya yang bisa ku pakai. Seperti dugaan ku, ternyata memang tak ada kebaya berwarna putih ataupun navi. Tanpa banyak berpikir kaki ku pun langsung berjalan menuju kamar Ashana.
"Kamu ada kebaya navi ga?" tanya ku tanpa mengetuk pintu.
"Argh!, kan kaget ketuk pintu dulu kek" jerit Ashana.
Sembari mundur beberapa langkah aku pun menutup pintu kamar Ashana dan mengetuk nya sembari mengulangi pertanyaan ku.
Dengan wajah datar nya Ashana pun menjawab dengan setengah hati
"Ga ada lah, buat apa sih?"
"Buat ke kondangan" jawab ku malu.
"Kondangan?, ga biasanya ampe cari baju gini, kondangan bareng siapa? bareng orang kemaren?" tanya Ashana dengan sedikit emosi.
"Eh kok ngamok, ya ga papa sih, pengen aja nyocokin" ku cubit lengan nya perlahan.
"Bisakan sana yang nyocokin, kebaya nya mbak kan juga banyak"
"Tapi ga ada yang navi tau"
"Yaudah bilang ga ada, pake yang ada aja, ribet amat sih"
" Kamu kok gitu sih ga seru" saat keluar dari kamar Ashana langkah ku tiba-tiba terhenti dengan jawaban nya.
"Bentar deh, jadi hubungan kalian tu apa? pacar? apa cuma temen? atau jangan-jangan hubungan tanpa status tapi kayak pacar?"
Tanpa menjawab pertanyaan nya aku pun bergegas kembali ke kamar ku dengan berjuta kalimat pertanyaan di kepalaku. Kata-kata Ashana semakin memenuhi pikiran ku sampai seolah kamar ku di penuhi oleh huruf-huruf yang membentuk pertanyaan itu.
Tapi, sekali lagi entah hati atau otak ku yang berkata untuk percaya pada Ian, percaya bahwa hari-hari yang kami lalui akan terus di isi oleh kata kita.
Dengan pikiran positif ku, aku pun membuka beberapa aplikasi belanja online dan mulai mencari kebaya dan juga heels yang serasi, tak lupa dengan tas yang cocok untuk dibawa ke pesta, mengingat semua tas yang ku miliki hanyalah tas kanvas yang sudah seperti kantung doraemon. Memang sangat jarang aku datang ke pesta pernikahan dengan gaya yang anggun bahkan tidak pernah. Semua kebaya yang ada di lemari pakaian pun hanyalah kebaya keluarga.
Seolah aku mencari barang yang bukan gaya ku kali ini, jika biasanya kata pencarian ku adalah sneakers sekarang menjadi heels, dulunya tottebag sekarang handbag, aku sangat suka memakai kemeja atau blouse sederhana dengan celana panjang tapi sepertinya sekarang harus melihat beberapa dress.
Bukan kah ini awal baru untuk menjadi pribadi baru?. Irene yang dulu nya sangat cuek dengan penampilan, sekarang menjadi sedikit memikirkan cara berpakaian nya. Selalu berpikir positif itu baik bukan?.
see you next~
jangan lupa kritik dan sarannya ☺️
tinggalkan jejak juga ya🥺